6. Rahasia Kecil

1571 Kata
Rara POV Aku sungguh tak habis pikir. Drama apa lagi yang mau dimainkan Alex. Dia bilang akulah selingkuhannya dan Monic pacarnya yang sah waktu itu?! Rasanya aku sudah tidak berselera makan lagi dan ingin segera pulang. *** Alex POV Akhirnya aku mengatakan sebagian kecil kebenaran pada Tyara, aku sudah tidak bisa lagi menahan perasaanku. Awal masuk SMA, aku sudah mengincar Tyara sebagai target untuk kujadikan pacar. Tapi aku agak kesulitan dibuatnya, dia termasuk golongan cewek yang berjalan di jalur yang benar. Dia jarang keluar rumah, karena ternyata omanya super galak dan protektif. Menurut informan yang bisa kupercaya, omanya tak segan memukuli Tyara kalau Tyara melawan aturan. Konsentrasiku terpecah karena Monic mendaftar juga di SMA RIS sebagai siswa pindahan. Aku menjalin hubungan lagi dengan Monic sebulan setelah awal masuk sekolah, namun aku memberi peringatan keras pada Monic yang saat itu duduk di kelas 11 supaya hubungan ini dirahasiakan dengan alasan yang bisa diterima oleh Monic. Tiga bulan sebelum kenaikan kelas, aku akhirnya bisa mendapatkan hati Tyara. Aku dan Tyara sama-sama ikut seleksi tim basket dan diterima sebagai tim inti. Semenjak itu Tyara bisa kudekati. Awalnya tidak ada rasa apapun untuk Tyara, aku juga masih menjalin hubungan dengan Monic. Saat itu Tyara mendapatkan bukti-bukti kalau aku berhubungan dengan Monic dan akhirnya memutuskanku. Aku jengkel sekali pada orang yang membocorkan rahasia hubunganku dengan Monic pada Tyara, membuatku tidak bisa melanjutkan rencanaku. Saat itu aku bersumpah untuk menghajar orang itu diwaktu yang tepat. *** “Jadi, maksudmu Monic lebih dulu jadi pacarmu?” “Iya,” jawab Alex sambil terus manatap mata Tyara tajam. “Sejak kapan?” mata Tyara berkaca-kaca. “Sejak di SMP,” jawab Alex sambil terus menatap bola mata Tyara yang mulai berkaca-kaca. Tyara tampak mendongakkan kepalanya, seolah mencegah air matanya menetes. d**a Alex sesak seperti dihantam benda keras melihat Tyara berkaca-kaca. Tyara tidak dapat lagi menyembunyikan kekecewaannya. Selama ini seluruh penghuni sekolah tahu kalau Tyara dan Alex berpacaran. Alex juga tidak menyembunyikan hubungan mereka di depan teman-temannya. Kenapa hubungan yang begitu terbuka dan diketahui seantero sekolah bahkan diketahui Monic dibilang selingkuh? Tyara tidak habis pikir. “Lepas, Lex!” Tyara memberontak saat Alex mengeratkan genggaman tangannya. “Tolong kali ini kamu mendengarkan penjelasanku, kamu selalu menghindari aku!” Alex memaksa Tyara untuk mendengarkan penjelasannya. “Aku harus dengar apa lagi! Semua sudah berakhir, Lex! Sudah lama berakhir!” “Aku tidak mau berakhir!” paksa Alex. “Aku tidak sudi jadi selingkuhanmu.” Tyara menurunkan volume suaranya sambil menyapukan pandangannya, melihat keadaan di sekelilingnya. Tyara tidak mau jadi pusat perhatian. “Kamu tidak akan jadi selingkuhanku lagi, kamu akan jadi kekasihku, satu-satunya!” Alex menatap lekat-lekat mata Tyara. Tyara membuang muka. Ada perasaan aneh dalam diri Tyara seolah memaksanya memberi kesempatan pada Alex untuk kembali bersama. Namun, segera diredamnya perasaan aneh itu. “TIDAK, Lex! Sudah cukup kamu menyakiti hatiku. Kamu memang pernah jadi yang pertama, aku merasa hubungan kita nyata. Tapi ternyata aku salah!” “Aku akan tetap jadi yang pertama buatmu, Ra! Aku tidak akan membiarkan siapapun menggantikan posisiku!” “Kamu egois!” “Iya, demi kamu! Aku bisa jadi yang paling egois di muka bumi!” tegas Alex. *** Alex mengantar Tyara pulang sampai di depan pagar rumah Tyara yang berwarna hitam. Tyara tidak melihat mobil papanya, artinya papanya belum pulang. “Terima kasih, Lex,” “Terima kasih buat?” “Terima kasih sudah mengantar aku pulang, terima kasih makan malamnya,” ucap Tyara tulus. “Terima kasih juga ya, Ra,” sambung Alex. “Terima kasih apa?” “Terima kasih sudah menerima aku jadi pacarmu lagi,” goda Alex sambil tersenyum melirik Tyara. “What???!!” Tyara mengerutkan dahinya. “Kita tidak ada hubungan apa-apa ya, Lex! Kamu cuma antar aku pulang dan ajak aku makan, cuma itu!” “Benarkah tidak ada kesempatan buatku lagi, Ra?” “Tidak!” jawab Tyara singkat dan tegas. Tiba-tiba tangan Alex yang kokoh meraih tangan Tyara. Alex tampak begitu kecewa dan marah denagn jawaban Tyara. Dia mencengkeram tangan Tyara erat-erat hingga Tyara meringis kesakitan. “Lepas, Lex!” Tyara tidak dapat menyembunyikan kemarahan karena tindakan Alex yang sangat kasar pada dirinya. “Aku ingin memelukmu sebentar saja. Aku rindu sekali, Ra!” Alex memaksa dan berusaha mendekatkan tubuh Tyara ke arahnya. “Stop, Lex! Cukup!” Tyara mendorong tubuh Alex sebelum Alex melakukan hal-hal lainnya pada Tyara. Alex yang tidak siap dengan dorongan kuat dari Tyara terdorong menjauh. Tyara keluar dari mobil dan membanting pintu mobil keras-keras. Alex mengacak rambutnya. Walaupun dia kesal tapi dia tetap mengawasi Tyara sampai ada yang membukakan pintu. Begitu melihat mbak Pur membukakan pintu untuk Tyara, Alex segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.  *** “Pagi, Pa!” Tyara menghampiri papanya yang sudah duduk di meja makan. “Pagi, Ra,” Dany mengucek matanya yang masih setengah tertutup. “Tumben Papa sarapan,” ejek Tyara. “Papa selalu sarapan, Ra. Tiap Papa sarapan kamu sudah berangkat sekolah,” jelas Dany. “Ya iyalah, tiap pagi Papa bangun jam berapa coba?” “Siang,” jawab Dany pendek sambil mengamati Tyara yang sedang mengoleskan selai di rotinya. “Mau Rara buatin roti selai, Pah?” “Tidak usah, Papa sedang menunggu nasi goreng baru dibuatin Bi Pur. Semalam pulang jam berapa sama Alex?” selidik Dany. “Seharusnya Rara yang tanya, Papa pulang jam berapa?” balas Tyara. “Heissstt....ditanya Papanya malah balik bertanya. Kamu ke mana saja sama Alex? Alex ganteng lho, Ra. Kalian cocok,” goda Dany, “kata sumber terpercaya, Alex juga kaya raya.” “Papa apa-apaan sih pakai menyelidiki Alex segala!” protes Tyara. “Lho, harus itu! Dia mendeketi anak gadis papa! Kalau orangnya tidak jelas bagaimana jadinya? Papa harus tahu latar belakangnya dong!” jelas Dany. “Maaf Pak Dany dan Non Rara,” Bi Pur menyela pembicaraan dengan sopan, “itu ada tamu yang mencari Non Rara,” jelas mbak Pur. “Siapa, Bi?” tanya Dany. “Itu cowok ganteng yang semalam ke rumah sama Non Rara,” Bi Pur menjawab sambil tersipu menyebut Alex cowok ganteng. “Oh...ya..ya...suruh masuk langsung ke ruang makan ya, Bi!” perintah Dany. “Papa!” protes Tyara. “Apa sih, Ra! Biarkan dia sarapan sama kita,” “Ini sudah hampir terlambat,” Tyara merengek. “Ah..masih 40 menit, masih cukup banyak waktu buat sarapan,” jelas Dany. “Pagi Om, pagi Tyara,” sapa Alex. “Eh..Alex, pagi! Ayo sarapan dulu!” Dany mempersilakan Alex untuk bergabung. “Sudah sarapan kok, Om,” jawab Alex sopan sambil melirik Tyara yang cemberut. “Kopi ya?” Dany menawarkan minum untuk Alex. “Boleh Om, kalau tidak merepotkan,” sambut Alex. “Ah jelas tidak, buat calon mantu sendiri masa merepotkan, yuk duduk dulu. Om ke dapur dulu minta Bi Pur buatkan kopi.” “Terima kasih, Om.” Dany berlalu ke dapur sedang Tyara melotot ke arah Dany. Dany sengaja meninggalkan mereka berdua supaya bisa mengobrol. Buktinya, sampai Bi Pur menghidangkan kopi, Dany tidak kembali ke meja makan malah makan nasi goreng di dapur. “Cepetan makannya,” ucap Alex sambil menyeruput kopinya. “Memangnya kenapa?!” Tyara sangat kesal karena pagi ini Alex datang dan merusak moodnya. “Hari ini kita berangkat bareng ke sekolah,” jelas Alex. “Tidak usah, Lex! Aku diantar Papa saja!” jawab Tyara. “Kamu berangkat sama Alex ya, Ra. Papa masih ngantuk nih!” tiba-tiba Dany muncul di ruang makan dan langsung menuju ke kamarnya. “Hihhh, Papa!” Tyara menghentakkan kakinya ke lantai yang langsung disambut senyum kemenangan oleh Alex. *** Di mobil Alex, Tyara mengarahkan pandangannya ke luar jendela selama perjalanan menuju sekolah. Alex menyalakan audio playernya lalu mengalunlah lagu Adele lagi, When We Were Young. Tyara melirik, sepertinya ada maksud tersirat yang ingin disampaikan oleh Alex lewat lagu itu. “Masih marah?” tanya Alex membuka percakapan. Tyara hanya diam sambil menggelengkan kepalanya. “Nanti malam kita kencan lagi ya!” Alex melirik Tyara. Tyara spontan melotot, “Kamu ini apa-apaan sih, Lex!”   “Kamu tambah cantik kalau marah,” goda Alex, “seharian ini kamu milikku, jadi kamu harus siap-siap.” “Maksudnya apa?!” “Aku sudah izin papamu, hari ini kita boleh pulang malam,” jelas Alex sambil tersenyum puas. “Apa??!! Dasar kalian berdua!” Tyara sangat marah karena papanya dengan sembarangan memberi izin seorang laki-laki membawa anak gadisnya sampai malam. *** Sampai di parkiran sekolah, Tyara segera membuka pintu mobil dan mempercepat langkahnya. Maksud hati dia ingin berjalan duluan supaya tidak dilihat teman-teman kalau dia berangkat semobil dengan Alex. Tapi Alex yang gesit itu berhasil menyejajarkan langkahnya dengan langkah kaki Tyara. Mereka berjalan berdampingan menuju ke kelas. Sepanjang koridor menuju kelas Tyara, mereka mendapat banyak komentar dari teman-teman mereka. “Cie...Alex, balikan sama Tyara ya?” teriak Marlon anggota tim basket. “Wah! Makan-makan, Lex!” Feli ikut berteriak. “Selamat, Bro!” Wilson menepuk pundak Alex. “Yoi, Bro!” jawab Alex santai sambil melirik Tyara yang cemberut.   Rara POV Oke, sepertinya Alex sudah melabeliku sebagai pacarnya di depan semua orang. Dan aku....aku hanya diam saja. Apa aku memang begitu menginginkannya? *** Alex mendekatkan wajahnya ke telinga Tyara, “Selamat belajar ya, cantik. Nanti aku ke sini pas jam istirahat,” bisik Alex. Alex membenamkan wajahnya di antara rambut Tyara yang wangi. “Ciyeeeee...!” seisi kelas berteriak histeris. Tyara hanya mematung melihat kepergian Alex menuju kelasnya. Sampai-sampai dia tidak mendengar reaksi gaduh dari teman-temannya.   _______    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN