"Mana Ariyani?" sentak Narenda sesaat setelah Rahma membuka pintu rumahnya. "Dateng ke rumah orang tua itu ngucap salam yang sopan, ini malah bentak-bentak." Narendra berdecak kesal, dia menerobos masuk tanpa peduli pada sang Ibu. Pintu kamar dengan stiker Doraemon di depannya Narendra buka paksa. Kosong, gadis muda yang merupakan adik Narendra itu tidak ada di kamarnya. Rahma menuangkan air putih dari teko lalu menyodorkannya pada Narendra, "minum dulu." Lelaki yang sedang emosi itu bergeming. Tidak menerima niat baik ibu kandungnya. "Kubur istrimu masih basah. Harusnya kamu terus mendoakan dia agar tenang di alam kubur. Ini malah emosi dipelihara? Sampai kapan kamu bersikap egois seperti ini? Adikmu tidak mau masuk fakultas ekonomi kamu ngamuk, gak mau kasih biaya. Sekarang apalagi

