Alex kembali terdiam, sejenak kemudian dia menarik napas panjang dan memandang Tyara dengan tatapan sejuta makna. Sudah saatnya Tyara mengetahui satu per satu kisah ini.
Tyara kembali memandang foto lawas itu. Di foto itu Tyara masih kecil, Tyara menebak usianya 4 tahun saat foto itu diambil. Tyara memakai baju warna pink, rambutnya lurus sebahu diberi pita manis warna senada yang disematkan di atas telinganya. Alex memakai kemeja warna merah maroon dipadu jeans pendek warna hitam. Tampak Tyara sedang berjongkok memegangi lututnya dan ada seorang anak laki-laki kecil di depannya sedang membantu membersihkan lutut Tyara.
***
13 Tahun yang Lalu
“Sudah jangan menangis.” Alex kecil berjongkok di samping seorang gadis kecil.
“Aku hampir tercebur ke kolam, lututku berdarah,” jawab Tyara kecil sambil menangis.
“Coba aku lihat! Oh, tidak apa-apa. Ini hanya lecet saja.” hibur Alex sambil memandang mata Tyara.
“Tapi ini perih sekali, aku mau Opaku,” rengek Tyara.
“Kamu ke sini dengan Opamu?” tanya Alex sambil menengok ke kanan dan ke kiri mencari Opa Tyara.
“Iya, aduhh sakit!” Tyara memegang lututnya.
“Sini aku bantu bersihkan,” Alex kecil mengeluarkan sapu tangan dari sakunya. “Sudah bersih. Sudah ya, jangan menangis lagi,” hibur Alex.
“Terima kasih, namamu siapa?” tanya Tyara pada Alex.
“Aku Alex. Namamu siapa?”
“Namaku Angela Tyara Aurora. Kamu bisa panggil aku Rara.”
Tyara mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Alex. Alex membantu Tyara berdiri. Mereka berdua tersenyum. Tidak berapa lama Tyara mendengar suara teriakan Opa memanggil namanya.
“Rara, Rara! Oh, Rara ternyata kamu di sini! Opa mencarimu kemana-mana.” Opa Hans berlari menuju ke arah Tyara. Opa memeluk erat Tyara dengan mata yang berkaca-kaca.
“Opa, ini teman baru Rara. Dia yang bantu membersihkan luka Rara,” Tyara menunjukkan lututnya yang lecet.
“Kamu jatuh di mana, Ra?”
“Di dekat kolam ikan itu Opa. Rara mau memberi makan ikan, tapi Rara terpeleset dan hampir tercebur. Dia yang menarik tangan Rara,” jelas Rara sambil menunjuk ke arah Alex.
“Terima kasih ya, Nak!”
“Sama-sama,” jawab Alex sopan.
Dari kejauhan di tempat tersembunyi beberapa pasang mata memperhatikan dengan penuh kewaspadaan.
“Alex!” seru seorang perempuan dari tiba-tiba datang dari balik pohon.
“Mama!”
“Ayo, kita pulang!” Winona tersenyum dan mengangguk sopan ke arah Opa Hans.
“Terima kasih, Nyonya. Putra Anda membantu cucu saya,”
“Oh, tidak apa-apa, Pak,” jawab Winona sambil mengamati wajah Tyara. “Sering kemari ya, Pak?”
“Iya, Nyonya. Cucu saya setiap sore minta diantar ke bandara dan pulangnya kami mampir di taman ini,” jelas Opa Hans.
“Hai, anak cantik. Kenapa tiap sore harus ke bandara?” tanya Winona pada Tyara.
“Aku mau menyusul mamaku, Nyonya,” jawab Tyara.
“Mamanya pergi ke London,” Opa Hans menjelaskan.
“Aku berani naik pesawat sendiri. Tapi tidak boleh sama Opa,” rengek Tyara.
“Anak kecil tidak boleh pergi sendirian ya. Kalau ada orang jahat nanti kamu tidak bisa bertemu Opa lagi,” jelas Winona.
Tyara mengangguk mendengarkan nasihat dari Winona, perempuan yang baru pertama kali dijumpainya.
“Semoga mamamu cepat kembali ya, Rara.” Winona mengelus pipi Tyara. “Alex, sudah saatnya pulang. Ayo berpamitan.”
“Sampai jumpa lagi, Rara!” Alex melambaikan tangan pada Tyara.
“Terima kasih ya, Alex! Bye bye!”
Winona berpamitan pada Tyara dan Opa Hans. Lalu menggandeng tangan Alex menuju ke mobil mewahnya, sebelum masuk mobil Winona memberi kode pada beberapa pengawalnya yang mengawasi peristiwa itu dengan penuh kewaspadaan. Semenit kemudian rombongan mobil Winona meninggalkan taman menuju ke arah bandara.
***
“Ini aku dan kamu, Lex!” Tyara memandangi foto lawas yang ada di tangannya.
“Iya, di depan kolam ikan ini kita pertama kali bertemu, Ra,” jelas Alex.
“Bukankah ada yang aneh, Lex?”
“Aneh?”
“Kita bertemu lagi di SMA, apa itu hanya kebetulan saja?” selidik Tyara.
Alex terdiam sejenak, menarik napas panjang lalu menghembuskannya.
“Kamu adalah perempuan yang aku cintai sekaligus sempat aku benci di saat bersamaan, Ra,” Alex menjelaskan.
“Oke...aku masih belum mengerti,” Tyara mengerutkan keningnya.
“Setelah pulang dari taman ini 13 tahun yang lalu, aku dan mamaku langsung terbang ke Belanda. Kami tinggal di sana bersama kakek dan nenekku. Kakekku orang Belanda, beliau masih keturunan bangsawan di sana. Sedangkan nenekku berasal dari Indonesia.” jelas Alex.
“Mamaku membangun bisnisnya dari nol hingga sekarang sudah menjadi perusahaan besar di Belanda. Saat aku SD aku sering menanyakan pada Mama, kenapa kami harus meninggalkan Papa. Namun, tidak pernah terucap penjelasan dari mulut Mama. Akhirnya, saat aku duduk di kelas 2 SMP mama menjelaskan kepadaku, Ra. Kamu dan aku memang tidak kebetulan bertemu.” lanjut Alex.
“Jadi?” Tyara masih belum mengerti.
“Mamamu dulu menjalin hubungan dengan Papaku sebelum masing-masing terikat pernikahan. Namun, karena Papa sudah dijodohkan dengan Mama akhirnya hubungan antara papaku dan mamamu harus diakhiri. Banyak pertentangan dalam keluarga besar Papa yang memaksa hubungan itu diakhiri,” jelas Alex.
Seketika, Tyara merasakan pening di kepalanya. Tyara memijit pelipisnya tidak percaya dengan cerita yang baru saja dia dengar. Apakah Papa yang dimaksud Alex adalah calon suami mamanya yang sekarang? Apakah Papa Alex itu adalah pria yang diberitakan di majalah yang dibaca Tyara beberapa hari yang lalu? Kalau benar, bukankah Papa Alex seorang raja? Seribu pertanyaan berputar-putar di otak Tyara saat ini.
“Empat tahun berlalu sepertinya Papa tidak bisa melupakan mamamu, apalagi setelah tahu mamamu kembali ke London meninggalkan keluarganya, meninggalkan kamu.”
Tyara teringat kembali kepergian mamanya, dia bertanya-tanya dalam hati apakah kepergiannya karena ingin kembali menjalin hubungan dengan papa Alex?
“Akhirnya papaku dan mamaku berpisah, di tengah kesedihannya mama sempat merencanakan penculikanmu.” jelas Alex penuh dengan kehati-hatian.
“Apa???” Tyara tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Tiga belas tahun yang lalu di taman ini seharusnya ada kasus penculikan,” jelas Alex. “Mama sudah tahu setiap hari kamu selalu mengunjungi taman ini, maka mama merencanakan penculikanmu di sini.”
“Lalu kenapa aku masih bisa ada di sini?” tanya Tyara.
“Mungkin Tuhan merencanakan hal lain terjadi pada kita, Ra. Nyatanya saat ini aku sangat mencintaimu,” jawab Alex.
“Saat itu aku melihat mama dan pengawal-pengawalnya sudah bersiap, salah satu pengawal mama berpura-pura mengobrol dengan opamu untuk mengalihkan perhatian, sehingga kamu lepas dari pengawasan. Aku di dalam mobil, tidak tahu maksud mama. Saat itu entah kenapa mataku menangkap seorang gadis kecil yang terjatuh, hampir tercebur ke dalam kolam ikan. Spontan aku keluar dari mobil berlari secepat yang aku bisa lalu menarik tangan gadis kecil itu.”
“Itu aku! Aku sama-samar ingat kejadian itu, Lex! Karena sejak kejadian itu aku tidak pernah ke taman ini lagi.” Tyara berusaha mengingat-ingat.
“Iya, gadis itu kamu. Setelah menarik tanganmu aku bisa melihat wajah cantikmu, kamu menangis sambil berjongkok aku membantu membersihkan lukamu, saat itulah Mama mengambil foto kita dan berubah pikiran,” jelas Alex.
“Kenapa mamamu mau menculikku, Lex?” tanya Tyara mengguncang tangan Alex untuk meminta penjelasan.
“Mama mau membalas dendam dan mau mengancam mamamu supaya meninggalkan papaku, Ra,” jelas Alex.
“Lalu, kenapa mamamu berubah pikiran? Kenapa penculikan itu tidak jadi dilakukan?”
“Kata Mama, saat Mama melihat aku menolongmu Mama menyadari kalau kamu juga terluka seperti kami,” jelas Alex. “Saat aku lulus SMP, aku mengatakan pada Mama kalau aku mau membalaskan dendam Mama dengan caraku. Mama melarangku, tapi aku bersikeras,” jelas Alex.
“Jadi selama ini aku bagian dari balas dendammu?” Tyara tidak terima karena merasa dipermainkan.
“Iya, sebelum aku menyadari aku sangat mencintaimu,” Alex menatap tajam ke arah Tyara.
“Siapa yang bisa tahu dan menjamin perasaanmu? Bisa jadi kamu mau membunuhku sebentar lagi untuk membalas dendam mamamu!” Tyara bangkit berdiri menyadari bisa saja dia sedang dalam bahaya.
“Ra, please! Dengerkan aku sampai selesai.” Alex menarik tangan Tyara dan memaksanya untuk kembali duduk. “Aku tau setelah aku mengatakan kebenaran ini kamu akan membenciku.”
“Aku tidak tahu, Lex. Aku bingung,” isak Tyara.
Alex meraih dan memeluk Tyara, Tyara menangis di bahu Alex. Alex mengecup puncak kepala Tyara dengan perasaan menyesal dan mengelus punggungnya seolah memberi tahu kalau Alex ada di sini untuknya.
“Monic..” Alex menghentikan kalimatnya.
Saat Alex mengucapkan nama itu, Tyara berusaha melepaskan pelukan Alex dan manjauhi Alex. Alex tahu nama itu yang membuat Tyara terluka dan membenci Alex. Tyara tidak pernah mau mendengar nama Monic terucap dari bibir Alex.
“Aku dan Monic sudah berpacaran sejak kelas 2 SMP, dia kakak kelasku. Saat aku lulus SMP aku memutuskan hubungan kami. Aku memutuskan untuk tinggal di Indonesia ditemani oleh nenekku dan melanjutkan balas dendam Mama. Tapi ternyata Monic mengikutiku,” jelas Alex. “Dia sedikit banyak mengganggu rencanaku, dia memaksa untuk berpacaran lagi. Dia mengancam akan memberitahukan semua padamu kalau aku tidak mau menerimanya kembali.”
“Kalau Monic tidak mengikutimu dan mengganggu rencanamu, sebenarnya apa yang kamu rencanakan padaku, Lex!” selidik Tyara.
“Tidak, kau pasti akan marah kalau aku mengatakannya, Ra,” Alex mengacak rambutnya frustasi.
“Katakan!” paksa Tyara.
Dengan ragu-ragu akhirnya Alex berkata, “ Aku akan membuatmu hamil, lalu kucampakkan. Supaya kamu dan terutama mamamu tahu bagaimana perasaan kami yang dicampakkan,” jawab Alex lirih dan bergetar.
“Plakkk!” Tyara menampar pipi Alex. “Teganya kamu pernah punya rencana seperti itu, Lex!” bulir-bulir bening air mata Tyara mengalir. Dia sangat kecewa karena laki-laki yang dicintainya hingga detik ini ternyata pernah punya rencana jahat untuknya.
Tyara menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja dia dengar dari Alex. Air mata bercucuran jatuh membasahi pipinya. Tyara terus menangis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seolah tidak ingin menghadapi kenyataan bahwa selama ini Alex tidak mencintainya, Alex hanya menjadikan Tyara sebagai pelampiasan dendam pada papanya dan mama Tyara. Tyara mengingat kembali awal mereka berpacaran dan rasanya sakit saat menyadari bahwa Alex hanya berpura-pura mencintainya.
_______