Keesokan harinya Catherine bangun tidur dalam keadaan segar, wanita itu tersenyum simpul mendapati diri masih berada di atas ranjang king size mewah dan mahal. Selain nyaman tidurnya pun menjadi pulas.
“Sudah lama aku tidak bangun pagi dengan benar,” gumam Catherine.
Wanita itu melangkah menuju kamar mandi yang tidak kalah luas dengan ruangan tidurnya. Kemarin dia tidak terlalu meperhatikan bathtube yang terdapat di sana. Karena dia sibuk membersihkan darah dari tubuhnya waktu itu.
“Aku selalu berkhayal dapat mandi dengan bak seperti ini, hihihi!”
Dibauinya setiap botol sabun di sana. “Bau sabun mahal… sungguh berbeda dengan sabun batangan yang biasa aku pakai.” Catherine menuang isi botol itu dan mengusapkan pada tangannya, matanya langsung berbinar. “Woaaa… tanganku menjadi lembut!”
Catherine senang bukan kepalang hingga ritual mandi pun menjadi memakan waktu yang lama. Rini hanya bisa berdiri terdiam di depan pintu kamar mandi, menunggu Nonanya mandi dengan setia.
“Segar sekali…” Catherine baru saja keluar kamar mandi. Dia pun terkejut dengan kehadiran asistennya.
“Hai… Rini, apa aku terlalu lama?” kekeh Catherine yang melihat Rini sudah ada di balik pintu kamar mandinya.
“Tidak terlalu, Nona,” jawabnya.
“Syukurlah,” ucap Catherine lega.
Setelah acara mandi, kini giliran proses berpakaian yang juga memakan waktu sama lamanya. Catherine berulang kali mencoba dan bingung harus mengenakan baju yang mana.
“Semuanya bagus-bagus! Bagaimana ini?” keluhnya prustasi.
“Biar saya pilihkan, Nona,” Rini mengajukan diri.
Catherine menoleh pada Rini dan mengerucutkan bibirnya. “Kenapa kau tidak menolongku dari tadi?”
Rini tersenyum miris. Pasalnya, sejak tadi dia ingin mengajukan niatnya. Namun, Catherine terus menyuruhnya untuk menunggu.
“Maafkan saya, Nona.” Rini menunduk mengalah.
Catherine mengibas tangan. “Sudah! Jangan meminta maaf. Ayo pilihkan baju yang cocok untukku pakai hari ini!” pintanya.
“Baik!”
Pilihan kali ini jatuh pada blouse warna putih tulang berpadu dengan balzer berwarna nude. Catherine memilih memakai celana bahan panjang dibandingkan dengan rok span minim sebatas paha. Membuat kakinya yang jenjang terlihat jelas dan lebih elegan. Rini mempermanis penampilan Catherine dengan kalung mutiara yang melingkar cantik di leher wanita itu. Anting mutiara pun terpasang di kedua telinga Catherine. Make up minimalis menjadi sentuhan terakhir penampilan paripurna seorang Catherine. Wanita itu menatap takjub dirinya sendiri di cermin. “Rini! Apa benar ini aku?”
“Iya, Nona. Ini anda,” Rini tersenyum bangga. Semua pilihannya disukai oleh sang Nona.
“Bagaimana bisa aku begitu… luar biasa?” pujinya narsis.
“Anda memang selalu luar biasa,” hibur Rini yang terus melirik arlojinya. Sepertinya mereka akan terlambat menghadiri rapat hari ini.
“Kau kelihatan gelisah?”
“Kita… sudah terlambat Nona,” Rini akhirnya mengutarakan kegelisahannya.
Catherine terhenyak. “Ya ampun! Kenapa kau tidak bilang? Ayo berangkat sekarang!” Catherine pun menarik Rini ikut berlari bersamanya keluar rumah.
Para pelayan menatap bingung melihat Nonanya yang hendak pergi. “Nona! Anda belum sarapan!”
“Nanti saja, di kantor!” seru Catherine tanpa menoleh.
***
Catherine tidak henti dibuat membuka mata dan mulutnya dalam ukuran tidak biasa. Setelah kemarin dibuat terperangah dengan segala kemewahan mansion miliknya, kini dia hanya berdiri mematung menatap gedung tinggi yang bagaikan menggapai langit itu.
“Ini tempatku bekerja…”
“Lebih tepatnya, ini gedung milik anda. Nona…”
Catherine menoleh dengan ngeri. “Apa kau bilang?”
“Anda pemilik sekaligus atasan tertinggi di perusahaan ini.”
Mendadak Catherine merasa ciut. Menjadi pemimpin perusahaan sebesar ini, apa dia mampu?
“Aku… tiba-tiba mulas…” Catherine berakting sambil memegang perutnya.
Rini menyadari itu dan menghadang Catherine yang hendak pergi. “Tenang Nona, ada dokter jaga di dalam kantor… biar kita periksa jika Nona mau,” Rini memberikan solusi.
Catherine bungkam seketika, memilih menurut di bandingkan diperiksa dokter dan ketahuan jika dia telah berbohong.
“Mulasnya sudah hilang,” ucapnya dengan senyum terpaksa.
“Mari Nona, saya antar ke ruang rapat,” ajak Rini yang mengulum senyum geli.
Rapat pun dimulai, Catherine hanya menjadi pendengar yang baik. Selama rapat berlangsung, dia meminta Rini yang menggantikannya dalam menyampaikan maksud. Beruntung dia memiliki Rini sebagai asisten multi talenta yang sangat bisa diandalkan. Jika tidak, Catherine akan menjadi bahan tertawaan ketika rapat.
“Terima kasih Rini, apa jadinya hidupku tanpa dirimu…” cicit Catherine. Rapat telah usai, saat ini mereka sedang berada di ruangan Catherine.
“Ini sudah tugas saya, saya minta maaf karena tidak memberikan bahannya pada anda kemarin. Karena insiden itu-“
“Jangan diingatkan, dan jangan meminta maaf,” sela Catherine dan mengangkat tangannya.
“Baik Nona,” jawab Rini patuh.
Kriuk… kruukk~
Sebuah suara yang berasal dari perut Catherine terdengar. Wanita itu menutup mukanya menahan malu, Rini segera beranjak dari duduknya hendak pergi. “Saya akan membawakan Nona sarapan.”
Namun, Catherine malah mengekorinya dan merangkul tangan Rini.
“Aku ikut! Aku tidak mau di dalam ruangan ini sendirian,” pintanya tanpa bisa di tolak.
Mereka pun memilih mendatangi sebuah coffe shop yang tidak jauh dari kantor. Catherine diminta Rini untuk menunggu di salah satu meja, sementara dirinya mengantri untuk membeli coffe.
Seperti biasa, System muncul dengan seenaknya. Catherine mulai merasakan firasat buruk.
[Halo Catherine]
‘Jika dia muncul, pasti sesuatu yang buruk akan terjadi’ gerutu Catherine dalam hati.
Wanita itu diam saja tanpa ingin menjawap sapaan sang system.
[Jangan cemberut, aku tidak membawa misi yang sulit, kok!]
Catherine memicingkan mata curiga. “Entah mengapa, aku tidak pernah bisa percaya,” sarkas Catherine.
[Hm… baiklah, coba kau lihat]
Layar menampilkan seseorang yang membuat Catherine makin tidak enak. Shania!
[Kau hanya cukup membuatnya malu di depan orang banyak, dan membuatnya keluar dari perusahaan mu,]
Catherine mengerutkan alisnya. “Apa tidak ada misi lain yang lebih baik?” ucapnya kesal.
[Karena kamu adalah tokoh antagonis wanita, sudah seharusnya bersikap kejam pada protagonist wanita!]
“Aku tidak mau!”
[Kita lihat]
System menghilang dan secara tiba-tiba Catherine merasakan sebuah cairan panas mengenai perutnya. Saat dirinya menyadari, ternyata Shania telah menumpahkan kopi padanya. Akal sehat Catherine berputar. Bukankah tadi tidak ada Shania? Bagaimana bisa tiba-tiba dia ada di sini?
Shania terperanjat dengan yang dilakukannya. Dia pun bingung dengan hal itu.
“Akkh! Maaf, maafkan aku! Aku tidak tau, barusan aku masih ada di dalam antrian,” Shania panic. Dia menaruh kopi ke atas meja lalu mengeluarkan sapu tangan, mengusapnya dengan gemetar pada baju Catherine. Wanita itu menitikkan air mata sekaligus ketakutan.
“Hei…” Catherine menahan tangan Shania. Bisa dilihat wajah Shania yang merah padam. “Jangan menangis, aku tidak apa-apa,” hibur Catherine.
“Tapi… tapi… aku sudah mengotori baju Nona-“
“Stss… tidak apa-apa, tenanglah. Kemari, duduk bersamaku,” ajak Catherine yang membuat Shania semakin kebingungan.
Biasanya Catherine akan meluap dengan amarah. Tapi kali ini Catherine bersikap berbeda 180 derajat. Tidak hanya Shania, Rini pun hampir melepas kopi di tangannya ketika melihat keramahan Catherine pada saingan cinta wanita itu.
“Sudah lebih tenang?”
Shania mengangguk kaku. “Maaf-“
“Aku tau kamu tidak sengaja,” sela Catherine.
“Terima kasih!”
Rini menghampiri Catherine dengan kopi di tangannya. “Nona, baju anda,” matanya memicing tajam pada Shania yang segera menundukkan wajah.
“Bukan salahnya, ini hanya kecelakaan.” terang Catherine. Wanita itu beranjak dari duduknya hendak pergi. “Kita kembali ke kantor!”
“Nona Catherine!” panggil Shania.
Langkah Catherine terhenti, dia menoleh pada Shania yang tersenyum. “Terima kasih biskuitnya!”
Catherine membalas senyuman tidak kalah manis, dia menggerakkan kepala lalu keluar dari coffe shop tersebut.
***
Rini menatap Catherine selama wanita itu memakan sarapannya. Berbagai pikiran berseliweran di kepala asisten wanita itu.
‘Ada apa dengan Nona? Kenapa dia menjadi sangat baik pada wanita itu?’
[Catherine! Kamu kembali menggagalkan misi, kali ini kamu akan mendapat hukuman lebih berat!]
“Sejujurnya aku mulai muak, meski bergelimang harga. Tapi, hidupku tidak tenang dengan adanya kamu! System navigasi!”
[Ekk! System navigasi?]
“Mau ku panggil mbah wobble?” ledek Catherine.
[Aku bukan perangkat lunak computer!]
“Terserah kau saja!” Catherine menghentikan makannya dan melangkah menuju balkon ruangannya. Dia menatap ke sekitar dengan dalam.
“Aku pikir, sudah cukup aku mendengar segala paksaan misi tidak masuk akalmu. Kau secara tidak langsung berusaha merusak imajinasi novelku, dan aku tidak menyukai itu.”
[Hei, apa yang sedang kau lakukan?]
“Menghentikan permainan bodohmu!”
Saat itu juga Catherine berdiri di sisi pagar balkon. Merentangkan tangannya pasrah sambil tersenyum. Lalu melompat terjun dari gedung.
[CATHERINE!!!]