9. Terluka

1331 Kata
Tyara menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja dia dengar dari Alex. Air mata bercucuran jatuh membasahi pipinya. Tyara terus menangis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seolah tidak ingin menghadapi kenyataan bahwa selama ini Alex tidak mencintainya, Alex hanya menjadikan Tyara sebagai pelampiasan dendam pada papanya dan mama Tyara. Tyara mengingat kembali awal mereka berpacaran dan rasanya sakit saat menyadari bahwa Alex hanya berpura-pura mencintainya. *** Tyara berlari meninggalkan Alex. Alex terpaku saat Tyara menamparnya, Alex memegang pipinya yang panas setelah ditampar Tyara. Setelah tersadar, Alex segera melihat sekeliling mencari Tyara. Ternyata Tyara sudah cukup jauh berlari, Alex tampak khawatir. Alex segera menuju mobilnya dan tancap gas untuk mengejar Tyara. Di depan tampak Tyara mulai mengurangi kecepatan larinya, mungkin dia sudah kelelahan. Alex segera membelokkan mobilnya ke arah tepi jalan untuk menghadang Tyara. Tyara terkejut namun tidak bisa menghindar karena Alex menghadangkan mobil tepat di depannya bahkan hampir menabraknya. Alex keluar dari mobilnya menuju ke arah Tyara, “Ra...,” Alex meraih tangan Tyara namun segera ditepis oleh Tyara. “Jangan sentuh aku!” Tyara mengarahkan telunjuknya ke depan wajah Alex. “Oke, oke! Tapi ayo masuk mobilku, ini sudah mulai hujan, Ra!” bujuk alex. “Kamu pulang sendiri saja sana! Aku tidak mau melihat kamu lagi!!!” teriak Tyara histeris. “Ra, please Ra! Aku mengatakan yang sebenarnya supaya kita bisa memulai lembaran baru. Percayalah, Ra!” Alex memohon pada Tyara. “Omong kosong, Lex! Lembaran baru apa, ha? Semua perasaan yang kamu katakan padaku itu cuma bohong!!” teriak Tyara di tengah gerimis. “Hanya satu yang aku tidak bohong, Ra. Aku mencintaimu..” Alex meraih tangan Tyara namun selalu ditepis dengan kasar oleh Tyara. “Pergi!!” Hujan mulai turun semakin lama semakin deras, tapi Tyara tetap keras kepala tidak mau masuk ke dalam mobil. Berbagai cara sudah dilakukan Alex tapi Tyara tetap berdiri kaku di tempatnya. Untungnya saat itu hujan deras sehingga orang-orang yang lalu lalang tidak menghampiri mereka karena derasnya hujan. Mungkin orang-orang itu berpikir sedang ada sepasang kekasih yang bertengkar. “Aku kecewa, Lex! Dua kali aku kecewa!” teriak Tyara di tengah derasnya hujan. “Ra, tapi aku bahkan mengurungkan niatku untuk balas dendam, aku tidak melakukan apa-apa padamu!” teriak Alex “Benar kamu mau berbuat kurang ajar dengan menghamili aku, hah?! Kamu bisa lakukan sekarang, Lex!!! Kamu bisa lakukan sekarang!!! Sekarang, lakukan!!!” Tyara membuka paksa seragam sekolahnya hingga seluruh kancing bajunya terlepas. Bagian depan tubuhnya terekspose sambil terus menangis histeris di tengah hujan. Ada beberapa mobil lewat dan membuka kaca jendelanya sambil melotot melihat pemandangan tubuh Tyara. Alex yang menyadarinya segera berlari ke arah Tyara, bagian depan tubuh Tyara yang terekspose ditutupinya dengan badannya yang bidang. Alex kemudian membopong gadis itu, masuk ke dalam mobil. Tyara meronta-ronta. “Lakukan sekarang! Lakukan!!!!” Tyara berteriak-teriak di dalam mobil. Alex tidak menghiraukan Tyara, dia segera mengambil jaket yang ada di jok belakang lalu menutupi tubuh Tyara dengan jaket. Alex menyuruh mobil-mobil yang melihat kejadian mereka untuk terus melaju dan mengatakan pada penumpang mobil tersebut bahwa dia sedang bermasalah dengan pacarnya namun sudah bisa diatasi. Setelah semua aman, Alex masuk ke dalam mobil. “Ra, kamu apa-apan sih! Jangan berbuat bodoh seperti itu lagi!” Alex berkata tegas dan memastikan agar Tyara tidak mengulangi hal bodoh itu lagi. “Aku memang bodoh! Aku memang bodoh sampai aku tidak menyadari permainanmu!” teriak Tyara “Ra...” “Aku cuma mau memenuhi keinginanmu, bukankah kamu mau menghamiliku, hah?” nada suara Tyara seolah mengejek Alex. “Balas dendam yang benar-benar hina dan menjijikkan!” “Ra, maafkan aku,” kata Alex penuh penyesalan. “Jadi, kamu menunggu sampai 3 tahun cuma buat menghamili aku??” wajah Tyara penuh emosi dan kekecewaan, “aku sudah ada di sini, mau balas dendam sekarang?! Kenapa diam?! Tidak bisa?” ejek Tyara. Alex mengacak rambutnya dan memukul stir kemudinya dengan penuh emosi. “Oke! Kalau itu yang kamu mau!” teriak Alex. Alex mendekati wajah Tyara yang tampak terkejut dengan reaksi Alex. Tyara tidak menyangka Alex merespon ucapannya. Tyara hanya ingin meluapkan kemarahannya saja dan bukan menantang Alex seperti ini. Ini sudah di luar perkiraannya. Alex berpindah ke kursi penumpang di mana Tyara duduk dan menindih Tyara dalam keadaan duduk. Tyara memegang erat jaket yang menutupi tubuhnya. Namun, Alex menarik jaket itu hingga terlihatlah seragam sekolah Tyara yang robek di seluruh bagian kancingnya. Tyara merapatkan kain bajunya untuk menutupi bagian atas tubuhnya. Namun, sia-sia. Sebut saja Tyara membangunkan macan yang sedang tidur. Alex bisa melihat betapa halusnya kulit tubuh Tyara. Tyara kaget bukan kepalang saat Alex menatapnya dengan bola mata yang mulai menghitam. “Lex, hentikan!” Tyara berusaha mendorong tubuh Alex namun sia-sia. Alex yang tidak mendengar ucapan Tyara terus melanjutkan aksinya dengan memeluk tubuh Tyara erat hingga Alex bisa merasakan hangatnya kulit tubuh Tyara di dadanya. Tyara meronta menyadarinya. Alex memandang Tyara yang mulai terisak, melelehkan air matanya, dan menggeleng-gelengkan kepalanya seolah memohon pada Alex untuk tidak melakukannya. Alex memejamkan matanya mengumpulkan seluruh kesadaran dirinya lalu menarik napas panjang. Alex kembali duduk di kursi kemudi dengan debar jantung yang memburu dan menahan hasrat yang membara. “Lepas baju seragammu! Pakai ini! Kamu bisa masuk angin!” Alex melempar jaketnya ke arah Tyara. “Jangan sok jadi gadis pemberani dan jangan menantangku lagi! Berani menantang tapi baru seperti itu saja takut!” gantian Alex yang mengejek Tyara. Tyara melepas baju seragamnya dan mengganti seragamnya yang basah dengan jaket pemberiannya. Alex menatap Tyara yang juga sedang menatapnya mereka bertatapan sesaat lalu Alex memalingkan wajah dan menyalakan mesin mobilnya. Tyara tampak sudah memakai jaket milik Alex. Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam sampai akhirnya Tyara tertidur di mobil. Alex POV Gadis pujaanku memang keras kepala. Kadang aku dibuat emosi dengan tingkahnya. Bayangkan, dia malah menyuruh aku menghamilinya! Untung aku masih punya akal sehat. Bagaimana tidak? Laki-laki mana yang tidak tergoda melihat tubuh Tyara. Saat aku memandang wajah Tyara, dia menangis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Seketika itu aku teringat wajahnya yang menangis saat kami pertama kali bertemu. Aku menghentikan emosi sesaatku, beralih ke kursi kemudi dan melempar jaket ke arahnya. Dia memandangku, entah kenapa dia memandangku. Aku membuang muka dan lebih memilih menyalakan mesin mobilku. Jangan memintaku melakukan hal itu lagi, Ra! Karena lain kali jika kamu meminta, aku tidak akan menolak ataupun menunda. *** Alex memandang wajah Tyara sangat cantik saat tertidur. Sepanjang perjalanan pulang, Alex menyesal mengingat kejadian hari ini. Alex hampir saja melakukan hal yang tidak terpuji pada gadis yang dicintainya. Alex kembali mengacak rambutnya. Kali ini sudah pasti Tyara tidak akan dilepaskannya lagi, dia akan menjadikan Tyara miliknya, selamanya. Alex mengurangi kecepatan mobilnya karena mereka sudah memasuki kota tempat tinggal mereka. Alex tidak ingin berpisah dengan gadisnya, dia masih ingin menikmati wajahnya ketika sedang tidur. Alex mematikan mesin mobilnya karena mereka sudah sampai di depan rumah Tyara. Alex tidak berniat membangunkan Tyara namun akhirnya Tyara terbangun karena merasa kegerahan di dalam mobil tanpa AC. Tyara menyipitkan matanya saat melihat lampu yang terang masuk ke dalam matanya. Tyara kemudian segera menyadari kalau mereka sudah berada di depan pagar rumah Tyara. Tyara memandang Alex  beberapa saat, mereka berdua saling berpandangan. Hanya diam tanpa kata. Tyara keluar dari mobil Alex tanpa berpamitan lalu masuk ke dalam rumah. Alex memandangi Tyara sampai menghilang di balik pintu. Bi Pur terkejut saat melihat Tyara yang pulang dengan kondisi yang basah dan berantakan. “Non? Non Tyara kenapa?” tanya Bi Pur cemas. “Tidak apa-apa, Bi. Siapkan air hangat dan makan malam ya!” “Baik, Non!” jawab Bi Pur kemudian menghilang masuk ke dapur. Tyara berjalan ke arah jendela ruang tamu, dia membuka sedikit gorden yang menutup jendela. Mobil Alex masih berada di depan pagar rumah Tyara. Lampu dalam mobil menyala sehingga Tyara bisa melihat Alex yang membenamkan kepalanya di stir kemudi mobilnya. Mata Tyara kembali berkaca-kaca mengingat seluruh kejadian hari ini. Hatinya kembali terluka mendengar kenyataan pahit yang diungkapkan Alex kepadanya hari ini. Tyara sungguh kecewa, laki-laki yang dicintainya ternyata hanya menjadikannya target untuk balas dendam.   _______  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN