Apa semua ini mimpi?

2027 Kata
Aku terbangun dengan teriakan, berteriak sekencang-kencangnya hingga membuat Kang Bagja kaget dan menginjak rem mobil hingga berdecit panjang. Tubuhku terhempas ke depan, bahuku terbentur dashboard. Sesak. Aku menahan napas, mataku melebar, keringat dingin menetes di pelipis. Dunia seakan masih bergoyang. Aku tak langsung menjawab, hanya menempelkan kening di kaca mobil yang dingin. Tubuhku ingin muntah. Kepalaku dipenuhi potongan-potongan gambar yang tak masuk akal, darah, jeritan, tangan yang mencabik perut Dessy, kepala Laila yang jatuh menimpa kakiku, dan wajah Isna yang tersenyum di balik semua itu. Seketika aku memuntahkan isi perut lewat jendela. Asam lambung bercampur ludah, hangat dan getir, meleleh dari bibirku. Kang Bagja panik menepuk punggungku. “kunaon wid?!” tanya Kang Bagja keras, nadanya tercampur antara takut dan bingung. Aku terisak. Suara serak keluar di antara muntahan. “Semua… semua udah mati, Kang. Dessy… Resti… Laila…Davin” Tangisku pecah. Aku bahkan tak peduli wajahku belepotan muntah. Rasanya aku benar-benar baru keluar dari neraka. “Udah biarin aja Kang, si Widar kalo mimpi suka aneh-aneh!.” Ucap seseorang yang sangat aku kenal. Seketika aku menoleh, dan sesuatu menusuk jantungku. Di kursi belakang, Resti tertidur sambil menyandarkan kepala di kaca jendela. Dessy berhenti memainkan ponselnya dan keheranan melihatku, hingga tawa kecil lolos dari bibirnya. Laila duduk anggun, melihatku khawatir hingga dia berhenti melipat sajadah kecil yang entah dari mana ia keluarkan. Dan Davin… Davin menyikut bahuku keras-keras, lalu berkata dengan nada heran, “Lo ngapain sih? Muntah segala?” Aku tercekat. Semua masih hidup. “Ini… apa?” bisikku. Dadaku sesak. “Apa tadi cuma mimpi?” Aku tak sanggup menatap wajah mereka terlalu lama. Setiap kali pandangan jatuh pada mereka, potongan-potongan mimpi itu kembali hadir, Resti dengan leher patah, Dessy dengan usus terburai, Laila yang menatapku terakhir kali sebelum kepalanya terlepas. Dan Davin tergantung di dinding. Davin terkekeh, tidak tahu apa yang menghantuiku. “lo liat muka lo sana, Muntah ama nangis barengan gitu.” Sontak aku memeluk Davin, tangis dan muntahku mengenai bajunya. Dia mendorongku seketika. Aku terjatuh di antara kursi depan dan belakang, hingga pinggang ku menggantung di pundak jok depan. Laila melihatku dengan cemas, sontak aku menyebut namanya dan ingin memeluknya. Tapi Davin langsung menghantamkan tinjunya kepadaku. Aku tau dia tidak serius, tapi rasanya sakit juga. Kang Bagja melirikku lewat kaca spion. Matanya penuh tanya. Aku menggeleng cepat, mencoba menenangkan mereka, meski dalam diriku tidak ada yang tenang. Aku ingin percaya ini cuma mimpi. Tapi mimpi tidak meninggalkan rasa muntah di lidah. Tidak meninggalkan sisa bau darah samar yang entah kenapa masih tercium di tanganku. Mobil kembali melaju. Kami meninggalkan jalan beraspal, masuk ke jalan tanah yang dipenuhi akar-akar pohon. Aku mengenali jalur ini… terlalu mengenali. Kang Bagja berhenti sebelum melewati gerbang Desa. Bulu kudukku merinding, mendengar Bagja berpamitan, bukan karena apa-apa, tapi rasanya Kang Bagja pernah mengatakan hal yang serupa. Semua persis. Pepohonan yang membentuk lorong gelap. Udara yang semakin lembab. Bahkan suara burung hantu yang sebelumnya kudengar dalam mimpi, kini kembali terdengar. Kami berjalan kaki untuk menuju Desa Hulu Wulung, Dessy protes, tapi rasanya dia sudah mengatakan itu. Selanjutnya Laila! Dia pasti menanyakan Kang Bagja! Dalam hati aku menebak, dan benar saja! Dia bertanya akan hal itu. Aku menjawab seadanya, tapi rasanya aneh sekali, kenapa aku mengetahui apa yang Laila akan katakan? Aku mempertanyakannya sambil terus melanjutkan perjalanan. Sampai akhirnya, kami tiba di cabang jalan. Di sana ada pagar bambu rendah, di baliknya hutan rapat dengan papan kayu tua. Tulisan aksara Sunda kuno terpahat jelas, samar-samar bercahaya karena lumut basah. Aku berhenti menatapnya. Hutan larang. “Astagfirullah…” gumamku pelan, tapi lidahku kaku. “Kenapa, Wid?” Laila menoleh padaku, tatapannya teduh. Aku menggeleng cepat. “Bukan apa-apa.” “Itu jalan kemana?” Tanya Davin penasaran. “Itu hutan larang, pokoknya jangan kesana, warga desa pun ga boleh kesana.” Aku cepat-cepat melanjutkan perjalanan. Tapi kata-kata itu justru membuat bulu kudukku berdiri. Karena aku baru sadar, itu persis dengan yang kukatakan dalam mimpi. Sama. Kata demi kata. Aku melangkah lebih cepat, ingin segera sampai ke desa. Tapi jantungku berdebar terlalu keras, seakan tubuhku tahu lebih banyak daripada pikiranku. *** Kami tiba di pintu gerbang desa. Gerbang kayu raksasa menjulang dengan ukiran aksara Sunda Buhun yang berderet di sepanjang tiang. Di bawahnya, menhir batu dipenuhi sesajen, bunga kantil putih, kepala ayam yang masih segar, dan kendi berisi cairan merah gelap. Aku terpaku. Rasanya jantungku berhenti berdetak. Karena dalam mimpiku… aku juga melewati gerbang ini. Bahkan sesajennya sama. Bunga yang layu di sebelah kiri. Darah ayam yang masih menetes segar. “Selamat datang…” Suara Ki Wira menggema. Anak-anak Desa tersenyum aneh sambil mengalungkan kalung bunga di leherku. Aku ingin menolak, ingin berlari, tapi langkahku terhisap. Dan saat melewati gerbang itu, aku merasakan sesuatu menyentuh tengkukku, seperti napas dingin yang panjang. Aku menoleh cepat. Tidak ada siapa-siapa. Desa Hulu Wulung terbentang di hadapan kami. Rapi. Indah. Terlalu sempurna. Rumah-rumah panggung kayu berjajar membentuk suatu pola, jalan setapak batu menghubungkan satu rumah dengan rumah lainnya. Di enam titik ujung desa, aku melihat batu-batu besar bertuliskan aksara Sunda Buhun. Masing-masing batu dikelilingi dupa, bunga, dan kendi kecil. Mimpi itu datang lagi, mengiris benakku. Gambar-gambar cepat, darah di batu menhir, tubuh-tubuh berserakan di tanah, wajah Isna di antara asap dupa. Aku menggeleng keras. Tidak. Ini cuma mimpi sialan. Semua masih hidup. Davin ada di sampingku, Dessy masih bisa bercanda, Resti masih dengan wajah juteknya. Semua baik-baik saja. Tapi ada bisikan di dalam kepalaku. “Semua akan sama. Sama seperti kemarin. Sama seperti nanti.” Aku hampir jatuh berlutut. Kami disambut pesta adat. Tarian, musik gamelan, tawa anak-anak. Semuanya sama dengan mimpiku. Setiap detail. Kalung bunga yang dikalungkan di leher kami. Ki Wira dengan senyum menakutkan itu. Bahkan makanan yang disajikan, nasi tumpeng kuning, ikan bakar, sambal hijau, dan bubur hitam. Semua persis. Aku duduk, memandang makanan itu tanpa menyentuh. Keringat dingin mengucur. “Lo kenapa?” Dessy menyikutku. Aku memaksa senyum. “Engga. Cuma capek.” Tapi mataku tak lepas dari bubur hitam di depanku. Dalam mimpiku, aku melihat darah bercampur di sana. Dan kini, entah kenapa, baunya benar-benar amis. *** Prosesi mandi di sungai suci pun sama. Airnya dingin, gemericik menenangkan, tapi aku tahu lebih dalam dari siapapun. Ini bukan penyucian. Ini persiapan. Aku menutup mata, membiarkan air mengalir di kepalaku. Tapi dalam gelap, aku melihatnya lagi, sosok hitam besar, liurnya menetes di air, menatapku dengan mata merah menyala. Aku membuka mata cepat. Tidak ada apa-apa. Hanya air jernih, hanya kawan-kawanku yang tertawa. Saat Davin hilang, aku bahkan tidak kaget. Karena aku tahu ini akan terjadi. Aku ingat jelas bagaimana dalam mimpiku, Davin menghilang di sungai. Dan sekarang, semua orang panik, mencari kesana-sini. Tapi aku tahu, Davin ada di Bale Desa. Aku berdiri terpaku, tubuhku gemetar. Air sungai yang bergemuruh seakan menertawaiku. “Kamu kenapa diem aja, Dar?” tanya Laila yang merasa Aneh melihatku terdiam ketika orang lain tertawa melihat kelakuan Davin yang pulang karena kedinginan, sedangkan warga Desa mencarinya. Aku tidak menjawab. Hanya ada satu hal dalam pikiranku, ini terlalu sama. Aku menutup mata. Semua kejadian berputar lagi di kepalaku. p*********n, darah, jeritan, tawa Isna. Semua kembali, terlalu nyata untuk sekedar bunga tidur. Dan satu suara terus menggaung, menusuk telinga, menghantui sampai sumsum tulangku. “BANGUN.” Aku masih bingung. Terlalu bingung. Kenapa semua yang terjadi terasa mirip dengan mimpiku? Bukan cuma sekadar mirip, semuanya sama persis. Sampai ke detail yang paling kecil. Ketika aku sampai di rumah, orang-orang terlihat biasa saja. Resti duduk di tikar sambil menyandarkan tubuhnya, Dessy sibuk berceloteh soal perjalanan yang melelahkan, dan Laila sedang menyeduh teh di dapur kecil yang menyatu dengan ruang tengah. Obrolan mereka ringan, nyaris tak ada yang perlu dicurigai. Tapi di mataku, semuanya sudah pernah kulihat. Hingga malam pun tiba, aku mengantarkan para wanita tidur di kamar depan, kamar perempuan bekas kamar adikku, Isna. “Eh, Dar, ini kamar siapa?” Dessy bertanya, suaranya ceria. Aku terdiam sesaat. Pertanyaan itu… aku pernah mendengarnya. Kalimat yang sama. Bahkan nada suaranya pun sama. “Itu… kamar adikku, tapi dia udah gak ada” jawabku lirih, seperti otomatis keluar dari mulutku sendiri. Mereka bereaksi persis seperti yang kuingat dalam mimpi. Resti menoleh cepat, keningnya berkerut. Laila berhenti menuang teh, lalu mengangkat wajah. “inalilahi” suaranya pelan, penuh rasa ingin tahu. Dadaku sesak. Adegan ini, percakapan ini, semua pernah kualami. Dalam mimpi yang kusebut mimpi buruk. Aku mencoba mengalihkan. “Sudahlah, jangan dibahas. Kamar ini, pakai saja.” Mereka saling pandang, lalu tertawa kecil. Seakan semua normal. Seakan hanya aku yang terjebak dalam sesuatu yang aneh. *** Malam itu aku tidak bisa tidur. Suara jangkrik di luar jendela terdengar nyaring, terlalu nyaring. Aku memejamkan mata berkali-kali, tapi rasa kantuk tak kunjung datang. Kepalaku penuh oleh pertanyaan, apakah ini semua benar-benar terjadi? Atau aku masih berada di dalam mimpi yang panjang? Hingga akhirnya aku mendengar suara. Suara gesekan kayu, seperti orang yang sedang mengatur sesuatu di ruang depan. Pelan, berulang, ritmis. Aku langsung teringat pada mimpiku, itu pasti ibuku yang tengah menyiapkan sesajen di depan rumah. Tubuhku kaku. Tapi langkahku bergerak sendiri. Aku keluar kamar, menahan napas. Dan benar saja. Di ruang depan, ibuku sedang duduk bersila di depan meja kecil. Di atasnya ada lilin, dupa, dan wadah berisi bunga. Tangannya bergerak perlahan, menyusun sesuatu dengan penuh ketelitian. Aku berdiri di ambang pintu, menatap punggungnya yang kurus. Semua ini pernah terjadi. Dalam mimpi. Aku memberanikan diri. “Bu…” suaraku serak. Ibuku menoleh perlahan, seolah sudah tahu aku akan datang. Senyumnya samar, matanya teduh, tapi justru membuat bulu kudukku berdiri. “Kamu belum tidur, Widar?” tanyanya lembut. Aku menelan ludah. “Aku… aku pernah lihat ini. Di mimpiku.” Ibuku terdiam sejenak, lalu tersenyum lagi. “Kalau begitu, mimpi itu pertanda. Kamu memang anak yang istimewa.” Jawaban itu persis. Kata demi kata. Kalimat yang sama persis dengan yang kudengar dalam mimpiku. Aku ingin mengatakan bahwa di mimpiku, aku melihat Isna kembali. Namun, belum sempat terucap, dadaku terasa berat. Seolah-olah ada yang membelai halus jantungku, apa ini, aku merasa ada tangan di dalam tubuhku. *** Aku kembali ke kamar dengan langkah gontai. Pikiranku berputar. Semua kejadian dari perjalanan ke desa, penyambutan, bahkan percakapan tentang adikku semuanya sesuai dengan mimpiku. Aku terbaring di kasur bambu, menatap langit-langit. Suara serangga dari luar merambat masuk, berpadu dengan suara kayu rumah yang berderit tertiup angin. Semua terasa terlalu akrab, terlalu tepat. Aku mencoba tidur, tapi suara-suara itu terus menembus. Obrolan kecil dari ruangan sebelah. Suara Resti yang bercanda. Tawa Dessy yang khas. Bahkan nada lembut Laila ketika menenangkan mereka. Semua itu membuatku makin resah. Karena aku tahu, aku pernah mendengarnya. Di mimpi. Aku mencoba untuk tidur, jika ini mimpi, aku hanya tinggal terbangun. Suasana sunyi, suara jangkrik seperti lagu nina bobo untukku, mataku mulai lelah dan ingin memejamkan. tapi aku merasa ada sesuatu. Sesuatu yang bergerak di dalam rumah. Aku bangkit pelan, menahan napas. Dan ketika aku membuka pintu kamar, aku melihatnya. Sosok itu. Hitam. Tinggi. Berdiri di ujung lorong. Tubuhku gemetar. Sosok itu tak bergerak, hanya berdiri. Aku berkedip, dan dalam sekejap sosok itu menghilang. Aku mencoba menutupi tubuhku dengan selimut tipis yang aku gunakan dulu, saking tipisnya aku masih bisa melihat bayangan hitam itu. Apa aku memang spesial? apa aku bisa melihat seperti ini adalah kelebihan? Aku mulai teringat, di mimpiku aku juga mengabaikan mahluk itu dan esoknya tragedi itu terjadi. Mungkin sosok itu adalah penyebabnya, sosok itu adalah awal dari semua tragedi ini. Seketika bayangan kepala Laila yang menggelinding kepadaku muncul kembali saat aku memejamkan mata. Tidak, tidak seperti ini! Jika sebelumnya apa yang terjadi sama maka kali ini akan berbeda. Aku bangkit, memberanikan diri untuk mengikuti bayangan itu, ini sudah hampir tengah malam dan ibu biasanya sudah mematikan semua cempor di rumah. Keringat dingin mulai mengalir dari keningku, aku berkerudung selimutku mencoba mendekati bayangan hitam yang diam berdiri di depan pintu. Dia membuka pintu, cahaya bulan mulai masuk kedalam rumahku, bayangan hitam itupun sedikit terlihat. EH.. itu bukan makhluk gaib yang belakangan ini aku lihat. Aku yakin dia adalah seorang manusia. Hatiku mulai yakin begitu aku tahu apa yang aku lihat bukanlah makhluk gaib, hantu dan sebagainya. Dia manusia, dia sesuatu yang bisa aku kalahkan. Kupercepat langkahku dan meraih tangan itu, dia menoleh ke arahku dan dia.. “DAVIN?....” “Ngapain kamu disini?” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN