Aku terbangun dengan teriakan yang seperti robek dari dalam d**a. Nafasku berat, tersengal, keringat membasahi seluruh tubuhku. Udara kamar begitu dingin, tapi dadaku seperti terbakar. Mataku liar mencari sesuatu yang tak seharusnya ada, darah, tubuh tanpa kepala, Isna yang tertawa di atas meja, tapi semua itu tidak ada.
Yang ada hanya kamar yang remang, jendela berembun, dan Davin yang duduk setengah bangun di sebelahku.
“Hei, Widar! Widar, lo kenapa?!”
Suaranya panik. Tangannya langsung memegang bahuku, menepuk-nepuk punggungku, tapi sentuhan itu justru membuatku ingin menjerit.
Aku menatap wajahnya lama-lama, takut kalau kepala itu juga akan hilang.
“Lo mimpi buruk, ya?” tanyanya lagi, kali ini lebih pelan, nada khawatirnya terdengar tulus. Tapi aku tidak bisa menjawab. Lidahku seakan menempel di langit-langit mulut.
Aku membungkuk tiba-tiba, mual menyesak di tenggorokan. Semua yang kuminum semalam tumpah keluar, bercampur dengan air liur dan rasa asam. Lantai kamar dipenuhi muntahan. Tanganku gemetar hebat. Aku tidak peduli lagi pada apa pun.
Davin reflek bangkit dan memegang bahuku agar aku tidak jatuh. “Astaga, bro… lo pucat banget.”
Tapi aku tak mendengar sepenuhnya. Yang kupikirkan hanya satu hal, aku sudah pernah melihat ini. Semua p*********n ini.
Dua kali!
Dan dua-duanya berakhir dengan darah.
Aku menatap dinding kamarku. Kayu-kayu tua itu masih sama, catnya sedikit mengelupas, ada celah kecil di dekat ventilasi yang selalu membuat udara pagi masuk menusuk tulang. Semua sama seperti kemarin. Seperti sebelumnya. Seperti… sebelum kepala mereka jatuh ke lantai.
Davin sibuk membersihkan lantai dengan kain basah. Aku duduk di tepi ranjang, membungkus tubuhku dengan selimut. Tanganku gemetar hebat, tapi bukan karena dingin.
“Lo yakin lo gak mau cerita, Wid?” suara Davin kembali terdengar, kali ini lembut.
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap wajahnya. Mata itu, yang semalam! Atau entahlah kapan, menatapku penuh darah dan kemarahan sebelum tubuhnya terpenggal.
Aku langsung menarik selimut lebih rapat, menutupi wajahku. Nafasku tercekat. Aku ingin percaya bahwa semua itu cuma mimpi. Tapi rasa getir besi di lidahku, rasa darah yang masih menempel entah dari mana, terlalu nyata untuk sekedar bunga tidur.
Aku berusaha bernapas dalam-dalam, menenangkan diri. Tapi yang terdengar justru gema jeritanku sendiri di kepala. Malam itu, dua kali!
Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar di luar kamar. Pintu dibuka perlahan. Aku mencium aroma minyak kelapa dan kayu bakar yang khas, ibuku.
“Widar… anak ibu… kunaon, nak?” suaranya lirih, khawatir.
Aku hanya menggeleng pelan dari balik selimut.
“Dia mimpi buruk, Bu,” kata Davin, cepat, menutupi kecanggungan. “Mungkin kecapean.”
Ibuku masuk dan duduk di sisi ranjang. Tangannya yang kasar menyentuh ujung selimut, tapi aku justru mundur, menjauh. Aku tahu itu ibuku, tapi dalam benakku masih tersimpan bayangan ketika tangannya yang berlumur darah.
Semuanya terasa terlalu hidup.
SIAL!
Aku benar-benar ingin percaya bahwa itu mimpi. Tapi setiap kali aku memejamkan mata, aku bisa mendengar suara kepala mereka yang jatuh. Dug. Satu per satu. Seperti buah kelapa jatuh ke tanah basah.
Beberapa lama kemudian, suara langkah ramai terdengar dari luar kamar. Resti, Laila, dan Dessy ikut melihat aku dari pintu kamarku yang hanya ditutup kain. Ah sial! aku tak bisa menatap mereka, bayangan berdarah itu selalu muncul di benakku. Tanpa sepatah kata mereka meninggalkan aku yang bersembunyi dalam selimut. Terdengar berbicara pelan di ruang depan, mungkin sedang bersiap untuk ke balai desa. Tapi dari suaranya, mereka terdengar… normal. Tidak ada tanda-tanda mereka baru saja mati semalam.
Davin menepuk pundakku. “Wid, dengerin. Kita harus mulai KKN hari ini. Ki Wira nunggu di balai desa. Lo mau ikut, gak?”
Balai Desa? kenapa aku bisa tau? oh iya aku mengalami hari ini dua kali.
Aku pun tak memberikan jawaban apapun..
Laila mendekat ke pintu, mengetuknya pelan. “Widar, kalau kamu belum siap gak apa-apa. Istirahat aja, ya?”
Nada suaranya lembut, penuh perhatian, tapi di mataku, wajah itu masih wajah yang tadi malam berlumuran darah.
Mereka akhirnya pergi tanpaku. Suara langkah kaki mereka semakin menjauh, lalu hening.
Aku menarik napas panjang, lalu menatap langit-langit kamar. Kayu tua itu kembali terasa asing. Seperti saksi yang tahu segalanya tapi memilih diam.
Aku duduk memeluk lutut, mencoba menata pikiranku. Tapi yang muncul hanya potongan-potongan ingatan yang teracak.
Api. Darah. Suara Isna.
Tawa itu…
“Bangun…”
Suara itu seperti terpantul dari dalam kepalaku. Lembut tapi juga mengiris.
Aku menatap cermin kecil di atas meja. Bayanganku sendiri tampak asing, mata cekung, kulit pucat, rambut berantakan. Seseorang yang sudah kehilangan arah.
Aku mencoba bicara pada diriku sendiri. “Kalau ini mimpi… tolong bangunkan aku.”
Tidak ada yang menjawab.
“Kalau ini nyata…” aku terdiam sejenak, menelan ludah, “kenapa mereka hidup lagi?”
Pertanyaan itu menggema di kepala seperti mantra terkutuk.
Aku mencoba mengingat setiap detail malam itu. Makanan di atas samak, tikar anyaman yang dingin. Bau dupa. Lilin yang berkedip. Wajah ayahku yang memerah saat Davin marah. Laila yang menunduk menahan tangis.
Dan… darah.
Begitu banyak darah.
Semua begitu jelas, padahal aku tahu aku sudah mati. Aku bisa merasakan tubuhku berpisah dari kepalaku. Aku bisa melihat Isna tertawa di atas badanku. Dan sekarang aku hidup lagi, duduk di kamar yang sama, bernapas seperti tidak terjadi apa-apa.
“Aku gila?” gumamku pelan.
Tawa kecil terdengar dari luar jendela. Bukan tawa manusia, tapi tawa anak kecil yang terdengar dari jauh, panjang, bergema, lalu lenyap begitu saja. Aku mendekat ke jendela dan menatap ke luar.
Hanya halaman belakang, basah oleh embun. Tidak ada siapa-siapa. Tapi di ujung kebun, tepat di bawah pohon pisang, ada kain hitam tergeletak di tanah. Kain itu berkibar pelan tertiup angin. Seperti… kain yang menutupi ruang bawah tanah tempat Isna dipasung.
Saat matahari akan diatas ubun-ubun, aku mencoba bangun meski dengan kepala berat dan pandangan yang buram. Langit di luar jendela terasa memerah, seolah matahari pun malas terlihat. Suasana kamar sunyi, hanya terdengar dengungan nyamuk dan detak jam dinding yang ritmenya tidak konsisten. Setiap detak terdengar seperti hentakan kecil di dalam kepalaku.
Aku duduk perlahan. Nafasku terasa berat, seperti menelan udara yang terlalu padat. Rasanya d**a ini masih sakit, meski aku tidak tahu kenapa. Aku menatap tanganku masih gemetar. Keringat dingin menempel di kulit seperti lapisan tipis ketakutan.
Dunia di luar jendela terlihat tenang, tapi pikiranku berputar liar. Apa semua ini masih mimpi? Atau aku benar-benar terjebak di antara dua kenyataan yang menolak mengusirku?
Aku masih mengingat kalimat itu, kalimat yang Isna, bukan makhluk yang merasuki Isna sesaat sebelum aku mati.
“Aing hayang dei..” Dengan kasar dan puas, lagi? dia menginginkan ini lagi? apa semua ini ulahnya? kalau seperti itu malam ini…
Aku takut, takut akan kejadian itu. Tapi aku lebih takut kejadian berdarah itu terjadi lagi! Tidak! Aku tidak bisa terus diam. Kalau Isna benar-benar ada hubungannya dengan semua ini, aku harus bertindak sebelum semuanya terulang.
Aku membuka tirai kamar perlahan, dan di depan sana, ibuku sedang duduk di kursi bambu. Tangannya menutup wajah, dan dari jarak itu aku bisa melihat matanya sembab. Ia menoleh ketika mendengar suara lantai palupuh berdecit.
“Widar…” suaranya pelan, seperti sedang bicara kepada seseorang yang baru pulang dari kematian. “Akhirnya kamu bangun juga, Nak.”
Aku terpaku di ambang pintu. Untuk sesaat, rasanya seperti déjà vu, pemandangan ini pernah terjadi, tapi entah kapan. Aku mencoba tersenyum, tapi bibirku terasa kaku.
“Ibu ngantosan(menunggu) dari tadi?” tanyaku.
Ia hanya mengangguk, lalu bangkit dan memelukku. Tubuhnya hangat, tapi di balik kehangatan itu aku bisa merasakan sesuatu yang aneh seperti getaran halus yang datang dari dalam tubuhnya. Entah ketakutan, entah kesedihan. Tapi pelukan itu membuat dadaku sedikit lega, setidaknya untuk sesaat.
“Ibu oge tahu kalo kamu teh lagi susah, Nak,” katanya lirih. “Tapi… jangan simpen sendiri atuh ya? Apa pun yang kamu rasain, bilang ke ibu.”
Aku membalas pelukannya, tapi tidak bicara. Di dadaku, ada rasa aneh, seperti denyut jantungku tak seirama dengan tubuhku sendiri.
Beberapa menit kemudian, aku duduk di kursi dekat dapur. Ibuku menyiapkan air hangat, sementara aroma kayu bakar memenuhi udara. Sinar mentari masuk dari sela dinding bambu, menciptakan garis-garis cahaya yang menari di udara.
Aku menatapnya lama sebelum akhirnya bertanya, “Bu… Isna masih di bawah?”
Gerakannya berhenti. Sesaat ruangan jadi sunyi, hanya terdengar suara air yang menetes dari ceret. Lalu ia menjawab tanpa menatapku, “Iya, Nak. Isna masih di bawah. Ibu barusan ngasih makan.”
Suara ibuku tenang, tapi entah kenapa kata-katanya menusuk. Masih di bawah? Masih dipasung?
Aku mencoba melanjutkan, “Bu… aku nanya satu hal lagi. tapi initeh aga aneh.”
“Iya, Nak?”
“Sejak kapan aku di sini?”
Ibuku menoleh, wajahnya heran. “Kamuteh datang kemarin sore, Widar. Bareng teman-teman kamu. Lupa, ya?”
Aku terdiam. Kemarin sore.
Padahal aku merasa sudah hidup di desa ini berhari-hari. Melewati tragedi, kematian, darah… dua kali. Tapi bagi ibu, semuanya baru dimulai kemarin sore.
Aku menarik nafas dalam, d**a terasa sesak. “Ibu… sebenernya aku udah ngalamin ini du…?”
Ibuku menatapku, matanya lembut tapi waswas. “Kamu ngomong apa sih, Nak?”
Aku ingin menjelaskan semuanya. Tentang malam merah, tentang darah yang m*****i tikar, tentang Isna yang tertawa sambil memegang kepalaku. Tapi sebelum sempat aku buka mulut, sesuatu terjadi.
Suara di sekeliling mendadak hilang.
Bukan berkurang, hilang total.
Aku bisa melihat ibuku masih berdiri di sana, tapi tubuhnya membeku. Tangan yang tadinya mengaduk air berhenti di tengah gerakan. Air panas yang menetes dari ceret berhenti di udara, menggantung seperti butiran kaca.
Bahkan jarum jam di dinding pun tak lagi bergerak.
Aku berdiri, panik, menatap sekeliling. “Bu…?”
Tidak ada jawaban. Suaraku sendiri menggema aneh, seperti ditelan kabut. Dan memang, kabut hitam mulai muncul dari sudut ruangan. Pelan, seperti asap, tapi lebih pekat, lebih berat.
Dingin merayap di lantai, naik ke kaki, lalu ke d**a. Setiap nafas yang kuambil terasa seperti menelan abu.
“Tidak…” aku berbisik, mundur perlahan. Tapi kakiku gemetar hebat, seolah tanah di bawahku menarikku ke dalam.
Dari tengah kabut, sosok itu muncul.
Tinggi, kurus, wajahnya seperti diselimuti bayangan. Tidak ada mata, tidak ada hidung, hanya cekungan gelap yang memantulkan gerakanku sendiri. Tubuhnya melengkung seperti asap yang dipaksa menjadi manusia.
Ia berjalan, tidak! dia melayang mendekat tanpa suara.
Setiap langkahnya membuat udara bergetar.
Aku ingin lari, tapi tubuhku tak bisa digerakkan. Seolah waktu juga menjeratku.
Lalu, sosok itu berhenti tepat di depanku. Dari kabut hitam yang menyelimutinya, tangan panjang keluar, kulitnya retak, warnanya abu-abu kebiruan seperti arang dingin.
Tangannya menyentuh dadaku.
Tidak keras. Tidak kasar. Tapi ketika jari-jarinya menembus kulitku, rasa dingin itu langsung menjalar ke seluruh tubuh. Aku menjerit, tapi tidak ada suara yang keluar.
Tangannya meremas sesuatu di dalam dadaku.
Dan aku tahu persis apa itu.
Jantungku.
Rasa sakitnya tak bisa dijelaskan. Seolah ada pisau dingin yang mengiris dari dalam, berulang kali, tanpa ampun. Nafasku tersengal. Mataku berair. Dunia berputar.
“Berhenti… tolong…” aku berusaha bicara, tapi suara itu hanya terdengar seperti nafas terakhir.
Dadaku semakin sesak. Pandangan mulai kabur. Dan ketika aku hampir pingsan, sosok itu menarik tangannya keluar. Tidak ada darah, tidak ada luka, tapi aku bisa merasakan denyut jantungku yang kini kembali sinkron.
Sosok itu memudar bersama kabut, hilang begitu saja, seolah disedot ke dalam tanah.
Dan dalam sekejap, dunia kembali bergerak.
Air panas dari ceret jatuh ke tanah dan menimbulkan suara “cesss”. Jarum jam berdetak lagi. Burung di luar kembali berkicau. Ibuku kembali bergerak, seolah tak terjadi apa-apa.
“Widar, kamu kenapa?!” serunya panik begitu melihat aku tersungkur memegang d**a. Ia berlari ke arahku, memelukku.
Aku ingin menjawab, tapi lidahku kelu. Nafasku pendek, tubuhku menggigil hebat. Aku hanya bisa menatap wajahnya dengan mata yang mulai basah.
“Bu…” suaraku nyaris tak terdengar, “ini semua bukan mimpi.”
Ibuku tak mengerti, tapi ia memelukku lebih erat.
Dan di antara pelukannya, aku merasakan denyut jantungku kencang, terantuk di d**a seperti benda asing yang berusaha keluar.
Aku menatap ke luar jendela.
Langit sudah tak lagi merah, tapi abu-abu kehitaman. Angin berhenti. Udara hening. Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar sadar.
Aku bukan sedang bermimpi.
***