Awal Keanehan
Suara ketukan setiap tombol pada keyboard terdengar di sebuah kamar sempit dan pengap. Kala itu langit masih gelap, sementara seorang wanita masih bergelut dengan imajinasinya. Matanya menelisik setiap kata pada layar terang di hadapannya, dengan dahi mengkerut dia tampak berfikir keras. Beberapa saat senyuman terulas di bibirnya yang pucat serta pecah-pecah akibat kurangnya asupan air.
“Akhirnya selesai!” serunya riang.
Dia adalah Catherine Wijaya, seorang penulis novel roman picisan yang sedang digandrungi banyak ibu-ibu berdaster yang gemar rebahan setelah menyelesaikan tugas rumahan. Karyanya yang sempat di pandang sebelah mata akhir-akhir ini melejit hingga membuatnya bersemangat untuk segera menyelesaikan hingga tamat.
Hampir 4 bulan tidurnya tidak teratur sama halnya dengan pola makannya yang semrawut. Semua bukan karena dia malas makan, tapi karena dia harus mengurangi pengeluaran selama sebulan. Dapat dimaklumi karena pendapatan sebagai penulis yang baru disukai tidaklah banyak.
“Waktunya tidur,” monolognya.
Wanita itu menguap sambil mengusap matanya yang sudah 5 watt. Menyimpan laptop dengan hati-hati ke dalam tas dan memasukkannya pada laci lemari. Dia harus merawat benda kramat itu yang merupakan jantungnya penulis pada zaman ini. Ditambah karena cicilannya belum selesai hingga 5 bulan ke depan. Baru saja dia mau memejamkan mata, dering dari ponselnya menggagalkan semuanya.
“Siapa seh yang telepon malam-malam begini?” Catherine menggerutu. Mengangkat panggilan dengan mata tertutup. “Hei… bisakah menelpon saat fajar nanti? Aku ingin tidur!” dia mengomeli seseorang diseberang sana.
[Akhem! Saudari Catherine, perlu saya sampaikan jika sekarang sudah pukul 7 pagi,] ucap yang menelpon.
Catherine membulatkan mata setelah mengenali suara di ponselnya, segera dia menyibak gorden kamarnya. Sebuah cahaya menyilaukan menerpa netranya. “Ya ampun! Aku tidak tidur lagi… aaakkhh!” menepuk keningnya gemas. Dia merasa kesal sendiri.
[Hm… iya maaf. Aku menutup gorden terlalu rapat, hingga tidak tahu jika sudah pagi,] cicitnya malu. [Ada apa ya Kak Berliana? Bukan kah aku sudah setor naskah barusan?] sambung Catherine heran.
[Kami ingin saudari Catherine mengubah sedikit novelnya, berhubung ceritanya sedang disukai banyak orang.]
[Merubah? Apa ada kata-kata yang salah?]
[Tidak, semua sudah sesuai, hanya ingin karakter antagonis wanitanya dibuat lebih kejam lagi,] terang Kak Berliana selaku editor novel Catherine.
[Lebih kejam? Aku membuatnya secara realistis. Aku tidak mau disamakan dengan cerita dalam sinetron. Lagi pula, terlalu berlebihan tidak baik untuk karakternya!] sergah Catherine tidak terima.
[Tapi, itu bisa menarik pembaca lebih banyak!] desak Kak Berliana.
[Aku tidak peduli! Selamat tidur!] Catherine menutup ponsel lalu melemparnya kesembarang arah.
“Memangnya dia pikir membuat novel gampang? Semudah itu merubah karakter yang sudah aku buat sedemikian rupa!” ucapnya kesal. “Lebih baik aku tidur!” Catherine memilih meringkuk dan mengarungi alam mimpi di bandingkan menuruti perintah sang editor.
***
Bib bib clak!!!
Catherine terbangun dari tidurnya yang rasanya baru berjalan 5 menit. Dan kejanggalan pun di rasakan wanita itu kala menyadari di mana dirinya berada. Dia berdiri di depan sebuah danau.
“Ap-apaan ini?” ucapnya bingung.
“Ini di mana? Bukankah aku sedang tidur di kamar?” Catherine menoleh ke sana kemari, matanya liar memperhatikan sekitar.
Hingga teriakan wanita mengambil atensinya yang masih kacau.
“Tolong!... hmm…puaahh… tolong!”
“Suara orang minta tolong?” gumam Catherine. Dia melangkah ke depan, riak air terlihat dari permukaan danau. Matanya melebar seketika. “Ada yang tenggelam!”
Tidak lama seseorang tampak terjun ke dalam sungai dan berenang menggapai wanita meminta tolong tersebut. Catherine bernafas lega, dia berlari mendekati mereka yang akhirnya mencapai permukaan daratan.
“Kamu benar-benar keterlaluan Catherine!” hardik penolong yang tenggelam.
Catherine melongo, dia diam membisu melihat seorang pria tampan menatapnya tajam penuh amarah.
‘Aku kenapa? Memangnya kami saling kenal? Aku baru pertama kali melihat pria ini,’ batin Catherine.
“Kamu sengaja mendorong Shania ke danau!” Pria itu menunjuk wajah Catherine yang membulatkan mata untuk ke sekian kalinya.
Perkataan familiar yang terdengar ditelinganya membuat Catherine tidak merespon segala amarah pria di hadapannya.
“Sudah Tony, ini bukan salah Catherine. Aku terpeleset,” ucap wanita yang tadi tenggelam.
‘Shania? Tony?’ Catherine semakin berfikir keras. Nama yang tidak asing hingga suara mesin menyadarkannya.
[Welcome Catherine.]
Catherine terhenyak, layar besar terpampang di hadapannya. Saat itu juga Shania dan Tony tampak diam seperti patung. Catherine berputar-putar mencari asal suara.
[Aku ada bersamamu, hanya tidak berwujud]
“Siapa kamu?”
[Aku system yang membawamu ke dalam cerita yang kamu buat sendiri.]
“Ceritaku? Maksudnya novelku?”
[Bingo! Dan kamu menjadi tokoh wanita antagonis di sini.]
Catherine memegang kepalanya yang mendadak pusing. “Aku pasti bermimpi, barusan aku sedang tidur!” ia mencubit dengan keras lengannya hingga mengaduh. “Awww… sakit!” pekiknya.
[Ini bukan mimpi Catherine, tugasmu hanya satu. Menjadi lebih kejam pada Shania!]
“Apa?”
[Ucapkan kata pada Tony, ‘Jika bukan karena dia, kamu tidak akan meninggalkanku.’ Maka misimu kali ini selesai.]
Catherine mendadak terkekeh. “Ah… aku tau, kamu suruhan Kakak Berliana kan? Aku sudah bilang aku tidak mau! Dan itu bukan dialog yang ada dalam novelku!” kukuhnya mengejek.
[Semua ada konsekuensinya.] ucap system lalu menghilang.
Catherine berdecih. “Siapa takut? System… kau lebih terdengar seperti alat navigasi bagiku.”
Setelah itu semua menjadi biasa, layar yang tiba-tiba muncul di hadapan Catherine pun sirna. Tony dan Shania tampak seperti hidup kembali.
“Kamu harus menerima akibat dari perbuatanmu!” Tony menelpon pihak berwajib.
Catherine diam saja, sedangkan Shania melihat Catherine dengan aneh.
“Hanya ingin menjelaskan, jika bukan aku yang mendorong wanitamu,” bela Catherine saat polisi datang dan membawanya pergi.
***
Catherine memasang wajah datar selama polisi meminta penjelasan mengenai kasus terdorongnya Shania ke dalam danau. Tony yang tampak masih kesal memilih pergi meninggalkan wanita itu begitu saja. System pun kembali mendatangi Catherine.
[Misi gagal, kau memilih masuk penjara.]
“Aku… tidak… peduli… Ingatlah, Itu kata-kataku pada Kak Berliana,” sahutnya acuh.
[Kau wanita keras kepala!]
“Mungkin kau bisa merubahnya dengan kata, Berprinsip!” sergah Catherine
System kehabisan kata, dia pun menghilang. Beberapa saat datanglah seorang wanita berpakaian serba hitam yang rapi dengan kacamata senada menghias matanya.
“Selamat siang, Nona Catherine! Kami telah menebus anda.” ucap wanita itu sambil memberi hormat.
Catherine terdiam kemudian menyeringai. Dia baru ingat jika karakter antagonis wanita di dalam novelnya adalah seorang CEO perusahaan industry hiburan. Seorang wanita kaya yang bergelimang harta.
‘Aku mungkin mendapat sial dengan terlahir sebagai antagonis di novelku sendiri. Tetapi, ada hikmah dari kesialan itu, aku kaya raya!’ batinnya bersorak kegirangan.
Catherine menatap wanita yang memberi hormat padanya.
‘Kalau tidak salah, dia adalah asisten antagonis wanita,’
“Kamu… Rini?”
“Ya, Nona. Ada yang bisa saya bantu?”
Catherine mengusap dagunyanya dan berfikir. “Bisa kau kirimkan biskuit yang paling enak untuk Shania?”
Wanita yang barusan dipanggil Rini tampak terkejut. Apa tidak salah sang Nona menyuruh memberikan biskuit pada seorang pelakor? Karena yang diketahuinya adalah jika Tony Lesmana merupakan tunangan Catherine.
“Apa?” Rini kembali memastikan.
“Dan tolong hibur dia... karena dia baru saja mendapatkan musibah,” terang Catherine semakin membuat Rini kebingungan.
Melihat ekspresi aneh Rini, Catherine pun bertanya, “Ada apa? Ada yang salah?”
Rini terhenyak dan mengangguk kaku. “Ah…tidak Nona! segera saya laksanakan!”
Catherine tersenyum senang. Dia bangkit dari duduknya dan melangkah keluar kantor polisi. Catherine menghirup udara dengan dalam seolah menghirup kehidupan baru.
“Ayo kita pulang!” ucapnya lalu memasuki mobil Alpard hitam keluaran terbaru.