“Bener kata lo, Wit. Si AD cembokur.” Pada jam makan siang, Wita dan Lola kembali bertemu. Keduanya memutuskan untuk mampir ke restoran Italia tak jauh dari kantor Actual News. Wita yang sedang menggulung spageti menggunakan garpu terlihat sama sekali tidak terkejut. “Udah enggak kaget, sih. Dari gerak-geriknya aja kebaca kalau dia memang ada rasa sama lo.” “Tapi kenapa, ya? Maksud gue, kok dia bisa ada rasa? Kita aja sudah sepakat menikah tanpa melibatkan perasaan. Terus, nih laki tiba-tiba bilang cemburu sama Bagus. Gue rasa otaknya AD geser dikit.” “Cinta itu bisa datang karena terbiasa, La. Lain mulut lain pula hati. Lagian kenapa, sih? Seharusnya lo seneng, dong? Perasaan lo sudah enggak bertepuk sebelah tangan, tapi bertepuk barengan.” Lola menyandarkan punggungnya pada sandaran

