Siang ini saat angin kering musim panas begitu menyengat kulit, tujuh napi perempuan tengah menghadangnya saat hendak mandi. Wajah mereka begitu mengintimidasi.
“Sudah lama kita tidak bermain bersama!” sapa mereka dengan wajah yang garang. Mereka sudah melipat lengan baju tahanan berwarna coklat usang itu hingga ke lengan.
“Apa karena Claire sedang tidak berada di sini jadi kalian bisa merundungku kembali?” tanya Liana, tidak ada suara bergetar ketakutan seperti yang dulu sering ia keluarkan setiap kali mereka merundungnya, kini meski tak dalam perlindungan Claire ia masih memiliki keberanian di dalam jiwanya.
“Tentu, kami masih mendapatkan perintah untuk membuatmu sengsara, dan kami akan selalu memastikan perintah itu di jalankan dengan benar. Hanya saja belakangan ini kamu selalu sembunyi di bawah ketiak Claire,” kata Rachel pemimpin geng itu.
“Satu lawan satu jika berani!” tantang Liana.
“Kami sedang tidak bernegosiasi denganmu! Kami hanya ingin menyiksamu.”
Kelima napi perempuan itu segera berdiri mengitari Liana. Pukulan pertama mendarat tepat di wajah Liana, menghantam keras di pipi bagian kanan hingga menimbulkan luka robek di bibirnya. Liana bisa merasakan getir di bibirnya. Ia segera membalas pukulan itu dengan tendangan keras ke arah wanita yang sudah memukulnya.
Ia melawan sekuat yang ia bisa, seperti yang selama ini di ajari oleh Claire. Ia dulu lemah dan hanya bisa membiarkan dirinya di hajar hingga pingsan, tapi kini ia sudah berbeda. Ia sudah belajar banyak ilmu bela diri dari Claire.
Liana berhasil menghantamkan tinjunya pada kelima wanita itu, tapi kalah jumlah membuat ia kini kelelahan. Secepat kilat tiga orang wanita itu mengapit tubuh Liana, dua orang mengapit lengannya dan satu orang di belakang memiting lehernya. Ia kesakitan hingga merasa begitu sesak.
“Rasakan pembalasanku!” kata Rachel. Ia semakin beringas menghajar tubuh Liana yang sudah tidak berdaya akibat kuncian anak buah Rachel.
“908! Ada telepon untukmu, ” panggil sipir penjara menghentikan aktivitas Liana yang tengah dihajar oleh Rachel dan anak buahnya. Liana segera menyeka darah segar di ujung bibirnya dan menuju ruang khusus untuk menelepon di dalam penjara ini.
Penjara perempuan di Southland terkenal sebagai tempat paling keras. Di dalamnya mereka memiliki peraturan sendiri antar napi. Para sipir tak akan memedulikan meski terjadi baku hantam di sana, bahkan mereka juga tak peduli jika ada napi yang meninggal.
Itulah kenapa betapa pun remuk tubuh Liana menahan tiap serangan dari napi lain, sipir hanya akan melihat dengan tatapan dingin tanpa memedulikan, karena Liana adalah napi dengan tanda merah.
“Hallo,” kata Liana setelah meraih gagang telepon usang yang tertancap di dinding.
“Nona, kondisi adik Anda semakin memburuk,” tubuh Liana seketika menjadi lemas, jantungnya seolah berhenti berdetak mendengar kabar tentang Lucy adiknya.
“Apa yang terjadi dengan Lucy?”
“Ia jadi lebih sering pingsan, selama tiga tahun ini kami tidak pernah pergi ke rumah sakit untuk melakukan perawatan pada jantungnya itulah kenapa kondisinya kini memburuk.”
Liana hampir ambruk, rasa ngilu akibat pukulan beberapa napi tak begitu sakit dari pada kabar tentang adiknya yang baru saja ia dengar. Tiga tahun lalu Liana menjadi yatim piatu, Lucy adalah satu-satunya keluarga yang tersisa, tapi gadis kecil berusia 13 tahun itu menderita kelainan jantung.
Jemari Liana mengepal, tatapan matanya menjadi tajam dan merah. Ia bertekad harus keluar dari penjara ini dengan cara apa pun. Wajah getir Liana segera menuju penjara sayap barat, di sana ada seorang pemimpin kelompok napi perempuan yang terkenal bengis tapi memiliki kekuasaan yang tak terbatas. Ia adalah Samantha gembong narkoba kelas kakap, yang mengendalikan pengedaran narkoba dari balik penjara.
“Liana kamu mau ke mana?” tanya Jenny meraih pergelangan tangan Liana yang tengah menuju area barat, daerah yang terlarang bagi sembarang orang.
“Aku harus menemui Samantha!”
“Apa kamu gila?” Jenny tahu seperti apa sisi gelap penjara sayap barat. Mereka yang bertekad ke sana hanya memiliki dua pilihan, menjadi anak buah Samantha sebagai kurir narkoba atau mengantar nyawa karena sudah datang ke daerah terlarang.
Ada sorot mata tajam Liana yang membuat tubuh Jenny bergetar, dari tatapan itu ia bisa mengetahui bahwa temannya ini sedang dalam kondisi terburuk. Ada ketakutan menyerang tubuh Jenny melihat wajah Liana yang berbeda dari biasanya. Ketakutan itu membuat ia melepaskan cengkeraman jemarinya di lengan Liana.
“Aku harus segera keluar dari penjara ini, bagaimana pun caranya. Kondisi adikku memburuk, aku harus menolongnya.”
Lidah Jenny mendadak keluh, ia tidak mampu berkata-kata lagi. Tekad bulat sudah terpancar jelas di tiap gurat wajah Liana. Ia hanya menggenggam jemari Liana yang sudah sedingin bongkahan es.
“Semoga Tuhan melindungimu teman!”
“Tuhan sudah meninggalkanku sejak tiga tahun lalu, aku sendirilah yang akan menyelamatkan diri ini!” Liana melangkah memasuki penjara sayap barat. Di mata Jenny ia melihat tubuh temannya itu seolah memasuki dimensi lain yang tak akan bisa ia tembus.
‘Suatu saat kamu akan tahu, Tuhan tidak pernah meninggalkanmu!’ batin Jenny.
Begitu langkah kaki Liana memasuki daerah kekuasaan Samantha, setiap derap langkahnya banyak tatapan tajam yang terus mengikuti gerakan wanita ini. Sebagian menunjukkan wajah meremehkan, sebagian menggertakkan jemari dan juga lehernya seolah melihat mangsa yang siap mereka terkam.
Langkah Liana semakin ke dalam menuju pada ruang bersantai seorang wanita berusia 38 tahunan. Wanita bernama Samantha itu sedang duduk sambil menghisap rokoknya, ada dua orang yang tengah memijat kedua kakinya.
“Bos, ada yang datang!” bisik ajudan wanita Samantha hingga membuat majikannya itu mengalihkan pandangan pada sosok yang sudah berdiri gemetar berjarak enam meter di depannya.
Liana mulai berlutut di atas lantai yang dingin, ia menundukkan wajah begitu Samantha melihat wajahnya.
“Oh, ternyata gadis dengan tanda merah yang datang!” Ada seringai menakutkan wajah Samantha begitu melihat tato merah di telapak tangan Liana yang berada di atas lututnya.
Liana yang tertunduk, meski begitu ia masih sempat melihat aura wanita di depannya yang sangat mengintimidasi dasi. Jika Claire memiliki aura pejuang dan pemimpin yang berwibawa maka Samantha memiliki aura mendominasi dan kejam. Berada di bawah tatapan Samantha sudah menghadirkan tekanan tersendiri. Meski hatinya mulai gugup, tapi Liana tetap bertekad untuk tidak menyerah. Dia harus bisa membuat wanita yang berdiri di depannya sekarang menyetujuinya proposal yang akan ia ajukan.