Semua mulai berubah

2054 Kata
Davin menguap lebar, wajahnya kusut setengah kesal. “Gua ke luar cuma buat kencing, Wid. Toilet lo kan di luar, jauh dari rumah. Masa gua harus nahan? Emang lo mau?” Nadanya ketus, seakan keberadaanku di belakangnya barusan hanya mengganggu. Aku hanya diam, menggaruk tengkuk, menahan rasa curiga yang sudah lama menempel sejak tadi malam. “Ya, ya. Gue ikut deh,” sahutku pendek, mencoba menormalisasi situasi. Kami berjalan menuju bangunan kecil di belakang rumah. Dari luar tampak seperti gubuk reyot dengan pintu kayu yang hanya diseloteng tali. Lampu minyak tergantung di sisi dinding, Aku menjalankannya sebagai satu-satunya sumber cahaya. Api kecilnya berayun ditiup angin malam. Suara jangkrik mendominasi suasana, tapi sesekali ada suara lain gumaman samar yang entah dari mana. Davin masuk duluan, menutup pintu kayu dengan suara berderit panjang. Aku berdiri di luar, memeluk tubuhku sendiri. Udara terasa lembab, dan ada bau tanah basah bercampur dupa samar. Saat itulah aku melihat sesuatu. Batu besar di sisi kiri, yang biasanya kupikir hanya pondasi rumah, tampak bergeser. Dari celahnya muncul secercah cahaya redup, seperti api lilin yang dipaksa bersembunyi. Aku menunduk, mendekat perlahan, dan dari celah itu aku melihat sesuatu yang menjadi rutinitas keluargaku sejak dulu. Ada ruang di bawah tanah. Ruang sempit, di balik tiang pondasi yang ditutup kain hitam tebal, tapi di baliknya terlihat sesosok tubuh terikat Isna. Rambutnya kusut, matanya kosong, kulitnya pucat. Ia duduk dipasung, kakinya dibelenggu kayu, tangannya terlipat paksa. Dan tak jauh darinya, ibuku. Ibuku sedang jongkok, menunduk di depan sesajen. Ada nasi, bunga, dan potongan ayam mentah. Tangannya bergerak pelan, bibirnya berkomat-kamit membaca sesuatu. Dadaku terasa dihantam ribuan batu. Aku ingin berteriak, ingin menyerbu masuk. melihat kondisi adikku yang semakin hari semakin parah. Tapi tubuhku kaku, kakiku terpaku pada tanah. Aku dan orangtuaku percaya, cara ini yang terbaik untuk Isna. Aku hanya bisa menatap dari celah, seperti penonton terkutuk yang tidak diizinkan masuk panggung. Segera kutarik kain hitam yang menjuntai, menutup rapat celah itu. Nafasku tersengal, keringat dingin membasahi pelipis. Aku mengumpat dalam hati, ibuku, yang teledor, yang membiarkan rahasia sebesar ini begitu saja nyaris terlihat. “Wid!” Suara Davin tiba-tiba pecah tepat di belakangku. Aku terlonjak. Tubuhku menegang, seolah ketahuan melakukan sesuatu yang tak boleh. “Lagi apa lo?” Davin melipat tangan di d**a, pandangannya tajam. “A-apa?” suaraku patah. Aku terkejut setengah diantaranya karena suara Davin yang tiba-tiba, setengah lagi karena aku takut Davin melihat rahasia keluargaku. “Lo kalau mau kencing, ya di kamar mandi! Jangan di batu! Gila, gue udah beres nih, ayo cepet, gue ngantuk.” Nada ketusnya lagi-lagi terdengar wajar bagi orang lain, tapi di telingaku seperti cambuk. Aku mengangguk cepat, pura-pura menahan kencing, lalu melangkah masuk sebentar hanya untuk membasuh tangan. Setelah itu, aku mengikuti Davin kembali ke rumah. Anehnya, aku merasa sedikit lega. Entah kenapa, ada perbedaan kecil dari mimpiku. Di mimpiku dulu, aku tidak pernah tahu sosok hitam yang muncul tiba-tiba dihadapanku. Tapi sekarang, aku menyadari dia adalah Davin. Perbedaan kecil, tapi cukup untuk membuatku percaya bahwa mungkin gambaran tragedi di otakku hanyalah mimpi. Malam itu aku tidur pulas, untuk pertama kalinya. *** Aku dibangunkan bukan oleh teriakan atau suara menggelegar. Tapi bisikan lembut. “Bangun…” Nada itu begitu halus, nyaris seperti sentuhan. Aku membuka mata perlahan. Cahaya matahari pagi menelusup lewat celah jendela, hangat tapi menyilaukan. Aku mengucek mata, menyadari bahwa aku bangun agak telat. Yang aneh, suara bacaan Al-Qur’an terdengar sayup dari ruang depan. Aku menoleh ke samping, Davin masih tertidur, mendengkur pelan. Bukan jogging, bukan hilang seperti mimpiku. Masih ada di sini. Aku keluar kamar, melangkah pelan ke ruang depan. Dan di sana, aku melihat Laila duduk bersila dengan mushaf terbuka di pangkuannya. Suaranya merdu, lembut, bergetar seakan mengalun dari jauh. Dia menoleh sekilas saat sadar aku berdiri di ambang pintu. Lalu tersenyum, senyum sederhana yang membuatku salah tingkah. Aku mengangguk kikuk, lalu buru-buru menuju kamar mandi. Aku berwudhu. Air dingin menyapu wajah, membuatku tersadar. Sudah lama sekali aku tidak shalat. Sudah lama sekali aku berpura-pura lupa. Tapi entah kenapa, kali ini aku merasa harus. Meski kesiangan, aku tetap menunaikan shalat subuh di atas sajadah yang usang. Tepat pukul tujuh, ibu sudah menyiapkan sarapan. Nasi uduk, tempe goreng, sambal terasi, dan sayur asem. Aromanya memenuhi rumah kecil itu. Aku membangunkan Davin dengan sedikit kasar, sementara Laila mengetuk pintu kamar perempuan untuk membangunkan Dessy dan Resti. Kami duduk mengelilingi tikar, menyantap sarapan bersama. Suasana terasa hangat, seakan semua normal. Meski berbeda keyakinan, aku dan Laila muslim, Davin serta Resti Katolik, Dessy Hindu kami tetap bercanda, tetap tertawa. Dessy menyuapkan sambal terlalu banyak hingga kepedesan, Resti langsung nyeletuk pedasnya kalah sama omongan Dessy, dan Davin menertawakan mereka berdua sambil menepuk meja. Bahkan aku ikut tertawa, meski di dalam dadaku masih ada bara yang belum padam. Setelah sarapan, kami berkeliling kampung lagi. Kali ini ada yang berbeda. Davin terlihat begitu antusias. Matanya berbinar, semangatnya meluap-luap. Setiap kali melihat sesuatu, ia berhenti dan menjelaskan panjang lebar. “Di sini,” katanya menunjuk ke arah aliran sungai, “gua bisa bikin penggilingan padi otomatis pakai tenaga air. Jadi nggak usah capek-capek nguleg manual.” Ia lalu menunjuk ke area kosong dekat balai desa. “Dan disana, gua bakal bikin tempat pembakaran tanpa asap. Lo tau kan, Wid? Teknologi biogas. Gua pernah baca jurnalnya, gua yakin bisa diterapin di sini.” Dessy yang biasanya banyak protes justru terpana. “Gila, Vin. Lo kayaknya udah nyiapin ini dari lama ya?” Davin mengangguk cepat, seperti anak kecil yang sedang memamerkan mainan baru. “Ya iyalah! Gue udah riset, udah survei, udah bayangin semua. Ini kampung… potensinya gede banget.” Aku memperhatikannya lama. Ada rasa bangga melihat sahabatku begitu bersemangat. Tapi disisi lain, ada perasaan menggelitik di dasar hati. Antusiasmenya terlalu berlebihan. Seakan dia sudah lama sekali menunggu momen ini. Seakan desa ini memang sudah menunggunya. Aku teringat lagi cahaya lilin di bawah rumah, wajah Isna yang dipasung, ibuku yang berkomat-kamit di depan sesajen. Dan sekarang Davin, yang seolah tak bisa berhenti bicara tentang proyek dan masa depan. Di kepalaku, suara-suara mulai bercampur. Bisikan lembut yang membangunkanku pagi tadi. Bacaan Qur’an Laila yang masih terngiang. Dan suara Davin, yang terlalu semangat, terlalu yakin. Aku berjalan mengikuti mereka, mencoba tersenyum agar tidak terlihat berbeda. Tapi di dalam diriku, aku tahu, semuanya tampak normal hanya di permukaan. Di bawahnya, ada sesuatu yang sedang bergerak. Kami bergerak menuju bale desa, bale desa itu berdiri di tengah jantung perkampungan. Bangunannya sederhana, tiang kayu berwarna coklat tua menopang atap rumbia yang sudah digerogoti usia. Lantai papan berderit pelan saat telapak kaki menginjak, seakan mengingatkan bahwa bangunan ini sudah terlalu lama menyimpan suara orang-orang yang berkumpul di dalamnya. Di situlah kami duduk, mengitari tikar pandan yang dibentangkan Ki Wira, makan siang seadanya: sayur lodeh yang entah kenapa terasa lebih hangat, sambal terasi dengan aroma pedas yang menusuk, dan ikan asin yang digoreng garing. Davin dan Resti tampak bersemangat. Mereka bercerita tentang proyek-proyeknya kepada Ki Wira dengan wajah yang bercahaya. Resti mengangguk-angguk, menimpali tiap kalimat Davin dengan detail teknis. Davin berbinar ketika menggambarkan sistem penggilingan padi yang akan digerakkan air sungai, sementara Resti menambahkan tentang pengolahan limbah agar tidak merusak tanah. Ki Wira mendengarkan dengan sabar, tatapannya dalam dan tidak sekali pun terlepas dari mereka berdua. Ia mengangguk, lalu berucap dengan nada pelan namun menekan, seolah kata-katanya adalah mantera. “Proyek kalian bagus… asal jangan pernah merusak alam. Ingat, sungai adalah nadi desa, tanah adalah dagingnya, dan pohon adalah napasnya. Sekali kalian ganggu salah satunya, desa ini akan mati. Kalian pun akan mati bersama desa ini.” Hening sejenak. Angin yang masuk lewat celah dinding seperti membawa aroma tanah basah bercampur dupa. Aku merasakan sesuatu merayap di belakang leher, entah apa. Kemudian Ki Wira menambahkan, “Dan satu lagi. Kalau kalian ingin memahami kami, lakukan seperti yang kami lakukan. Bangun sebelum matahari bersinar, lalu bersihkan halaman rumah. Biar kalian tahu arti hidup di sini.” Davin langsung mengangguk, penuh semangat. Resti juga tersenyum setuju. Aku sendiri hanya menunduk, merasa ada sesuatu yang lebih berat tersimpan di balik kalimat sederhana itu. Kami pulang menjelang malam. Senja sudah merayap di ufuk, mengganti langit menjadi jingga gelap. Di rumah, ibu menyajikan makan malam: nasi hangat, tempe goreng, dan sayur bening. Sangat sederhana, tapi kami makan dengan lahap. Aku merasa lega, tidak seperti dalam mimpiku yang dipenuhi tragedi. Malam ini terasa normal. Hanya suara jangkrik yang bersahutan di luar, dan cahaya lampu minyak yang berkedip tenang di sudut ruangan. Kami tidur lebih awal. Ibu menegaskan, “Kalau mau hidup di sini, ikuti adatnya.” Jadi kami mengangguk saja, mencoba menutup mata lebih cepat dari biasanya. *** Pagi berikutnya, aku bangun sedikit telat. Matahari sudah menyelinap lewat celah-celah dinding rumah. Aku buru-buru keluar kamar, menuju sumur di belakang untuk berwudhu. Tapi langkahku terhenti. Di halaman, kulihat Resti, Dessy, dan Laila sudah menyapu halaman dengan sapu lidi. Gerakan mereka seragam, seperti sedang melakukan sebuah ritual ketimbang pekerjaan biasa. Muka mereka lesu, entah karena tidak terbiasa bangun sepagi ini. Tapi Laila sudah biasa, dan dia juga bermuka masam seolah melihat sesuatu yang harusnya tak di lihat. Aku mencoba menyapa mereka. “Pagi. Kalian bangun cepat sekali.” Tapi tak ada jawaban. Resti hanya menunduk, Dessy tetap menyapu dengan wajah kosong, dan Laila menoleh sekilas tanpa ekspresi lalu kembali pada sapu lidinya. Aku merasa kaku, udara tiba-tiba menekan dadaku. Mungkin mereka marah karena aku bangun telat. Aku buru-buru masuk kamar mandi, mengambil wudhu, lalu shalat dengan khusyuk yang aneh, lebih karena rasa bersalah daripada keimanan. Setelah itu aku membangunkan Davin agar ikut membantu pekerjaan rumah. Sarapan tersaji setelah halaman bersih. Nasi uduk dengan taburan bawang goreng. Aroma gurihnya memenuhi ruangan, tapi suasananya ganjil. Para temanku yang perempuan duduk diam, menyuap nasi tanpa menoleh satu sama lain. Wajah mereka murung, sesekali tertunduk. Aku mencoba mencairkan suasana, mengajak bicara. Davin juga ikut bercanda, melempar komentar enteng. Tapi tak ada yang menanggapi. Obrolan kami hanya terdengar canggung, bergema di udara yang padat. Sendok beradu dengan piring menjadi suara paling nyaring di meja itu. Aku merasa perutku mual meski makanan terasa enak. Ada rasa asing, seakan aku bukan bagian dari meja itu. Setelah sarapan, kami mengikuti agenda hari ini: membantu warga di desa, membersihkan parit, lalu kembali makan siang di bale desa. Ki Wira lagi-lagi hadir, duduk di kursi bambu dengan tatapan seperti menembus isi kepala. Davin sangat antusias. Dia menjelaskan rancangan barunya kepada Ki Wira dengan semangat menggebu, sementara aku hanya mendengarkan. Para teman perempuanku tetap murung, seperti bayangan yang kehilangan cahaya. Aku menunggu mereka akan pulih, tersenyum lagi seperti biasa, tapi tidak ada tanda-tanda. Saat makan siang selesai, Ki Wira menoleh padaku. “Widar, ikut saya sebentar,” katanya singkat. Aku sempat terdiam. Ingin bertanya kenapa aku, bukan Davin yang jelas lebih terlibat dengan proyek. Tapi tatapannya tidak bisa ditolak. Aku mengikutinya keluar bale desa. Di luar, udara terasa lebih dingin meski matahari masih tinggi. Ki Wira berjalan pelan, tongkat kayu di tangannya menghentak tanah berdebu. Aku mengikuti, menunggu ia membuka percakapan. Akhirnya ia bertanya, “Bagaimana menurutmu setelah kembali ke desa ini?” Aku agak bingung. Pertanyaan itu terdengar terlalu ringan, terlalu biasa dibandingkan apa yang kurasakan. Aku hanya menjawab, “Semua orang baik, makanannya enak, dan… suasananya tenang.” Ki Wira tersenyum tipis, tapi aku merasa ada sesuatu di balik senyum itu. “Bagus kalau begitu,” katanya. Lalu ia diam, menatapku lama sekali. Ada tatapan yang membuatku merasa sedang ditimbang-timbang, seolah ia ingin tahu apakah aku cukup kuat untuk menanggung sesuatu yang belum ia ucapkan. Saat itu aku mendengar suara dari dalam bale desa, samar namun jelas: suara bisikan. Aku menoleh sekilas, melihat Resti, Dessy, dan Laila saling berhimpit, berbisik cepat kepada Davin, seolah membicarakan sesuatu yang tidak boleh aku tahu. Aku ingin kembali masuk, ingin tahu apa yang mereka sembunyikan. Tapi Ki Wira menahan bahuku dengan tongkatnya, tatapannya tajam. “Tidak semua hal harus kau dengar, Widar,” katanya pelan. Aku terdiam. Dadaku terasa berat, seolah udara desa ini penuh rahasia yang menggantung di atas kepala kami. Malamnya, aku masih memikirkan percakapan itu. Pertanyaan ringan yang seolah menutupi sesuatu yang jauh lebih besar. Teman-temanku, yang dulu begitu hangat, kini berubah menjadi dinding dingin. Dan desa ini dengan segala adat, aturan, dan wejangan rasanya semakin mengikat, seperti jaring laba-laba yang menunggu saatnya untuk menutup. Aku tidak tahu apa yang menungguku. Tapi aku yakin, ada sesuatu di sini yang sedang disembunyikan dari mataku. Sesuatu yang, cepat atau lambat, akan menyeretku masuk ke dalamnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN