Setelah melewati malam tanpa tidur keesokan harinya Bibi Ruth menemui Liana di dalam penjara.
“Apa yang terjadi Nona? Kenapa Anda masih di tahan di sini?”
“Ini hanya kesalahan penyelidikan. Aku akan segera bebas begitu mendapatkan pengacara. Tolong jangan katakan yang sebenarnya pada Lucy, jangan biarkan dia memegang ponsel dan melihat televisi untuk sementara waktu.”
Liana masih ingat saat berita keruntuhan keluarganya menyebar dan Lucy mendengarnya. Adik perempuannya itu langsung di kirim ke rumah sakit karena jantungnya yang lemah, Lucy kritis hampir tiga hari waktu itu. Meski sekarang ia sudah memiliki jantung yang baru tapi kondisi tubuhnya masih sangat rentan.
“Liana Anderson waktu kunjungan sudah habis, silakan bersiap. Setelah ini Anda akan di pindahkan ke rumah tahanan untuk menunggu proses pengadilan yang di mulai minggu depan!”
Liana tertegun, jika ia di pindahkan ke rumah tahanan sekarang bukankah itu berarti statusnya sebagai saksi sudah berubah menjadi tersangka. Liana merasa heran, bahkan waktu persidangan sudah di tentukan minggu depan. Bagaimana mungkin berkas-berkas kasusnya sudah lengkap dalam waktu yang singkat.
Tubuh Liana mulai gemetar, kini ia menyadari bahwa dirinya sudah di bingkai sedemikian rupa.
‘Siapa yang menjebakku dan apa motifnya?’ batin Liana.
Satu-satunya saksi yang ia miliki adalah pria yang sudah tidur dengannya di hotel, tapi Liana bahkan tidak mengenal siapa pria itu. Uang itu juga diberikan secara tunai, Liana bisa melacaknya jika yang itu lewat transfer antar bank.
‘Tidak, meski aku tahu siapa pria itu. Aku tak akan menyebutnya di pengadilan. Itu akan menyakiti hati Lucy jika ia tahu bahwa kakaknya harus menjual diri untuk mendapatkan biaya operasinya.’
Sebelum petugas polisi berhasil menarik tubuh Liana dari ruang pertemuan dengan Bibi Ruth, tubuh Liana menolak dan melepaskan diri dari pegangan tangan polisi itu.
“Beri aku waktu dua menit lagi. Aku mohon!”
Petugas itu mengangguk, dan Liana segera kembali menemui Bibi Ruth yang masih menatap kosong dan kehilangan kata-kata saat melihat Liana di seret oleh petugas polisi.
“Bi, sepertinya aku di jebak dengan sempurna, akan butuh waktu untukku membuktikan bahwa aku tidak bersalah. Tolong jaga Lucy untuk sementara waktu,” pinta Liana dengan memelas.
Wanita tua di depan Liana berlinang air mata dan hanya bisa mengangguk pada permintaan Liana.
“Bi, Aku masih memiliki Kuda Venus yang bernilai hampir satu juta dolar di peternakan kuda Rotter. Aku akan menjualnya, setelah Lucy di nyatakan bisa keluar dari rumah sakit. Bawalah Lucy untuk tinggal di kampung halaman Bibi untuk sementara waktu.”
“Nona, tapi kuda itu sangat berharga untuk Anda.”
Liana hanya menggeleng dan menepuk bahu telapak tangan Bibi Ruth. Ia segera pergi meninggalkan wanita tua itu ketika dua petugas polisi sudah menariknya.
Kuda Venus adalah hadiah ulang tahun ke 17 Liana. Ia merawat kuda itu dari kecil hingga sekarang kuda itu sudah menjadi kuda dewasa yang memiliki tubuh tinggi dengan warna putih salju yang indah. Kuda itu sebelumnya sudah beberapa kali di tawar oleh orang lain, tapi tak pernah Liana lepas akan bahkan ketika tawaran untuk kuda itu mencapai 1 juta Dolar.
***
Sementara beberapa hari kemudian jauh di belahan benua lain, Aaron tengah bersiap untuk melakukan operasi pada pasien dengan kelainan jantung yang merupakan seorang wanita muda. Setelah Aaron bisa meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia dapat melakukan operasi lagi dan tak akan terpengaruh oleh masalahnya dengan Liana
‘Semua sudah berlalu Aaron, bahkan meski kamu sudah melakukan kesalahan besar pada Liana. Uang yang aku berikan sudah menyelamatkan adiknya.’ Aaron meyakinkan dirinya sendiri sebelum menyentuh pisau bedahnya.
Tepat saat sayatan pertama akan ia buat, tangannya menjadi gemetar dan pisau bedah itu jatuh ke bawah dengan suara yang keras. Sandra yang merupakan Asisten Dokter untuk Aaron terkejut begitu juga Dokter Anestesi dan juga beberapa perawat yang ada di ruang operasi. Mereka bisa melihat bahwa tangan Aaron bergetar dengan kencang.
“Apa yang terjadi? Apakah kamu baik-baik saja?” tanya Sandra.
Keringat dingin mengucur deras dari kening Aaron, wajahnya pucat pasi seolah darah di tubuhnya berhenti mengalir. Bayangan operasi Lucy dan juga bayangan tentang malam saat ia tidur dengan Liana saling tumpang tindih di kepalanya.
“Aku tidak bisa melakukan ini. Tolong panggil Dokter Andreas untuk melanjutkannya!”
Aaron segera berlari keluar, ia menuju ruang kerjanya dan menuju kamar mandi di ruang kerja itu. Aaron mengarahkan jemarinya ke wastafel, membiarkan jemari yang tak henti bergetar itu ke air dingin yang mengalir.
Aaron panik saat aliran air bahkan tidak bisa menghentikan jarinya yang terus gemetar, ia kemudian menarik laci kerjanya dan menelan obat penenang.
“Jadwalkan pertemuan dengan Dokter Gwen lagi!” pinta Aaron pada sekretaris pribadinya melalui panggilan interkom.
Dokter Gwen adalah seorang psikiater terkenal yang berusia 40 tahun. Dua hari yang lalu ia baru saja menemui Dokter Gwen untuk berkonsultasi tentang rasa cemasnya setelah melakukan kesalahan dengan Liana. Aaron bahkan melakukan terapi hipnotis untuk mengurangi perasaan cemas itu, tapi baru hari ini ia mengetahui bahwa itu lebih dari perasaan cemas. Bahkan jemarinya kini menunjukkan trauma tersendiri saat ia akan kembali melakukan operasi.
Brak!
Pintu ruang kerja Aaron di buka dengan keras, seorang pria tinggi besar menatap dingin ke arah Aaron. Pria itu berusia lima puluh tahunan, meski begitu ia masih terlihat tampan dengan aura yang mendominasi.
“Aku dengar kamu menghentikan operasi secara tiba-tiba? Apa kamu tahu jika berita ini sampai keluar makan reputasimu bisa hancur?”
“Ayah, tidakkah kamu seharusnya bertanya apa yang terjadi padaku? Apakah aku baik-baik saja?”
“Apa kamu anak kecil? Ingatlah, sedikit saja kamu menunjukkan kelemahan maka kamu akan tergelincir dari posisi pewaris Gold Farmasi&Biotech.”
Aaron merasakan sakit di hatinya, setelah kepergian ibunya. Ia tak memiliki lagi seorang yang memberikan kehangatan keluarga. Ayahnya membesarkan dirinya dengan keras dan dingin, ia tak menerima kelemahan Aaron sedikit pun. Ia hanya di didik untuk jadi pewaris yang kompeten.
“Ayah izinkan aku untuk memasuki manajemen Gold Farmasi&Biotech.”
Aaron tidak tahu sampai kapan ia harus menghadapi sakit psikologis yang menerpa dirinya. Ia tak akan menunggu dalam diam sementara jika kondisi kejiwaannya tersebar maka sepupunya yang merupakan saingan terbesar dirinya bisa menggunakan sakit Aaron untuk merebut posisinya.
"Baiklah, tapi itu hanya untuk sementara. Aku harus melihat apakah kamu sudah mampu untuk menangani bisnis. Selain itu kamu juga harus tetap mengatasi trauma yang kamu alami."