3. School Idol

1592 Kata
Pagi ini Tyara sudah rapi dan sudah siap sarapan di meja makan. Sarapan pagi Tyara biasanya ditemani Oma dan Opanya. Setiap pagi Oma selalu memberikan ceramah pagi untuk Tyara sebelum berangkat ke sekolah. “Ingat, Ra, sekolah yang benar! Jaga diri! Tidak usah sok cantik! Jangan suka menggoda laki-laki, jangan seperti mamamu! Jangan genit di sekolah!” “Iya, Oma,” jawab Tyara sambil mengoleskan selai di atas rotinya. Walaupun sudah sering mendengar ceramah dari omanya, namun tak jarang Tyara tersedak mendengar kata-kata baru yang keluar saat omanya memberikan ceramah pagi. Kadang Tyara tidak habis pikir, kenapa omanya pandai sekali memilih kata-kata yang menyakitkan hati. “Rara, Oma tahu kamu ingin kuliah di luar negeri. Oma dan Opa terus terang tidak bisa membiayai kuliahmu di luar negeri. Om Dennis sudah terlalu banyak membantu biaya sekolahmu, sedangkan tahun ini si kembar Cherryl dan Chelsea mau lanjut SMA di USA. Kamu tahu kan berapa besar biayanya?” jelas oma panjang lebar. “Tapi bukan berarti kamu tidak bisa kuliah di luar negeri, Ra. Opa dan oma memikirkan jalan keluar yang terbaik untuk masa depanmu,” sambung Opa. Oma Diana melotot ke arah Opa Hans, Oma memang sepertinya tidak setuju kalau Tyara kuliah di luar negeri. Namun, Opa selalu mengusahakan supaya Tyara tidak kecewa. Karena menurut Opa, Tyara sudah terlalu banyak terluka dan kecewa sejak kecil maka Opa selalu mengusahakan apa yang menjadi keinginan Tyara bisa terwujud. “Kamu tahu kan, Ra? Selama ini Oma dan Opa fokus mengurusmu dan papamu. Sudah saatnya Oma dan Opa mencurahkan waktu untuk keluarga Om Dennis. Sebentar lagi tante Clea akan melahirkan baby twin lagi, pasti sangat repot!” Oma berceramah sambil menyiapkan bekal makan siang untuk Tyara. “Jadi, maksud Oma dan Opa ...?” pertanyaan Tyara menggantung. “Maaf Rara, Opa kemarin belum sempat cerita. Oma dan Opa menghubungi mamamu, menceritakan keinginanmu. Opa sebenarnya masih bisa membiayai kuliahmu tapi kuliah di Indonesia. Nah, sekarang tergantung kamu, Ra. Kalau kamu punya cita-cita kuliah di luar negeri, mamamu sanggup membiayai tapi kamu harus tinggal dengan mamamu.” Mata Opa berkaca-kaca saat menjelaskan persimpangan jalan yang harus dipilih Tyara. Tyara tertunduk menatap piringnya yang sudah kosong. Ada perasaan sedih, kecewa, tapi juga ada secercah harapan. Sedih karena ada kemungkinan berpisah dengan Oma, Opa, dan Papanya. Kecewa karena Opa memperbolehkan mamanya mengambil Tyara dari kehidupan mereka. Namun, juga ada harapan bagi Tyara untuk bisa melanjutkan kuliahnya di luar negeri. “Rara masih belum bisa memutuskan, Oma, Opa,” Tyara menjawab lirih. “Masih ada waktu, Ra. Sudah sana berangkat sekolah! Pak San sudah siap di mobil buat antar kamu. Ingat, jangan kecentilan!” ceramah Oma. “Oma..Opa, Rara berangkat ya!” Tyara salim dan mencium tangan oma dan opanya kemudian berangkat sekolah diantar Pak San, sopir keluarga mereka. *** Siang itu kantin SMA Raffles International School “Bawa bekal apa?” tanya Marisca. “Omaku bawain ini nih, ayam geprek,” jawab Tyara sambil berbinar melihat bekalnya. “Lidahmu Indonesia banget, Ra,” Marisca tertawa melihat Tyara. Marisca adalah sahabat Tyara sejak kecil. Mereka bersekolah di RIS sejak TK. Marisca dan Tyara tergabung di tim basket sekolah RIS BBC (Raffles International School Basket Ball Club). Marisca berperawakan tinggi dan sedikit gemuk. Namun jangan ditanya kemampuannya saat bermain basket ya, keahliannya memasukkan bola ke dalam keranjang membuatnya terpilih menjadi tim inti basket putri. “Ra, aku pesenin mocha latte ya?” Alex tiba-tiba sudah duduk di depan Tyara dan Marisca. “Eh, ngga usah Lex! Aku sudah bawa bekal kok!” Tyara menunjukkan satu persatu bekal yang dibawanya. “Kali ini aku memaksa. Kamu selalu menolak semua hal yang ada hubungannya sama aku!” Alex menatap tajam mata Tyara. Alexander Josh Michael adalah salah satu cowok idola di SMA RIS. Alex dulu pernah menjadi pacar Tyara saat mereka duduk di kelas 10. Saat itu Tyara terpesona pada ketampanan dan wajah dingin Alex. Alex yang memiliki tinggi badan kurang lebih 180 cm ini memang sangat cocok saat berjalan berdampingan dengan Tyara yang juga tinggi semampai. Namun, Tyara memutuskan hubungan saat tahu Alex juga berpacaran dengan kakak kelas mereka Monic Van Louise yang bodinya seperti gitar spanyol, mungkin itu yang membuat Alex tergoda melihat gadis blasteran Indonesia-Belanda itu. Setelah putus dari Alex, Tyara banyak didekati cowok-cowok idola sekolah, paras Tyara yang cantik memang membuatnya jadi gadis idola di sekolahnya. Saat Tyara dekat dengan kakak kelasnya yang bernama Reynard Steven William, Alex seperti orang kesetanan. Dia mengamuk menghajar Reynard di pinggir jalan saat pulang sekolah. Tentu saja ada perlawanan dari Reynard hingga terjadi baku hantam dan peristiwa berdarah-darah. Kejadian ini sampai ke urusan pemanggilan orang tua ke sekolah. Opa terpaksa datang memenuhi panggilan dari guru BK untuk menyelesaikan permasalahan yang menyangkut Tyara ini. Untungnya semua dapat diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Sejak itu, Oma melarang keras Tyara berpacaran, karena bisa mencoreng nama baik keluarga Wijaya. “Alex! Jangan ganggu Tyara! Dia mau makan! Sebentar lagi kelas mulai! Hush hushh pergi sana!!” usir Marisca. “Sssssstttttt....berisik! Jangan ikut campur!” Alex memperingatkan Marisca dengan jari telunjuknya supaya Marisca diam. “Alex, please! Jangan buat keributan di sini!” sela Tyara. “Oke! Tapi kamu harus minum mocha latte dari aku!” Alex menyodorkan segelas mocha latte yang dia pesan di kantin sekolah. “Oke, aku minum!” Tyara menyeruput mocha latte yang disodorkan Alex. “See! Sesimpel itu permintaanku!” tatap Alex tajam. “Tapi harus kamu ingat Lex, tidak semua permintaanmu harus aku penuhi!” jawab Tyara. “Kamu semakin cantik saat menantangku, Ra!” jemari Alex menyentuh pipi Tyara, dengan sigap Tyara menepisnya. “Jangan sentuh aku!” Tyara menggebrak meja, membereskan bekalnya lalu meninggalkan Alex. Dari kejauhan sayup-sayup Tyara mendengar teriakan Alex. “Kamu pasti akan jadi pacarku lagi, Tyara!!” teriak Alex seakan menegaskan supaya seisi kantin bisa mendengarnya. “In your dream!” teriak Tyara sambil mempercepat langkahnya meninggalkan kantin. Tyara kerap dibuat kesal oleh Alex karena tak jarang Alex memaksa Tyara untuk memperhatikannya dan menerima ini itu pemberiannya. Sikap Alex yang menyebalkan membuat Tyara semakin menjauhi Alex. Sebenarnya Tyara tidak membenci Alex, hanya kesal saja dengan tingkahnya. Tyara menyadari kalau Alex ingin kembali berpacaran dengannya sehingga segala cara dilakukan Alex, mulai dari cara yang manis sampai cara yang menyebalkan. *** Di kelas Tyara saat jam pelajaran terakhir, Miss Murni guru pelajaran Matematika telah menyelesaikan materinya. Wilson berjalan menuju bangku Tyara lalu duduk di sebelahnya. “Alex buat ulah apa lagi hari ini?” tanya Wilson. “Hmm...biasalah Wil, kamu kan tau sendiri bagaimana Alex sahabatmu itu!” jawab Tyara pada kapten tim basket putra itu. “Kamu sih, ngga mau nerima aku jadi pacarmu. Kalau kamu terima cintaku, aku pasti jagain kamu, Ra.” Tyara terkekeh mendengar ocehan dari salah satu cowok yang juga digilai di sekolah. Wilson Sebastian adalah putra dari konglomerat di Indonesia. Wajahnya yang tampan, tinggi, atletis, dan kaya membuatnya menjadi cowok idola sekolah. Dengan modal yang dia punya, dia sangat percaya diri mendekati Tyara. Namun, Tyara belum tertarik lagi dengan pria manapun setelah kejadian baku hantam Alex dengan Reynard. “Aku bisa jaga diri, Will,” Tyara menjawab. “Walaupun aku ngga bisa jadi pacarmu, boleh ngga sih kalau aku pengen cium kamu?” Wilson mendekatkan wajahnya menggoda Tyara. “Hei, Will! Kamu lebih menyeramkan daripada Alex tahu!” Tyara mendorong tubuh Wilson, wajah Tyara mulai cemberut. Wilson tertawa melihat reaksi Tyara. Tyara tahu Wison hanya bercanda. Tanpa mereka sadari, sepasang bola mata setajam elang sedang memperhatikan mereka dari luar jendela kelas.  *** Alex bersandar di mobilnya sambil menunggu Wilson keluar dari kelasnya. Sepintas Alex melihat Tyara sudah dijemput oleh sopirnya, sebentar lagi Wilson pasti menuju ke parkiran mobil pikirnya. “Hei, Will!” teriak Alex memanggil Wilson. “Hai Bro! Whats up?” “Sepertinya kita harus buat perhitungan,” jawab Alex santai. “Ada masalah apa?” Wilson mengerutkan dahinya. “Rara,” Alex menatap Wilson tepat ke pupil matanya. “Lo tau kan, dia ga bakal gue lepasin!” “Trus?” “Jangan terlalu dekat sama Rara! Gue peringatin lo!” “Lex, dia temen sekelas gue! Temen basket kita juga. Aneh banget lo ngelarang gue deket-deket dia?” protes Wilson. “Gue tahu lo suka sama dia. Jangan berusaha deketin dia lebih dari temen!” ancam Alex. Alex meninggalkan Wilson menuju ke mobilnya dan berlalu meninggalkan parkiran sekolah. Wilson mengepalkan tangannya. Wilson tahu Alex berusaha keras memenangkan hati Tyara lagi. Wilson sebenarnya memang menyukai Tyara tapi sebagai sahabat Alex, Wilson juga tahu diri. Dia memilih memendam perasaannya walaupun terkadang Wilson melawan perasaannya itu dan berusaha menarik perhatian Tyara. *** Tyara sedang bersantai merebahkan tubuhnya di atas ayunan jaring yang berada di kebun belakang rumahnya. Semua tugas sekolahnya sudah selesai, dia menyalakan ponselnya sambil menikmati langit sore yang teduh dan semilir angin yang sejuk. Alex: [Rara..lagi apa?] Marisca: [Ra, kirimin jawaban PR dong.] Marisca: [Ra...pasti mati deh hp-nya. Hufft...kirimin kalo udah nyala!] RIS BBC (Coach Dewi): [Jangan lupa besok tim putri latihan basket jam 15.00!] RIS BBC (Marisca): [Ok, coach!] RIS BBC (Feli): [Siap coach!] RIS BBC (Merry): [Ok!!] Marlon: [Ra, udah ulangan Miss Murni? Bocorin dong!] Mama: [Rara mungkin mama sampai Indonesia antara hari Selasa-Kamis minggu depan ya. Mama masih ada keperluan di beberapa tempat.] Me: [Iya Mama. Love you, Ma.] Mama: [Love you too dear..]   Tyara membalas satu persatu chat dari teman-temannya. Hanya satu chat yang tidak dia balas yaitu chat dari Alex. Setiap hari Alex tidak bosan-bosannya mengirim chat untuk Tyara namun hanya sesekali Tyara membalas chat dari Alex malah kadang tidak dibalas sama sekali. Esok harinya Alex pasti akan menanyakan pada Tyara kenapa Tyara tidak membalas chatnya.   ______      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN