Memutuskan

468 Kata
Jasson masih terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga membanting setir dan mengerem mendadak ditengah keramaian lalu lintas bahkan karena ulahnya itu hampir-hampir terjadi kecelakaan lalu lintas. Tiin.. tiin.. Beberapa mobil dibelakang mobil Jasson mengklakson mendadak, "Hey kalau kau mau mati, mati saja sendiri. Dasar bodoh!" teriak seorang pengemudi mobil yang melaju melewatinya. Jasson hanya diam sembari mengernyit kesal. Menghela nafas sekuat mungkin lalu menepikan mobilnya ditepian jalan mencoba untuk menenangkan fikirannya. Berkali-kali dirinya mencoba untuk menepis bayangan Brian dan Tiara saat di toilet tadi. "Dia menyentuh kulitmu.." ekspresi wajahnya terlihat sangat tidak menyukai hal tersebut. "Apakah kau juga menciumnya.. sama seperti saat kau yang tiba-tiba saja menciumku waktu itu?" alisnya berkedut saat memikirkan itu semua. Tak lama kemudian sebuah telefon masuk dari universitas xx Inggris, sebuah universitas yang tadinya akan menjadi tempat Tiara menimba ilmu. "Hallo.." "Hallo selamat siang dengan tuan Jasson Walbloode?" "Iya benar, dengan siapa saya berbicara?" "Kami dari universitas xx ingin mengkonfirmasi jadwal tes saudari Tiara yang akan dilaksanakan minggu depan tanggal 10. Sebagai wali dari -" "Baiklah aku mengerti terimakasih untuk informasinya." setelah mematikan telefon Jassonpun segera mengemudikan mobilnya dengan hati-hati menuju apartemen miliknya. *** Sesampainya dirumah Tiara bergegas masuk kedalam kamar dan segera mengganti pakaiannya yang robek. "Kenapa malah jadi seperti ini sih pakaianku jadi sobek begini .." "Tiara.. kenapa kau terlihat begitu sebal?" Nana yang baru saja masuk kedalam kamar segera merebahkan tubuhnya diatas ranjang. "Tidak apa-apa Nana.. aku hanya -" hp miliknya bergetar sebuah chat masuk dari universitas xx tentang jadwal tes masuk di universitas tersebut. Tiara hanya diam dan tidak ingin menjawabnya, Tiara mematikan total hpnya lalu melemparkannya keatas ranjang. "Kenapa kau melempar hpmu?" "Sudah kuputuskan, aku akan masuk kuliah disini saja." "What?" Nana yang terkejutpun seketika merubah posisinya menjadi duduk. "Bukankah tuan Jasson akan mengirimu ke universitas xx yang ada di inggris itu?" "Ya aku tahu tapi tetap saja.. aku sudah tidak mau lagi menjadi beban dan tanggung jawabnya." "Kau masih mencintainya?" Tiara diam tak menjawab dan segera naik keatas ranjang meniarapkan tubuhnya dengan nyaman. "Apakah aku salah jika masih menyukai dan mencintainya?" "Jika aku berada diposisimu mungkin jalan ceritnya sudah pasti berubah." suasana diantara merekapun mendadak hening. Nana merasa kasihan dan mengelus rambut sahabatnya itu, "Kau pasti bisa melewati ini semua. Eem bagaimana jika kau bekerja paruh waktu saja?" "Paruh waktu?" Nana mengangguk, "Dimana?" "Di coffeshop kalau tidak salah Matheo bilang di coffeshop miliknya itu sedang membutuhkan seorang barista perempuan." "Benarkah?" "Tentu.. jika kau mau aku akan segera memberitahukan kepada Matheo." "Sungguh?" binar matanya tak bisa disembunyikan, "Ya tentu saja aku mau.. aku mau Nana.." *** Jassonpun tiba diapartemennya, melangkah masuk kedalam lalu menapaki anak tangga menuju kamarnya dilantai 2. Melemparkan kunci mobil keatas meja namun karena lemparannya kurang kuat akhirnya kunci tersebut malah jatuh keatas lantai. "s**t!" Malas sekali untuk mengbilnya jadi dia hanya membiarkannya saja seperti itu. Jassonpun merebahkan tubuhnya diatas ranjang dan mengingat kembali adegan saat dirinya baru selesai mandi, bersitatap berbincang dengan gadis itu. Mengingat kembali saat dirinya meminta Tiara untuk tidur dengannya diatas ranjang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN