1. Rara
....bau tanah basah dan semilir angin senja....
Sore itu semilir angin selepas hujan menyapu rambut Tyara yang berwarna coklat karamel. Gadis cantik berusia 17 tahun ini duduk di depan jendela kamarnya yang menghadap ke kebun belakang rumah. Dia sedang sibuk menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya, sambil sesekali menghirup aroma tanah basah yang menyejukkan pikirannya. Saat ini Tyara duduk di kelas 12 SMA. Tak ayal tugas-tugasnya semakin banyak menjelang ujian kelulusan. Bau tanah basah, semilir angin senja, ditemani dengan secangkir cokelat panas membuat otaknya semakin lancar mengerjakan soal-soal matematika dihadapannya. Selain cantik, Tyara termasuk anak yang cerdas dan berprestasi. Tubuhnya yang tinggi semampai juga membuat dia menjadi anggota tim basket inti di sekolahnya.
drrrtttt.....drrrrtttt....drrrrttt.....
Tyara menghentikan aktivitas belajarnya, dia lupa mematikan ponselnya. Biasanya ponsel dia matikan saat belajar karena cukup mengganggunya. Setiap hari banyak pesan masuk dari teman laki-laki Tyara yang selalu rajin menyapa dan mencari perhatian dari gadis cantik ini. Tyara melirik layar ponselnya, tertera nama mamanya. Ternyata mamanya yang ada di sambungan telepon.
"Ya, Mam.." sapa Tyara
"Rara, Mama ganggu kamu tidak?" terdengar suara lembut dari seberang sana
"Tidak Mam, ada apa?"
“Kamu sedang belajar, Ra?”
“Iya Mam, but its okay.”
“Ra, Mama dengar dari Opa, kamu mau kuliah di luar negeri?” tanya mamanya.
“Iya, Ma. Itu juga kalau Opa masih ada uang buat membiayai Rara kuliah di luar negeri,” jelas Tyara.
“Soal biaya jangan kamu pikirkan ya, Sayang,” lanjut mamanya.
Tyara terdiam, kenyataannya memang selama ini Opa sudah mengeluarkan cukup banyak uang untuk Tyara yang disekolahkan di sekolah internasional dari TK sampai SMA. Walaupun Opa juga mendapat bantuan dari putra bungsunya, yang tak lain adalah paman Tyara.
"Ra, seminggu lagi Mama ke Indonesia buat jemput kamu ya."
"Jemput?? Maksudnya???" mata hazel Tyara terbelalak mendengar perkataan mamanya.
"Iya Rara, nanti mama jelaskan saat mama sudah sampai, ya. Oiya, satu hal lagi, kamu harus tau mama benar-benar menyayangimu, Nak!" tutt tutt tuutt...
"Huuffttt! Mama....!!" Tyara mengacak gemas rambut panjangnya karena sang mama tidak memberinya kesempatan untuk bertanya lebih lanjut. Kata "jemput" membuatnya bertanya-tanya dan penasaran, apa sebenarnya maksud oleh sang mama.
***
Tyara menerawang jauh ke luar jendela kamarnya, teringat kembali kenangan pahitnya saat harus berpisah dengan mamanya. Angin dingin seolah menusuk tubuhnya saat dia mengingat kembali kenangan itu. Mamanya terpaksa kembali ke London karena sudah tidak tahan lagi hidup bersama papanya yang tidak punya penghasilan tetap, hanya bergantung dari uang pemberian Oma dan Opa. Setidaknya itulah alasan paling masuk akal yang selalu Tyara dengar dari Opanya.
Tyara kecil saat itu berusia kurang lebih 4 tahun, mengejar mamanya sambil menangis saat mamanya pergi melangkahkan kaki keluar dari rumah Oma dan Opa. Tyara kecil tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa mamanya pergi.
Tyara menangis berhari-hari di depan pagar rumah berharap sang mama segera kembali untuk menemaninya bermain dan menina-bobokannya saat dia mengantuk. Bahkan setiap sore sang Opa dibuat repot karena Tyara selalu merengek minta diantar ke bandara untuk menyusul mamanya yang terbang ke London. Tentu saja Opa yang sangat menyayangi Tyara selalu memenuhi permintaan cucu kesayangannya. Setiap sore Opa dengan setia mengantar Tyara ke bandara, sekedar melihat pesawat yang lepas landas. Tentu saja Opa harus membujuk Tyara untuk pulang dengan iming-iming pergi ke taman bermain dekat bandara. Di taman bermain itu biasanya Tyara membeli balon, membeli permen, membeli ice cream, membeli manisan, membeli boneka, dan banyak lagi hal yang membuatnya lupa akan mamanya sehingga Tyara mau pulang walaupun besok sorenya dia akan mengulangi hal yang sama, merengek minta ke bandara.
***
Tok..tok...tok....terdengar suara pintu kamar Tyara diketuk.
"Rara, boleh Opa masuk?" tanya seseorang dari balik pintu kamarnya.
"Masuk Opa," Tyara memutar kursi belajarnya dan melihat Opa Hans Wijaya berjalan menuju tepi tempat tidurnya lalu duduk dan menghela napas panjang.
Pria berusia 77 tahun inilah yang dengan setia merawat dan membesarkan Tyara sejak kecil bersama istrinya Diana, Oma Tyara. Sejak kepergian mamanya, Papa Tyara tidak begitu banyak berperan dalam tumbuh kembang Tyara. Semua urusan diambil oleh Oma dan Opa, karena Papa Tyara menjadi pemalas dan masa bodoh dengan kehidupannya.
Opa Hans melihat sekeliling kamar Tyara, dia menyadari cucunya sekarang sudah beranjak dewasa. Kamar yang dulu didominasi warna pink, sekarang sudah berubah warna menjadi warna cream muda. Tidak ada lagi koleksi boneka di kamar Tyara, berganti dengan berbagai piala dan medali yang diperolehnya. Tyara juga memajang foto dirinya bersama sahabat-sahabatnya.
“Ada apa, Opa?” Tyara bertanya serius.
"Ra, apa Mamamu sudah menelponmu?" tanya Opa Hans pada Tyara
"Hmmmm....Mama menelpon Opa juga ya?" selidik Tyara
Opa Hans memandang wajah cantik cucu kesayangannya, Tyara memang cucu yang istimewa tidak seperti cucu-cucunya yang lain, paras cantiknya yang di atas rata-rata didapatkan dari perpaduan darah Indonesia dan Inggris yang mengalir dalam dirinya.
"Hei...Opa! Helllow Opa! Apa Rara mirip Oma waktu muda ya sampai membuat Opa melamun melihat Rara, ha?" Tyara mengerjap-ngerjapkan mata bulatnya menggoda Opa.
Opa Hans hanya terkekeh mendengar ocehan cucu kesayangannya. Walau tertawa, Tyara bisa melihat sorot kesedihan di mata Opa. Tyara mendekati pria tua itu lalu memeluknya.
"Ada apa, Opa? Kenapa Opa bertanya tentang telepon dari Mama?"
"Mamamu pasti sudah bilang kalau dia mau ke Indonesia. Kali ini sungguh-sungguh," tegas Opa.
"Ya...Rara belum bisa percaya begitu saja, Opa. Tyara selalu berharap Mama benar-benar datang tapi kenyataannya tidak pernah datang. Tapi kali ini mama tidak menegaskan kata akan datang, tapi akan jemput. Apa coba maksud Mamaku, Opa?"
"Hmmm...sepertinya hal yang bagus untukmu akan terjadi, tapi tidak bagus untuk kami, Ra," jawab Opa Hans lesu, "ini menyangkut masa depanmu," lanjut opa.
"Opa, ngomong-ngomong tentang masa depan, sebentar lagi Rara lulus SMA. Rara mau kuliah di luar negeri ya, Opa. Uang Opa masih cukup kan buat kuliahin Rara?" goda Tyara dengan manja berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Walaupun Opa sudah tua, Opa masih bisa mengobati pasien, Ra. Opa masih bisa cari uang, tidak seperti Papamu itu."
"Hei...Opa! Papaku itu anaknya Opa. Opa jangan lupakan itu ya, walaupun dia tidak bisa mencari uang," jawab Tyara sambil mencebikkan bibirnya.
"Ya..ya....kamu selalu mengingatkan Opamu ini, kalau dia anakku." Opa Hans memeluk hangat cucu kesayangannya, ada kesedihan yang mendalam, seolah mereka akan berpisah.
***
"Hans, Tyara, Dany! Ayo makan malamnya sudah siap! Apa kalian tidak lapar! Ayo cepat!" Oma Diana berteriak-teriak dari ruang makan.
"Ya, Oma. I'm coming Oma!" Tyara dengan cepat menuruni anak tangga menuju ke ruang makan tempat suara menggema itu berasal.
"Ayo cepatlah, Oma sudah masak kesukaan kalian nih sayur asem, tahu bacem, sambal terasi, dan ikan asin." Oma Diana sibuk menyiapkan piring dan sendok di atas meja makan dibantu oleh seorang asisten rumah tangga yang bernama Mbak Pur.
"Waow...makasih Omaku yang cantik!" Tyara memeluk omanya dari belakang.
"Tua, bukan cantik!" tiba-tiba Dany muncul di ruang makan sambil mengucek mata karena seharian ini kerjaan Dany, Papa Tyara, hanya tidur di kamar.
"Papa!" Tyara melotot ke arah papanya sambil melirik ke arah Oma, takut kalau Oma meledak marahnya.
"Dasar anak malas, bukannya terima kasih malah menyebut ibunya tua!" protes Oma Diana pada Dany.
Tyara dan Opa Hans hanya geleng-geleng kepala melihat kebiasaan ibu dan anak itu. Oma Diana yang berusia 70 tahun itu masih trendy, cekatan, ceplas-ceplos, judes, dan galak. Setiap hari beliau memang sering uring-uringan melihat kemalasan anak laki-lakinya, Dany Wijaya. Bila dibandingkan dengan Dennis Wijaya sang adik, memang Dany hanya menang tampan saja. Dennis sudah menjadi pengusaha sukses di Singapura. Sedangkan Dany, kesuksesannya hanya satu, yaitu memiliki anak secantik Tyara.
"Hmmm...enak Oma," puji Tyara.
"Halah jangan seperti mamamu, cuma manis di mulut saja!" jawab Oma dengan ketus.
"Diana!" Opa Hans menegur Oma.
Tapi dengan sabarnya Tyara masih menanggapi Omanya tanpa ada kemarahan sedikitpun, sejak kepergian mamanya, Tyara memang harus menghadapi kenyataan pahit dan menjadi anak yang mandiri dan berpikiran dewasa sebelum waktunya.
"Rara serius Oma...ini enak!" sambil menunjuk ke arah ikan asin yang ada di piringnya.
"Iya! Kamu harus belajar masak enak seperti Oma!"
Walaupun dengan nada galak tapi Oma Diana terdengar menyesal dan berusaha mencairkan suasana.
"Iya, Omaku sayang," Tyara tersenyum paling manis untuk oma
Oma Diana tak bisa memungkiri, sesungguhnya dia sayang dan bangga pada cucunya. Parasnya yang cantik membuat teman-teman dan kerabat Oma selalu menyanjungkan pujian untuk Tyara. Bahkan tidak sedikit juga yang berusaha menjodohkan cucu atau anak mereka dengan Tyara.
“Ra, kamu tidak mau kuliah di Indonesia saja?” tanya Oma.
“Rara nurut aja deh, Oma. Kalau Oma dan Opa meminta Rara kuliah di Indonesia, ya sudah Rara akan menuruti Oma dan Opa,” jawab Tyara.
“Wah, enak dong Ra! Dulu Papa dipaksa-paksa tuh kuliah di luar negeri!” sahut Dany.
“Iya, lihat akibatnya sekarang! Gara-gara kamu yang sudah menghabiskan uang Papamu, anakmu yang semangat kuliah di luar negeri tidak bisa kami biayai!” omel Oma.
“Sudah, Oma, Pa!” Tyara menengahi. “Rara sekolah di manapun mau kok. Tidak ada masalah.”
“Iya maksud Oma biar Oma juga gampang mengawasi kamu! Anak gadis secantik kamu bisa dibawa kabur laki-laki tidak bertanggung jawab!” Oma melotot ke arah Dany.
“Apa, Ma? Bilang tidak bertanggung jawab kok lihatnya ke aku?” protes Dany.
“Lha iya! Lihat anak gadismu sudah sebesarnya ini! Kamu kemana saja selama ini?!”
Dany hanya bersungut-sungut. Tyara tersenyum ke arah papanya sambil memberi kode untuk tidak berdebat lagi. Walaupun Tyara selama ini dirawat oleh Oma dan Opanya tapi Tyara tetap menyayangi Dany dan menganggap Dany sebagai ayah yang baik.
______