Semenjak kepergian kedua orang tuanya, Tara yang dalam kondisi down merasa tak ada gunanya ia hidup. Ia lelah, kesepian dan merasa hidupnya benar - benar sudah berakhir. Semangat untuk melanjutkan hidupnya telah sirna.
"Mama, Papa, Tara ga kuat, Tara pengen nyusul mama sama papa, Tara pengen ngumpul bareng sama mama juga papa" ucapnya dalam sela - sela tangisan.
Tok... tok...tok...
"Tar, lo di dalem? gue masuk ya?" Teriak Chiara dari luar.
Ia melihat kondisi Tara yang sangat memprihatinkan. Tidak memiliki semangat hidup sama sekali. Miris, itu yang dirasakan Chiara. Sosok anak yang periang, ramah dan bersemangat kini telah menghilang. Sahabatnya telah benar - benar dalam posisi terbawah dalam hidupnya.
"Lo kuat Tara sayang" ucapnya sembari memeluk sahabatnya. Chiara memutuskan untuk menemani sahabatnya beberapa waktu, ia tinggal bersama Tara, tentu saja setelah mendapat izin dari orang tuanya.
Hanya terdengar isakan dari Tara, tidak ada jawaban apapun.
Kini Tara tinggal sendiri di rumah yang memiliki banyak kenangan antara mama, papa, dan juga dirinya. Rumah yang telah ada dari ia kecil, kenangan bersama orang tuanya yang masih teringat jelas di dalam memorinya.
Setelah beberapa hari kondisi Tara mulai membaik, ia sudah mulai beraktifitas seperti biasa, belum terbiasa sebenarnya, hanya ia mencoba untuk melanjutkan hidupnya kembali dan menggapai cita - cita nya.
"Lo ga balik Chi?" tanya Tara pada Chiara yang beberapa hari ini memang selalu menemaninya di rumah.
"Gue bakalan balik kalau kondisi lo bener - bener memungkinkan buat gue tinggal Tar. Lo kira gue tega ninggalin lo sendiri kayak gini?" jelas Chiara.
"Fara sama Farhan juga udah mulai ngurusin sekolah mereka, jadi susah mau kesini juga" tambahnya lagi.
"Gue udah gapapa Chi, emang si masih sedih pake banget, tapi gue harus lanjutin hidup gue dong, masa gue mau kayak gini terus. Mama sama Papa juga pasti bakalan sedih banget kalau sampai tau gue kayak gini." jelas Tara.
Chiara langsung memeluk sahabatnya, pelukan erat, pelukan bahagia. Ia bangga pada sahabatnya itu.
"Gue bangga sama lo Tar, lo anak kuat, lo pasti bisa sukses dan banggain om sama tante di sana" ucap Chiara yang tak bisa menahan air mata bahagianya.
"Udah, kok lo yang nangis sih, kan gue yang ada di posisi ini, jangan cengeng deh Chi" goda Tara sambil tertawa. Tawa yang ia buat agar sahabatnya tidak terlalu khawatir padanya. Dalam hati ia masih sangat - sangat bersedih dan masih belum bisa merelakan kepergian kedua orang tuanya.
"Eh iya,, sekolah lo gimana? jadi ambil beasiswanya kan?" tanya Chiara untuk mencairkan suasana.
"Jadi dong, gue harus manfaatin kesempatan ini, sekolah kan udah gratis, gue tinggal cari kerja biar bisa buat biaya hidup gue Chi." terang Tara.
"Lo mau kerja? yakin?" tanya Chiara ragu.
"Yakin dong, kalo gue ga kerja bakalan makan apa dong? Beli perlengkapan sekolah pake apa? beli kebutuhan gue gimana?" ucap Tara.
"Tapi kan Tar.." ucapan Chiara terputus saat Tara memotongnya.
"Gue bukan anak orang kaya Chia, gue ga ditinggalin warisan yang bisa gue gunain untuk 7 turunan ga habis - habis itu. Kalau gue ga usaha buat dapet kerja, uang juga ga bakalan dateng dengan sendirinya. Atau lo mau bantuin gue ngepet?" canda Tara.
"Boleh, gue yang jaga lilin ya, lo yang kelilling" cuap Chiara dan merekapun tertawa.
Sejenak kesedihan yang Tara rasakan sirna. Ia akan memikirnkan dan menjalani kehidupannya dengan semangat dan bekerja keras.
"Udah sana deh lo balik, bosen tau ga gue liat lo terus Chi." canda Tara.
"Ih, jahat ya lo, gue kan setia kawan, gue ngehibur lo, gue pengen nemenin lo, ada saat lo butuh gue Tar." jelas Chiara mulai berkaca - kaca.
"Kan mulai deh, udah ga usah drama. Persiapin sekolah lo, lo kan mau sekolah jauh" ucap Tara.
Chiara akan melanjutkan sekolahnya di tempat di mana neneknya tinggal, di kota B. Ia sungguh tak tega meninggalkan Tara sendirian dengan kondisi seperti ini.
"Oke deh gue balik, elo hati - hati ya. Hubungi gue kalau ada apa - apa, jangan lupain gue pokoknya." Chiara berucap sembari memeluk sahabatnya.
"Heem.. udah sana balik" usir Tara sambil tersenyum.
Chiara pergi meninggalkan Tara dalam kesendirian. Tara menatap punggung sahabatnya yang perlahan menghilang di ujung jalan.
Ia kembali dilanda rasa sepi dan kesedihan. Tapi tekadnya untuk melanjutkan hidup lebih besar, maka dari itu ia memutuskan untuk tidak bersedih lagi.
"Tara anak mama sama papa harus kuat kan, gaboleh nangis, gaboleh sedih terus. Do'ain Tara ya ma, pa" ucapnya sambil memeluk foto dirinya dan kedua orang tuanya.
SMA Pelita, salah satu sekolah favorit yang menjadi pilihan Tara. Beasiswa yang ia peroleh menjadikan SMA Pelita sebagai sekolahnya. Hari pertama ia masuk sekolah sebagai murid sekolah menengah atas.
"Tara, elo bisa" sugestinya pada diri sendiri.
"Semuanya yang merasa murid baru silakan berkumpul di lapangan" ucap seseorang dari pengeras suara.
Tara dan murid - murid yang lain berlari menuju lapangan yang dimaksud.
"Untung gue ga telat" ucap salah satu murid yang bediri di samping Tara. Seketika Tara menoleh.
"Hai..." ucap murid tersebut.
"Hai... lo hampir terlambat" ucap Tara.
"Iya, tadi ada barang yang ketinggalan, jadi gue balik kerumah dulu, eh sampai sini hampir terlambat." terangnya.
"Gue Tara, elo?" tanya Tara.
"Gue Syifa" ucapnya sembari tersenyum. "Salam kenal, mudah - mudahan kita dikelas yang sama."
Kegiatan MOS berjalan dengan lancar, Tara dan Syifa berada di kelas yang sama.
"Kita sekelas Tar..." ucap Syifa bahagia.
"Iya, ya udah kita cari tempat duduk yuk." ajak Tara.
Mereka mencari tempat duduk dan mendapatkan posisi yang pas untuk duduk.
"Loh, Tara?" ucap seseorang yang mengenali Tara
Tara menoleh "Rangga?" ucap Tara tak percaya. "Lo sekolah di sini juga?"
"Iya, mama sama papa pengen gue masuk sini, untung aja gue lolos tes" ucapnya sambil tertawa. "Kok lo juga disini sih?"
"Beasiswa gue kan di sini Ngga" ucap Tara.
"Eh iya lupa, lo kan pinter" jawab Rangga cengegesan.
"Apaan sih lo, eh iya kenalin ini Syifa" Tara mengenalkan Syifa pada Rangga.Mereka berjabat tangan dan saling berkenalan.
Sudah dua bulan mereka mulai bersekolah, Tara sudah mendapatkan pekerjaan sebagai penjaga toko di dekat tempat tinggalnya. Ia mulai bekerja setelah pulang sekolah dan selesai jam 21.30. Rutinitas yang dijalaninya dengan ikhlas.
Tara dan Rangga pun mulai lebih dekat, bukan hanya karena berada dalam satu kelas, tetapi juga mereka mulai menunjukkan ketertarikan satu sama lain.
"Tar, gue mau nanya lagi" ucap Rangga.
"Apa?" tanya Tara.
"Mau jadi pacar gue?" tanya Rangga yang membuat Tara salah tingkah. Dulu saat SMP ia menolak Rangga, dan sekarang Rangga mengungkapkannya lagi.
"Emmm.... mau" jawab Tara tersenyum.
"Yes...." ucap Rangga girang lalu reflek memeluk Tara.
"Ih apaan si Ngga, di sekolah loh ini" ucap Tara sambil mendorong Rangga.
Sudah berjalan 3 bulan Tara dan Rangga berpacaran, tidak ada hal yang mencurigakan dari Rangga. Rangga berperilaku layaknya seorang laki - laki pada pasangannya. Hingga saat itu pun terjadi.
Tara sedang membantu Rangga mengerjakan tugas tambahan karena nilainya ada yang kurang di perpustakaan. Sudah pukul 5 sore, suasana perpus sangat sepi.
"Tar..." ucap Rangga sambil menatap Tara.
"Iya, kamu udah selesai?" Tara menanyakan tugas Rangga.
"Belum, aku ga bisa konsen tau" ucapnya lagi sambil mendekatkan wajahnya pada Tara.
"Eh,, apaan si Ngga?" Tara memundurkan wajahnya.
Tapi Rangga menarik tengkuknya dan mencium Tara. Tara kaget dengan perlakukan Rangga. Ia sontak mendorong Rangga menjauh dan akan baranjak pergi. Tapi Rangga menarik tangannya dan membawa Tara di anatara rak - rak buku.
"Lo apa - apaan si Ngga... jangan kurang ajar lo." teriak Tara. tapi sayang di perpus sedang tidak ada orang selain mereka, juga tidak ada cctv di sana.
"Ga usah munafik Tar, lo juga suka kan gue giniin?" ucap Rangga sambil terus melanjutkan aksinya.
"b******k lo Ngga" ucapnya sambil terus meronta. Ia terisak saat Rangga melakukan hal yang menjijikan padanya.
Hancur lebur hidup Tara, semuanya telah hilang.
"Thanks, gue puas sayang" ucap Rangga dengan senyum menjijikan.
"b******n" ucap Tara sambil menangis.