Aku terbangun lebih siang dari biasanya. Matahari sudah condong, masuk dari celah dinding bilik rumah yang selalu dingin. Tapi bukan itu yang bikin aku terlonjak, melainkan kenyataan bahwa tempat tidur di sampingku kosong. Davin sudah tidak ada.
Aku buru-buru keluar kamar, dan mendapati Laila duduk di bale-bale depan rumah, Al-Qur’an terbuka di pangkuannya. Suaranya pelan, tapi cukup membuat udara pagi yang lembab terasa hangat. Aku menelan ludah, tiba-tiba malu karena sudah lama aku sendiri tak sanggup menyentuh lembaran kitab itu dengan tekun.
Sebelum sempat bertanya, pintu depan terbuka. Davin muncul dengan wajah segar, nafasnya sedikit tersengal. Rambutnya basah oleh keringat.
“Lo dari mana, Vin?” tanyaku cepat.
“Jogging, bro,” jawabnya ringan. “Udara di sini bagus banget. Rasanya beda sama di kota. Seger.”
Aku hanya bisa mendengus, lalu kembali masuk sebentar untuk membasuh muka. Entah kenapa, jawaban sederhana itu justru membuat hatiku semakin berat. Jogging di Hulu Wulung…? Entahlah, aku merasa ada yang tidak seharusnya.
***
Setelah sarapan seadanya, kami sepakat untuk berkeliling desa. Aku pun setuju, meski dalam hati aku tahu, mengelilingi Hulu Wulung berarti membuka kembali ruang-ruang yang dulu sengaja ku kunci rapat.
Desa ini memang tidak besar, tapi teratur dengan cara yang… janggal. Jika dilihat di dalam desa mungkin akan terlihat normal saja. Tapi jika dilihat dari kejauhan apalagi dari atas, nampak bahwa Desa ini disusun sedemikian rupa. Rumah disini berjumlah 65 kecuali rumahku, tidak pernah berkurang ataupun bertambah. Ada enam jalur utama yang bercabang dari pusat desa. Dari udara mungkin terlihat seperti bintang, atau segi enam. Dan di ujung tiap jalur, berdiri sebuah rumah besar, rumah tertua, katanya. Termasuk rumahku sendiri, yang kebetulan berada di salah satu sudut segi itu.
Rumah-rumah lainnya lebih kecil, tapi semua panggung, terbuat dari kayu nangka atau jati tua yang masih berdiri kokoh. Atapnya rumbia, meski ada yang sudah diganti seng, tapi kebanyakan tetap mempertahankan bentuk lama.
Yang bikin bulu kudukku berdiri adalah enam batu besar yang berdiri di ujung-ujung desa. Masing-masing batu setinggi d**a orang dewasa, permukaannya kasar, dan di atasnya terukir tulisan Sunda kuno. Aku tahu beberapa hurufnya, tapi rangkaian kata itu seperti mantra, bukan sekadar catatan.
Di depan batu selalu ada sesajen, kelapa hijau yang dibelah dua, pisang raja, ayam hitam yang sudah dipotong kepalanya, dan mangkuk tanah berisi darah segar yang masih bau amis. Bunga kenanga ditabur di sekitarnya, menebarkan wangi manis yang anehnya malah bikin kepala pening.
“Dar… ini batu-batu prasasti kan?” tanya Dessy dengan semangat.
Aku menelan ludah. “Batu tanda batas desa aja. Dari dulu emang udah ada.”
Resti yang jarang bicara tiba-tiba nyeletuk, “Kenapa bentuknya simetris banget, ya? Kayak disengaja.”
Mungkin Resti hanya penasaran, otak analisisnya menangkap kejanggalan namun hanya terasa aneh baginya saja. Aku hanya mengangguk. mungkin memang disengaja. Enam batu itu membentuk lingkaran tak kasat mata, mengikat desa seolah-olah berada di dalam seperti di dalam sebuah pola tertentu seperti yang dicurigai oleh kang Bagja.
Kami melanjutkan perjalanan. Jalan setapak dari batu-batu kecil tersusun rapi, tapi bagiku semakin lama semakin terasa tidak wajar. Setiap batu seakan dipahat satu per satu hingga ukurannya sama. Seperti ada tangan yang terlalu telaten, terlalu sabar. Bahkan di tanah, ada ukiran samar berbentuk lingkaran dan garis yang hanya terlihat jika cahaya matahari jatuh pada sudut tertentu.
“Wah keren, jalan disini sangat Rapi?” Laila dengan polosnya mengagumi keindahan jalan setapak ini.
Aku menahan napas. Pola itu bukan kebetulan. Sejak kecil aku diberi tahu desa ini dibangun di atas hitungan yang tidak bisa sembarangan. Letak rumah, arah jalan, bahkan sumur tua yang ada di tengah desa, semua mengacu pada aturan yang sama.
Rumah-rumah disusun berurutan, bukan hanya sekedar deretan. Dari enam rumah besar yang jadi penanda sudut segi, ada jalur menuju pusat. Sebuah balai desa tua dengan ukiran kepala macan di pintunya. Setiap kali aku melihatnya, ada perasaan seolah kepala kayu itu sedang menatapku balik.
“Kamu dari lahir disini Wid?” Tanya Davin dengan mukanya yang serius.
“Ya iya lah, ini kan kampung halaman Widar.” Sambar Dessy seolah dia melindungi aku dan Davin yang suka bertengkar. Akupun hanya bisa terdiam.
Tapi sebelum sempat menjawab, anak-anak kecil desa berlarian melewati kami. Mereka memakai pangsi putih kecil, rambutnya sebagian dikepang. Mereka tertawa keras, tapi suaranya bergema aneh di telinga. Seperti suara itu datang dari arah lain, bukan dari tubuh mereka sendiri.
Dessy dan laila bermain dengan anak-anak itu seolah sudah mengenal lama satu sama lain, mereka tak peduli dengan suara tawa aneh mereka. Atau hanya aku yang mendengarnya.
Resti berhenti, menatap mereka lama. “Kenapa anak-anak ini kayak… terlalu mirip satu sama lain?”
“Mungkin karena desa ini tidak menerima pendatang, jadi genetik mereka tidak tercampur. Iya kan Wid?” Jawab serius Davin.
Aku buru-buru melanjutkan langkah, tidak ingin mendengar lebih jauh. Namun aku tahu satu hal, aku yang tak menjawab memberikan tatapan keraguan dari Davin.
Setelah beberapa lama, kami sampai di sebuah perempatan yang dijaga dua patung kayu besar. Tingginya hampir tiga meter, dengan wajah setengah manusia setengah binatang. Salah satunya menyerupai harimau, satunya lagi mirip burung gagak. Matanya dilubangi, tapi diberi kaca kecil yang memantulkan cahaya.
Di depan patung ada dupa yang masih menyala, asapnya naik lurus ke atas, tak terbawa angin sedikit pun.
Dessy nyeletuk “Kaya di film horor ya?”
“Hahaha, film horor mah suka melebihkan.” Ucap seseorang dari kejauhan, pria tua dengan pakaian pangsi serba putih lengkap dengan iket putih lusuh di kepalanya. Janggut putih panjang menandakan usianya tak lagi muda, namun postur dan cara dia berjalan layaknya kami yang masih muda.
“Eh, Ki Wira…” Ucapku yang berusaha tidak canggung.
“Kumaha Wid, udah ada ide buat Desa?” Balas Ki Wira yang menepuk punggungku dengan sedikit keras.
“Kita mulai dari ini aja ki.” Resti menunjukan buku catatannya yang penuh coretan itu.
“Tadi aku liat sawah udah mulai panen kan? daripada jeraminya dibakar gitu aja, kita buat pembakaran tanpa asap ki, iya ga Vin?” Seru Resti sembari mencuri perhatian Davin.
“Eh iya gimana Res?” Tanya balik Davin yang jiwanya entah dimana. Akupun merasa aneh melihat Davin yang tidak biasanya. Dia yang paling semangat dengan projek PKL ini, tapi dia seperti kehilangan fokus. Apa? Apa yang dia temukan saat joging tadi pagi? apa dia melihat itu?
“Duh Neng Resti, kalo buat bakar jerami mah ga bisa..” Ucap Ki Wira setelah melihat catatan rapi Resti.
“Kenapa emang ki?” tanya Davin yang seolah baru sadar bahwa catatan projeknya sudah dipegang Ki Wira.
“Tanah, butuh abunya untuk kesuburan panen di musim depan, dan Asapnya juga meski masuk ke pedesaan tapi itu menjadi pengusir nyamuk alami.” Ki Wira menjawab keraguan Davin.
Ini mungkin alasan yang masuk akal bagi teman-temanku, tapi padi disini berbeda, tanaman itu memberikan harum yang berbeda dengan padi biasanya ketika batangnya yang kering itu dibakar setelah di panen. Bau khas yang tak asing, seperti bau dupa raksasa.
***
Setelah berbincang dengan Ki Wira, kami menyusuri sisi timur desa, melewati sawah yang masih hijau. Dari kejauhan, garis rumah-rumah besar terlihat jelas, membentuk pola segi enam sempurna. Di tengah pola itu, balai desa berdiri tegak. Aku merinding menyadari bahwa kami sedang berjalan di atas sesuatu yang bukan sekadar tanah tapi semacam lingkaran raksasa, sebuah mandala hidup yang mengurung desa ini dari luar dunia. Tapi biarkanlah teman-temanku mengagumi tanah ini sebagai bentuk keindahan.
Sepanjang perjalanan, kami beberapa kali berhenti. Ada warga yang ramah menyapa, menyodorkan makanan kecil dari bambu berisi beras ketan hitam dan kelapa. Ada pula yang hanya berdiri menatap, tidak berkata apa-apa, tapi senyumnya terlalu lama, matanya tidak berkedip namun anehnya dipandang sebagai warga yang ramah oleh temanku.
Di salah satu sudut, kami melewati rumah panggung yang kolongnya dipenuhi kurungan ayam. Tapi bukan ayam biasa, ayam-ayam itu semua berbulu hitam legam, matanya merah menyala oleh pantulan matahari sore. Mereka berkokok bersahutan, nadanya sumbang, membuat d**a terasa sesak.
Kami terus mengelilingi desa dan berdiskusi tentang projek apa saja yang akan diterapkan di Desa ini. Tapi ada satu hal yang mereka sadari, bahwa merubah sesuatu di Desa ini adalah merubah tatanan adat dan kami pun setuju untuk mendiskusikan semua dengan Ki Wira sebelum projek ini dilakukan.
***
Sore mulai turun. Kami kembali ke arah rumahku. Tapi sepanjang perjalanan pulang, aku bisa merasakan ada sesuatu yang berubah di wajah teman-temanku. Dessy memang masih cerewet, Resti masih dingin, Laila masih tenang. Apa mereka menyadari semua?
Mereka mungkin belum paham sepenuhnya, tapi aku tahu dari mata mereka, Desa Hulu Wulung bukan lagi sekadar desa yang eksotis. Ada sesuatu di balik keindahan ini. Mereka seolah mewaspadai ku, tapi entah kenapa. Ini mungkin ulah Davin lagi yang menyebarkan rumor aneh tentangku.
Aku menoleh sebentar pada Davin, yang berjalan sedikit di belakang. Matanya tak berhenti mengamati, alisnya berkerut. Untuk pertama kalinya, aku melihat dia benar-benar serius.
“Wid,” bisiknya lirih, “Aku ingin ngomong sesuatu, ah tidak lupakan saja” ia terdiam, menelan kalimat terakhirnya.
Aku tidak meminta lanjutanya. Karena aku tahu, mungkin otak jeniusnya menyadari sesuatu.
Dan matahari yang tenggelam dibalik bukit Hulu Wulung, seolah mengunci desa ini dalam lingkaran yang tak bisa ditembus siapapun.
***
Malam itu, Aku masih bisa merasakan hawa dingin menusuk tulang ketika kami semua masuk ke dalam rumah. Malam di Hulu Wulung seolah punya rasa berbeda, seperti udara yang berembus bukan sekadar angin, tapi hembusan dari sesuatu yang menatap diam-diam.
Meja makan kayu jati sudah ditata sederhana, lauk pauk seadanya, sayur asem, ikan asin goreng, sambal, dan sepiring nasi yang mengepul tipis. Semua tampak biasa, namun ada sesuatu yang membuat ruang itu terasa sesak. Mungkin karena lampu minyak redup, atau karena keheningan malam ini membuat semua temanku ikut berhenti berbicara.
Aku duduk di samping Davin, di seberang Dessy dan Resti. Laila duduk agak di ujung, dekat dengan ibu. Ayah duduk berhadapan dengan kami, wajahnya tegas tapi dingin. Tangannya bergetar pelan ketika meraih sendok, seperti ada sesuatu yang ia tahan.
“Mangga dituang (dimakan), maaf seadanya.” Ucap ibuku yang mempersilahkan makan pada teman-temanku yang sejak tadi hanya diam.
“Maaf ini tak seperti makanan kota, tapi ini masih enak ko” Ayahku menambahkan, namun mereka masih saja diam.
Suasana makan terasa canggung. Hanya suara sendok bertemu piring yang terdengar, tak ada canda, tak ada obrolan ringan. Aku mencoba tersenyum untuk mencairkan, tapi terasa dipaksakan.
Tiba-tiba Davin meletakkan sendoknya dengan suara trakk. Semua mata langsung menoleh. Ia menegakkan tubuh, matanya menatap lurus padaku.
“Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan di rumah ini?” tanyanya pelan tapi tajam.
“Sudah vin, kita kan mau berbicara baik-baik dengan keluarga Widar.” Resti mencoba menenangkan Widar
“Aku sudah tidak tahan! mereka makan seolah tidak terjadi apa-apa!” Ucap Davin dengan nada meninggi.
Aku tersentak. “Apa maksudmu, Vin?”
Davin mendengus, tangannya mengepal di atas meja. “Jangan pura-pura nggak tahu, Wid. Dari pertama kali aku masuk rumah ini, semuanya terasa… salah. Dan malam ini, aku melihat sesuatu.”
Aku menggeleng cepat, mencoba menyangkal. “Jangan bikin masalah di rumah orang, Vin.”
Tapi Davin tidak berhenti. Ia menggeser kursinya, condong ke depan. “Aku nggak peduli ini rumah siapa. Aku nggak tahan lihat kebohongan ini. Ada yang disembunyikan di balik dinding ini, Wid. Ini perbuatan yang tak bisa dimaafkan.”
Ayahku mendongak. Wajahnya tenang, tapi matanya menusuk. “Nak, kau tamu di rumah ini. Jagalah ucapanmu.”
“Dengan segala hormat, Pak,” Davin balas dengan nada keras, “saya nggak bisa diam. Ada suara… ada tangisan. Dan saya menemukannya.”
Ruangan itu mendadak tegang. Suara jangkrik di luar seolah hilang. Hanya suara nafas kami yang berat.
Dessy mencoba tertawa kecil, meski jelas gugup. “Vin, udah.. mereka mungkin punya alasan.”
Resti, yang biasanya ketus, kini matanya bergetar. “Kalau emang benar apa yang kamu lihat, Vin… jelasin aja. Jangan setengah-setengah.”
Aku menatap mereka satu per satu, hatiku panas. “Cukup! Jangan bahas ini di sini.”
Laila, dengan suara lembut tapi tajam, memotong. “Kenapa kamu takut, Wid? Kalau memang tidak ada apa-apa, kenapa wajahmu seperti itu?”
Aku terdiam. Kata-katanya menohok tepat di d**a.
Davin berdiri mendadak, kursinya jatuh ke lantai dengan bunyi keras. Ia berjalan cepat ke arah pintu samping, lalu kembali dengan langkah berat sambil menarik seseorang.
Kami semua membeku.
Seorang perempuan muda, lusuh, dengan rambut panjang kusut menutupi wajah, muncul diseret masuk. Pakaiannya compang-camping, penuh sobekan. Tangannya gemetar, langkahnya goyah, seolah sudah lama tidak merasakan cahaya. Dari pergelangan tangannya masih ada bekas tali yang meninggalkan luka.
Udara dalam ruangan seketika menegang. Aku bisa merasakan bulu kudukku berdiri, perutku mual.
Dessy menutup mulutnya dengan tangan. “Ya Tuhan…”
Resti menunduk, suaranya tercekat. “Dia… dia manusia, kan?”
Ibuku berdiri spontan, wajahnya pucat, tangannya terulur seolah ingin menarik gadis itu kembali. “Nak Davin… bawa dia kembali. Itu bukan urusan kalian.”
Davin menepis. Matanya membara, suaranya bergetar penuh emosi. “Bukan urusan kami? Bu, dia dikurung! Dia diperlakukan… seolah bukan manusia! Jangan bilang ini adat. Jangan bilang ini tradisi. Ini penyiksaan!”
Aku membeku, jantungku berdegup keras. Aku tahu siapa perempuan itu, aku tahu betul… Tapi lidahku terkunci.
Ayahku bangkit perlahan, suaranya berat. “Kau tidak mengerti. Ada alasan kenapa ia diperlakukan begitu. Ini bukan hal yang bisa kalian pahami dengan logika kota kalian.”
“Alasan?” Davin menatapnya tajam. “Alasan macam apa yang bisa membenarkan ini?”
Ibuku menangis pelan, menutupi wajah dengan selendang. Suaranya lirih, hampir tak terdengar. “Sudah, sudah nak Davin”
Kalimat itu menggantung di udara, seperti kabut dingin yang masuk ke paru-paru.
Laila menatapku, matanya penuh pertanyaan. Aku hanya bisa menggeleng pelan, tanpa kata.
Dessy memukul meja. “Aku sudah mendengar semua dari Davin! Kalian semua tahu ini salah. Dia butuh pertolongan, bukan pasungan!”
Resti menghela napas, wajahnya tegang. “Aku nggak peduli tradisi atau adat, kalau ini caranya… aku muak.”
Aku menutup wajah dengan kedua tangan. Dunia seakan runtuh di sekelilingku. Semua suara, semua tuduhan, semua tatapan, menekan dadaku.
Tiba-tiba, perempuan lusuh itu mengangkat wajahnya. Rambutnya terurai, menyingkap mata yang kosong putih, seperti kaca buram. Mulutnya bergerak pelan, seolah ingin berkata sesuatu, tapi hanya suara serak yang keluar.
“kak.. Widar, ini aku Isna.” Ucap perempuan itu dengan suara yang lemah.
“Kenapa Wid? kenapa kamu biarin ini terjadi sama adikmu?! bahkan kamu berulang kali kalau dia sudah tiada!” Ucapan Davin memecah keheningan malam itu.
Aku hanya bisa terdiam. Aku tidak bisa menyalahkan kemarahan Davin, tapi aku juga tak bisa menyalahkan perbuatan orang tuaku.
Davin mendekat, tangannya gemetar. “Lihatlah! Dia hidup. Dia bukan roh. Dia bukan kutukan. Dia manusia. Dan aku tidak akan diam.”
Ayahku berteriak, suara yang jarang sekali kudengar. “Kau tidak tahu apa yang kau lakukan!”
Davin menoleh, matanya menyala marah. Dengan satu hentakan, ia membanting meja kayu itu hingga gelas-gelas berjatuhan, beberapa pecah.
Suara itu menggema di dinding kayu rumah, menembus keluar ke malam, menggetarkan d**a kami semua.
Aku menunduk, tubuhku gemetar. Perempuan itu… adikku. Isna.
Tapi aku tak bisa mengucapkan yang sebenarnya.
***