Hari persidangan tiba, Liana belum pernah mendapatkan kunjungan sekali pun dari Pengacara publiknya. Ia seperti di abaikan begitu saja, bahkan ketika ia mengeluh mendapatkan perlakuan kasar dari Napi lain penjaga penjara tetap tak bergeming. Ia tahu bahwa seorang yang berkuasa telah menjebaknya, hanya saja Liana belum menemukan siapa di balik semua ini.
“Kenalkan, namaku Scott. Aku pengacara publik yang akan mendampingi sidangmu hari ini.”
Liana tak menyambut jabatan tangan pria paruh baya dengan tubuh tambun itu. Meski begitu Liana menatap pria itu dengan tatapan dingin dan penuh kebencian.
“Bukankah seharusnya, kamu datang beberapa hari yang lalu untuk mengumpulkan semua keterangan dan bukti untuk membantuku?”
Pria itu menyeringai dengan tatapan yang mengejek, “Aku terlalu sibuk dan tak suka membuang waktu untuk putusan yang sudah jelas. Kamu akan kalah dengan semua bukti yang memojokkan dirimu.”
Liana mengepalkan jemarinya hingga kukunya merobek telapak tangan, “Sepertinya kamu sudah di bayar oleh mereka juga. Katakan padaku siapa yang membayarmu?”
“Ha-ha-ha...!” tawa mengejek pengacara itu menggelegar, “Berapa banyak kamu akan membayarku jika aku mengatakan siapa itu? Kamu bahkan tak memiliki sepeser pun. Memalukan!”
Liana di penuhi kebencian, ia memiliki keinginan untuk mencabik pria di depannya.
“Penjaga, tolong ganti pengacara publik ini. Dia sudah di suap dan tidak berpihak padaku!” teriak Liana. Scott hanya tersenyum sinis melihat gadis yang putus asa di depannya. Liana terus berteriak hingga seorang polisi datang dan menampar wajahnya.
“Diam! Kalau kamu cukup punya uang sewa sendiri pengacara swasta!”
Liana mengepalkan tinjunya, ia merasakan rasa nyeri di pipinya meski begitu ia bahkan tidak bisa membalas polisi perempuan yang ada di depannya. Liana melihat sekeliling, banyak mata yang menatap jijik ke arahnya.
“Liana Anderson! waktunya masuk ke ruang pengadilan!”
Liana di seret oleh petugas pengadilan ke kursi terdakwanya yang terasa panas. Ia melihat Scott hanya bermain game di ponselnya yang bahkan tak mau membuang waktunya untuk memeriksa berkas acara dari kasus Liana.
Hakim masuk ke dalam ruang pengadilan, persidangan segera di mulai dan Jaksa penuntut menginginkan agar Liana mendapatkan hukuman 20 tahun penjara karena sudah melakukan penganiayaan yang di rencana dan hampir membunuh korbannya. Tubuh Liana bergetar mendengar tuntutan itu. Ia menoleh pada Scott yang masih duduk dengan acuh.
“Jangan menatapku seperti itu, kamu harus menyerah. Bahkan Dewa tak bisa menyelamatkan dirimu dari tuntutan itu! Mengakui kesalahan itu akan meringankan tuntutan hukuman untukmu!” kata Pengacara itu lirih dengan wajah yang dingin.
“Silahkan untuk pengacara terdakwa mengajukan pembelaan!”
Scott segera berdiri dengan wajah yang santai, “Terdakwa mengaku bersalah dan tidak berniat untuk melakukan pembelaan!”
Liana tercengang, ia menatap tajam ke arah Scott hingga bola matanya hampir keluar, “Keberatan! Aku tidak pernah mengatakan hal itu. Bukan aku pelaku yang sudah melakukan penganiayaan pada Belinda!” teriak Liana.
“Apakah Anda punya bukti atau saksi?”
Sesaat Liana mulai terdiam, hanya ada seorang pria yang bisa mengatakan keberadaan Liana malam itu saat Belinda di temukan sekarat, tapi Liana bahkan tak mengenal namanya. Ia juga tak berniat mengungkapkan hal itu karena akan menyakitkan jika sampai Lucy tahu apa yang sudah Liana lakukan.
Tubuh Liana gemetar, dan keringat dingin mengucur deras. Ia terdiam dan semua orang di ruang sidang tengah menunggu pembelaan dirinya dengan wajah acuh.
“Lihat, dia bahkan tidak bisa menunjukkan bukti atau pun saksi yang bisa membelanya.”
Tiga puluh menit kemudian, Hakim dengan cepat memberikan putusan persidangan meski hanya melewati sekali persidangan. Liana di jatuhi hukuman 20 tahun penjara setelah semua bukti mengarah padanya.
***
Liana di pindahkan ke rumah tahanan yang lebih besar karena tingkat kejahatan dan lama tahanan dirinya yang termasuk berat. Ia kini sudah memakai baju narapidana berwarna coklat yang lusuh dengan nomor 908.
“Selamat datang!”
Langkah Liana terhenti saat ia akan menuju kamar selnya. Ia di hadang oleh sepuluh orang lebih wanita dengan seringai wajah yang menyeramkan. Liana bisa melihat maksud jahat mereka hanya dengan cara mereka menatap Liana. Petugas yang mengantar Liana justru berbalik dan pergi begitu saja.
“Apa yang kalian inginkan?” tanya Liana dengan tubuh gemetar.
Rachel sebagai pemimpin kelompok itu maju beberapa langkah mendekati Liana.
“Kami ingin bermain-main denganmu. Seseorang mengatakan pada kami ada imbalan besar untuk membuatmu mati perlahan dengan cara yang menyakitkan atau membuatmu menjadi wanita gila kurang dari setahun!”
Liana menelan ludahnya, ucapan Rachel membuat Liana mundur perlahan dengan tubuh gemetar.
“Aku akan memanggil petugas!”
“Apa menurutmu mereka peduli padamu? Jika mereka peduli, mereka tak akan meninggalkan dirimu begitu saja saat melihat kami tadi.”
Liana sudah mendapatkan perlakuan buruk saat ia di penjara sebelumnya, tapi wanita ini tampak jauh lebih kejam dari pada kelompok wanita di penjara yang lama. Liana bisa melihat wajah wanita ini bahkan di tumbuh tato dan memiliki bekas luka memanjang yang menyeramkan di area pipinya.
Liana menekuk lututnya, ia tahu tak akan bisa melawan mereka. Ia rela merendahkan diri untuk menyelamatkan dirinya agar tetap hidup.
“Tolong, jangan lakukan apa pun padaku.”
“Kami sudah menerima uangnya, maka kami harus menjalankan misi untuk merawat dirimu dengan baik!”
Setelah mengatakan itu Liana yang tengah berlutut di tendang hingga jatuh. Sepuluh napi itu terus menghajar Liana hingga tubuhnya babak belur. Tak ada sejengkal dari tubuh Liana yang tak mendapatkan pukulan mereka. Liana di tinggalkan begitu saja dengan mulut berdarah dan tubuh yang tersungkur tak berdaya di lantai.
Penyiksaan itu terus berlanjut hingga hari-hari berikutnya. Kelompok itu baru akan berhenti menyiksa Liana saat gadis itu sudah tak sadarkan diri.
“Mulai sekarang teruslah bersembunyi jika melihat mereka,” nasehat Jenny sambil menyeka wajah Liana yang berdarah. Jenny adalah teman satu sel Liana. Ia satu-satunya napi yang bersedia menjadi teman Liana. Meski terkadang ia akan berpura-pura acuh di depan orang lain, tapi Jenny akan selalu membantu Liana saat mereka hanya berdua.
“Penjara ini terlalu sempit hingga tak ada tempat untukku bersembunyi. Aku bahkan tidak tahu sampai kapan bisa bertahan. Apakah kamu mengetahui siapa yang bisa membantuku?”
Jenny berpikir sejenak, ia sudah berada di penjara ini selama lima tahun karena kasus pembunuhan. Jenny masih berumur 18 tahun saat dua tangan kecilnya berhasil menusuk ayah tirinya yang mabuk dan hendak memperkosa dirinya. Jenny sudah banyak mendengar dan menyaksikan banyak hal di penjara ini karena itulah Liana yakin bahwa Jenny pasti mengetahui siapa orang paling kuat di penjara ini.
“Ada dua orang yang memiliki kekuasaan tertinggi di sini. Salah satunya adalah wanita bernama Claire yang tinggal tersendiri di ujung gedung itu. Dia adalah wanita yang tak tersentuh, kabarnya dia bahkan memiliki kamar yang mewah. Jika kamu berhasil menjadi budaknya, maka Rachel bahkan tak akan berani mengangkat kepalanya saat melihatmu!”
Wajah Liana yang menahan sakit kini terlihat cerah, ia merasa memiliki harapan untuk bertahan hidup. Bahkan jika itu hanya sebuah sedotan kecil di tengah lautan ia akan tetap berusaha mencengkeramnya agar tidak tenggelam. Ia ingin terus hidup untuk Lucy adiknya.