Suaraku menggema di antara pepohonan, bercampur dengan suara air sungai yang masih beriak. Nafasku ngos-ngosan, kaki basahku menapak dingin di bebatuan. Dadaku makin sesak. Bayangan buruk langsung menumpuk, wajah Davin terendam, tubuhnya hanyut, atau lebih parah… sesuatu dari hutan larang menyeretnya.
“Enggak mungkin,” aku menggeleng keras, “nggak mungkin dia hilang gitu aja.”
Aku menelusuri tepi jalan, tapi tetap nihil. Hingga aku berlari menuju Balai Desa, aku berlari sambil berteriak bahwa Davin menghilang.
Tapi, Begitu sampai, aku langsung membeku.
Davin sedang duduk santai di bale-bale bambu, tubuhnya dililit kain sarung yang kebesaran, dengan tumpukan selimut tipis di pundaknya. Hidungnya merah, wajahnya masam, dan di tangannya ada semangkuk wedang jahe panas yang hampir tandas.
Begitu melihatku, dia malah nyeletuk, “Sumpah, gua kira lo bakal nyusul cepet. Gua nggak tahan bro… dingin banget! Gua ga mau mati konyol di sungai.”
Hening sepersekian detik. Lalu meledak.
Dessy ngakak sampai perutnya sakit. Resti mendengus keras, setengah kesal setengah lega. Bahkan beberapa orang desa ikut terkekeh, entah karena mengerti atau hanya terbawa suasana.
Aku? Aku berdiri kaku. Senyumku muncul, tapi terasa kaku di pipi. Jantungku masih berdebar, bukan karena lega, tapi karena sesuatu yang lain. Ada rasa yang tidak bisa kuceritakan seperti Davin bukan sekadar kedinginan. Seperti ada celah kecil yang membuatku sadar, ada sesuatu yang menahan, lalu melepaskan dia begitu saja.
“Dar…” suara pelan itu datang dari samping.
Aku menoleh. Laila menatapku. Tatapannya dalam, tenang, seolah bisa membaca pikiran yang kututup rapat-rapat. Dia tidak berkata apa-apa, hanya pandangan mata. Tapi aku tahu, ia mengerti bahwa aku tidak benar-benar ikut tertawa.
Aku mengalihkan wajah, menatap Davin lagi yang kini sibuk bercanda dengan Dessy. Senyumku masih kupaksakan, tapi di dalam d**a, rasa tidak nyaman itu menempel lebih keras dari sebelumnya.
***
Aku berdiri terpaku di ujung jalan tanah yang berakhir tepat di depan halaman rumahku. Bangunannya tidak besar, hanya rumah panggung kayu dengan tiang-tiang yang menahan lantai dari papan. Diantara tiang itu ditutupi kain hitam yang seolah mengusir cahaya matahari. Tapi dari semua rumah di desa Hulu Wulung, rumah ini selalu tampak berbeda. Seperti sebuah titik asing yang menolak menyatu dengan pola rapi di sekitarnya.
Rumah-rumah lain di desa berdiri manis dengan kayu baru yang dipoles, atap ijuk rapi dan tangga kecil di depannya. Rumahku berbeda, cat kayunya sudah memudar, beberapa papan lapuk menghitam seolah pernah dilahap api, tapi anehnya tak ada bekas kebakaran.
Aku melangkah pelan ke bawah tangga kayu itu. Dari sela-sela papan lantai yang jarang, cahaya temaram matahari sore menembus, menciptakan bayangan garis-garis di tanah. Aku ingat dulu sering main petak umpet di bawah sana bersama Isna, adikku. Tapi sekarang, yang kulihat hanyalah sebuah batu hitam berdiri di bawah panggung rumah, setinggi pinggang orang dewasa. Batu itu diukir dengan aksara Sunda Kuno yang samar, sebagian sudah tergerus waktu. Di depannya ada sesaji, janur, bunga, dan sisa kemenyan yang masih berbau.
“Ini… rumah kamu, Dar?” suara Dessy memecah lamunanku. Ia melongok dengan tatapan campuran kagum dan heran.
Aku hanya mengangguk. “Iya, ini rumahku.”
Resti berkomentar lirih, “Agak beda, ya, dibanding rumah desa lainnya…”
Aku menelan ludah. “Iya, emang sedikit… aneh.”
Sedikit. Itu kata yang kugunakan, padahal sebenarnya rumah ini selalu memberiku rasa tidak nyaman. Bahkan sejak kecil.
Aku menaiki tangga kayu, bunyinya berderit seakan menjerit keberatan. Di depan pintu, aku melihat Ibuku sudah berdiri. Tubuhnya lebih kurus daripada terakhir kali aku lihat. Kerudung lusuh menutupi sebagian wajahnya, tapi matanya berbinar begitu menatapku.
“Widar…” suaranya pecah.
Aku refleks merunduk, menyentuh lutut lalu mencium tangannya. “Ibu…”
Ayah juga keluar dari balik pintu. Rambutnya sudah lebih putih, kulit wajahnya legam dimakan matahari. Aku pun melakukan sungkem, menunduk dalam-dalam di depannya. Di balik senyum mereka, ada sesuatu yang menusuk hatiku, rasa bersalah.
Aku belum pernah membawa mereka keluar dari desa. Dulu aku berjanji, saat aku kuliah di Bandung, aku akan mengajak mereka pindah, hidup lebih baik. Tapi hari ini, aku justru kembali membawa lebih banyak orang ke desa ini.
“Maaf, Yah… Bu…” hanya terucap dalam hatiku.
Setelah prosesi sungkem itu, suasana jadi lebih ramai. Ibu menyambut teman-temanku dengan hangat, menyalami Laila, Dessy, Resti, bahkan Davin. Mereka dipersilahkan masuk.
Rumah panggung itu terasa makin kecil ketika enam orang sekaligus masuk ke dalamnya. Ruangan utama hanyalah sebuah balai kayu luas dengan tikar pandan di lantai. Dindingnya dihiasi foto hitam-putih keluarga, tapi ada yang mengganjal. Di salah satu sudut dinding, tergantung kain putih dengan aksara Sunda Kuno, seperti mantra atau doa. Teman-temanku menatapnya sekilas, mungkin menganggapnya dekorasi.
Aku sendiri merasakan hawa lain. Dari dulu kain itu sudah ada, katanya peninggalan leluhur. Tapi aku tahu, kain itu bukan sekadar hiasan.
***
Malam datang cepat di desa. Langit seolah lebih gelap dari kota, dan suara jangkrik mendominasi.
Aku membantu Ibu menyiapkan kamar untuk teman-temanku. Laila, Dessy, dan Resti ditempatkan di kamar depan. Begitu masuk, Laila menoleh padaku dengan ekspresi bingung.
“Dar… ini kamar siapa?” tanyanya pelan.
Aku terdiam sejenak. Kamar itu memang kamar adikku, Isna. Dindingnya masih sama, ada coretan kecil di papan kayu, tempat Isna dulu suka menuliskan mimpi-mimpinya. Kasurnya diganti baru, tapi aku masih bisa merasakan aroma lama.
“…kamar adikku,” jawabku akhirnya. Suaraku nyaris bergetar, tapi kutahan agar terdengar datar.
“Oh…” Laila mengangguk. Ia tidak bertanya lagi.
“Mana Dar… ko aku belum liat ya?” Tanya Dessy antusias.
“Adiku sudah tiada Des.” Jawabku lirih.
Semua menjadi hening dan canggung, semua tau Dessy tak bermaksud kesana, karena menanyakan yang tiada kepada keluarganya seperti merobek luka lama. Aku tahu rasa canggung mereka dan aku tersenyum lebar agar mereka tak merasa bersalah.
“Udah lama ko, jadi ini kamar engga angker” Sambil tersenyum aku berusaha menghilangkan rasa canggung mereka, dan mereka menyambutnya dengan tawa.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menutup pintu kamar itu.
Aku kembali ke kamarku sendiri. Kamarnya tidak banyak berubah, sebuah dipan kayu, meja kecil dengan lampu minyak, dan lemari tua yang sudutnya sudah dimakan rayap. Davin duduk di atas dipan, laptopnya sudah dibuka. Ia menatapku, lalu meletakkan laptop itu ke samping.
“Widar,” katanya datar, “kenapa kamu dari tadi kayak tegang banget?”
Aku menoleh pelan. “Tegang gimana?”
“Kamu dari awal keliatan aneh. Pas penyambutan tadi, pas nyampe rumah… ada sesuatu, kan?” Davin menatapku tajam.
Aku ingin menjawab. Ingin bilang kalau rumah ini menyimpan terlalu banyak luka, terlalu banyak rahasia. Ingin bilang kalau aku takut semua ini akan menyeret mereka. Tapi lidahku kaku. Kata-kata tertahan di kerongkongan.
Akhirnya aku hanya duduk, menunduk, dan tersenyum paksa.
“Enggak, Vin. Aku cuma capek aja.”
Davin tidak menjawab. Ia hanya menghela nafas, lalu kembali menyalakan laptopnya.
“Buat orang selengean kaya lo, tadi siang itu lo aneh banget” Jawab curiga Davin.
“Ah perasaan lo aja meren” aku menjawab dengan senyum yang kupaksakan agar Davin tidak terlalu bertanya jauh tentang apa yang ku rasakan.
Kemudian Aku berbaring di kamar lamaku, menatap langit-langit yang sudah kusam dimakan waktu. Di sebelahku, Davin sibuk membolak-balik badan, jelas belum bisa tidur.
“Wid,” bisiknya tiba-tiba, “gue masih nggak habis pikir. Lo bisa sampai kayak sekarang… segitu pintarnya, segitu jauhnya. Padahal lo dari desa sekecil ini. Jujur, gue nggak ngerti.”
Aku menoleh pelan. Di balik nada santainya, ada rasa ingin tahu yang serius. Aku menarik napas. “Aku… nggak sendirian, Vin. Ada orang yang dulu bantuin aku belajar. Kang Bagja. Dia yang kenalin aku sama banyak hal. Buku-buku, hitungan, hal-hal yang orang sini bahkan nggak ngerti.”
Davin mengangkat alis, setengah terkejut, setengah curiga. “Tapi kenapa gue denger Kang Bagja kayak… orang buangan gitu di desa ini? Bahkan tadi lo bilang dia nggak boleh masuk lagi.”
Aku terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Iya. Itu juga salah satu alasannya kenapa dia pergi. Dia melanggar adat, menikah dengan orang luar. Tapi kalau bukan karena dia, aku mungkin nggak akan pernah keluar dari sini.”
Davin bersiul pelan, lalu menyimpulkan dengan nada sok tahu, “Berarti lo basically… hasil didikan seorang yang ‘dibuang’. No wonder Ki Wira nggak suka sama lo.”
Kalimat itu menancap lebih tajam daripada yang seharusnya. Aku hanya menutup mata, memilih diam. Perasaan nggak enak itu mengendap, tapi aku terlalu lelah untuk melanjutkan. “Tidur aja, Vin,” gumamku.
Kami terdiam beberapa lama, hingga akhirnya kantuk benar-benar menyeretku.
***
Aku terbangun di tengah malam.
Ada bunyi… sesuatu. Suara kayu digeser. Suara mangkuk tanah liat bersentuhan. Aku bangkit pelan, langkahku menapaki papan rumah panggung yang berderit samar. Dari sela pintu, kulihat ibuku.
Ia duduk bersila di ruang depan, cahaya lampu api membuat wajahnya setengah terang setengah gelap. Di hadapannya tersusun berbagai benda, kemenyan yang masih mengepul, bunga kenanga, potongan ayam hitam, dan seikat padi kering. Tangannya lincah merangkai sesajen, mulutnya komat-kamit membaca doa dalam bahasa yang sudah jarang kudengar.
Aku berdiri terpaku. Ada dorongan untuk menghampiri, tapi juga rasa takut yang menahan langkahku.
“Ibu…” suaraku nyaris tak terdengar.
Ibuku menoleh sebentar, lalu tersenyum samar. “Kenapa bangun, Nak?”
Aku mendekat, duduk di sampingnya. “Bisa nggak, Bu… nggak usah bawa teman-temanku ke dalam urusan adat? Mereka bukan orang sini. Aku takut…”
Ibuku tidak langsung menjawab. Tangannya tetap sibuk menata, tapi matanya menatap jauh ke arah bara kemenyan. “Kamu takut? Atau kamu cuma terganggu melihat ibu seperti ini?”
Aku tercekat. “Bukan itu maksudku. Aku tau kita harus menutupi semuanya. Tapi sudah lama aku melihat sosoknya, bahkan saat tadi di sungai. Aku takut ini siasat yang sama dari Ki Wira.”
Ia berhenti, lalu menatapku dengan mata yang tajam namun lembut. “Widar, kamu anak yang berbeda. Dari kecil kamu bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Itu bukan kutukan, itu anugerah. Jangan biarkan itu mengganggu masa depanmu.”
“Melihat sesuatu?” aku berbisik. Kata-katanya seperti membangunkan sesuatu yang lama kupendam.
Ibuku tersenyum pahit. “Dari dulu, mata itu sudah bisa menangkap bayangan yang bukan dari dunia ini. Kau sering kaget waktu kecil, kan? Kau sering menunjuk sesuatu yang orang lain nggak lihat. Jadi itu bukanlah hal yang baru kamu alami dan bukan pula siasat Ki Wira.
Aku ingin menyangkal, tapi lidahku kelu. Aku tak mau terjadi apa-apa pada temanku karena mereka semua sudah aku anggap sebagai saudara. Tapi ibu, dia sudah seperti warga desa yang lebih percaya leluhur daripada perkataan anaknya.
“Oh iya, selama kalian disini, pastikan teman-temanmu tidak mengikuti ibu ke bawah ya.” Ucap ibuku dengan mata yang tajam.
Aku menunduk. Kata-katanya terasa seperti peringatan, atau mungkin ancaman samar. Aku tidak tahu.
Aku kembali ke kamar. Davin sudah terlelap, mendengkur kecil. Aku mencoba memejamkan mata, tapi dadaku sesak.
Saat itulah aku melihatnya.
Bayangan.
Siluet hitam tapi bukan seperti selama ini aku liat, siluet itu seperti lelaki yang ku kenal.. ah mungkin mata spesial ini membuat aku melihat banyak hal yang seharusnya aku tak lihat. Aku pun memejamkan mata berharap bayangan itu pergi sendirinya, entah mungkin rasa kantuk yang menyerangku sehingga kesadaranku menghilang seketika.
Atau mungkin ini ulahnya?
***