20 : Menjadi anak buah Samantha

1037 Kata
“Tahukah kamu peraturan di penjara sayap barat? Siapa yang datang ke sini adalah yang siap jadi anak buahku atau mereka yang datang untuk mencari mati!” Kata-kata menakutkan itu keluar dari pemimpin kelompok yang dikenal sadis itu, ia adalah istri dari gembong narkoba asal Brazil yang sudah di eksekusi mati, sementara Samantha di vonis seumur hidup. Liana masih tertunduk, semua anak buah Samantha kini berkumpul untuk menyaksikan sebuah pertunjukan, sebagian berada di lantai atas dan sebagian berada mengelilingi Liana. “Kamu adalah Napi dengan tanda merah dengan strata paling bawah, jika kamu mati di sini bahkan tidak akan ada yang menuntut keadilan.” Liana gemetar, hanya saja ia mencoba menyamarkan itu dengan semakin mengencangkan punggungnya. “Tolong keluarkan aku dari penjara ini, aku akan melakukan apa pun yang kau minta!” “Ha-ha-ha...!” tawa membahana Samantha begitu menggelegar, tawa itu diikuti seluruh tawa anak buahnya yang semakin mengantarkan ketakutan di tiap sendi Liana. “Jika menurutmu aku bisa mengeluarkan seseorang, lalu kenapa tidak diriku sendiri yang aku keluarkan?” Suasana hening untuk beberapa saat, Liana memejamkan matanya, berharap ia bisa menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Samantha. Ia menyembunyikan tubuhnya yang gemetar dengan mencengkeram erat lututnya. “Karena Anda tidak menghendaki keluar dari penjara ini,” jawab Liana. Seringai di wajah Samantha menandakan bahwa jawaban gadis yang tengah berlutut di depannya itu sepenuhnya benar. Samantha bukan tidak bisa keluar, ia hanya tidak ingin keluar. Dia yang bahkan tidur di atas kasur berupa tumpukan uang dengan kekayaan tak terbatas dari bisnis peredaran nar-ko-ba di dalam dan bahkan luar penjara, tidak pernah berniat sedikit pun untuk keluar dari penjara ini dengan memalsukan kematian dan hidup dengan identitas baru. Ia juga bisa saja menyogok petugas agar bisa sejenak menikmati pelesiran selama beberapa waktu seperti napi kaya yang biasanya lakukan, tapi Samantha tidak melakukan semua itu. Sejak suaminya menjalani eksekusi mati, ia sudah tidak mengharapkan lagi sinar matahari. Lubang gelap yang disebut neraka dunia ini sudah cukup baginya. “Sudah berapa lama kamu mendekam di penjara ini?” Samantha melunak, suaranya menjadi lebih rendah. “Tiga tahun,” Liana masih tertunduk ketika menjawab pertanyaan wanita yang kini berdiri di depannya. ‘Hebat, gadis ini memiliki kekuatan lebih!’ batin Samantha ketika ia mengitari tubuh Liana yang masih berlutut. Mereka yang memiliki tato berwarna merah dengan bentuk lingkaran bulat dengan sebuah tanda silang di dalamnya tak akan bisa bertahan lebih dari setahun di dalam penjara ini. Mereka sudah ditandai oleh orang yang lebih berkuasa, bahwa ia ditakdirkan mati secara perlahan atau menjadi gila. ‘Tapi, gadis ini mampu bertahan dalam waktu tiga tahun dengan punggung yang masih tegap!’ Samantha meremas dagunya, ia tak bisa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Liana. Ia masih terlihat cantik, meski dengan sisa-sisa kehancuran di setiap jengkalnya. Ada bekas luka di mana-mana, bahkan kulit putih itu ditumbuhi memar dari rona merah hingga kebiruan. “Kenapa kamu ingin keluar?” Lebih tepatnya Samantha ingin mengetahui hal besar apa yang sudah membuat gadis yang sudah bertahan hidup dalam siksaan selama tiga tahun ini mendadak ingin keluar. “Aku harus menyelamatkan nyawa adikku, ia tidak dalam kondisi yang baik-baik saja!” “Apa kamu tahu hanya ada dua orang yang bisa aku keluarkan dari penjara ini selama 10 tahun aku di sini? Tahukah kamu seperti apa caraku mengeluarkan mereka yang belum waktunya keluar dari penjara ini?” Kepala Liana menggeleng perlahan, seketika itu wajah Samantha menjadi masam. “Mereka keluar dalam keadaan mati!” Duar! Meriam tepat di jatuhkan di atas kepala Liana, harapannya mendadak hancur dan berserakan. Menyisakan tubuh yang gemetar ketakutan “Jangan takut! Bagi dunia mereka akan di anggap mati, kamu akan keluar dengan identitas baru. Tentu saja ada harga mahal yang harus dibayar untuk itu!” “Dengan apa aku harus membayarnya?” tanya Liana dengan suara yang bergetar. “Mampukah tubuhmu menahan 1 Kg kokain di dalam perut kecil itu?” tanya Samantha dengan menunjuk ke arah perut tipis Liana. Liana terkejut, ia tahu maksud dari Samantha bahwa tubuh dan dirinya akan dijadikan sebagai kurir nar-koba. Tentu saja ada banyak risiko untuk itu, dari saat peletakan bungkusan itu ketika operasi dan juga saat proses pengeluaran, bahkan ia juga harus sangat berhati-hati agar tidak terendus polisi. Bibir Liana kelu, pikirannya berputar-putar. Tentu saja ia ketakutan, hingga hampir ambruk. Sekuat tenaga ia berusaha berpikiran rasional. ‘Bukankah aku bertahan hidup selama ini untuk adikku?’ ‘Apa arti hidupku jika Lucy tak ada, bukankah setidaknya aku harus keluar dan menyelamatkan dia. Jantungnya yang lemah tidak akan mampu bertahan tujuh tahun lagi menunggu diriku keluar dari lubang ini. Lucy harus mendapatkan perawatan,’ batin Liana penuh gejolak. Samantha dapat melihat badai yang menderu di balik kelopak mata Liana yang tertutup sambil terus berkedut. “Apakah aku juga akan mendapatkan imbalan uang untuk itu?” bibir yang lama terkatup itu akhirnya terbuka. Samantha tertawa, ia sudah lama tidak merasa sebahagia ini. Gadis di depannya sekarang sudah memberikan warna lain setelah sekian ratus anak buah membosankan yang pernah bersamanya. “Tentu, uang yang cukup banyak untuk hari pensiunmu!” “Baiklah, aku bersedia!” Samantha bertepuk tangan, ia tersenyum begitu puas. Semua anak buahnya yang sempat berharap mendapatkan gadis ini sebagai samsak tinju mereka menelan rasa kecewa. Samantha menyukai gadis itu, senyum renyah di wajah Samantha menjawab semua itu. Sudah lama wanita ini hidup dalam wajah dingin tanpa ekspresi, tapi hari ini ia menunjukkan emosi di wajahnya. “Masukkan gadis itu ke bangsal satu!” titah Samantha pada ajudan wanitanya. Ajudan dengan tinggi hampir 180 meter dan tubuh besar itu segera menarik baju Liana dan memaksanya berdiri dari ubin yang dingin. Ia setengah menyeret tubuh Liana. “Perlakuan dia dengan baik, Shen!” Pekik Samantha pada Shandy ajudannya. Shandy melepas cengkeraman jemarinya dari baju Liana, kini ia membiarkan gadis itu berjalan mengekor padanya tanpa harus menenteng tubuh kecil itu seperti tas sayur. “Masuk!” pekik Shandy. Liana perlahan memasuki sel, dengan cepat Shandy segera mengunci pintu besi itu. Liana mengedarkan pandangan pada ruang berukuran 4x6 meter. Sel ini memiliki ranjang yang jauh lebih baik dari pada sel yang ia tinggali selama ini, sebuah sel dingin dan lembab yang hanya tikar tipis sebagai alasnya tidur. Liana duduk di ujung ranjangnya, ia merasakan air mata runtuh dari matanya setelah sekian lama menahan diri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN