Mendadak Kaya

1319 Kata
Sebuah mansion mewah terlihat dari kejauhan, Catherine membuka kaca mobil dan menatapnya takjub seperti orang desa yang baru saja sampai ke kota. ‘Ya Tuhan… apa seperti ini gambaran mansion dari imajinasku di novel?’ Catherine menganga. Hingga kakinya menapak menuruni mobil, matanya masih tidak mampu berkedip. Catherine melangkah dengan kaku, menelisik setiap inci pilar-pilar besar penuh ukiran yang terpasang kokoh menopang mansion itu. Saat sampai di sebuah pintu besar, pintu itu terbuka dengan para pelayan yang berjejer rapi menyambut Catherine. “Selamat datang Nona Catherine!” ucap mereka serentak. “Hm… hai… semua,” Catherine melambaikan tangan dengan senyum kikuk. Masih belum terbiasa dengan segala kemewahan yang ada di hadapannya. Yang selama ini hanya ada di dalam khayalannya. Rini yang merasa nonanya bersikap aneh hanya bisa diam. Dia tidak berani untuk bertanya langsung pada Catherine. ‘Ada apa dengan Nona? Apa Nona begitu sakit hati sampai-sampai jadi seperti ini?’ batin Rini merasa iba. Catherine masih asik mengagumi keindahan mansionnya, tanpa disadari jika dirinya menjadi pusat perhatian para pelayan. Catherine pun menatap balik mereka. “Ada apa?” wanita itu menggerakkan kepalanya heran. Mereka semua tersentak lalu menundukkan kepala. Kepala pelayan mendekati Catherine. “No-nona ingin makan sesuatu?” “Hm… aku belum lapar,” jawab Catherine. “Lebih baik Nona istirahat,” sela Rini. Catherine mengangguk dengan semangat. Benar juga, dia merasa mengantuk karena tidurnya yang terganggu oleh system barusan. “Mari saya antar Nona,” Rini menuntun Catherine untuk mengikutinya. Sebelum berbalik badan Rini menatap tajam pada para pelayan hingga membuat mereka ketakutan. Sesampainya di kamar, lagi-lagi Catherine berdecak kagum. “Waahhhh!” Catherine menyusuri setiap sudut ruangan kamar. Rini dengan setia mengikuti nonanya yang semakin aneh. Rini merintih dalam hati. ‘Kasihan sekali Nonaku.’ Catherine merebahkan tubuh pada ranjang king size empuk bagaikan awan, lembut layaknya sutera. Dia memejamkan mata menikmati tubuhnya yang seperti di pijat. “Nyaman sekali…” lirihnya. Rini yang terdiam dengan segala pikirannya langsung terhenyak dengan gerakan Catherine yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya. “Aku tidak mengantuk lagi, aku masih harus berkeliling!” gumamnya berbinar. Catherine bangkit dan berjalan menuju pintu di sudut kamar. Sebuah pintu geser berwarna hitam mengkilat. Catherine sampai mengusapnya dan berulang kali menatap pintu itu. “Pintunya saja bagus,” monolognya namun Rini dapat mendengarnya samar. Wanita itu menghentikan langkah ketika memasuki ruangan di balik pintu geser itu, terdapat banyak pakaian yang tersusun rapi di setiap sekat dengan lampu terang benderang. Tidak hanya pakaian, terdapat sepatu, tas dan berbagai accessories lainnya seperti jam, gelang, kalung, dsb. Catherine mendekat dan menyentuh setiap pakaian itu, jika bisa digambarkan matanya seperti ingin keluar. Catherine menutup mulutnya, menahan pekikan dan perasaan tidak percaya. Dia bisa menyentuh barang-barang yang selama ini terpampang di kaca depan Mall terkemuka. “Anda ingin berganti pakaian, Nona?” Tanya Rini yang bingung harus apa melihat tingkah Catherine. Catherine menunjuk pakaian itu. “I-ini boleh aku pakai?” “Tentu saja Nona, semua ini milik anda,” jelas Rini. “Mi-milikku? Suara Catherine bergetar. Rasanya dia ingin menangis karena terharu. ‘Jika ini mimpi, rasanya aku tidak ingin terjaga!’   Tidak menunggu lama Catherine langsung mengenakan baju itu secara acak, semua pakaian dicobanya. Dia berputar-putar di depan cermin hingga membuat Rini pusing tujuh keliling. Rini makin tidak mengerti, bukankah sang Nona habis bertengkar dengan tunangannya bahkan Tuan Tony tidak segan-segan memasukkan Catherine ke penjara. Tapi, mengapa malah terlihat sangat bahagia? “Inilah hidup! Ha ha ha ha!” Catherine tertawa kegirangan.  *** Setelah asik mencoba semua pakaian hingga puas, Catherine pun tertidur lelap. Wanita itu tersenyum saat memejamkan mata. Rini yang iba berusaha menerima, membiarkan segala tingkah janggal majikannya asalkan dia bahagia. Rini menyuruh pelayan merapikan segala kekacauan yang dibuat Catherine barusan. “Pastikan semua rapi sebelum Nona bangun, mengerti?!” perintah Rini pada para pelayan. “Baik Asisten Rini!” sahut mereka serentak. Rini pun keluar dari kamar Catherine, dia akan mengawasi pelayan bagian dapur yang bersiap menghidangkan makan malam nanti. Para koki jebolan dari restoran berbintang tiga Michelin tampak sibuk memasak, berbagai hidangan dan kudapan kesukaan Catherine disiapkan dengan baik. Rini tersenyum antusias melihat meja makan yang hampir selesai ditata. Di waktu yang bersamaan datanglah seseorang yang kehadirannya tidak diharapkan Rini sama sekali, mengingat insiden yang terjadi pada Nonanya tadi siang. Tony Lesmana datang dengan raut wajah tidak bersahabat, pria itu menerobos memasuki mansion tanpa permisi. “Di mana Catherine?!” suaranya menggelegar memenuhi ruangan. “Nona Catherine sedang tidur, Tuan,” jelas Rini. Tony mendengus kesal. “Bangunkan dia!” perintah Tony pada Rini. Namun, Rini diam dan bergeming. Tony semakin naik pitam mendapatkan pembangkangan dari seorang asisten tunangannya. “Kau berani membantahku?” Catherine yang mendengar keributan dari lantai bawah pun akhirnya terjaga. Wanita itu menguap dan merentangkan tangannya ke atas. “Ahh… ada apa di bawah?” Wanita itu hendak turun dari ranjang, saat itu juga Sytem muncul mengagetkannya. [Catherine!] “Bisakah kau tidak muncul tiba-tiba?!” Catherine melototi layar yang mulai menyebalkan baginya. [Maaf… aku datang dengan misi baru.] Catherine memutar bola matanya malas. [Misi? Misi apa lagi?] [Ingatlah Catherine, kau berada di sini bukan tanpa alasan. Dan kamu harus menyelesaikan misi kali ini.] Layar pun menampilkan gambar Tony yang ada di lantai bawah yang sedang berkacak pinggang hendak meluapkan amarahnya pada Rini. Catherine terkejut melihat hal itu. “Mau apa dia ke sini?” [Tony datang untuk memutuskan pertunangannya denganmu. Misimu hanya menahannya agar tidak memutuskan hubungan kalian. Bujuklah dia, gunakan kelihaianmu dalam merayu.] “Pfft… Kau minta aku apa? Membujuk? Merayu? Tidak salah?” Catherine menahan tawa. “Aku tidak butuh pria arogan yang pemarah seperti dia.” pungkasnya acuh. [Jangan membuat semua menjadi sulit, kamu akan mendapatkan hukuman jika tidak patuh.] “Aku tidak mau!” tegas Catherine. System yang tidak mentolerir penolakan Catherine pun akhirnya memberikan hukuman. Catherine merasakan sakit pada perutnya hingga menjalar pada kerongkongannya. Wanita itu memuntahkan darah yang cukup banyak saat itu juga. “Hnngghh…” Catherine ambruk sambil memegang perutnya yang terasa sakit. “Uhuk… uhuk...!” darah bercucuran mengotori pakaian yang dikenakannya. “Ini… yang kau maksud hukuman?” Catherine tersenyum dan menyeka darah di bibirnya. [Kau mengujiku. Kau gagal lagi dalam misi ini!] System menghilang lagi. Catherine menghela nafas lega, dia memaksakan diri untuk bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Dia membersihkan diri dan berganti pakaian. Saat keluar kamar mandi, dia mendapati Rini yang memasuki kamarnya. “Apa ada Rini?” tanyanya pura-pura tidak tahu. “Hm… maaf Nona, barusan ada Tuan Tony mencari Nona,” jawab Rini. “Oh, Lalu di mana dia sekarang?” “Sudah pergi, Nona.” Catherine tampak mangut-mangut mengerti, dia kembali merebahkan diri pada ranjang. Rini mengerutkan kening. Hanya itu respon Nonanya? “Nona, makan malam sudah siap. Nona ingin makan sekarang?” Mendengar kata makanan membuat Catherine membuka matanya, dia segera bangkit dan berjalan menuju pintu kamar. “Ayo kita makan!” Rini tampak terkejut hingga Catherine hilang dari pandangan. “Ah… Nona, tunggu saya!” serunya mengejar Catherine. *** Catherine melahap setiap hidangan dengan suapan besar, dia mengajak setiap pelayan untuk makan bersamanya. Namun, mereka semua menolak dengan sungkan. “Makanan ini begitu banyak, Ayo makanlah denganku!” “Tidak Nona, kami akan makan nanti,” jawab Kepala pelayan. “Rini! kemari, makan denganku! Tidak ada penolakan!” paksa Catherine. “Ba-baik Nona!” Catherine dan Rini akhirnya makan bersama, Rini terus menatap Catherine hingga makan mereka selesai. “Ada apa Rini?” tanya Catherine yang masih mengunyah dessert choco lava. “Maaf Nona, saya ingin menyampaikan jika besok ada rapat dewan direksi yang harus Nona hadiri,” terang Rini. System kembali muncul. Catherine yang mulai terbiasa, mengindahkannya dan meneruskan kegiatan makannya.  “Ada apa lagi?” [Karena penolakan misi barusan, kamu mendapatkan misi baru dengan datang ke perusahaan.] “Hm… hanya datang ke perusahaan. Bukan hal sulit,” ujar Catherine santai. [Bekerjalah dengan baik!] perintah System yang mulai pusing dengan sikap berontak Catherine. “Kali ini aku menurut,” Catherine menghabiskan kue dengan senyum jenaka.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN