Malam Merah

1739 Kata
BAB 5 Malam Merah Suara Davin pecah, keras, menusuk ke dinding rumah kayu yang berderit seperti ingin runtuh. “Jelaskan, Widar! Jelaskan sekarang!” Aku tak bisa bicara. Lidahku kelu, seperti dirantai di langit-langit mulutku. Mataku hanya bisa menatap Isna adik yang aku anggap sudah lama tiada, kini berdiri dengan tubuh lusuh, rambut kusut menutup sebagian wajah, dan bekas ikatan di pergelangan tangannya masih basah darah kering. Orang tuaku terpuruk di sudut ruangan. Ibu menutup wajah dengan selendang, bahunya terguncang hebat. Ayah hanya menatap kosong ke meja makan yang tadi berantakan, wajahnya seolah kehilangan warna. “Siapa ini?!” Davin menunjuk Isna, napasnya memburu. “Siapa, Widar?! Jangan diam!” Aku akhirnya berhasil membuka mulut, suaraku gemetar seperti anak kecil yang ketahuan berbohong. “Dia… dia adikku.” Kata-kata itu jatuh seperti batu. Sunyi langsung menyergap ruangan. Dessy melotot, matanya merah penuh marah. “Kenapa kamu melakukan ini, Wid?! Kenapa kamu tega?! Aku kira kamu orang baik, tapi ternyata—” suaranya pecah, tangannya mengepal. “Aku punya alasan buat percaya sama kamu… tapi sekarang aku nggak bisa.” Resti menggeleng pelan, suaranya kering penuh kecewa. “Apa alasanmu, Widar? Apa alasanmu mengurung adikmu sendiri? Apalagi setelah kami lihat sendiri kondisinya.” Aku ingin menjelaskan. Aku ingin berteriak bahwa semua ini bukan kemauanku. Tapi dadaku berat, dan kata-kata hanya berputar di kepala, tak bisa keluar. Laila berdiri. Wajahnya dingin, tapi matanya gemetar. “Aku percaya padamu, Wid. Tapi kalau benar dia adikmu… kenapa kau biarkan?” Suaranya seperti pisau, pelan tapi menembus dalam. “Aku bisa jelaskan nanti,” suaraku parau, hampir tak terdengar. “Tapi untuk sekarang… ikat dulu Isna. Tolong percayalah. Aku mohon.” “Gila kamu!” Dessy hampir maju ke arahku kalau saja Resti tidak menahan tangannya. “Dia manusia, Widar! Bukan binatang yang harus diikat! Kau sadar nggak apa yang kau bilang?!” Mereka semua berdiri berjejer, menghadangku. Mata-mata yang dulu penuh tawa kini menatapku dengan benci dan curiga. Sementara itu, orang tuaku mulai berlutut di lantai. Ayah menunduk, tangannya meraih sesajen di pojok ruangan. Ibu membuka gulungan kertas berisi aksara Sunda Kuno, bibirnya bergetar melafalkan mantra. Lilin-lilin kecil dan dupa yang ditancapkan ke mangkuk tanah liat mulai berasap pekat, memenuhi ruangan dengan aroma getir, menyesakkan d**a. Aku tahu apa yang mereka lakukan. Upacara penjagaan. Jampi-jampi untuk menahan sesuatu yang lebih besar dari sekadar rahasia keluarga. Davin menoleh ke arah mereka, wajahnya merah. “Lo dan keluarga lo yang ngapain?! Kalian semua gila! Kalau emang adik lo ada gangguan jiwa, ada cara yang lebih manusiawi daripada ini!” Ia menatapku tajam, suaranya pecah. Aku ingin menjawab, tapi sebelum sempat, Isna mengeluarkan suara. Bukan tangisan, bukan jeritan, melainkan semacam gumaman rendah, seperti suara logam yang digores batu. Tubuhnya bergetar, kepalanya mendongak perlahan. Rambutnya yang menutupi wajah tersibak, menampakkan mata putih keruh yang menatap kosong ke langit-langit. Aku mundur satu langkah. Ingatan lama meremas kepalaku. Malam ketika Isna pertama kali berubah, malam penuh darah yang tak pernah benar-benar hilang dari mataku. Dessy merapat ke Resti, wajahnya pucat. “Astaga… Widar, jangan bilang…” “Sudah kubilang ikat dia!” suaraku pecah, lebih keras daripada yang kukira. “Sekarang juga!” Namun sebelum siapa pun sempat bergerak, tiba-tiba semua cempor (lampu minyak) yang tergantung di dinding rumah, padam bersamaan. Blapp! Gelap total menelan ruangan. Suara semua orang pecah bersamaan. Dessy menjerit. Resti terisak, membentak Davin agar menyalakan sesuatu. Laila hanya terdiam, tapi aku bisa merasakan matanya menatap ke arahku dalam pekat itu. Asap dupa makin tebal, tapi sekarang bercampur dengan aroma lain, seperti bau besi berkarat, tajam, menusuk hidung. “Apa-apaan ini?!” Davin meraba-raba meja, mencari obor. “Siapa yang matiin lampu?!” Aku mencoba meraih Isna, tapi tanganku hanya menangkap udara kosong. Dia sudah tidak ada di tempatnya. “Dia hilang…” bisikku. Suaraku nyaris lenyap ditelan hiruk-pikuk. Lalu suara itu datang. Dari sudut ruangan, dari kegelapan, terdengar nafas berat. Panjang, lambat, basah. Seolah ada sesuatu yang sedang mengintai kami dari balik dinding bilik bambu. “Nggghhh…” Semua terdiam, bahkan tangisan Dessy tercekat di tenggorokannya. Sebuah bunyi kreeet… kreeet… terdengar, seperti kuku panjang yang menggores lantai papan. Perlahan, tapi jelas. “Widar…” suara itu berbisik. Suara yang pernah kudengar dalam mimpi-mimpi burukku. Serak, berat, bergema. “Kenapa kau kembali?” Jantungku serasa pecah. Itu suara yang dulu muncul setiap kali tragedi Isna mengamuk. Suara yang bukan miliknya, tapi keluar dari mulutnya. Aku hanya bisa menggenggam udara, tubuhku gemetar. Ada sesuatu bersama kami di ruangan itu bukan lagi sekadar Isna, tapi sesuatu yang jauh lebih tua, lebih kelam, yang selama ini hanya bisa ditahan dengan mantra dan pasungan. Dan kini, setelah cempor padam, semua penghalang itu runtuh. Suara gamelan yang entah dari mana perlahan meredup, seperti ditelan bumi. Hanya sisa desir angin dan api kecil dari dupa yang bergetar. Bayangan menari di dinding rumah panggung, panjang, patah-patah, seperti bayangan tubuh yang dipenggal lalu disambung paksa. Sesaat aku menoleh ke sesajen di depan. Lilin-lilin kecil masih menyala, tapi sumbu-sumbunya merintih, seolah dipaksa hidup lebih lama dari seharusnya. Bau dupa begitu tebal, bercampur dengan amis besi yang samar. Amis darah. “Nak sini, bantu Ibu dan Ayah buat manggil Isna” Bisik ibuku dengan suara yang bergetar. Aku menghampiri mereka sembari memanggil. “Isna…?!” suaraku tercekat. Saat aku menoleh, aku melihat atau merasa melihat sepasang tangan pucat muncul dari sampingku. Tangannya berurat, pucat keabu-abuan, seolah dagingnya kedinginan. Tangan itu meraih sesajen, meremas lilin yang masih menyala. Api padam seketika, dan dunia terjun ke dalam kegelapan. Suara tarikan nafas panjang terdengar. Berat. Basah. Aku berusaha memicingkan mata, tapi gelap begitu total. Tubuhku gemetar. Aku mencoba menyalakan api lilin di sesajen yang dipegang orang tuaku. Cahaya samar menyemburat dari lilin yang rapuh ini. Cahaya itu cukup untuk memperlihatkan Ibu dan Ayahku yang duduk sambil memegang sesajen. Tapi, ada yang aneh. Perut Ibu! Robek! Terbelah seperti kantong kain yang dijagal. Isi perutnya merah, basah, beruap-tumpah ke tikar pandan. Aku menahan muntah. Kaki rasanya mau lari, tapi beku. Ibu masih sempat menoleh ke arahku, matanya sayu, mulutnya bergerak seperti ingin menyebut namaku, lalu tubuhnya ambruk menimpa isi perutnya sendiri. Ayah jatuh menyusul, tapi bukan karena ditusuk. Seperti ada tangan tak kasat mata yang meraih tengkuknya dan mematahkan begitu saja. Krek! Suara tulang itu menggema di telingaku. Semua temanku berteriak melihat apa yang terjadi pada orang tuaku, tapi suara mereka seperti hilang ditelan kegelapan. sementara aku tak bisa berpikir apa-apa seolah tubuh ini tak mampu melihat kenyataan. “WIDAR! JANGAN DIAM AJA!” Davin menarik lenganku, sepertinya Davin mulai memahami apa yang keluargaku lakukan. Tapi aku hanya menatap, terpaku, pada sosok di tengah ruangan. Dia berdiri di sana. Rambutnya kusut, wajahnya pucat, pakaian lusuh compang-camping seakan telah lama dirantai. Tangannya penuh darah, menetes-netes ke lantai. Tapi yang paling membuat lututku goyah adalah matanya. Bukan putih, bukan hitam. Tapi kelabu berputar, seperti kabut berpusar di dalam bola mata. “Isna…” bisikku, hampir tak terdengar. Dia tersenyum. Senyum yang retak, senyum yang asing, bukan milik adikku. “AA…(Kaka)” suaranya berat, bergema, seperti dua suara bersamaan. “SIAPA SEBENARNYA KAMU?” Teriak Davin. Namun Isna hanya melambaikan tangan seolah mengusir Davin. Dengan entengnya Davin terbanting oleh sesuatu yang tak kasat mata, dia membentur bilik yang seharusnya rapuh namun seperti membentur tembok baja. Suara tulang patah menjerit di keheningan, tangan dan kaki Davin memutar ke arah yang tak seharusnya. Davin menggantung di dinding entah mengait pada apa, namun yang pasti kesadarannya sudah tidak ada lagi. Hanya darah yang menetes dari mulut, hidung hingga Kakinya. Resti menjerit sejadi-jadinya, seolah dunia tak mau mendengarkan entah itu kesedihan, entah itu ketakutan. Entah merasa terganggu dengan jeritan itu, Isna, Sekali lagi melambaikan tanganya ke arah Resti. Kepala Resti berpaling seperti tertampar. Namun, tubuhnya terangkat karena menerima tamparan yang sangat kuat. Dessy yang berada di dekatnya berusaha untuk menangkap Resti, meski dia gemetar ketakutan dan tak percaya apa yang dia lihat. Untung saja Dessy berhasil menangkap pundak Resti yang terhempas, namun kepala Resti mulai terjuntai ke belakang, lehernya berputar lebih dari beberapa kali hingga mau terputus. Matanya yang masih terbuka menatap Dessy dengan tatapan kesakitan. Dessy sontak berteriak, tak percaya melihat sahabatnya mati dengan cara yang mengenaskan. Tiba-tiba, secepat kilat, sebuah tangan muncul dari belakang Dessy. Tangannya menembus tubuhnya begitu saja dari punggung menembus ke perut. Aku melihat jari-jari itu keluar, mencengkeram, lalu menarik sesuatu yang basah. Usus. Dessy terbatuk, darah menyembur dari mulutnya, matanya melotot tak percaya. Tubuhnya bergetar, lalu roboh seperti boneka kain yang kehilangan isi. Aku tak bisa berfikir sedikitpun, pertama orang tuaku, sahabatku Davin, Dessy dan Resti juga. Dunia terasa berhenti berputar berputar. Aku terduduk, tubuhku gemetar hebat. Kejadian itu terulang lagi, bahkan lebih parah. Kemana Ki Wira? Nyi Laras? semua Mati.. tolong, tolong aku! Sekarang yang tersisa hanya Aku dan … “LAILA” Aku menatap pada sosok wanita yang aku sukai, wanita yang tak mau aku kehilangan dia, Laila.. Laila menutup mulutnya dengan tangan, matanya berlinang, tubuhnya gemetar tak henti. Dia mundur pelan-pelan, menabrak tiang rumah, tak sanggup berkata apa-apa. “Jangan, jangan Isna…” Teriakku yang terhenti di kerongkongan. Isna mendekatinya dengan langkah pelan. Setiap langkah seperti membuat udara makin dingin, seolah api cempor yang tersisa ikut tersedot oleh kehadirannya. Aku berlari ke arah mereka! Tapi terlambat. Tangan Isna melayang cepat ke arah leher Laila. Suara “byar!” terdengar saat kepala itu terputus begitu saja. Tubuhnya jatuh berlutut, darah memancar deras dari lehernya yang kosong, sementara kepala Laila menggelinding, berhenti tepat di kakiku. Matanya masih terbuka. Masih menatapku. “INI TIDAK NYATA…” aku berbisik, tapi dunia seakan menolak. Semua begitu nyata, bau darah, suara tulang patah, tekstur usus yang jatuh ke lantai semua menusuk indera. “Aa…” katanya lagi, senyum itu melebar, retak, menampakkan gigi yang sebagian hitam membusuk. “Kenapa abang biarkan aku… sendirian…?” Aku tak sadar kapan aku menangis. Air mataku mengalir, bercampur dengan bau amis yang menyesakkan. Tapi Isna tak berhenti. Dia mengangkat tangannya, jemarinya bergetar aneh, seperti benang-benang yang ditarik dari dalam kulitnya sendiri. Tangannya mendekat ke arah dadaku. Aku ingin lari. Tapi kakiku terpaku. Tangan itu menembus kulit dadaku. Aku bisa merasakan ujung jarinya mengais, mencari sesuatu. Lalu menarik. Sakitnya tak bisa kuceritakan. Dunia terasa pecah, tubuhku kejang, pandangan bergetar. Semua berguncang. Suara dunia berubah seperti televisi rusak bzzt… bzzt… kreeek…gambar patah-patah, warna pecah, bayangan berlapis. Aku melihat dua hal sekaligus, Isna menarik isi perutku… dan Isna kecil yang dulu berlari di halaman, tertawa memanggil namaku. Suara itu datang lagi. Serak. Dalam. Menggelegar dari perut bumi. “BANGUN.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN