Daun-daun berguguran sepanjang jalan yang kulalui saat mengantar Aira dan Miko ke sekolah. Wajah yang biasanya ceria itu, kini tak lagi terlihat binarnya. Aira dan Miko tampak murung sejak tidak ada Will, lebih tepatnya sejak orang-orang itu membawa pergi Willan entah ke mana. "Kalian baik-baik ya di sekolah, nanti Mbak Lara jemput lagi." Aku mengelus puncak rambut Miko dan Aira secara bergantian. "Aira sebenernya malas sekolah," ucap gadis tujuh enam tahun itu. "Kalo Aira nggak sekolah nanti bisa-bisa ketinggalan pelajaran." Aku menjelaskan perlahan. "Sekolah aja ya biar pinter. Biar cepet naik kelas." Gadis berambut ekor kuda itu akhirnya mengangguk. "Yuk dek kita masuk," ajak Miko sambil menggandeng lengan adiknya. Aku memandangi mereka sampai tubuh keduanya menghilang saat m

