Aku sadar sekarang.
Ini bukan mimpi. Bukan bayangan, bukan pengulangan yang bisa kutertawakan seperti halusinasi buruk.
Ini nyata! terlalu nyata!
Dunia di sekelilingku masih tampak sama, kabut tipis di sore hari, bayangan pepohonan di kejauhan, dan suara jangkrik yang mulai muncul di antara angin. Tapi di dalam dadaku, aku bisa merasakan denyutan yang berbeda. Seperti detak waktu yang ingin berhenti tepat di detik ini. Karena Malam itu akan datang.
Malam sialan!
Malam p*********n.
Tapi aku tidak akan membiarkannya terjadi lagi.
Tidak malam ini. Tidak kali ini.
Aku mengambil jaketku dan berlari keluar rumah tanpa sempat menjelaskan apa pun pada Ibu. Udara sore menampar wajahku. Jalanan tanah berlumpur memantulkan cahaya oranye matahari yang hampir tenggelam. Setiap langkah yang kutapaki terasa berat, bukan karena tenaga, tapi karena kenangan yang masih menempel di tanah ini.
Semua terlihat sama.
Terlalu sama.
Desa ini seperti salinan dari hari sebelumnya. Daun-daun jatuh di tempat yang sama, embun di batu masih membentuk pola yang sama. Bahkan suara ayam dari kandang sebelah terdengar dengan jeda yang sama.
Aku berlari menuju sawah di sebelah timur. Tempat di mana Davin biasanya mengukur aliran air untuk proyeknya. Tapi di sana, hanya ada semilir angin dan gemericik air dari parit kecil. Tidak ada Davin. Tidak ada siapa pun.
“Davin!” teriakku.
Suara itu menggema, tapi tak ada jawaban.
Aku melanjutkan ke irigasi, tempat Laila pernah duduk sambil membaca catatan proyek mereka. Tapi yang kutemui hanya genangan air dan bayangan tubuhku sendiri yang bergetar di permukaannya.
Aku berlari lagi, kali ini ke arah balai desa. Jalan batu yang kulewati masih diapit menhir-menhir dengan ukiran aksara Sunda Buhun di permukaannya. Dulu aku tidak memperhatikan bentuknya. Tapi kini, di bawah cahaya sore yang mulai redup, aku sadar: ukiran itu bukan sekadar tulisan. Polanya seperti formasi lingkaran tertutup yang mengunci sesuatu di dalam desa ini.
Aku berhenti sebentar, menatap ke langit.
Burung-burung terbang rendah, dan awan berwarna merah tua seperti luka yang menganga.
Aku menggigit bibir, lalu melanjutkan langkah.
Sampai di balai desa, pintu-pintunya terbuka. Aku memanggil lagi, tapi hanya suara pintu kayu yang bergoyang pelan menjawabku. Lantai bambu di dalam balai desa berderit lembut ketika aku melangkah masuk. Meja panjang di tengah ruangan masih tertata, ada piring dan gelas kosong di sana, sisa jamuan makan siang tadi.
Tapi tidak ada siapa pun.
Aku memukul meja dengan kepalan tangan.
“Ke mana kalian semua?!”
Suara itu menggema keras, lalu tenggelam dalam sunyi.
Aku menutup mata, memaksa otakku berpikir.
Jika kejadian ini mengikuti pola malam sebelumnya, maka mereka akan kembali ke rumah… ke rumahku.
Laila, Dessy, Resti… mereka pulang duluan, ya mereka pasti di sana.
Mereka akan mencoba menyelamatkan Isna, seperti sebelumnya, dan semuanya akan berakhir dengan darah.
Tidak kali ini. Aku tidak akan biarkan siapapun mati.
Aku berlari kembali ke rumah, menembus jalan desa yang mulai gelap. Asap dari dapur rumah-rumah penduduk membumbung, membawa aroma kayu bakar dan dedaunan kering. Tapi semua itu terasa asing.
Langkahku cepat, nafasku pendek. Jantungku berdetak tak beraturan, mungkin karena sisa luka yang kutinggalkan di waktu sebelumnya atau karena rasa takut yang tak lagi bisa kusebut takut.
Rumahku sudah terlihat dari kejauhan, samar di balik kabut senja. Aku langsung membuka pintu tanpa mengetuk.
“Bu! Pak!” seruku.
Mereka berdua menoleh dari ruang tengah, wajah mereka kaget bercampur bingung.
“Widar, kunaon, Nak?” tanya Ibu sambil berdiri dari kursi. “Kenapa kamu teh lari-lari kayak gitu?”
“Ada teman-temanku, Bu… mereka pulang ke sini nggak? Laila, Resti, Dessy?”
Ayah ikut berdiri. Tatapannya dingin, tapi tidak marah. “Enggak. Dari tadi Bapa teu liat siapa-siapa datang, Nak.”
Aku menatap wajah mereka satu per satu, mencoba mencari kebohongan. Tapi tidak ada mereka benar-benar tidak tahu. Aku merasa lemas. Tanganku gemetar, tenggorokan kering. Semua yang kulakukan sia-sia.
Mereka tidak di sini.
Atau mungkin sudah… di bawah?
Pikiran itu membuat tubuhku membeku.
Di bawah rumah.
Di tempat Isna dipasung.
Aku melangkah pelan, menatap ke arah bawah rumah tempat pintu rahasia berada. Setiap langkah terasa seperti menghitung waktu mundur menuju sesuatu yang tidak bisa kuhindari.
“Widar,” panggil Ibu pelan. “Kamu mau ke mana?”
Aku berhenti di depan pintu kamar.
“Bu,” kataku tanpa menoleh. “aku ingin merubah sesuatu”
Ibu tidak menjawab. Tapi aku tahu dia mengerti, meski sebagian dari dirinya menolak.
Aku membuka kain hitam yang menutupi tiang-tiang bawah rumah. Kain itu kaku, lembab, berbau tanah dan debu tua. Begitu terangkat, udara lembab dan dingin langsung menyeruak bau lumut dan sesuatu yang lebih berat, seperti darah yang lama mengering.
Aku menunduk. Di bawah rumah panggungku, ada ruang yang hanya sedalam dua meter. Satu meter di antaranya adalah tinggi tiang penopang, dan satu meter sisanya adalah lubang yang digali di tanah, cukup untuk menampung satu tubuh manusia.
Aku menyalakan lilin. Api kecil itu bergetar, menyinari dinding batu pondasi yang dipenuhi lumut tua. Ada jejak air yang menetes pelan dari sela kayu di atas kepala, membentuk suara ritmis—tik… tik… tik…—seperti detak waktu yang enggan bergerak maju.
Cahaya kuning lilin menari di udara, menampakkan sosok yang terbaring di lantai batu.
Isna.
Tubuhnya kurus, sangat kurus, seolah daging di tubuhnya hanya sisa dari pertarungan panjang melawan sesuatu yang tak bisa dilihat. Ia diikat dengan tali dari serat pohon yang sudah mengering dan di permukaannya terukir tulisan Sunda Buhun, mantra yang aku tak sepenuhnya mengerti. Di bawah tubuhnya ada lingkaran besar dari arang dan darah yang mengering, dengan simbol-simbol spiral di sekelilingnya.
Lingkaran itu seperti pagar sihir, dan di tengahnya Isna menjadi pusat segalanya.
Aku berjongkok, nafasku pendek. “Ya Allah, Isna…”
Tapi sebelum aku menyentuhnya, suara kecil itu terdengar.
Suara yang pernah kupikir takkan pernah kudengar lagi.
“A… Widar…”
Aku terpaku.
Nada suaranya lembut, lirih, tapi sangat jelas. Nada yang sama seperti dulu, ketika dia memanggilku di sawah, meminta bantuanku memetik buah di atas pohon.
Lilin di tanganku bergetar.
“Isna?”
Ia menggerakkan kepalanya perlahan, rambut panjangnya jatuh menutupi sebagian wajah. Matanya… belum sepenuhnya hidup, tapi di balik pandangan kosong itu aku melihat sesuatu yang dulu pernah kukenal, ketenangan seorang adik yang polos.
Dadaku sesak. Aku ingin langsung memeluknya, tapi kakiku menahan diri. Ini bisa saja tipuan. Aku tahu betul iblis itu meniru suara, gerak tubuh, bahkan perasaan yang paling dalam.
“Siapa kamu?” suaraku bergetar, setengah takut, setengah berharap.
Isna diam sebentar. Lalu bibirnya bergerak pelan.
“Aku… Isna, A. Kalau siang, aku masih bisa menahan dia. Tapi sebentar lagi… kalau malam datang, aku nggak tahu… aku bisa jadi siapa.”
Kata-kata itu membuat lilin di tanganku bergoyang, apinya meliuk seperti ingin padam.
Aku tetap ragu. “Mana bisa aku percaya? Kamu bisa aja tipu aku lagi.”
Ia menunduk, suaranya nyaris tak terdengar.
“A masih ingat waktu aku jatuh ke sungai di belakang kebun?”
Aku membeku.
“Airnya deras, aku nggak bisa nafas. Tapi Aa terjun, padahal Aa waktu itu teh belum bisa berenang. Aku pikir bakal mati waktu itu. Tapi Aa nyelametin aku”
“A, Aku belum pernah bilang terima kasih.”
Lidahku kelu.
Isna melanjutkan, suaranya semakin bergetar.
“Aku belum pernah bilang maaf juga. Karena waktu terakhir kita ketemu… aku bukan aku lagi.”
Lilin di tanganku menetes, panasnya menyentuh kulit tapi aku tak peduli. Aku hanya bisa menatap wajah adikku yang hancur itu. Luka-luka di tangannya seperti bunga hitam yang tumbuh dari kulitnya sendiri. Rambutnya sangat kusu, dan di antara helaiannya, tampak tali mantra yang membelit lehernya, seakan menahan sesuatu agar tidak keluar.
Aku tak kuat lagi menahan air mata.
Kupeluk lututku sendiri, menunduk, lalu terisak tanpa suara.
“Isna…”
Kata itu keluar seperti serpihan nafas yang tertinggal di tenggorokan. “A… Aa udah lama banget ninggalin kamu. Aa pikir kalau belajar, kuliah, bisa ngeluarin kita dari desa ini. Tapi Aa datang dan membuatmu lebih buruk…”
Isna menatapku, matanya mulai berkaca.
“Maafin A, gara-gara Isna, Bapa, Ibu, temen-temen Aa bahkan Aa. Semua mati di tangan Isna bahkan dua kali. Aku ga tega tapi aku ga bisa nahan.”
Aku mendekat, menghapus air mata dari wajahnya dengan tangan yang gemetar.
“Sekarang Aa disini. Aa nggak mau kehilangan Bapa, Ibu, Temen Aa, dan Kamu. Aa ga mau gagal lagi.”
Ia menatapku lama, seperti berusaha memastikan aku benar-benar nyata.
Lalu bibirnya bergerak perlahan, membentuk senyum yang nyaris tak terlihat.
“Kita bisa keluar, A?”
Aku mengangguk cepat.
“Aa bakal bawa kamu pergi dari sini. Dari Hulu Wulung, dari semua ini. Kita bakal keluar bareng.”
Isna menggeleng pelan.
“A nggak ngerti… desa ini bukan cuma tempat. Ini jerat.”
“Kalau kita pergi, mereka nggak akan diam.”
“Aku nggak peduli!” seruku nyaris histeris. “Biarin mereka, biarin adat, biarin Ki Wira, biarin iblis apa pun itu, Aa bakal bawa kamu keluar malam ini!”
Lilinku hampir padam, tapi aku menyalakan lagi dengan korek kecil dari saku. Api menyorot ke tali yang mengikat tubuh Isna. Tulisan kunonya seolah hidup, bergemerincing halus seperti bisikan di udara. Setiap kali aku mencoba menyentuhnya, rasa panas seperti bara menjalari jari-jariku.
Tapi aku terus mencoba.
Kutarik simpul pertama. Seratnya kaku, tapi perlahan terlepas.
Kutarik lagi simpul kedua.
Tiba-tiba Isna menggeliat. Tubuhnya menegang.
“A… jangan…”
“Apa?” aku berhenti, panik.
“Kalau Aa buka semuanya, dia bangun. Jangan…”
Aku menatapnya, setengah tak percaya. “Isna, kalau kamu tetap di sini, kamu bakal mati!”
“Mati nggak apa-apa, A. Tapi jangan sampai dia bangun. Jangan sampai…”
Suaranya terhenti. Tubuhnya gemetar hebat.
Aku sadar ada sesuatu di balik suaranya. Desis pelan, sangat pelan, seperti napas dari bawah tanah. Udara di sekitarku mendadak berat. Lilinku meredup, apinya bergetar meski tak ada angin.
“A…”
Suara Isna berubah. Bukan miliknya. Berat, serak, seperti dua suara yang bicara bersamaan dari tenggorokan yang sama.
Aku mundur satu langkah. “Isna…”
Wajahnya menengadah. Matanya kini bukan lagi mata manusia, putih sepenuhnya, seolah dicuci bersih dari segala warna. Bibirnya tersenyum perlahan, senyum yang lebih seperti luka. Nada itu adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang sudah menungguku sejak lama.
Tanganku refleks mundur, tapi aku tahu, aku tak bisa lari. Karena apa pun yang terjadi, aku sudah berjanji akan membawanya pergi.
“Aku tahu kamu masih di situ, Isna,” kataku, berusaha tenang. “Denger ya… Aa nggak akan ninggalin kamu, seberapapun kerasnya dia nyoba ngambil kamu.”
Isna bergetar hebat, lalu menunduk, menangis tanpa suara. Air matanya hitam.
Aku menghapusnya dengan tangan telanjang, dan kulitku rasanya terbakar, tapi aku tidak melepaskannya.
“A…” suaranya kembali, pelan dan lirih. “Kita harus pergi… sebelum matahari tenggelam.”
“Aku tahu.”
Kupeluk tubuhnya, seraya menarik tali terakhir yang masih melingkar di lehernya. Mantra di permukaan tali itu berkilat samar, seperti bara api yang mati perlahan. Tali yang tak mau lepas itu itu aku bakar ujungnya dengan sisa lilinku.
“Isna,” bisikku, “kita pergi sekarang.”
***