Bab 10

2116 Kata
Pyar! Entah bagaimana nampan yang Arini genggam kuat kini jatuh ke lantai. Cangkir dan gelas itu pecah, menjadi kepingan kecil yang sedikit dari bagiannya mengenai kaki perempuan tersebut. Kaki Arini terluka, darahnya keluar dengan sensasi perih yang rupanya tidak dirasakan sama sekali olehnya. Apa yang perempuan tersebut rasakan bukan lagi terkejut, melainkan syok yang mengundang trauma masa lalunya. “Tante Samira ....” Nama itu keluar dari mulut Arini. Ya, wanita tengah baya tersebut merupakan ibu dari Arka. Seseorang yang dengan secara terang-terangan pernah meminta dirinya pergi. Tanpa peduli bagaimana kisah asmara putranya dulu, Samira meminta agar Arini menjauh dengan jaminan pengobatan kedua orang tuanya terjamin. Tapi, siapa sangka jika ibu dari Arka tersebut malah membangun skandal supaya anaknya membenci Arini dan tidak menyesali kepergian gadis tersebut. “Ngapain kamu di sini? Sengaja kamu mau merusak rumah tangga Arka, hm?” Arini mundur. Kaki telanjangnya tidak sengaja menginjak beling yang tercecer di sana. Ia menggeleng, menepis dugaan yang diberikan oleh Samira terhadapnya. “Ada apa ini?” Suara itu terdengar dari arah lorong yang membatasi ruang tamu dan dapur. Anita, wanita tersebut memasang ekspresi penasaran. “Ya, ampun, Arin ... kamu kenapa?” Ia panik dan menutup mulutnya. Anita menelisik ke arah lantai yang kotor akibat pecahan barang-barang tersebut. Samira menarik tangan menantunya pelan untuk menjauh dari lantai kotor itu. “Jangan ke sini, Sayang. Nanti kaki kamu terluka.” “Ma, kenapa bisa kayak gini?” Suasana mendadak hening. Samira diam-diam melempar tatapan intimidasinya kepada Arini. Dari matanya saja terlihat sebuah ancaman yang membuat Arini tidak bisa berkutik. “Maaf, Mba, tadi ... tadi Arin kaget karena papasan sama Nyonya.” Darinya menunjuk rendah ke arah Samira dengan sopan. Anita mengembuskan napas sambil mengusap dadanya yang detak jantungnya sempat abnormal akibat suara gaduh tadi. “Arin, lain kali hati-hati. Bukan masalah barang yang rusak, tapi keselamatan kamu itu lebih penting. Udah, kamu bersihin dulu luka kamu, terus beresin lantai ini, ya.” Arini mengangguk lalu mengangguk segan. “Iya, Mba. Arin minta maaf.” Tidak mau mendebat, ia mengakui kesalahan yang diperbuat. Arini pamit dari sana untuk membersihkan lukanya di paviliun. Sementara Anita kini mengantarkan mama mertuanya yang berniat untuk ke kamar mandi. “Nita, sebaiknya kamu jangan terlalu baik sama pembantu kamu. Zaman sekarang, banyak, lho, pembantu yang nggak tau diri.” Samira berucap setelah menuntaskan hajatnya di kamar mandi. Kini mereka duduk di tepi ranjang kamar tidur khusus tamu. “Ma, Arin itu wanita bak-baik, kok. Dia penggantinya Mbok Darmi. Nita yakin, Arin nggak bakal ngelakuin yang aneh-aneh.’ Anita berusaha menggiring opini negatif sang mertua terhadap pembantu baru rumahnya. Karena di pandangannya pun, Arini tidak lebih dari seorang gadis lugu yang berniat mengadu nasibnya di kota. Bukannya tenang, Samira malah makin gelisah. Ia takut jika kembalinya Arini di kehidupan Arka akan menjadi ranjau pernikahan anaknya. “Tapi, kamu hati-hati. Nggak semua wanita yang kelihatannya polos itu benar-benar baik. Apalagi kamu kan, sedang hamil.” Samira mengusap perut Anita yang masih rata, kedatangannya ke sini yang berniat untuk menjenguk Anita ternyata malah mendapat kejutan dengan kehadiran Arini. “Iya, Ma. Justru karena Arini, kerjaan rumah ini beres. Kerjanya rapi dan cekatan, Ma. Padahal belum sebulan dia di sini.” Kehadiran Arini tidak ayal membuat Anita terbantu dengan segala aktifitasnya. Tiap hari rumahnya selalu dalam keadaan bersih dan rapi. Taman belakang dan teras rumah selalu wangi dengan tanaman hias yang dirawat begitu baik oleh Arini. Hal tersebut yang membuat Anita juga menghargai keberadaan Arini, lebih dari sekedar pembantu. “Pokoknya kamu tetap harus hati-hati.” “Siap, Ma. Oh, iya, Mama mau istirahat di sini dulu atau mau ke depan lagi?” Samira yang merasa badannya sedikit lelah dan kepala pusing pun memilih bersandar di sana. “Mama di sini dulu, Nit. Mau istirahat sebentar.” “Oke, nanti Nita suruh Arini bawain selimut ke sini. Nita tinggal ke bawah dulu, ya.” “Iya, Sayang. Kamu jangan sampai kecapean.” “Mama tenang aja.” Anita mengusap lengan sang mertua lalu keluar dari kamar tersebut. Samira mengambil posisi berbaring sambil memijit pelipisnya pelan. Aromaterapi dari kamar tersebut membuatnya sedikit rileks. Rasa pusing akibat terpapar panas saat perjalanan ke rumah putranya pun berangsur pulih. Tok-tok-tok! Ketukan pintu itu terdengar pelan. Samira beringsut dan menyahut, meminta agar orang tersebut masuk. Begitu sosok tersebut masuk, Samira duduk. Kakinya menyilang dan menampilkan senyumnya yang licik. Ia tatap perempuan yang langkahnya tertatih. “Berani juga kamu menghadapku lagi. Dasar, perempuan kampung!” Mulut Arini seperti dikunci. Ia tidak punya niat untuk membalas maupun menyangkal cercaan yang dilemparkan terhadap dirinya. Ia mengambil posisi tenang, berdiri sambil memeluk selimut yang masih terbungkus rapi. Tidak sekacau tadi, Arini sudah jauh lebih baik. “Saya hanya ingin mengantar selimut ini, Nyonya.” Arini maju beberapa langkah dan meletakkan selimut tersebut di dekat Samira. Ia mundur lagi, tumitnya berputar hingga badan pun menghadap ke pintu. “Siapa yang menyuruhmu pergi?!” Mendapat teguran, Arini kembali berbalik. Sebisa mungkin ia mematri senyum lebar di wajah sayu dan lelahnya. “Ada lagi yang perlu saya kerjakan, Nyonya?” Sikap Arini yang demikian justru mematik amarah Samira lebih dalam. Ia geram dengan perempuan yang dianggap bermuka dua. “Jangan sok baik kamu! Mau kamu bersikap lembut pun, aku tau kalau kamu itu cuma wanita ular yang memanfaatkan harta Arka.” Lelah sekali rasanya ketika Arini dipandang sebelah mata oleh wanita tersebut. Hanya karena kondisi sosialnya yang tidak mapan. Lantas sewenang-wenang orang menilainya. “Saya nggak pernah ada niat seperti itu, Nyonya. Saya cukup tau diri.” Samira malah tertawa. Kedua kakinya turun dan memangkas jarak dengan Arini. Ia angkat wajah perempuan tersebut dengan jari telunjuknya. Walau begitu, pandangan Arini tetap terpaku ke lantai. Tindakannya itu seolah memberi isyarat jika ia tidak mau terlibat dalam tatapan intimidasi si wanita paruh baya. “Tau apa kamu tentang harga diri? Bahkan, harga dirimu itu bisa dibeli dengan uang sepuluh juta. Hanya sepuluh juta.” Samira menampakkan sepuluh jari kedua tangannya. “Apa kamu nggak ingat gimana murahannya kamu sampai mau dipeluk oleh pria asing.” Sayang sekali, Arini kalah telak ketika dipaparkan kesalahannya di masa lalu. Di mana perempuan tersebut harus mau berfoto dengan pria tidak dikenal demi mendapat bayaran untuk pengobatan kedua orang tuanya. Tanpa disangka, dalang di balik semuanya adalah Samira. Arini pun tidak menyangka, walaupun tidak ada hal yang bisa ia lakukan setelahnya. “Tapi, semua itu karena Tante yang memaksa. Tante yang buat saya begini.” “Itu karena kamu yang tidak tau diri! Orang sepertimu itu cuma jadi sampah dan benalu untuk orang lain.” Arini kehabisan kata-kata. Kemampuan dalam berbicara seperti diserap habis oleh kenyataan yang membuatnya tertampar. “Pangkat dan harta itu tidak dibawa mati, Tante, tidak ada yang perlu disombongkan karena kita mati pun tidak membawa apa-apa.” Balasan yang diberikan oleh Arini nyatanya membuat Samira terdiam beberapa saat. Ia mengepalkan kedua tangannya lalu mengangkatnya ke udara. Plak! Tamparan itu mendarat di pipi kiri Arini. Kebas dan panas membuat perempuan tersebut mengusapnya pelan. “Lancang sekali mulutmu! Kamu pikir kamu siapa, hah?!” Wajah Arini sangat datar. Ia tidak berminat menanggapi ucapan Samira lebih banyak. Cukup sudah selama ini ia dihina. Kebiasaan itu membuatnya lama-lama kebal. “Kalau memang nggak ada lagi yang diperlukan, saya pamit dulu. Permisi.” Samira menahan lengan perempuan tersebut. Ia layangkan tatapan nyalangnya tanpa jera. “Jangan jadi orang ketiga di rumah tangga anakku atau kamu akan hancur di tanganku!” ** Drama konflik dengan Samira telah selesai. Selama lima hari penuh, Arini harus menahan sakit hati karena terus-terusan dihina oleh wanita tersebut. Kerap kali Samira mencari-cari alasan tentang apa yang telah dikerjakan oleh Arini. Selama Samira di sana, tenaga Arini seperti diperas. Untuk sekedar istirahat beberapa menit saja, ia tidak punya waktu. Sampai akhirnya, kesehatannya drop dan asam lambung pun naik karena sering telat makan. Kali ini ia meringkuk di atas ranjang sederhana. Ancaman nyata dari Samira masih terngiang di telinganya. Sesekali perempuan itu memikirkan bagaimana nasib masa depannya nanti. Akankah benar ia menjadi simpanan Arka? Atau ... ada sebuah keajaiban yang mungkin membuatnya lepas dari lingkaran hitam rumah tangga majikannya. Tok-tok-tok! Arini menoleh ke arah pintu kamar. Ia turun dari ranjang, menutupi tubuhnya dengan selimut. Dengan langkah gontai, ia menuju ke sana dan membukanya lebar. “Mba.” Anita tidak menjawab dalam beberapa detik lamanya. Ia sibuk memperhatikan wajah Arini yang pucat juga tubuhnya yang menggigil. “Lebih baik kamu periksa. Biar Mas Arka antar kamu ke dokter.” Sontak Arini menggeleng. Ia tidak ingin merepotkan Anita. Pun ia tidak ingin terjebak ketika harus berdua dengan Arka. “Nggak usah, Mba. Nanti juga sembuh, kok. Tadi Arin udah minum obat.” Tangan kanan Anita terangkat, menyentuh dahi dan leher Arini untuk memastikan suhu di tubuhnya. “Kamu minum obat warung, Rin?’ Arini mengangguk perlahan. Giginya saling gemertak ketika menggigilnya makin hebat. Padahal, selimut yang membungkus tubuhnya sudah sangat tebal. Siapa pun pasti akan merasa gerah jika membungkus tubuhnya rapat dengan selimut jenis tersebut. Belum lagi cuacanya pun sedang panas. “Biasanya Arin minum obat warung dan langsung membaik, Mba.” Bibir Anita berdecap kesal saat mendengar jawaban Arini. “Udah, kamu istirahat lagi. Nanti Mba panggilin dokter buat meriksa keadaan kamu. Jangan nolak, kesehatan kamu itu tanggungan Mba karena kamu kerja di sini.” Setelah mempertimbangkan dalam waktu cukup lama, Arini akhirnya mengangguk. “Baik, Mba. Makasih banyak karena Mba udah baik sama Arin.” Bibir bergincu merah muda itu menampilkan senyum merekah. Ia mengusap pelan lengan Arini yang tertutup selimut tersebut. “Sama-sama. Kamu masuk sekarang. Pekerjaan rumah nggak usah kamu pikirin dulu.” “Iya, Mbak.” ** Malam hari .... Benar kata Anita, ternyata efek obat warung dan obat yang diresepkan oleh dokter mempunyai khasiat yang berbeda. Buktinya, setelah pagi tadi mendapat pemeriksaan dan mengkonsumsi obat yang diresepkan, kondisi tubuh Arini berangsur pulih. Rasa pusing dan lambungnya yang nyeri mulai berkurang. Sedikit demi sedikit, Arini menyuapkan makanan ke mulutnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Drt-drt-drt! Baru beberapa suap ia menelan, ponsel yang sudah beberapa hari hening itu mulai mengeluarkan suara lagi ketika mendapat panggilan masuk. Bude Darmi. Nama wanita yang merupakan kerabat yang paling bisa Arini percayai muncul di layar ponselnya. “Assalamu’alaikum, Bude.” [“Walaikumsalam, Rin. Bude cuma mau ngabarin, ayah kamu kondisinya udah stabil dan jadi dioperasi besok malam.”] “Oh, ya? Terus gimana, Bude?” [“Lho, kok, gimana. Ya, kamu kirim uang lagi to, Ndok.”] Gleg! Arini kesusahan menelan salivanya saat mendengar permintaan budenya. Belum juga seminggu ia kirimkan uang seratus juta. Apa mungkin biaya pengobatan ayahnya sebanyak itu. “Tapi, Bude, bukannya uang seratus juta itu masih ada sisa, ya? Pengobatan rawat inap Ayah nggak semahal itu, kan?” Terdengar Bude Darmi di seberang sana menggeram. [“Jadi, kamu nggak percaya sama Bude? Emang yang sakit itu cuma ayahmu? Ibumu juga butuh biaya obat jalan dan perawatan luka di punggung akibat penyakit strokenya yang parah.”] Kenyataan yang baru didengar membuat Arini hanya bisa menutup mulutnya. Sakit sekali rasanya ketika tidak bisa menemani dan merawat kedua orang tuanya yang dalam keadaan sakit parah. Helaan napas kasar keluar dari mulut Arini. Ia berada di sini pun demi mereka. Ayah dan ibunya menjadi alasan utama mengapa ia harus kuat. Sekarang ia bingung harus bagaimana. Pinjam dengan Arka lagi? Tidak mungkin. Karena utang yang seratus juta saja belum ia bayar. [“Rin! Kamu dengerin Bude nggak, sih? Halo!”] Jelas alasan yang pertama adalah sungkan. Arini sengaja diam untuk menghindari tekanan dari budenya walau sebentar saja. “Iya, Bude. Tapi, Arin nggak mungkin utang lagi ke tuan Arka. Utang yang kemarin aja belum sempat dicicil.” Arini berusaha menawar, berharap budenya pun mau sedikit bersabar. Barang kali ia punya jalan keluar lain dalam waktu dekat tanpa melibatkan Arka. Sumpah demi apa pun, Arini hanya ingin punya uang dari hasil jerih payahnya yang halal. Berkali-kali ia mempertimbangkan janjinya untuk menyerahkan diri. Akan tetapi, berkali-kali pula ia merasa malu dengan apa yang sudah terlanjur ia janjikan kepada Arka. Ia tidak bisa membayangkan andai saja benar menyerahkan diri kepada Arka. Arini pasti akan dicap sebagai perempuan gampangan dan tidak punya harga diri, kan? Apalagi sedari awal Arka memang berpikiran bahwa ia sudah tidak lagi gadis. Padahal, faktanya Arini adalah perempuan yang masih bisa menjaga dirinya dengan baik. [“Rin, kamu tau sistem rumah sakit, kan? Ada biaya ada tindakan. Kamu mau ayahmu kenapa-kenapa?”] Sontak Arini mengeleng meskipun tidak dilihat oleh Bude Darmi. Ia kalut dengan kondisinya yang kian mengimpit. “Nggak bisa, Bude, Arin nggak mungkin pinjem ke Tuan Arka lagi. Apalagi Arin kerja kan belum sebulan. Malu, Bude.” [“Nggak apa-apa, Rin. Kamu bilang aja. Tuan itu orangnya baik dan nggak tegaan.”] ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN