Malam ini aku tidak bisa tidur dengan tenang. Meskipun seluruh pintu dan jendela rumah sudah rapat terkunci, tetap saja hati ini tak bisa setenang saat sebelum Danil menemuiku. Pagi tadi adalah peristiwa mengerikan, ya sangat mengerikan. Aku kira Danil tak akan menemukanku di sini, namun nyatanya lelaki itu berhasil dalam misi pencariannya menemukanku. Mungkin, jika ada Will di sini, aku tidak akan panik seperti sekarang. "Mbak Lara belum tidur?" Aku menoleh ke arah samping kiri, bocah enam tahun itu menatapku dan aku mencoba tersenyum padanya, meskipun hati ini dilingkupi rasa takut dan kalut, Aira tidak boleh tahu hal itu. Dia sudah cukup terluka oleh kepergian Will ayahnya. "Mbak Lara mau tidur kok, Sayang. Aira juga tidur ya, Nak," ucapku seraya mengelus puncak kepalanya. "Aira

