"Mas..." Panggil Dara. Hariz menoleh, mendapati Dara tengah memandangnya dengan tatapan takut yang terlihat jelas di matanya. Hariz segera menarik Dara untuk menjauh dari antrian orang-orang yang akan masuk kedalam ballroom dan membawa Dara ke tempat yang lebih sepi dan tenang. "Kenapa sayang? Kamu nggak enak badan? Kita pulang aja?" Dara menggeleng. Ia menatap ballroom tempat acara pernikahan anak salah satu dosen senior di fakultasnya dulu dengan tatapan cemas. Jujur, sejak kemarin Hariz mengajaknya untuk menghadiri pernikahan anak salah satu dosen senior di kampusnya, Dara merasa cemas. Ia dan Hariz baru saja memasuki babak baru dalam kehidupan mereka 2 bulan yang lalu. Masih ada banyak sekali hal-hal yang perlu Dara sesuaikan dari hidupnya ke hidup Hariz. Di mata Dara, k

