Malam merah untuk yang kedua kalinya.

1640 Kata
Aku masih belum bisa melepaskan keresahan dari siang tadi. Ada sesuatu yang aneh, tapi sulit kujelaskan. Ki Wira memang menyambut kami dengan ramah, tapi terlalu ramah. Senyumnya seperti kain putih yang menyembunyikan noda merah di baliknya. Dan yang membuatku makin gelisah, ia sengaja menarikku keluar untuk berbicara sendiri, sementara teman-temanku berkumpul, berbisik-bisik, membicarakan sesuatu yang tidak boleh kudengar. Sejak saat itu, Davin berubah. Ia yang biasanya cerewet dengan ide-ide proyeknya, tiba-tiba jadi pendiam. Matanya kosong, seperti ada sesuatu yang dipikirkan, tapi ia tak mau berbagi. Aku mencoba bertanya, tapi ia hanya menjawab sekenanya. Ada jeda panjang di antara kata-katanya, seperti ia menyembunyikan sesuatu. Aku tahu, ada yang tidak beres. Matahari mulai condong ke barat ketika kami berpisah. Aneh, kami tidak pulang bersama seperti biasanya. Resti, Laila, dan Dessy berpamitan lebih dulu dengan alasan ingin membantu ibu di rumah. Katanya, untuk persiapan makan malam. Sementara aku ditahan Davin dengan alasan yang tak jelas ia bilang ingin lihat jalur irigasi di pinggir sawah, lalu alasan lain, lalu hanya diam, membuatku berjalan pulang larut. Setibanya di rumah, aku melihat jemuran tergantung di halaman. Pakaian basah, baju yang tadi mereka kenakan. Aku tertegun. Kenapa mereka harus mencuci baju? Bukankah mereka hanya seharian mendampingi kegiatan desa? mereka juga sudah berganti pakaian lain, bersih dan rapi, seakan baru selesai mandi. Aku bertanya pada ibu, pura-pura santai. “Ibu, tadi temen Widar teh ngapain aja? Kok bajunya pada dijemur?” Ibu menjawab sambil menyiangi sayur. “Neng Resti tadi ikut bantu ibu masak, neng Dessy mah sama bapa nyusun kayu suluh, neng Laila kayakna nyuci.” Aku mengangguk, mencoba menelan rasa tak nyaman yang makin menekan d**a. Logis, masuk akal, tapi tetap saja ada sesuatu yang tak bisa kuterima. Malam itu, kami makan bersama. Tikar samak digelar di tengah ruang utama. Di atasnya tersaji nasi, sayur asem, ikan asin, dan sambal. Sederhana, tapi aromanya mengundang selera. Seharusnya ini momen hangat. Seharusnya kami tertawa seperti biasanya. Tapi suasana terlalu hening. Sendok kayu beradu dengan piring tanah liat, bunyinya terdengar nyaring dalam keheningan. Tak ada candaan Dessy, tak ada komentar tajam Resti, bahkan Laila pun hanya menunduk, wajahnya teduh tapi muram. Ayah duduk di ujung, makan perlahan, sementara ibu bolak-balik menambahkan lauk seakan ingin mengisi ruang kosong dalam percakapan kami. Aku berusaha membuka obrolan kecil dengan Davin, tapi tanggapannya setengah hati. Seolah ada tembok yang tak bisa kutembus. Dadaku kian berat. Ini persis seperti… malam dalam mimpiku. Malam yang berakhir dengan darah. Laila akhirnya angkat bicara. Suaranya lembut, hati-hati, seperti menaruh jarum di atas air agar tak tenggelam. “Widar,” katanya, menatapku sebentar sebelum beralih ke ayah. “Kami ingin membicarakan sesuatu… tapi tolong jangan salah paham, ya.” Aku terdiam. Davin disampingku mengepalkan tangannya di atas lutut, urat di tangannya menegang. Resti langsung menoleh, tangannya menyentuh bahu Davin, menenangkannya. Aku baru sadar, ada yang kurang. Dessy. Aku menoleh kanan-kiri. Kosong. Ia tidak duduk bersama kami di tikar. Entah ke mana. Perutku terasa melilit, seakan ada simpul tali yang mengikat organ dalamku. Ayah meletakkan sendok, menatap Laila dengan raut hati-hati. “Aya naon, Neng?” (Ada apa, Neng?) Laila menunduk sebentar, lalu suaranya terdengar lagi, lebih jelas. “Apa… pemasungan orang… hal yang normal di sini?” Kalimat itu meledak di tengah ruangan seperti petir menyambar di langit cerah. Aku kaku. Ibu spontan menghentikan gerakan tangannya, ayah terbatuk kecil, wajahnya mendadak tegang. “Itu…” ayah berusaha tersenyum, tapi kaku. “Di desa mah… biasa. Orang nu gangguan jiwa teh… bahaya kalau dibiarkeun.” “Bahaya?” Davin akhirnya bicara, suaranya keras. “Bahaya buat siapa? Apa itu cukup alasan buat masang orang kayak binatang?!” “Davin…” Resti mencoba menarik tangannya, tapi Davin menepis. Ayah gelagapan, wajahnya merah. “Kami… kami ga punya pilihan lain, Nak. yang kaya gitu mah ga bisa dibiarin, bisi mencelakakan banyak orang.” “Alasan!” Davin membalas cepat, matanya berkilat marah. “Di kota, orang-orang seperti itu dirawat, diberi pengobatan. Bukan dipasung! Itu kejam, tidak manusiawi!” Ibu mencoba masuk, suaranya lirih. “Nak, bukan kami tak punya rasa. Tapi di sini mah, di kampung, tidak mudah. Yang begitu… bakalan nyakitin banyak orang.” Aku hanya diam. Tubuhku gemetar. Aku tahu persis siapa yang mereka bicarakan. Isna. Adikku. Laila menatapku lama. Ada pertanyaan di matanya, tapi ia tidak mengucapkannya. Sementara Davin dan ayah terus berdebat, aku hanya bisa menunduk. Tikar samak di bawahku terasa seperti tanah dingin, seakan kapan saja bisa terbuka dan menelanku. Aku menelan ludah. Semua ini… terasa persis dengan mimpiku. Dan di kepalaku, suara itu kembali bergaung. Samar. Berat. Aku menatap mereka satu per satu. Resti, Laila, Davin, bahkan ibu dan ayahku sendiri. Semuanya masih duduk di atas samak yang mengeluarkan bau anyaman basah, tapi hatiku tidak bisa tenang. Rasanya… ini mengarah ke hal yang sama. Sama seperti malam dalam mimpiku. Dan yang membuat dadaku makin sesak, aku belum juga melihat Dessy. Aku ingin bangkit, ingin mencari tahu ke mana dia pergi. Tapi langkahku baru hendak berdiri ketika suara Davin menggelegar, penuh amarah. “MAU KE MANA LO?!” Aku terdiam, menoleh padanya. Tatapan matanya liar, urat lehernya menegang, seakan aku baru saja melakukan dosa besar. Aku bukan takut pada Davin, bukan. Tapi aku takut pada apa yang mereka bahas. Karena aku tahu, ujung dari semua ini pasti akan kembali pada satu nama. Isna. Laila akhirnya membuka suara, tenang tapi tajam, menembus dadaku. “Kenapa… tega memasung anak sendiri?” Tatapannya jatuh padaku, lirih, menusuk. “Apa kamu tahu dari awal, Widar?” Aku menelan ludah, rasanya pahit. Aku hanya mengangguk pelan. Laila menghela napas panjang, lalu melanjutkan dengan nada kecewa yang membuatku ingin bersembunyi di balik bayangan. “Ko bisa kamu anggap adikmu sudah tiada… padahal dia diperlakukan mirip hewan?” Aku menunduk, tak sanggup menjawab. Ayahku tiba-tiba meledak, wajahnya merah padam. “Kalian tak tahu apa-apa! Dia diikat demi kebaikan! Kebaikan keluarga ini, kebaikan desa!” Resti menatap ayah dengan sorot tajam. “Alasannya apa? Kenapa harus dipasung?” Ayah mengatupkan rahang, lalu menjawab singkat dengan suara berat. “Karena dia gila.” Kata itu jatuh seperti batu, menghantam ruangan, menghantam kepalaku. Aku ingin teriak, tapi suara tercekat di tenggorokan. BRAK! Suara pintu depan digedor keras. Semua menoleh. Dari kegelapan, Dessy muncul, menyeret tangan seorang perempuan. Aku membeku. Itu Isna. Meski wajahnya pucat, tubuhnya kurus, rambutnya kusut, dia berbeda. Tubuhnya sudah bersih, pakaiannya diganti, luka-luka bekas ikatan masih tampak di pergelangan tangannya, tapi ia bukan lagi sosok kotor dan terpasung yang kutahu. “APA INI YANG KALIAN MAKSUD GILA?!” teriak Dessy, suaranya memecah ruang. Ia mendorong Isna ke tengah tikar, menunjuknya dengan gemetar. “Dia anak yang baik! Dia diam waktu kami mandikan, dia menurut, cuman waktu Laila bacakan doa sebelum membasuh, dia hanya sedikit meronta! Dia… normal!” Dessy terengah, wajahnya merah. Isna hanya berdiri di sana, menunduk, seperti bayangan yang tak tahu di mana tempatnya. Aku menggenggam tanganku sendiri, menekan keras hingga kuku-kuku menusuk kulit. Aku tak berani melihatnya lebih lama. Aku menunduk, menahan dunia agar tak runtuh. Aku berharap semua ini hanya mimpi. Aku menutup mata. Mencoba kabur. “Mungkin kalau aku tidur… mungkin kalau aku pejamkan mata… semua ini hilang.” Hening. Seketika, tak ada lagi suara. Tak ada lagi teriakan, tak ada lagi debat. Sunyi yang terlalu padat, terlalu menekan. Aku merasakan sesuatu. Hangat. Basah. Menetes di tanganku yang terkepal di atas tikar samak. Dengan nada yang lembut, samar namun jelas aku mendengar suara adiku Isna. Bukan, bukan suara makhluk yang di dalamnya, tapi ini benar-benar suara Isna. Suara yang sama saat aku masih kecil. “A Widar..” Suaranya pelan dan menghilang. Pelan-pelan aku membuka mata. Gelap. Ruangan lenyap, hanya ada cahaya lilin di depanku, kecil, bergetar, seolah ketakutan. Aku menoleh ke tanganku. Ada cairan mengalir. Merah. Darah. Aku tercekat, langsung mendongak ke depan. Dan dunia runtuh. Semua orang masih duduk rapi di atas samak. Ayah, ibu, Davin, Laila, Resti, Dessy Tubuh mereka tegak, seolah sedang makan seperti biasa. Tapi… kepala mereka sudah tidak ada. Darah memancar dari pangkal leher, memenuhi tikar, mengalir ke nasi, ke ikan asin, ke sambal. Bau amis langsung menusuk hidungku, membuat perutku mual. Aku menahan napas, tapi tidak bisa. Aku ingin teriak, tapi tak keluar. Mereka semua… tanpa kepala. Aku terduduk, kaku, jantungku seperti diperas. Air mata panas menetes, bercampur dengan bau darah yang makin pekat. Tiba-tiba terdengar suara langkah pelan. Crott… crott… Darah berceceran di lantai. Isna muncul entah dari mana. Kakinya penuh darah, telapak kakinya menjejak di atas samak, meninggalkan bekas merah di antara piring-piring pecah. Ia jongkok, menatapku dari atas, senyumnya perlahan merekah. Matanya kosong, tapi senyumnya… senyumnya terlalu lebar, terlalu dalam. Aku tertegun, tubuhku gemetar hebat. Isna mencondongkan tubuh, lalu menggerakkan tangannya ke arahku. PLAK! Aku terhempas ke lantai, keras, hingga nafasku tersengal. Aku membuka mata dan masih bisa melihat ke arah Isna, dia jongkok di atas sana, tertawa, suara tawa yang mengerikan, melengking, bercampur tangis, bercampur jeritan yang tak berasal dari manusia. “Aing resep ningali beungeut saria, benget anu sieun ka aing. Deui.. deui… Aing hayang deui…” (Aku senang sekali melihat muka kalian, muka yang takut padaku. Lagi, lagi, aku mau lagi..) Suara itu sangat menyeramkan, suara yang keluar dari mulut Isna, tapi bukan dia, suaranya banyak, tebal, serak dan menyeramkan. Namun anehnya suara itu berbicara berbarengan. Aku ingin bangun. Aku ingin kabur. Tapi pandanganku mulai kabur. Di ujung kesadaranku, aku melihat tubuhku sendiri di tikar. Duduk tegak, sama seperti yang lain. Tapi… kepalanya sudah tidak ada. A… aku… sudah mati? Isna turun berjalan jongkok dengan aneh, gerakan menggeliat, patah-patah seperti boneka rusak. Ia mendekat ke arahku. Bukan! Ke dekat kepalaku, bayangannya membesar, menelan cahaya lilin kecil itu. Aku sudah di ujung kesadaran. Nafasku berat. Isna jongkok di sampingku, wajahnya begitu dekat hingga aku bisa mencium bau amis darah dari mulutnya. Ia tersenyum, senyum yang hancur, pecah, tak lagi menyerupai manusia. Dan dengan suara serak, parau, ia berbisik tepat di telingaku. “BANGUN.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN