BAB 18

1217 Kata
"Gue berangkat sama lo aja Ger" pinta Tara. "Oke, ayok!" ajak Gery sembari menuju parkiran motornya "Kenapa ga naik mobil sama Gio aja Tara?" tanya Anisa. "Tara lebih suka naik motor tante, bisa liat pemandangan" jawabnya sambil tersenyum. Gio yang mendengar ucapan Tara, "Gue juga ogah bareng sama lo" cibirnya sembari melangkah menuju mobilnya. Tara menatapnya sinis. "Tara berangkat dulu ya tante, om" sembari mencium tangan keduanya. "Iya, hati - hati ya, kalau butuh bantuan apapun itu, kamu bisa bilang Gery atau Gio ya" dibalas anggukan oleh Tara. Diperjalanan Tara banyak diam, ia hanya melihat - lihat jalanan sekitar, biar nanti saat Gery tidak bisa bersamanya ke sekolah, ia bisa berangkat sendiri. "Lo pegangan Tar, gue mau ngebut, agak terlambat soalnya" mendengar perintah dari Gery, Tara berpegangan, siapapun yang melohat akan mengira mereka adalah sepasang kekasih. Sesamapainya di sekolah, terliahat Gio sedang berdiri di dekat mobilnya bersama teman - temannya. Ia melihat Gery dan Tara baru saja tiba dengan posisi Tara yang masih memeluk Gery, dan rok yang sedikit terangkat. Gio yang melihat itu merasa risih. Ia berjalan mendekati Gery dan Tara. "Lain kali pake jaket, kelihatan" ucapnya sembari melemparkan jaket di muka Tara. Tara yang mendapat lemparan secara mendadak seketika kaget. "Ih, apaan sih" tapi Gio sudah pergi menuju kelasnya. "Lo tadi naik ga pake jaket emang?" tanya Gery. "Enggak'" jawab Tara polos. "Pantesan, wajar lah si abang marah, dia tuh ga suka pake banget kalau ada cewek naik motor, terus roknya keangkat gitu" jelas Gery "Apaa??" pekik Tara "Jadi tadi kelihatan? gue ga pernah naik motor dan ga kerasa juga, jadinya ga paham". "Kurang pinter sih lo" ledek Gery sembari mengusap kepala Tara. "Jangan ih, berantakan lagi rambut gue. Udah yuk masuk, anterin gue ke kelas ya, gue belum tau kelasnya" pinta Tara sambil tersenyum. "Lo sekelah sama gue kali" ucap Gery sambil berlalu. "Eh, beneran, lo sama gue sekelas" tanya Tara tak percaya. "Iya..." ucap Gery sembari masuk ke kelasnya setelah sampai di salah satu ruangan paling ujung. Tara hanya mengikuti Gery tanpa banyak omong. "Dita, bangku samping lo kosong kan?" tanya Gery "Iya kosong" "Tar, lo duduk sini aja, deketan sama gue" ucap Gery. Seluruh murid yang ada di kelas menatap heran dengan perlakuan Gery. Pasalanya ia tidak akan menegur teman perempuan terlebih dahulu, walaupun itu untuk tugas. Gery yang di rumah terkenal sangat berisik, tidak di sekolah. Ia adalah anak dengan perangai yang jelek, ia dingin dan ketus pada teman perempuan. Dan tadi, ia bertanya pada Dita, jadi heboh deh. "Gue duduk sini ya" ucap Tara pada Dita. "Oh iya, gue Tara" "Gue Dita" jawabnya sembari tersenyum. "Taruh tas lo di sini aja, sekarang gue anter ke ruang Wali kelas" ajak Gery sembari menarik tangan Tara. Dia dan teman - temannya yang menatap adegan itu seketika berteriak histeris. "Woooooo.... gas Ger" ucap David sahabat dari Gery. "Nyak cot lo pada" ucap Gery sembari pergi menuju ruang Wali kelas. "Lo masuk sendiri ya, gue balik ke kelas" "Oke, makasih ya" ucap Tara sambil melambaikan tangannya pada Gery. Tok.. tok... tok... bunyi pintu di ketok "Masuk" terdengar suara dari dalam "Permisi pak, saya Taranindya Bagaskara, murid baru, boleh saya masuk" "Oh iya, masuk. Kamu murid yang kemarin di daftarkan oleh pak Fahri kan?" tanya pak Budi. "Iya pak, benar." "Setelah melihat nilai kamu di SMP harusnya kamu bisa dapat beasiswa, kenapa berhenti 1 tahun?" "Ada masalah keluarga pak, jadi saya memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah saya sementara" "Oh, maaf, saya tidak bermaksud ikut campur" "Tidak apa - apa pak" "Kalau begitu kamu bisa kembali ke kelas, nanti saya akan masuk untuk mata pelajaran kedua" "Baik pak, kalau begitu saya permisi dulu" ucap Tara sembari berdiri dan meninggalkan ruangan pak Budi. Setelah keluar dari ruangan, Tara bingung kelasnya ada di sebelah mana. "Gue harus ke arah mana?" gumamnya. "Pinter banget sih lo Tar, buta arahnya parah banget" ucapnya menyesal. "Gue jalan aja deh, siapa tau ketemu kelasnya" Tara berjalan menyusuri lorong, ia membaca setiap plang nama kelas yang terpasang, tapi tidak menemukan tulisan kelas 1. Kemudian ia melihat Gio yang sedang berjalan ke arahnya. "Duh, ngapain sih pake ketemu dia segala, nanya aja kali ya? tengsin dong gue" monolognya dalam hati. "Hei.." ucap Gio pada Tara. "Apa?" jawabnya ketus. "Ngapain lo di sini? tebar pesona?" "Apaan sih, gajelas banget, gue dari ruangan pak Budi tau" ucap Tara sembari mencebikkan bibirnya. Gio yang melihat itu merasa gemas, jantungnya berdetak tak karuan. Tapi bukan Gio namanya jika ia mengakui itu, tentu saja ia menyangkal. "Terus lo mau kemana? ini masih masuk jam pelajaran" "Ya mau balik ke kelas lah, masa mau ke kantin" jawab Tara ketus. "Ini emang arah ke kantin, arah ke kelas lo itu ke sana" ucap Gio sembari menunjuk arah yang benar. Tara mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Gio, ia merutuk dirinya sendiri "Ya ampun, Tara, kok bisa lo jalannya berlawanan arah sih" "Lo buta arah?" tanya Gio penasaran "Ga lah, gue tuh mau beli minum sekalian, tapi karena ketemu sama lo, gue jadi badmood" Tara berlari menuju arah yang sudah di tunjuk oleh Gio tadi. Gio yang melihat tingkah Tara tanpa sadar tersenyum. "Woy, senyum - senyum sendiri aja bro, kesambet lo" tanya Reza. "Tau nih, seorang Gio Wijaya tersenyum itu adalah hal langka, kita harus mengabadikan nih" timpal Fadel. "Eh masuk kelas yuk, ada bu Marina tuh" ucap Miko. "Weh,, guru favorit nih, masuk ah, rugi kalau ada guru cantik kita ga di kelas tuh" ucap Reza girang. Mereka bertiga adalah sahabat - sahabat Gio. Akhirnya Tara menemukan kelas yang dari tadi ia cari. Gery yang melihat Tara ngos - ngosan menatapnya heran. "Lo kenapa?" tanya Dita yang langsung menatap Tara setelah ia duduk. "Ga papa, tadi lari - lari si, ngos - ngosan jadinya" jelas Tara "Kok lo lama banget?" tanya Dita lagi. "Gue ke toilet dulu" Gery yang mendengar itu merasa lega. Jam pertama kosong, anak - anak di kelas Tara sibuk dengan aktifitasnya masibg - masing. "Lo dari sekolah mana Tar?" tanya Dini, ia duduk di belakang Tara. "Ehmmm,.... gue sempet sekolah di SMA Pelita di kota S" jawab Tara "Wah, itu kan sekolah favorit, susah loh buat masuk ke sana, terus kok lo bisa pindah ke sini?" tanya Karen, teman sebangku Dini. "Gue masuk sana karena beasiswa, kalo ga, gue ga mampu bayarnya" jawab Tara sambil tertawa "Haa,,, hha... iya ya, sekolah favorit mah mahal bayarnya" ucap Dita kemudian. "Terus, kenapa bisa pindah kesini?" tanya Karen. "ehm... rahasia" jawab Tara sambil tertawa. "Ah... ga asyik tau ga" kompak Dita, Dini dan Keren. "Gue di ajak Gery buat sekolah di sini" jawab Tara sembari melirik Gery yang menatapnya. "Apa?" ucap Gery tanpa bersuara hanya gerakan bibir saja. "Tolongin gue" pinta Tara yang tanpa di sadari oleh teman - temannya. Ia tak ingin di tanya lebih banyak lagi, maka dari itu, ia meminta tolong pada Gery agar membawanya keluar dari situasi ini. Gery yang mengerti dengan ucapan Tara berjalan menuju meja Tara. "Ikut gue" sambil menarik tangan Tara. "Yah Gery, kita lagi asyik ngobrol tau, malah Tara lo ajak pergi" ucap Karen. "Gue ada perlu sama dia, jadi gue bawa dulu" jawab Gery apa adanya. "Sorry ya" ucap Tara sembari pergi meninggalkan mejanya dan keluar bersama Gery. "Woy... mau kemana lo, mentang - mentang jam kosong lo, jalan - jalan mulu" celoteh David. Hanya dibalas lambaian tangan oleh Gery.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN