Bab 11

2273 Kata
Bude Darmi yang terus-menerus memberi desakan, membuat Arini hanya bisa membisu. Ia biarkan wanita paruh baya itu memanggil berkali-kali. Beberapa saat kemudian, panggilan suara itu mati, berganti dengan panggilan video. Dengan setengah rasa malas, Arini mengangkatnya. [“Tuh, liat keadaan ayah sama ibumu! Masih tega kamu biarin mereka kayak gitu? Apa jadinya kalau mereka nggak bisa obat jalan, Rin!”] Kamera ponsel Bude Darmi diarahkan ke kedua orang tua Arini. Terlihat bagaimana kondisi ibunya yang terbatas tengah duduk di atas kursi roda sambil memegangi tangan suaminya. Saking halusnya perasaan perempuan tersebut, ia sampai menitikkan air mata. Ibunya yang strok dan lumpuh bahkan harus turut menjaga suaminya di rumah sakit. “Bude, Arin mau minta tolong. Kalau BPJS punya Ayah yang dari pemerintah diurus lagi bisa, nggak? Siapa tau bisa diaktifin lagi meskipun udah lama mati.” [“Duh, urus kayak gituan itu ribet, Rin! Siapa yang mau urus coba? Sedangkan Bude aja udah pusing dan capek tiap hari urus ayah sama ibu kamu! Bude nggak ada waktu ke kota. Kalaupun mau lewat Hp, Bude nggak tau caranya.”] Arini hanya bisa terisak ketika kondisinya benar-benar sulit. Ia tatap wajah ibu dan ayahnya di layar tersebut dengan tatapan sendu. “Tapi uang seratus juta itu banyak, Bude. Boleh Arin lihat mutasi biaya rumah sakitnya?” Bude Darmi terdengar mendesah keberatan. Ia berikan tatapan tajam kepada keponakannya yang mulai berani mencurigainya. [“Kalau kamu nggak percaya, Bude nyerah aja, deh, urus orang tua kamu.”] Sontak Arini menggeleng. Jika bukan dengan budenya ia bergantung, lantas pada siapa lagi? Ia tidak punya siapa-siapa. “Jangan, Bude. Arin mohon tetap rawat Ayah sama Ibu.” [“Sakit hati Bude, Rin. Kamu nuduh Bude kayak gitu atas dasar apa? Bude itu nggak pernah bohong sama kamu. Semua uang yang kamu kirim murni buat pengobatan.”] Arini jadi merasa sedikit bersalah atas sikapnya. Apa memang ia keterlaluan karena sudah berpikir negatif? Perempuan tersebut hanya bisa menunduk, merenungi sikapnya sendiri. “I–ya, Bude, maaf kalau Arin salah. Kondisi Arin lagi kurang sehat, jadi pikiran juga kacau banget. Tolong maafin Arin.” Orang di seberang sana tampak memikirkan soal keputusan yang akan diambil. hal tersebut membuat Arini gelisah. Akan seperti apa nasib kedua orang tuanya jika sampai Bude Darmi tidak mau membantunya lagi. Ia sedikit menyesali mulut dan hatinya yang tidak bisa dikontrol hingga membuatnya gegabah menilai. [“Ya, udah, Rin. Intinya kamu harus selalu kirim uang tiap Bude minta. Demi ayah dan ibumu. Biaya transport kan, mahal. Biaya makan sehari-hari, obat yang harus dikonsumsi rutin juga nggak murah. Jadi, seratus juta belum apa-apa, Rin.— --Belum lagi bayar kontrakan yang udah nunggak enam bulan dan pemiliknya minta naik, bayar listrik, bayar air. Kalau bukan kamu yang mereka andelin, mau siapa lagi. Kamu juga kan, yang menyanggupi untuk kerja di sana biar bisa cari biaya pengobatan?”] Kalimat panjang lebar yang Arini dengar membuatnya hanya bisa menunduk lesu. Mau bagaimana lagi, kondisi ekonominya memang terpuruk. “Iya, Bude. Arin paham. Nanti Arin usahain.” [“Bude tunggu, Rin. Kamu meskipun sakit, jangan santai-santai dan keenakan ambil jam istirahat. Kalau masih bisa jalan, tetep kerja. Nggak enak sama Tuan dan Nyonya yang baiknya kebangetan.”] “Baik, Bude. Arin mau mandi dulu. Salam buat Ayah sama Ibuk.” [“Nanti Bude sampaikan.”] Sambungan panggilan video itu benar-benar berakhir. Arini bergeming. Ia mendudukkan diri di sofa yang warnanya sudah usang. Pikiran dan tenaganya seperti diforsir. Dari mana ia harus mendapatkan uang? Padahal, gajinya sudah terbilang lumayan besar. Lima juta per bulan. Nominal yang Arini sangka jumlahnya fantastis itu ternyata bukanlah apa-apa jika harus digunakan untuk pengobatan kedua orang tuanya. Kondisi ayah dan ibunya memang sudah parah. Arini berusaha sadar jika kedua orang tuanya memang butuh penanganan lebih banyak dan tentunya membutuhkan biaya besar. Butuh sedikit ketenangan, Arini mandi sekaligus mencuci beberapa pakaian kotor. Ia membuat minuman teh manis panas dan menikmatinya di meja yang dekat dengan ranjang kamarnya. Malam ini, Arini gunakan untuk beristirahat penuh supaya tenaganya benar-benar pulih. Walau tidak bisa dimungkiri, kepalanya masih sedikit pusing akibat masalah yang dihadapi. ** Sebagai ganti dari harinya yang tidak masuk bekerja, Arini bangun lebih pagi untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah yang terbengkalai. Mumpung rumah pun masih sepi, Arini membersihkan seluruh sudut ruang secepat mungkin. Waktu terus berjalan. Tanpa terasa, jam di dinding sudah menunjukkan pukul enam. Gegas gadis tersebut beralih ke dapur untuk membuatkan beberapa menu kesukaan Anita. Ia hidangkan di atas meja makan, lengkap dengan s**u hangat dan secangkir kopi hitam untuk Arka. “Alhamdulillah udah selesai semuanya. Sekarang, tinggal aku beresin cucian yang udah aku keringin dan jemur di bagian belakang.” Senyum kepuasan terhias di bibir ranum itu. Ia senang jika pekerjaannya selesai lebih awal. Begitu hendak keluar dari pintu belakang, tiba-tiba Anita yang turun di anakan tangga memanggilnya. Tumit Arini berputar, menghadap Anita yang sedang duduk di salah satu kursi meja makan. “Iya, Mba?” Anita memperhatikan wajah Arini yang menurutnya sudah mulai membaik. “Kamu udah beneran pulih, Rin? Jangan sampai drop lagi. Makan itu yang teratur.” Arini tersenyum kikuk. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Seperhatian itu Anita terhadap dirinya. Gadis tersebut mengangguk sungkan. “Iya, Mba. Makasih banyak perhatiannya.” “Oke. Sekarang, kamu duduk di sini. Kita sarapan sama-sama.” Ajakan itu justru membuat Arini makin bingung. Ingin ia menolak, tapi takut dianggap tidak tahu diri. Kalaupun menerima, ia tidak sanggup jika harus berhadapan dengan Arka. “Lho, kok, malah diem. Duduk, Rin. Bude kamu itu juga selalu makan bareng kami, kok.” “I-iya, Mba.” Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Arini menarik kursi di sebelah Anita. Dua perempuan yang selisih usianya tidak banyak itu menunggu kehadiran Arka di meja makan. Tidak lama kemudian, Arka bergabung di sana. Ia berdeham, kemudian melempar tatapannya pada Arini yang hanya menunduk. Menatap sosok gadis itu, membuat Arka teringat sesuatu. Malam itu ... malam di mana ia mengetahui bahwa Arini masih gadis. Ah, membayangkannya saja membuat Arka mabuk kepayang, apalagi harus merasakannya. Ia pasti akan mendapatkannya. Sesegera mungkin. Bukan ia yang meminta, melainkan Arini akan datang ke ruangannya, memohon agar melakukan itu dengannya karena sebuah jaminan. Miris memang karena ada gadis yang rela keperawanannya digunakan sebagai alat untuk membayar utang. “Mas, kamu mau makan sama apa? Biar aku ambilin.” Anita menawari ketika mengambilkan sedikit nasi ke piring suaminya. Tidak tahu saja dia jika suaminya itu sedang sibuk menatap Arini sedari tadi. “Telur dan sup saja, Nit.” “Nggak mau daging?” Arka menggeleng singkat. “Lagi nggak pengen.” “Oke, Mas.” Wanita tersebut mengangguk. Ia juga mengambil makanan untuk diri sendiri. Dirasa ada yang kurang, Anita menoleh ke arah Arini yang masih diam sedari tadi. “Makan, Rin. Kamu Mba suruh di sini itu buat sarapan, bukan jadi penonton kami makan.” “E—eh, iya, Mba.” Lagi, Arini tersenyum tipis. Dengan berat hati, ia mengambil makanan itu dengan porsi sedikit. Gugup sekali rasanya ketika semua gerak-geriknya diperhatikan Arka sedari tadi. Bagaimanapun juga, posisinya adalah seorang pembantu. Dan tidak pantas rasanya ketika ia harus duduk setara dengan majikannya sendiri. Arini merasa rendah diri hingga gugupnya memberi efek ke tubuh. Ia gemetar, bahkan sendok di tangannya pun sampai tanpa sengaja berdenting dengan piring. Beruntung Anita tidak menyadarinya sampai suap demi suap masuk ke mulut. Masakannya yang mungkin enak bagi Anita, ternyata terasa hambar di mulut Arini. Tentu saja ia merasakan itu karena kenyataannya tiap kali makanan yang hendak ditelan, seperti tersangkut di dalam tenggorokan. Semua itu sebab Arka yang terus menerus mengawasinya dengan saksama. Pandangan mata pria tersebut bahkan tidak meninggalkan kesan hangat sedikit pun. “Mas, hari ini kamu mau bawa bekal?” Arka yang sudah lebih dulu menyelesaikan ritual sarapannya lantas mengangguk singkat. “Boleh.” “Kalau gitu, biar Arin yang siapin. Aku ke atas dulu buat ambilin tas kerja sama jas kamu.” “Iya, Nit.” Anita beranjak dan memandang ke arah Arini yang sedang membereskan meja makannya. “Rin, minta tolong siapin bekal Mas Arka, ya. Pakai kotak bekal yang warna abu. Biasanya Mbok Darmi simpan di lemari atas piring.” “Siap, Mba.” Dua perempuan tersebut pergi berlawanan arah untuk melakukan tugasnya masing-masing. Arini mulai meneliti satu per satu lemari kecil yang ada di dapur. Ia menarik kursi pantri dan naik di atasnya. Posisi lemari di atas lemari piring yang lumayan tinggi membuatnya tidak gampang untuk mengambilnya. “Nah, ini dia.” Arini lega ketika mendapatkan barang yang ia cari lalu mengambilnya. Saat hendak turun dari kursi yang dijadikan alat pijakan, sisi kakinya tiba-tiba tergelincir hingga dirinya kehilangan keseimbangan. Tubuh gadis tersebut jatuh. Tapi, bukan sakit yang ia rasakan. Matanya yang sempat memejam itu terbuka perlahan. Refleks, ia terperanjat dan turun dari rengkuhan tangan pria tersebut. ia memegangi jantungnya yang berdegup kencang ketika sempat tidak sengaja bertemu tatap dengan lelaki tersebut. “Ceroboh!” Pria itu hanya mencibir lalu mengambil kotak bekal yang tercecer di lantai. “Maaf, Tuan. Saya nggak sengaja.” Arini panik bukan main. Ia memilin ujung baju yang dikenakan. Kedua matanya sibuk melirik ke kanan dan ke kiri secara berulang. Ia gelisah. “Ada apa, Rin?” Anita yang datang seolah menjadi penyelamat untuk Arini. Wanita tersebut memakaikan jas ke tubuh suaminya. “Tadi Arin nggak sengaja jatuhin kotak bekalnya, Mba.” Wanita yang tengah hamil muda tersebut melihat ke arah barang yang tergeletak di meja pantri. Ia menghela napasnya pelan lalu merapikan dasi di kerah kemeja sang suami. “Oh, kirain Mba ada apa. Ya, udah, nanti biar Mas Arka makan di kafe kantor aja pas istirahat,” kata Anita lalu menatap wajah suaminya. “Nggak apa-apa, kan, Mas? Soalnya kotak bekal makanan yang lain itu ukurannya agak kecil.” “Oke, nggak masalah.” Seperti biasa, Arka menjawabnya dengan ringkas. Anita menyalami tangan kanan Arka lalu mengantarnya ke depan. Namun, saat pria tersebut hendak masuk ke mobil, seketika Arini teringat sesuatu. “Eh, Mas, orang yang mau kerja jadi sopir dan rawat tanamanku bakal datang hari ini.” Lagi-lagi Arka hanya mengangguk. “Kamu atur gimana baiknya.” “Oke, deh. Kamu nggak lembur lagi, kan?” “Aku usahakan.” Anita tidak menjawabnya lagi. Ia biarkan suaminya pergi ke kantor sambil melambaikan tangan. Belum sempat masuk, sebuah sepeda motor pun memasuki pekarangan rumah yang luas itu. “Pagi, Nyonya. Saya Restu, orang yang dikirim Pak Hasan buat kerja di sini.” “Pagi. Baik, masnya bisa mulai kerja hari ini. Oh, iya, mengenai tempat tidur kamu ....” Anita bingung. Jika menempati paviliun, berarti akan tinggal satu ruang dengan gadis tersebut. Apa pun bisa terjadi jika ada kesempatan. Tapi, jika ditempatkan di kamar belakang yang ada di rumah, ia dan suaminya tidak punya privasi. Arka paling tidak suka ada orang lain yang tinggal di rumahnya. “Oh, Nyonya tenang aja. Saya laju, kok. Kebetulan rumah saya juga cuma berjarak sepuluh menit dari sini.” “Oalah, bagus kalau gitu. Kamu habis ini ke pasar, ya. Sama Arin, belanja kebutuhan dapur karena udah pada habis semua.” “Mobilnya ada di garasi. Kamu bisa panasin dulu. Kontaknya ada di gantungan samping mobil.” “Baik, Nyonya. Terima kasih. Saya mulai kerja dulu kalau gitu.” Anita mempersilakan pekerja barunya. Sementara ia kini masuk ke dalam rumah, melihat Arini yang baru saja selesai mencuci piring. Wanita tersebut lantas membuka isi kulkas, menulis beberapa barang dalam kertas kecil dan diberikan kepada Arini. “Semua keperluan yang harus kamu beli udah Mba catat. Beberapa ada di supermarket dan sebagian lainnya di pasar. Nanti minta tolong sama Restu buat bawa barangnya.” Dahi Arini mengernyit bingung. Jelas ia tidak tahu siapa sosok yang baru saja disebut oleh Anita. “Ah, ya, Mba lupa bilang. Restu itu sopir baru di rumah ini. Selain jadi sopir, sekarang tugas bersihin taman sama kuras kolam biar Restu yang ngerjain. Jadi, kamu punya waktu istirahat cukup.” “Oh, iya, Mba. Makasih banyak, Mba.” Tanpa menjawab dengan kata-kata, Anita memberikan segepok uang ratusan ribu yang membuat mata Arini mengerjap berkali-kali. “Pakai cash aja, Rin. Nanti di pasar susah kalau pakai kartu.” Uang itu masih ditatap oleh Arini. Ia takut membawa uang sebanyak itu. Saking takutnya, tangannya sampai gemetar. “Mba, apa ini nggak kebanyakan?” Anita malah tertawa mendengar pertanyaan polos tersebut. Ia menepuk punggung Arini beberapa kali sampai tawanya terhenti. “Pokoknya kamu tinggal belanja semua barang yang udah Mba tulis. Bawa uangnya hati-hati. Akhir-akhir ini lagi rawan soalnya.” “Rawan?” Arini benar-benar polos dan hal itu membuat Anita hanya bisa menghela napasnya sambil bergidik tidak habis pikir. “Udah, nggak apa-apa. Lupain aja. Mending kamu berangkat sekarang.” “Em, iya, Mba. Arin berangkat dulu.” Usai mendapat anggukan dari Anita, Arini berlalu dari sana. Ia menaiki mobil dan duduk di kursi depan, berdampingan dengan pria bernama Restu itu. Pria tersebut terlihat masih muda. Mungkin, sekitar 25 tahun. Perawakannya tinggi, agak kurus, tetapi rapi dan bersih dengan kulit sawo matangnya. “Udah lama kerja sama Nyonya, Mba?” Suasana hening itu pecah oleh suara Restu yang berusaha membangun obrolan. Pria tersebut melirik ke arah Arini yang tampak lugu dan ... cantik menurutnya. “Baru satu bulanan.” “Oh, baru berarti, ya. Mba asli sini?” Arini menggeleng. “Bukan, Mas, saya asli Jogja pedalaman. Jangan panggil ‘mba’, saya jauh lebih muda dari Mas. Panggil Arin aja.” “Oke, deh. Wah, jauh juga asalmu. Saya juga ada saudara di sana, sih, tapi dekat Malioboro.” Perempuan itu hanya menanggapinya dengan senyuman. Ia mengedarkan pandangan. Jalan kota hari ini cukup padat. “Rin, aku boleh minta nomer kamu nggak?” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN