“Lalu siapa satu orang lagi yang berkuasa di sini?” tanya Liana.
Jenny mengarahkan telunjuknya ke sisi barat penjara, ada sebuah gedung memanjang dengan dua lantai di sana.
“Penguasa penjara sayap barat yang bernama Samantha.”
“Aku tidak pernah mengira bahwa gedung itu adalah bagian dari sel penjara.”
“Penjara sayap barat adalah tempat tertutup yang hanya di huni oleh anak buah dari Samantha. Dia adalah pengedar narkoba di dalam bahkan di luar penjara ini. Ia tak hanya bisa menyelamatkan penyiksaan dirimu tapi juga mengeluarkan siapa saja yang ia inginkan. Tapi lupakanlah tentang dia!” wajah Jenny berubah di penuhi rasa takut saat menjelaskan tentang penjara sisi barat.
“Kenapa kamu terlihat takut?”
“Mereka di kenal kejam, kamu bahkan bisa kehilangan nyawa dengan hanya menginjakkan kaki di sana. Bahkan jika ia bersedia membantu, maka ada harga yang mahal untuk itu!”
Setelah mendengar dua wanita yang memiliki kekuasaan tertinggi di sini Liana terjaga sepanjang malam. Ia memikirkan banyak cara agar bisa menjadi anak buah salah satu di antara mereka.
...
Di saat Liana masih terjaga ia mendengar derap langkah sepatu yang terus mendekat ke arah selnya. Saat langkah itu mendekat, seorang sipir penjara bertubuh tegap berdiri tepat di depan selnya.
“Liana Anderson, Keluarlah!”
Petugas itu membuka kunci sel Liana, setelah itu Liana mengikuti langkahnya menuju ke ruangan kepala penjara. Begitu membuka pintu ruangan itu, tubuh Liana segera di dorong masuk dan setelah itu pintu terkunci dari luar. Liana merasakan ada hal aneh, ia mendapati seorang pria dengan perut bir menatapnya seolah Liana adalah mangsa yang menggairahkan. Ia berjalan perlahan ke arah Liana dengan segelas anggur di tangannya.
“Ternyata kamu cantik juga,” kata kepala penjara itu dengan berusaha menyentuh pipi Liana. Kepala Liana segera berpaling secara refleks membuat tangan pria paruh baya itu mengambang di udara.
“Apa yang Anda lakukan?” tanya Liana dengan tatapan yang tajam.
“Aku dengar kamu sering mendapatkan penyiksaan, jadilah wanitaku maka akan aku pastikan tak ada yang berani menyentuh tubuhmu meski sehelai rambut!”
Liana mengepalkan tinjunya, ia merasakan amarah yang membara di setiap aliran darahnya, “Saya tidak perlu pelindungan Anda!”
Wajah kepala penjara menjadi gelap, tangannya kemudian menekan dagu Liana dengan kencang, “Jalang kecil, apa kamu sedang jual mahal?”
Luis menghempaskan tubuh Liana ke sofa panjang dengan kasar, ia menampar pipi Liana beberapa kali hingga membuat kepala Liana terasa pusing. Luis itu mencoba merobek baju Liana, tapi sebelum tangannya berhasil melakukan itu, Jemari Liana meraih botol anggur di samping meja dan memecahkannya. Ia menggunakan pecahan kaca itu untuk menusuk organ vital Kuis. Pria itu segera menggeliat kesakitan.
Liana melihat pria itu mulai lengah karena rasa sakit, ia hendak membuka pintu ruangan tapi sadar bahwa pintu itu terkunci. Liana tak punya pilihan lain kecuali melompati jendela yang berada di lantai dua.
Bam!
Liana jatuh ke tanah dengan menahan rasa sakit. Ia segera berlari mencari tempat persembunyian, kembali ke sel hanya akan membuat dirinya mendapatkan masalah. Liana akhirnya bersembunyi di lantai tiga gedung penjara, lantai tempat para napi sering menjemur pakaian dan selimutnya.
Liana menarik dua selimut untuk membungkus dirinya dan mencari tempat di sudut untuk menenangkan diri. Ia terus merasa ketakutan, itu membuat dirinya menjadi waspada, Liana tahu akibat besar yang akan ia Terima setelah melukai kepala penjara. Ia merasa bahwa dirinya telah jatuh ke siksaan neraka lain yang akan jauh lebih kejam.
Seorang wanita datang di kegelapan dengan menyulut rokok sambil menatap ke bawah, saat ia menyatukan pandangan dia melihat seorang napi tengah meringkuk di sudut dan tertidur dengan tubuh menggigil.
“Kenapa kamu tidur di sini?” tanya Claire saat menghampiri tubuh Liana. Ia mengulurkan jemarinya untuk memeriksa suhu di kening Liana tapi secepat kilat tangannya di hentikan oleh cengkeraman Liana.
“Jangan, kumohon jangan pukuli aku!” pinta Liana setengah sadar.
“Aku tidak akan memukuli dirimu.” Claire menyentuh kening Liana yang panas, dengan cahaya lampu yang remang ia melihat beberapa luka lebam di wajah dan tangan Liana.
“Sepertinya kamu mengalami hari yang sulit di penjara.”
Claire meninggalkan Liana dan kembali ke kamarnya untuk mengambil obat. Saat ia kembali ke loteng, ia segera mendudukkan tubuh Liana dan menaruh sebutir obat untuk ia minum dengan air.
“Minumlah, kamu harus menjadi kuat jika ingin melawan.”
Liana menelan obatnya, dan kembali meringkuk seperti hewan kecil yang malang.
***
Pagi hari Liana kembali ke selnya dan menemukan dua polisi penjara telah menunggunya. Liana tahu bahwa ia tak akan bisa melarikan diri kali ini, ia dengan langkah yang bergetar menuju dua penjaga itu.
“Ikut kami!” mereka menyeret Liana dan mendorongnya ke dalam sebuah ruangan pengap yang gelap. Ada sebuah tungku dan cap besi yang berada di atas arang yang membara.
“Tidak! Ini ilegal, apa yang akan kalian lakukan padaku?” tanya Liana dengan putus asa. Meski begitu mereka segera memegangi tubuh Liana dengan erat. Salah satu dari penjaga itu mengulurkan tangan kiri Liana ke atas meja. Segera cap panas mendarat dan membakar telapak tangan Liana. Liana memekik kesakitan bahkan semua urat di tubuhnya timbul. Ia bisa mencium aroma daging hangus yang menguap dari kulit punggung tangannya.
“Mulai sekarang, kamu adalah Napi dengan tanda merah. Kamu adalah kasta terendah yang tak akan mendapatkan perlindungan apa pun ketika sesuatu terjadi pada dirimu!”
Suara Pria paruh baya menyadarkan Liana dari keterkejutan dirinya. Pria itu masih berjalan tertatih karena luka di area kelamin akibat tendangan Liana.
“Kau!” pekik Liana dengan mata menyala.
Lelaki itu hanya menunjukkan wajah acuh, “Mari kita lihat berapa lama kamu akan bertahan!”
Dendam menyala dimata kepala penjara itu, akibat tendangan kuat yang di lakukan Liana. Dokter mengatakan Ia harus beristirahat dari kegiatan seksual hingga menemukan Dokter ahli yang bisa menyembuhkan saraf yang terkoyak di organ intim Luis.
Liana kembali ke selnya setelah mendapatkan tanda merah dengan bentuk bulat dan huruf x di dalam lingkaran merah itu. Kini ia bukan hanya di incar oleh kelompok Rachel yang selalu melukai dirinya, tapi sekarang ia melihat bahwa tatapan banyak napi lain yang melihat dirinya seperti samsak tinju yang bisa di mainkan kapan saja. Tak akan ada perlindungan untuk Napi dengan tanda merah, semua akan menutup mata untuk hal buruk apa saja yang terjadi pada dirinya.
“Liana, apa yang sudah kamu lakukan hingga mendapatkan tanda itu?” tanya Jenny dengan wajah yang rumit.
“Lebih baik sekarang kamu menjauh dariku, semua napi sekarang akan menargetkan diriku.”
Napi dengan tanda merah di takdirkan untuk menjadi gila, bunuh diri dengan sukarela atau mati secara perlahan dalam waktu kurang dari setahun.