10. Cemburu

1672 Kata
Tyara memandang wajahnya di cermin sebelum tidur, terlihat kantung matanya yang sedikit membengkak karena terlalu banyak menangis. Dia membaringkan tubuhnya di kasurnya yang empuk. Alex mengantarnya sampai di rumah pukul 19.00 dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 20.00. Tyara melirik ponselnya yang menyala. Alex: [Ra..] Tyara hanya membaca pesan singkat dari Alex. Tyara memejamkan matanya mengingat semua kejadian hari ini, membuat dia ingin melupakan semua. Namun, semakin berusaha dilupakan malah semakin terbayang di depan mata bagaimana Alex menciumi lehernya dan bagaimana dia menikmati setiap ciuman dari Alex. “Huufffffttttt!” teriak Tyara frustasi lalu menutup mukanya dengan selimut hingga tertidur. *** Pagi ini Pak San sopir Tyara sudah mulai masuk kerja setelah beberapa hari izin. “Pagi, Non. Mau berangkat sekarang, Non?” sapa Pak San. “Eh, iya Pak. Berangkat sekarang saja,” jawab Tyara. Pagi ini entah kenapa Tyara merasa enggan masuk sekolah. Dia masih terlalu malu untuk bertemu Alex setelah kejadian kemarin. Pak San menurunkan Tyara di depan lobby sekolah. Di sepanjang koridor kelas 12 Tyara melihat Alex sedang duduk bersama teman-temannya. Mau tidak mau, Tyara harus melewati mereka. “Pagi Tyara,” sapa Marlon. Tyara hanya tersenyum canggung sambil berniat melangkahkan kaki ke kelasnya. Tapi lagi-lagi si Marlon mulutnya usil. “Sombong amat pacar lo, Lex! Lo sih ngga jemput dia hari ini, Lex!” oceh Marlon. Saat Tyara melewati Alex, Tyara sempat melihat Alex yang sedang menalikan sepatunya dengan cuek tanpa menanggapi Marlon maupun memandang Tyara. Seketika ada rasa sakit di dalam hati Tyara. Masih sempat terdengar percakapan mereka. “Marahan ya, lo?” tanya Leandro “Lex sadis amat lo Lex nyuekin Tyara!” celetuk Marlon. “Ssshhh...berisik!” jawab Alex. Tyara segera melangkah masuk ke kelasnya. Tyara duduk di samping Marisca. “Kanapa, Ra? Suntuk amat?” tanya Marisca. “Gapapa, Mar. Capek,” jawab Tyara sambil menumpangkan tangan dan kepalanya di atas meja. “Nanti ada latihan basket bareng lho, Ra. Tim putra dan putri jadi satu. Semalam sudah diumumkan di grup chat. Baca ngga?” “Hu-um,” jawab Tyara tak bersemangat. “Hei...semangat dong!” Marisca mengepalkan tangannya memberi semangat. *** Bel istirahat berbunyi, Marisca mengajak Tyara makan di kantin. Marisca tahu setiap kali Oma dan Opa Tyara pergi Tyara tidak pernah membawa bekal. Di kantin, Tyara melihat sekelebat bayangan Alex. Iya benar, itu Alex. Alex nampak sedang berbincang-bincang dengan adik kelas Tyara. Pandangan mata Tyara dan Alex sempat bertemu. Tapi kemudian Alex membuang muka. Rara POV Sedang mengobrol dengan siapa? Siapa sih cewek itu? Sepertinya adik kelas. Hahh..Alex melihatku. Apa? Dia membuang muka? Oke, fine! Aku kan bukan siapa-siapanya. Kenapa aku begitu peduli dia mau berbuat apa? “Ra, Rara!” panggil Marisca. “Nih makan siangmu! Melamun aja!” “Thanks, Mar!” “Itu, Nadia,” jelas Marisca seakan tahu apa yang ada di kepala Tyara. “Hmm? Apa Mar?” Tyara pura-pura tidak mengerti, sambil terus menyantap makan siangnya. “Nadia, yang sedang mengobrol dengan Alex,” jelas Marisca sambil menunjuk ke arah Alex dan Nadia. Alex dan Nadia masih asyik mengobrol di taman sekolah dekat kantin. “Oh,” jawab Tyara pendek sambil melirik ke arah Alex dan Nadia. “Dia anak basket juga kelas 10,” jelas Marisca. “Aku belum pernah lihat.” “Anak baru, baru pindah seminggu yang lalu di sekolah kita.” “Oh.” Well, anak baru yang beruntung bisa merasakan latihan basket bareng-bareng, ucap Tyara dalam hati. “Semua bilang mirip kamu,” Marisca menatap mata Tyara ingin melihat reaksi Tyara. “Oya? Engga lah, dia kurus, hmm... masih tinggian aku juga. Wajah juga ngga mirip. Apanya yang mirip?” protes Tyara. “Sikap dan pembawaannya yang bikin mirip,” jelas Marisca. Tyara melayangkan pandangannya ke arah Nadia, yang masih mengobrol dengan Alex. Lagi-lagi Alex mencuri pandang ke arah Tyara. Tyara segera membuang pandangannya ke arah lain dan melanjutkan makan siangnya. *** Bel tanda pulang sekolah mengakhiri kelas hari ini. Tyara dan Marisca bersiap-siap menuju ke GOR. “Yuk, Ra,” ajak Marisca. “Yuk, nanti tunggu bentar di lobby ya, Mar. Pak San mau antar jaket. Oya Mar, nanti aku bisa pulang bareng kamu? Pak San pasti sudah pulang pas kita selesai latihan. Aku takut Papa ngga bisa jemput,” jelas Tyara. “Bisa banget, Ra,” jawab Marisca si cewek gembul sahabat Tyara. Rombongan anak-anak basket berjalan beriringan dengan Tyara dan Marisca menuju ke arah GOR. Sampai di lobby Tyara sempat melihat Alex berjalan beriringan dengan Nadia menuju GOR, sudah cukup jauh dari lobby. Marisca melihat raut wajah Tyara yang berubah murung. Tapi Marisca tidak mau bertanya, karena percuma saja Tyara tidak pernah mau mengakui perasaan cemburunya. Setelah Pak San mengantarkan jaket Alex, Tyara dan Marisca segera menuju ke GOR menyusul teman-temannya yang lain. Hari ini Tyara berencana akan mengembalikan jaket Alex yang kemarin dipakainya. Coach David, Coach Dewi, dan Coach Anton sudah mengumpulkan seluruh anggota tim untuk mendengarkan pengarahan. Kedatangan Tyara dan Marisca yang sedikit terlambat menarik perhatian. “Ayo Tyara, Marisca segera gabung!” Coach Dewi berteriak, kelihatan Coach Dewi kurang senang dengan kedatangan mereka yang terlambat. Tyara dan Marisca segera mengambil posisi duduk, karena terlambat mereka duduk agak di belakang. Dari belakang, mata Tyara mencari sosok yang hari ini berhasil membuat galau perasaannya. Sangat jarang Alex mengacuhkan Tyara dan hari ini jadilah Tyara galau tingkat tinggi. Alex duduk di depan, seperti dugaan Tyara di samping Alex ada Nadia. Coach David menjelaskan hari ini latihan fisik dan teknik selama 1 jam akan didampingi Coach Dewi. Coach David dan Coach Anton harus segera terbang untuk mengikuti acara di luar kota selama beberapa hari sedangkan Coach Dewi menyusul nanti malam. Itulah alasan kenapa latihan untuk hari ini digabung, supaya tidak ada libur latihan. Semua mengikuti sesi latihan dengan serius dan sungguh-sungguh. Coach Dewi kemudian membagi 4 tim kecil untuk bertanding.  2 tim putri campuran dari kelas 10-12 dan 2 tim putra campuran dari kelas 10-11. Khusus tim basket putra kelas 12 diminta Coach Dewi untuk menjadi assitant coaches untuk hari ini. “Alex dan Marlon yang akan menjadi ass coach untuk pertandingan tim putri ini,” jelas Coach Dewi, “Wilson dan Leandro ass coach untuk pertandingan tim putra.” “Tim A Putri dari kelas 12 Marisca, Tyara dan Feli. Dari kelas 11 Silvi, Joan, dan Clara. Dari kelas 10 Margareth dan Inge. Silakan tentukan inti dan cadangan,” jelas Coach Dewi. “Tim B Putri dari kelas 12 Celine, Kiki, dan Merry. Dari kelas 11 Nona, Elsya, dan Candy. Dari kelas 10 Nadia dan Amanda. Silakan tentukan inti dan cadangan.” Kedua tim berunding untuk menentukan tim inti dan cadangan sedangkan Coach Dewi tampak sedang berbincang-bincang dengan Alex dan Marlon. “Oke team! Sekarang kembali berkumpul. Oke Alex, Marlon silakan pilih tim yang akan didampingi,” pinta Coach Dewi. “Biar Alex yang pilih duluan Coach!” seru Marlon. “Oke..Alex silakan pilih tim A atau tim B?” tanya Coach Dewi. “Tim B,” jawab Alex. Semua berpandangan, Marlon melongo, Tyara yang mendengar pilihan Alex pura-pura sibuk membetulkan wristband-nya. “Yakin lo, Lex?” tanya Marlon. “Ayo tim B! Kita kumpul dulu!” seru Alex pada timnya tanpa menanggapi Marlon. Pertandingan berjalan seru, beberapa kali Tyara minta diganti. Hal ini mencuri perhatian Alex. Tyara duduk di samping Marlon dan Wilson. “Kenapa, Ra?” tanya Wilson “Aku masuk angin kayaknya,” jelas Tyara. Tyara memang merasa kurang enak badan setelah kemarin dia dan Alex berhujan-hujan. Wilson spontan memegang kening Tyara, hal ini juga mendapat perhatian dari Alex dan membuat Alex tidak fokus karena terus mengawasi Tyara dan Wilson. “Iya, Ra. Kamu anget. Hei Marlon, Tyara tidak usah main! Badannya anget!” teriak Wilson. Wilson mengambil jaketnya lalu memakaikannya untuk Tyara, Alex mengepalkan tangannya melihat kejadian itu. Akhirnya sisa waktu pertandingan, Tyara tidak diturunkan. Kemenangan berhasil direbut tim B, dibawah arahan Alex. Beberapa kali Nadia tampak mencetak point. Tyara melihat Alex memberi semangat untuk Nadia. Wajah Tyara mulai murung dan pucat. Tyara teringat kembali kejadian kemarin sore, betapa Alex dengan mantapnya mengucapkan cinta pada Tyara bahkan Alex sudah berani-beraninya menyentuh tubuh Tyara. Namun sekarang sikap Alex berubah menjadi dingin, tidak peduli pada Tyara. Tyara berkaca-kaca dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Kenapa, Ra?” Wilson kembali memberikan perhatiannya pada Tyara saat melihat Tyara menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Dari kejauhan Alex tampak mengeraskan rahangnya melihat kejadian itu. “Gapapa Will cuma pusing aja,” jawab Tyara. “Mau aku antar pulang?” tanya Wilson. “Ngga usah Will. Makasih ya,” jawab Tyara lemas. Selesai pertandingan Coach Dewi memberi waktu untuk istirahat sebelum pertandingan tim putra. Nadia tampak masih bermain-main di lapangan, tiba-tiba Alex menyusul Nadia, menemani Nadia bermain di lapangan. Sesekali mereka berdua tertawa. Tyara POV Harus ya aku melihat pemandangan ini? Kenapa rasanya aku ingin menangis? Rasanya aku seperti dikhianati. Tapi siapa aku? Mungkin aku memang bagian dari balas dendamnya saja. Tyara tiba-tiba berdiri, mengembalikan jaket Wilson. Alex mencuri pandang ke arah Tyara. Tyara berpamitan pada Coach Dewi. Coach Dewi sempat memegang kening Tyara lalu menepuk pundaknya, mengizinkan Tyara pulang. Tyara membereskan barang-barangnya. “Ra, mau pulang sekarang?” tanya Marisca. “Kalau gitu aku telepon sopirku dulu buat jemput kita.” “Ngga usah Mar, biar aku pulang sendiri saja.” cegah Tyara. “Seriously?? Jangan, Ra! Aku telepon sebentar.” “No, Mar! Aku telepon Papa saja, okey?” Sebelum meninggalkan GOR, Tyara sempat memandang Alex. Memastikan bahwa laki-laki itu memang tidak sedang memperhatikannya. Dan benar dia asyik bermain basket, tidak sedang memperhatikan Tyara. Tyara menggenggam erat jaket Alex yang terlipat rapi, tiba-tiba dengan penuh keyakinan dia membuka lipatan jaket itu dan memakainya. Di bagian belakang jaket, tertulis nama punggung: ALEX. Tyara melangkahkan kaki keluar GOR menatap lurus ke depan, semua mata melihat Tyara yang memakai jaket bertuliskan nama Alex. Ada yang hanya terdiam, Alex seperti tersihir, ada yang saling berpandangan, sedangkan Feli dan Marisca memilih berpelukan bahagia melihat pengakuan Tyara. Sahabat Tyara itu sangat tahu, Tyara gengsi sekali mengakui perasaannya untuk Alex. Namun, sekarang Tyara malah seakan memberi tahu seluruh dunia tentang perasaannya. _______  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN