Bel tanda pulang sekolah sudah berbunyi. Tyara semakin gelisah mengingat ucapan Alex pagi tadi. Alex sudah meminta izin papanya untuk mengajak Tyara pergi sampai malam. Dan sialnya, menurut Alex, Papa Tyara sudah memberikan izinnya pada Alex. Tyara melihat keadaan sekeliling, ternyata baru teman-teman sekelasnya yang keluar dari ruang kelas. Pintu kelas yang lain masih tertutup termasuk kelas Alex dan mereka belum membubarkan diri. Tyara mempercepat langkahnya munyusuri koridor kelas 12. Setengah berlari dia menuju ke lobby sekolah. Sampai di halaman parkir, Tyara melihat mobil Alex masih terparkir di sana. Keadaan sementara ini masih aman.
Tyara berpikir dia harus mencari tempat untuk bersembunyi dari Alex. Menunggu sampai Alex pulang sambil berusaha menelepon papanya untuk minta dijemput. Akhirnya, dia memutuskan untuk menuju ke GOR sekolah. Mengingat hari ini hari Rabu, tidak ada jadwal latihan basket.
Tyara berlari menuju ke GOR, sambil sesekali menengok ke belakang, kalau-kalau Alex melihat dan mengikutinya. Sampai di hutan sekolah Tyara mulai lega karena sebentar lagi sudah sampai tempat yang dia tuju. Tyara melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju pintu masuk GOR. GOR sangat sepi, tidak terdengar suara dentuman bola basket seperti biasa. Tyara menyalakan ponselnya, dia mengecek beberapa pesan yang masuk sambil terus berjalan dan membuka pintu GOR. Betapa kagetnya dia saat pintu terbuka dan semua mata di tengah lapangan basket itu memandang ke arah Tyara.
“Lho Tyara! Ngapain ke sini? Mau ketemu Alex ya?” teriak Marlon.
Wajah Tyara spontan pucat pasi. Tyara melihat tim basket putra sedang duduk melingkar di tengah lapangan basket, sepertinya mereka selesai latihan. Coach David yang sedang memberikan pengarahan, melihat ke arah Tyara. Tyara malu dan takut kena marah coach karena seharusnya dia tidak boleh datang saat tim putra latihan.
“Tunggu sebentar ya Tyara, sudah mau selesai kok! Kamu di situ saja, duduk!” perintah Coach David yang terdengar menyeramkan di telinga Tyara.
Tyara hanya diam dan menganggukkan kepalanya. Dia segera duduk di kursi terdekat. Tyara melihat Alex mendengarkan arahan coach David. Alex sempat tersenyum ke arahnya seakan memberi kode ‘tunggu sebentar, ya.’
“Oke, team! Terima kasih latihannya hari ini!”
Setelah menyelesaikan urusannya dengan anggota tim, terlihat coach David serta yang lain sedang beres-beres. Selesai beres-beres Coach David berjalan ke arah Tyara. Tyara salah tingkah dibuatnya.
“Maaf Coach,” ucap Tyara sedikit takut dan menunjukkan penyesalannya.
“Tidak apa-apa, Tyara. Kamu memang sengaja mau ke sini?” selidik Coach David.
Tyara menggelengkan kepalanya, namun dia tidak sanggup mengucapkan alasan mengapa dia ke GOR siang ini.
“Kali ini Coach maafkan karena memang seharusnya hari ini tidak ada latihan. Jadi ini bukan salahmu.” jelas Coach David.
“Terima kasih, Coach,” ucap Tyara lega setelah mendengarkan penjelasan dari Coach David.
“Oya, dengar-dengar kabar, kalian baru saja balikan, ya?” goda coach David sambil tertawa renyah, sedangkan Tyara yang bingung tidak tahu harus menjawab apa hanya bisa memberikan senyum yang dipaksa.
“Oke, Coach duluan ya! Oya Tyara...” lanjut Coach David.
“Ya, Coach?”
“Selamat ya, percayalah Alex anak yang baik!” Coach David menepuk bahu Tyara sambil berlalu bersama beberapa anggota tim yang lain, meninggalkan mereka satu per satu. Tyara mematung mendengar perkataan Coach David.
***
GOR semakin sepi menyisakan Alex, Tyara, dan Marlon teman sekelas Alex. Marlon ini anak basket yang lincah tapi dia kecil dan tidak terlalu tinggi. Marlon tidak seperti cowok-cowok idola sekolah yang mendekati Tyara untuk mencari perhatian. Marlon cukup dekat dengan Tyara karena dia salah satu sahabat Alex yang mendukung hubungan Alex dan Tyara.
Alex dan Marlon berjalan beriringan menuju ke arah Tyara. Mereka tampak mengobrol dengan akrabnya sambil sesekali tertawa.
“Ciyee yang baru jadian, baru ditinggal sebentar saja sudah kangen,” goda Marlon.
“Apaan sih Marlon!” Tyara mencubit lengan Marlon dengan kesalnya.
“Aduh, sakit! Ngga potong kuku ya kamu, Ra?!” protes Marlon.
“Enak aja!” balas Tyara.
“Hei, udah-udah! Marlon sana lo, gangguin pacar gue aja!” tiba-tiba Alex memeluk Tyara dari belakang.
“Alex! Apa-apaan sih!” Tyara dengan kasar melepaskan tangan Alex yang melingkar di pundaknya.
“Capek, Ra. Makan yuk!”
“Aku mau pulang!” jawab Tyara.
“Aduh, kok jadi gini ya? Galak amat, Ra? Gue pulang duluan aja ya, Lex! Daripada kena marah mak lampir!” Marlon berpamitan sambil berlari karena Tyara bersiap memukulnya.
***
Dengan penuh perjuangan, akhirnya Alex berhasil membujuk Tyara untuk pulang bersamanya. Mereka berdua berjalan menuju ke parkiran mobil. Tyara berusaha tetap menjauh.
“Kamu tahu aku lagi latihan basket?” selidik Alex.
Tyara hanya diam menggelengkan kepala. Otaknya sedang bekerja keras mencari alasan kenapa hari ini dia nyelonong masuk GOR.
“Trus, ke GOR ngapain?”
Tyara menelan ludahnya karena otak dan mulutnya belum singkron untuk menjawab pertanyaan Alex. Tyara tahu pasti Alex akan menanyakan hal ini. Dan akhirnya jawaban yang keluar adalah .....
“Mau sembunyi!” jawab Tyara kesal.
“Sembunyi? Sembunyi dari siapa?” selidik Alex.
“Dari orang yang paling menyebalkan sedunia,” jawab Tyara sambil menatap mata Alex.
“Aku maksudmu?” Alex menunjuk mukanya sendiri.
Tyara hanya terdiam, sambil terus berjalan menuju ke arah lobby sekolah. Setiap kali langkah mereka sejajar, Tyara mempercepat langkahnya. Alex hanya tersenyum melihat tingkah Tyara.
“Mau sembunyi apa memang sengaja mau ketemu?” goda Alex yang berjalan di belakang Tyara.
“Buat apa mau ketemu? Aku ngga ada urusan apapun sama kamu tau ga!”
Alex mencengkeram dan menarik lengan Tyara hingga Tyara terhuyung menabrak d**a bidang Alex, “Kenapa kamu bilang tidak ada urusan sama aku?!”
“Lepas, Lex!” Tyara menjerit kesakitan.
“Kenapa?!” tanya Alex meminta penjelasan. Alex mendekatkan wajahnya ke wajah Tyara. Tyara membuang muka sambil berusaha melapaskan cengkeraman tangan Alex.
“Lepas! Kita tidak ada urusan apa-apa semenjak kita putus!”
Alex terdiam sejenak mendengar jawaban dari Tyara. Ada rasa sakit dalam hatinya mendengar jawaban itu. Ternyata gadis ini benar-benar tidak mau menjalin hubungan lagi dengannya. Padahal sudah sejak pertemuan pertama mereka, Alex ingin bersama Tyara. Tanpa melepaskan lengan Tyara, Alex berjalan dengan langkah yang cepat sambil menarik lengan Tyara masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, Tyara memegang lengannya yang merah setelah ditarik Alex. Alex melirik sambil menyalakan mesin mobilnya.
“Kamu tidak bisa ya, sehari saja bersikap manis?” tanya Alex.
“TIDAK!” jawab Tyara menatap tajam ke arah Alex.
“Dasar keras kepala!”
Selama perjalanan entah ke mana itu, mereka hanya terdiam. Sesekali Tyara memandang Alex seakan meminta penjelasan ke mana Alex akan membawanya, ke mana arah tujuan mereka. Alex menyadari kebingungan Tyara namun dia tetap fokus mengemudikan mobilnya, tanpa memperhatikan Tyara.
“Kita sudah sampai. Ayo turun!” perintah Alex.
“Kamu ngapain ngajak aku ke sini?” tanya Tyara judes.
“Karena aku ingin mengenang kembali pertama kali kita bertemu di sini,” jelas Alex sambil berusaha menurunkan nada bicaranya supaya Tyara melunak.
Alex membuka pintu mobilnya lalu berjalan membukakan pintu untuk Tyara.
“Tapi kita pertama ketemu kan di sekolah, Lex!” ucap Tyara bingung.
“Hari ini aku ingin kamu jadi anak yang manis, jadi aku akan membantumu mengingat-ingat semua,” jawab Alex. “Kita duduk di sana ya,” Alex menunjuk sebuah kursi kayu yang kosong.
Alex mengajak Tyara ke sebuah taman di dekat bandara. Taman ini tidak terlalu ramai mengingat letaknya yang berada di pinggiran kota jauh dari keramaian. Ada beberapa pasangan muda yang membawa anak balita mereka berjalan-jalan, ada yang bermain ayunan dan jungkat-jungkit, ada yang berfoto di taman bunga, dan ada yang sekedar duduk-duduk di bangku taman. Alex mengajak Tyara duduk di kursi kayu yang menghadap ke kolam ikan.
“Aku seperti pernah ke sini,” Tyara memandang taman di sekelilingnya.
“Ini tempat kita pertama bertemu,” jawab Alex sambil memandang kolam ikan.
“Maksudnya? Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan, Lex. Aku pertama bertemu kamu di sekolah. Hari itu hari pertama masuk sekolah,” jelas Tyara.
Alex tersenyum, “ Berarti kamu sudah naksir aku di hari pertama masuk sekolah, ya?”
“Terlalu pede!” jawab Tyara kesal.
Alex tertawa. Semilir angin meniupkan helaian rambut Tyara yang wangi, mereka berdua terdiam melihat ikan-ikan yang sedang berenang di kolam.
“Kamu benar tidak ingat?” tanya Alex.
“Aku tidak asing dengan tempat ini, tapi aku benar-benar tidak ingat,” jawab Tyara.
“Oke. Aku akan bantu kamu mengingat-ingat kembali. Karena memang sudah tiba waktunya.”
Alex mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya. Tyara serius memperhatikan Alex, kali ini Alex sungguh berbeda. Tyara merasakan sesuatu yang tidak dapat dia jelaskan dengan kata-kata, seolah kejadian ini pernah dia alami sebelumnya. Sampai saat Alex menyerahkan sesuatu yang diambil Alex dari dompetnya.
“Ini cinta pertamaku, aku sangat mencintainya sampai detik ini,” Alex menyerahkan selembar foto lawas kepada Tyara.
“Ini aku, Lex!” Tyara membelalakkan matanya.
“Iya, itu Rara cinta pertamaku,”
“Bagaimana kamu bisa...,” Tyara memandang Alex untuk meminta penjelasan.
Alex terdiam memandang ikan-ikan yang sedang berenang di dalam kolam. Mereka berdua terdiam. Angin sore mulai dingin seolah menembus sampai ke dalam hati Tyara. Dia bergetar melihat foto lawas yang kini ada di tangannya. Ingatannya mulai ditarik mundur jauh ke belakang. Tyara masih belum mendapatkan jawaban dari Alex bagaimana Alex bisa menyimpan foto masa kecilnya dan yang paling mengejutkan adalah foto itu diambil di taman ini!
“Lex, jangan hanya diam okey?” Tyara meminta sebuah penjelasan.
“Oke. Kamu sudah jadi anak yang manis? Karena kalau kamu banyak tingkah dan banyak protes, aku tidak akan menjelaskan apa-apa!” jelas Alex.
Tyara memutar bola matanya dan menghembuskan napas panjang mendengar kalimat terakhir Alex.
“Iya, aku akan jadi anak manis,” jawab Tyara cemberut.
“Yakin?” goda Alex.
“Iya, Lex! Cepatlah!” protes Tyara.
“Tuh kan, ngga manis kan!”
“Alex!”
Alex kembali terdiam, sejenak kemudian dia menarik napas panjang dan memandang Tyara dengan tatapan sejuta makna. Sudah saatnya Tyara mengetahui satu per satu kisah ini.
_______