Jangan Menuduhku

483 Kata
Suara bel terdengar dari luar pintu segera Jasson memeriksanya. Alisnya berkedut saat tahu siapa yang datang. Sekali lagi Tiara menekan belnya dan pintupun terbuka. Mereka bersitatap untuk beberapa saat, "Aku datang kemari untuk mengambil barang -" suaranya tercekat saat Jasson yang tiba-tiba saja menariknya dengan paksa masuk kedalam. "Le- lepaskan tanganku apa yang kau lakukan?" Tiara mengernyit kesakitan dengan langkahnya yang terburu-buru karena mengikuti kecepatan langkah Jasson. Jasson masih diam dan tetap menarik tangannya, menyeret Tiara naik kelantai 2. Menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. "Sakit.." rintih Tiara sembari memegangi lengannya yang memerah, "Apa yang kau lakukan kenapa membawaku kekamarmu?" "Kenapa? Bukankah kau sudah biasa melakukannya?" sekarang Jasson malah menindih tubuh Tiara mencengkram kuat tangannya. "Lalu kenapa sekarang pura-pura malu?" "Pura-pura? Lepaskan aku.. aku kemari hanya untuk mengambil beberapa barangku yang tertinggal." "Kau fikir aku sebodoh itu? Kau datang kemari untuk menggodaku bukan? Setelah kau puas menggoda pria itu dan tak mendapatkan apapun sekarang kau datang kepadaku!" Me- menggoda? Tiara terbelalak dengan sebalnya, "Jaga kata-katamu tuan Jasson yang terhormat!" dirinya memberi penekanan pada kalimat tuan Jasson yang terhormat, "Aku bukan perempuan seperti itu! Eemh..." cengkaramnya semakin menguat membuat Tiara sulit bergerak. Jasson menyaksikan sendiri bagaimana titian air mata itu menetes dari mata indah Tiara, hal itu membuatnya mengurungkan niat untuk memberinya jejak kepemilikan. "Ambil semua barangmu dan jangan pernah muncul lagi dihadapanku!" brak! Terdengar suara pintu kamar yang dibanting dengan begitu kuatnya Jasson meninggalkan Tiara sendirian didalam kamarnya dan segera melajukan mobilnya memecah keramaian jalan disore hari. *** Tiarapun segera turun kelantai 1 menuju kamar tidurnya dulu saat masih tinggal di apartemen ini. Dia menatap satu persatu benda yang ada di dalam kamarnya, tangannya menyentuh sebuah boneka hello kitty yang tak lain adalah hadiah ulangtahunnya dulu dari Jasson saat usianya menginjak 10 tahun. Rasanya baru kemarin saja dirinya mendapatkan hadiah boneka itu, tapi sekarang semuanya sudah berubah saat dirinya dengan lantang mengungkapkan perasaannya kepada Jasson. Tapi Tiara sama sekali tak menyesali perasaan cintanya tersebut, dirinya akan lebih sakit lagi jika memendam rasa suka dan cintanya. Setelah mengemasi semua barang dan beberapa keperluan kuliahnya, memastikan tidak ada satupun yang tertinggal Tiara segera pergi dari apartemen itu. Mungkin ini adalah terakhir kalinya dia bertemu dengan Jasson, sang mantan ayah sekaligus pria yang sangat dicintainya. *** Nana yang baru saja pulangpun terkejut saat melihat Tiara duduk dilantai menangis sesegukan di sudut kamar. "Tiara.. ya Tuhan apa yang terjadi kenapa kau menangis seperti ini?" seru Nana yang ikut mensejajarkan tinggi tubuhnya disamping Tiara lalu memeluknya. "Aku hanya rindu ayah dan ibuku.. maaf karena sudah membuatmu cemas Nana.." Nana mengelus kepala Tiara, "Kau bisa menganggap orangtuaku seperti orangtuamu juga.. Tiara semenjak kita bertemu di SMA kita juga menjadi teman dan bersahabat dengan baik, kan? Orangtuaku juga sudah sangat mengenalmu mereka pasti tidak keberatan percayalah.." Tiara melepaskan pelukan Nana lalu mengusap air matanya, "Benarkah itu? Aku sangat senang sekali mendengarnya.." "Iya.. sudah ya jangan menangis lagi, ayo kita makan malam dulu.." Dirumah itu hanya Nana dan Tiara saja yang tinggal, sedangkan ayah dan ibu Nana saat ini sedang berada di London untuk urusan bisnis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN