"Lo harus sabar ya Tar, ada kita di sini" ucap Chiara sambil memeluk sahabatnya.
"Iya Tar, ada gue, ada Farhan juga yang selalu ada buat lo" tambah Fara yang tak tega melihat sahabatnya terpuruk.
"Gue sendiri Chi, orang tua gue pergi, gue ga punya siapa - siapa lagi" jawab Tara masih dengan menangis.
Tara kehilangan kedua orang tuanya, orang tua yang sangat ia sayangi, keluarga satu - satunya yang dimilikinya.
**Flashback on**
"Hallo?" jawab Tara
"........" suara orang dari seberang telepon.
"Apa?" tanya Tara lagi.
"......." jawab orang tersebut lagi.
Tara langsung menjatukan hp yang ia genggam, dan luruh, jatuh terduduk dengan suara tangis yang tertahan.
Melihat kejadian itu sahabat - sahabat Tara langsung menenangkan dan memeluk Tara.
"Kenapa?" Tanya Chiara kemudian.
"Mama Chi, Papa Chi" jawab Tara sambil menangis.
"Lo tenang, mana bisa kita tau kenapa kalau lo cerita kayak gini" ucap Farhan tak sabar. Fara langsung menyenggol lengan Farhan, menandakan bahwa ia harus diam saja.
"Orang tua gue kecelakaan, mereka meninggal Chi" jawab Tara langsung menangis.
Chiara langsung memeluk Tara, berharap bisa menenangkan sahabatnya tersebut.
"Sekarang dimana? Ayok kita kesana." ucap Chiara akhirnya.
"R.S. Harapan Kita" jawab Tara masih tak berhenti menangis.
"Oke kita kesana, gue telpon ayah gue, biar kita dianter kesana" ucap Chiara agar menenangkan sahabatnya.
"Yang tenang ya nak, Insya Allah kedua orang tua kamu tenang disana, yang penting kamu harus ikhlas" ucap Santi ibu Chiara.
Hanya dibalas anggukan oleh Tara. Ia anak yang kuat, ia bisa bertahan tanpa kedua orang tuanya, ia ikhlas.
Di tatapnya makam kedua orang tuanya, air mata yang ditahannya sejak tadi sudah tak terbendung lagi, menangis, menumpahkan segala kesedihannya. Hidup sebatang kara, untuk usia yang masih sangat belia. Sanggupkah ia untuk menjalani hari - harinya? Ia pun tak tahu, entah sanggup atau tidak.
Chiara, Fara, dan Farhan masih setia menemani sahabatnya tersebut.
"Kita pulang yuk, besok kesini lagi" ajak Fara
"Iya Tar, besok kita kesini lagi, kita bakal temenin lagi" Farhan bersuara.
"Iya Tar, bener kata Fara sama Farhan, lo harus istirahat" ucap Chiara memeluk sahabatnya.
Tara bangkit dari duduknya, tidak ada tenaga, terasa lemah. Gelap, saat ini yang dirasakan oleh Tara, sepi tak ada orang tua bahkan temanpun tidak ada.
Tara tak sadarkan diri, ia sudah terlalu lelah untuk sekedar menopang tubuhnya. Seseorang datang dan menggendong Tara menuju mobilnya.
"Biar Tara sama gue, kalian ikutin aja dari belakang" ucap seseorang tersebut.
"Oke Ngga, thanks" ucap Chiara lalu beranjak menuju mobil orang tuanya yang sudah parkir di jendela langsung melayan
Sesampainya di rumah Tara, Rangga langsung membaringkan Tara di kursi ruang tamu.
"Makasih ya Ngga, udah dateng kesini" ucap Chiara yang duduk di dekat Tara. Keadaan Tara masih belum sadarkan diri.
"Iya Chi, sama - sama, gue ga tega liat Tara bener - bener terpuruk gini. Sedih banget ngeliat dia kayak gini".
"Elo pulang aja, ada gue, nanti Fara sama Farhan juga bakalan nginep sini. Kita bakalan jagain Tara"
Rangga menatap wajah Tara yang sendu. Banyak sekali tersimpan kesedihan yang amat sangat. Ia mengusap kepala Tara dan beranjak.
"Gue balik ya, kabarin kalau ada apa - apa sama Tara. Elo ada nyimpen kontak gue kan?" tanya Rangga.
"Aman aja itu, gue bisa pake hp Tara buat ngehubungin lo" jawab Chiara sambil tersenyum.
***
"Tar, makan ya, nih si Farhan bawain nasi goreng kesukaan lo" pinta Chira.
Tara hanya menatap kosong ke sembarang arah.
"Lo harus makan Tar, orang tua lo sedih tau ga liat lo yang kayak gini" kesal Fara yang dari setelah sadar sahabatnya itu tidak makan apapun dan hanya diam.
Farhan yang sedari tadi hanya diam langsung mengambil makanan dari tangan Chiara. Ia duduk di samping Tara.
"Aaa... gue yang suapin. Lo harus tetep kuat dan sehat untuk bisa buat orang tua lo bangga punya anak hebat kayak lo" ucap Farhan sembari menyuapkan makanan ke mulut Tara.
Tara menatap Farhan dan kedua sahabatnya. Lalu ia membuka mulutnya dan menghabiskan makanannya.
" Lo hebat Tar, hebat banget. Gue bangga bis jadi satu - satunya sahabat cowok lo" ucap Farhan sembari memeluk Tara. Disusul oleh kedua sahabatnya.
"Lo kuat Tara sayang, ada kita yang akan selalu ngedukung dan ada di sisi lo" ucap Chiara.
Terdengar tangis dari Tara. Ia bahagia sabahatnya amat sangat perduli dan mendukungnya.
"Kalian nginep sini ya" pinta Tara yang sudah melepas peluknya.
"Ia sayang, kita nginep sini" jawab Fara sambil tersenyum
"Thanks"
"Gue tidur di depan TV, kalian tidur di kamar aja" ucap Farhan.
"Lo bisa tidur di kamar tamu Han, kosong kok" titah Tara.
"Oke, gue mah di mana aja gampang, yang penting ada bantalnya pasti nyenyak" canda Farhan.
"Ye.... dasar pelor Lo mah, nempel molor" ledek Chiara.
"hhhaa...." suara tawa terdengar dari mereka berempat.