BAB 88

1012 Kata

Keringat kini membanjiri kening Rain, Syifa, dan Fatih. Entah sudah berapa menit yang mereka habiskan untuk menyelesaikan hukuman. Untungnya mereka memutari lapangan bola, bukan lapangan yang ada di depan sekolah--yang biasa digunakan untuk acara-acara besar. Sekolah mereka ini memang sekolah yang mewah, tapi tak semua penghuni sekolah anak orang berada. Sebab sekolah ini negeri, ada beberapa orang yang masuk melalui jalur beasiswa. Dengan napas terengah-engah, mereka bertiga menjatuhkan diri di lapangan. Brams dan teman-temannya sungguhan tidak mengikuti hukuman. Meski begitu, mereka bertiga tidak peduli. Menasihati Brams dan teman-temannya hanya akan memicu pertengkaran. Intinya mereka sudah menyelesaikan hukuman yang bu Ira berikan saja sudah bisa membedakan, kalau mereka bertiga tidak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN