Di sinilah akhirnya aku dan Danil berada. Sebuah kedai kecil yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Hati ini masih dipenuhi rasa was-was berlebihan. Aku harus siap dengan segala petaka atau rencana jahat Danil yang mungkin telah disusun sedemikian rupa. Aku sangat tahu bagaimana karakter dia, dan aku tidak punya pilihan lain selain memutar otak untuk berpikir lebih cerdas dan hati-hati. Dua gelas robusta dan dua piring crunchy cocolate terhidang di meja kami. Aku tak menyentuhnya apa lagi meminumnya, tentu saja karena aku takut Danil sudah memasukkan sesuatu ke dalam minuman itu. "Ayo diminum dulu, setelahnya kita akan berbincang tentang kerinduan. Bukan kah sudah lama kau menghilang dan pergi? Apakah kamu tidak merindukanku, Sayang?" tanya Danil seraya menggenggam tanganku. "Oh

