Langit sore di Hulu Wulung terlihat seperti bara yang menyala perlahan. Matahari belum benar-benar tenggelam, tapi cahayanya memudar di antara kabut tipis yang menggantung di atas pepohonan. Dari sela-sela dahan, sinarnya terpantul ke tanah, membentuk warna oranye kusam seperti darah kering.
Aku berjalan pelan, menapaki tanah pekarangan yang lembab. Di punggungku, tubuh Isna terkulai. Nafasnya pendek, tapi teratur, antara lelah dan menahan sesuatu yang lebih dalam. Aku bisa merasakan berat tubuhnya bukan hanya dari daging dan tulang, tapi dari beban yang dia pikul di dalam jiwanya.
“A… silau…”
Suara itu lirih, pelan, tapi cukup untuk membuat langkahku berhenti. Isna menyembunyikan wajahnya di punggungku, seolah cahaya sore adalah musuhnya. Aku menegakkan badan, menutup wajahnya dengan kain kusam yang kubawa dari bawah rumah. Tubuhku terasa panas, tapi aku terus berjalan. Setiap langkah terasa berat, seperti tanah di bawahku mencoba menahan dengan tangan-tangan tak terlihat.
Sampai di halaman, aku berhenti.
Ayah dan ibu sudah berdiri di sana.
Ayah memegang tongkat kayu, matanya menatap tajam. Ibu menatapku dengan mata yang merah, mungkin dari tangis yang tak tuntas.
“Widar…” suara ayah terdengar berat, “Nanaonan kamu?!”
Aku menatap mereka berdua. Nafasku masih berat, peluh menetes di pelipis, tapi aku tidak menurunkan Isna dari punggungku.
“Aku mau nyelamatin semuanya,” jawabku datar, tapi di dalam dadaku suara itu bergetar.
“Balikeun! Maneh hayang aya musibah ka kampung ieu?! (Kamu ingin musibah menimpa kampung ini?!” Suara Ayahku yang kian meninggi.
Ibu menutup mulutnya dengan tangan. “Widar… kumaha lamun éta hal jahat balik deui, kumaha lamun desa ieu ruksak deui, Nak?” (Widar… kalau hal jahat itu datang lagi, bagaimana kalau desa ini hancur lagi, Nak?)
Aku menggenggam erat tangan Isna yang lemah di punggungku. Lidahku kelu, aku tahu kegelisahan orang tuaku, tapi jika ku utarakan semuanya, makhluk itu tak akan mengizinkan. Belum sempat aku jawab, aku mulai mendengar suara di belakang rumah yang mulai ramai.
Samar-samar aku mendengar langkah-langkah dan suara gaduh, makin lama makin dekat. Suara orang-orang yang bersahutan dengan satu kalimat yang sama dan keras, lantang, menggema di antara kabut sore.
“Bebaskan Isna!”
Aku menoleh. Dari ujung jalan, obor-obor mulai terlihat. Nyala oranye yang menari di udara seperti lidah api dari neraka. Entah mengapa mereka menyalakan obor, padahal matahari masih lama untuk padam.
“Bebaskan Isna!”
“Bebaskan Isna!”
Suara itu seperti mantra yang menggema bersahut-sahutan. Hanya satu pertanyaanku? Kenapa? mereka yang dulu meminta agar Isna di pasung malah meneriakan untuk membebaskan Isna?
Dari kejauhan muncul wajah-wajah yang kukenal, Davin di depan, dengan mata marah yang tak biasa kulihat sebelumnya. Di sampingnya Laila, dengan kain putih tersampir di pundaknya, memeluk tubuh Dessy dan Resti yang tampak ketakutan.
Dan di belakang mereka, berdiri Ki Wira dan Nyi Laras. Langkah Ki Wira tenang, tapi matanya menusuk. Seakan tahu segalanya tanpa perlu dijelaskan.
Aku memundurkan langkah. Ayah dan ibu kini berdiri di antara kami, wajah mereka campuran antara takut dan pasrah.
“A… ayo pergi,” bisik Isna di punggungku. Tapi suaranya berubah berat, seperti ada yang mengendalikannya.
Aku menelan ludah.
Davin maju selangkah, obor di tangannya menyala liar.
“Siapa yang kamu bawa itu, Wid?” katanya ketus.
Aku diam.
“JAWAB!”
Aku menarik napas dalam. “Dia… adik A.”
Mata Davin membelalak.
Aku mengangguk pelan.
“Apa benar dia yang kalian pasung?” suara Davin meninggi.
Aku menatap tanah.
Angin sore berhembus, mengibaskan rambut Isna yang kini menutupi sebagian wajahku. Aku bisa merasakan tatapan Davin seperti bara di dadaku.
“Kenapa lo bisa tega, Wid?” Davin melangkah mendekat, suaranya parau tapi tajam. “Lo tahu itu nggak manusiawi?! Dia adik lo!”
Aku tersadar kenapa mereka tidak bisa aku temukan dimanapun. Tapi kenapa mereka tahu tentang Isna? apa warga desa yang menceritakan nya?.
“Jawab Wid!” Suara Davin meninggi.
Aku mencoba menjawab, tapi tak ada kata yang keluar. Karena setiap kalimat yang ingin keluar hanya akan terdengar seperti alasan.
Davin semakin dekat. “Gue tanya, kenapa lo dan keluarga lo harus pasung dia?! Lo pikir cuma lo yang punya hak nentuin siapa yang bisa hidup atau nggak?!”
“Cukup, Davin!” seru ibuku, suaranya pecah. “Kamu nggak ngerti!”
Davin menoleh tajam ke arah ibu, wajahnya memerah karena emosi. “Justru itu, Bu! Kami semua nggak ngerti! Kami nggak ngerti kenapa desa ini bisa setenang tapi sebusuk ini!”
Ki Wira melangkah maju, tongkat kayunya menghantam tanah pelan tapi suaranya seperti menggetarkan d**a.
“Cukup.”
Seketika suasana menjadi hening.
Hanya api obor yang berdesis.
Ki Wira menatapku. “Widar… naon anu maneh rencana keun ayeuna? (Apa yang kamu rencanakan sekarang?)”
“Kabur, nya?” (Kabur, ya?)
Nada suaranya datar, tapi kalimat itu seperti pisau.
Warga yang berdiri di belakangnya mulai berbisik. Lalu seperti gelombang yang pecah, suara mereka meninggi.
“Kabur?”
“Dia mau kabur bawa yang dikutuk!”
“Jangan biarkan dia pergi!”
Warga saling sahut, merespon kata-kata Ki WIra. Ki Wira menatapku dengan tatapan seperti menimbang dosa dan lagi-lagi aku hanya bisa menatap tanah.
Davin menggeleng, langkahnya mendekat lagi. “Widar, lo gila. Lo nggak tahu apa yang lo lakuin.”
Aku menunduk, merasa Deja-vu. Hari mulai gelap dan Davin kembali marah tentang isna, seperti waktu itu! Dalam diam aku mendengar warga sudah bergumam membisikan sesuatu seakan menentukan nasibku. Aku sudah di posisi tak bisa menjawab apapun.
Ki Wira mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi.
“Tangkap mereka!”
Aku berbalik, berlari sekencang yang aku bisa, sambil memeluk Isna yang mulai berteriak dalam dua suara sekaligus, satu suara adikku yang minta tolong, dan satu lagi suara lain yang lebih tua, lebih dalam, dan sangat asing..
Aku berlari.
Tidak sempat berpikir. Tidak sempat menoleh.
Tanah basah menampar kakiku setiap langkah, dedaunan kering meletup di bawah sol sandal. Nafasku tersengal, tapi aku tidak berhenti. Di punggungku, Isna terkulai dengan napas tersengal-sengal. Tubuhnya dingin, tapi aku tahu ia masih hidup. Masih di sini.
“Tahan ya, Na…”
Aku menunduk, menembus semak belukar di belakang rumah. Duri semak menoreh lengan, tapi rasa sakit itu kalah jauh dari kepanikan yang menggelora di dadaku.
Di belakang, suara teriakan warga semakin dekat. Mereka menyalakan obor, berteriak-teriak memanggil namaku.
“Widar!”
“Tinggalkeun éta b***k, éta bukan adi maneh deui! maneh hayang sa kampung celaka?”
Aku menggertakkan gigi.
Tidak. Kali ini tidak lagi.
Aku menengok sekilas. Di antara kerumunan itu, kulihat sekilas sosok ayah dan ibu. Mereka juga ikut dikejar warga, tapi langkah mereka tersendat, usia telah memakan kekuatan di kaki mereka. Wajah ibu terlihat cemas, sedangkan ayah antara amarah dan putus asa.
Teriakan mereka menembus pekat kabut:
“Lari, Widar!”
Dan tepat setelah itu, aku mendengar jeritan lain, bukan dari mereka, tapi dari warga yang akhirnya menangkap keduanya.
Aku berhenti sejenak, ingin menoleh… tapi aku tahu, kalau aku berhenti sekarang, semuanya selesai.
“Maafin Widar Ayah… Ibu…”
Aku berlari lagi. Lebih dalam ke arah menuju gelap.
Kabut makin tebal.
Pohon-pohon besar tumbuh berjejal di kiri-kanan jalan tanah, akar-akar mereka menjulur seperti ular yang melingkar, siap menjerat siapa saja yang lewat. Langit di atas tertutup daun, membuat dunia seolah hanya tersisa dua warna, hitam dan abu-abu. Namun aku tahu tempat ini. Aku pernah melewatinya dulu, waktu kecil, sebelum semuanya berubah.
Hutan larang.
Tempat di mana orang-orang desa tak berani menjejakkan kaki. Tempat waktu seolah berhenti berjalan.
Napas Isna berat di bahuku, tapi aku terus melangkah. Tubuhku goyah, lututku gemetar, tapi satu-satunya hal yang terus menggiring langkahku hanyalah keyakinan, kalau aku bisa keluar dari sini, semua mungkin berubah.
Aku berlari terus memasuki hutan larang. Warga desa sepertinya tak berani mengejar karena hukum adat. Sampai akhirnya, aku tiba di sebuah tempat yang tak asing tapi terasa asing pada waktu bersamaan.
Di tengah kabut yang bergulung seperti napas raksasa, berdiri sebuah prasasti batu. Tinggi, selebar tubuh dua orang dewasa, tertancap miring ke tanah, dengan lumut dan akar menjalar di sekelilingnya.
Di depannya ada batu datar lebar, seperti meja batu, sekitar tiga meter panjangnya. Di atasnya tumbuh bunga liar, dan di antara celahnya terselip beberapa sisa dupa yang telah padam. Dan di belakang batu itu, enam batu menhir berdiri tegak, tersusun melingkar seperti penjaga kuno.
Aku mendekat.
Tulisan-tulisan di batu besar itu samar, pudar, tergores waktu. Tapi bentuk hurufnya aku kenal, aksara Sunda Buhun. Terlalu tua untuk k****a, tapi aku bisa merasakan sesuatu yang bergetar darinya. Seperti setiap lekukan hurufnya memancarkan gema yang tak terdengar.
Namun yang membuatku berhenti bukan prasasti itu. Bukan tulisan-tulisannya. Tapi dua sosok yang berdiri di hadapan batu itu. Yang satu tinggi besar, mengenakan ikat kepala dan baju pangsi hitam lusuh,matanya tajam tapi hangat.
Yang satunya lagi, seorang kakek tua dengan tongkat kayu, rambut putih panjang, dan pakaian compang-camping.
Keduanya memandangku, seolah sudah lama menungguku.
Hatiku berdebar. “Kang… Kang Bagja?”
Lelaki itu tersenyum kecil, langkahnya mantap menghampiriku.
“Akhirnya datang juga, Nak,” katanya pelan. Suaranya seperti dulu hangat, tenang, tapi kini bergetar entah karena sedih atau lega.
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Aku hanya berdiri di sana, dengan d**a naik-turun, memeluk Isna yang kini tampak lemah di pelukanku.
“Kang… kenapa Kang ada di sini?”
Kang Bagja tidak menjawab. Ia hanya merogoh tas kecilnya, lalu mengeluarkan sesuatu sebuah buku lusuh dengan sampul coklat pudar.
Aku langsung mengenalinya.
Itu buku catatan yang dulu sering dia tunjukkan padaku waktu kecil. Buku yang berisi tulisan-tulisan tentang dunia luar, tentang kota, tentang laut, tentang cara berpikir manusia di luar Hulu Wulung. Buku yang menyalakan keinginanku untuk belajar.
“Ini milikmu,” katanya, sambil menyerahkannya. “Kau pernah mengembalikannya dulu. Tapi kali ini, bawa lagi. Kau akan butuh ini.”
Aku menerima buku itu dengan tangan gemetar. “Kang… apa maksudnya?”
Bagja tidak menjawab. Ia hanya menatap Isna di pelukanku, lalu mengulurkan tangan dan mengelus rambut adikku perlahan.
Wajahnya muram.
Mata itu memandang Isna seperti seseorang yang kasihan namun bukan sembarang iba, tapi lebih dari itu. Seperti aku yang memandang adikku. Aku hendak bertanya, tapi suaraku tertelan.
Kang Bagja sudah melangkah mundur, berdiri kembali di tempatnya semula, menatap ke arah kakek di sampingnya.
Kakek itu kini menghampiriku perlahan. Tongkat kayunya menekan tanah setiap langkah, menimbulkan bunyi "tek" yang pelan tapi menggema di d**a.
Wajahnya penuh keriput, tapi matanya jernih seperti air sungai di pagi hari. Saat dia tersenyum, aku bisa merasakan hawa dingin menjalar di seluruh tubuh.
“Anjeun émut ka saya?” katanya pelan.
Aku menatapnya bingung. “Aki?”
“Iya…” ia terkekeh pelan, lalu mengelus kepala Isna. Aku menatapnya lebih saksama. Matanya, cara bicaranya, semuanya terasa familiar, tapi aku tak bisa menempatkannya di mana.
“Kakek… sebenarnya siapa?” tanyaku hati-hati. “Apa kakek kenal sama Kang Bagja?”
“Panggil we Aki dengan nama Ki Darta.”
Aku terdiam. Nama itu terasa asing, tapi juga seperti sesuatu yang pernah kudengar jauh di dalam ingatan.
“Abdi moal ngajelaskeun ayeuna,” katanya lagi. “Can waktuna.”
Ki Darta mendekat. Tangannya yang keriput menepuk pundakku perlahan. Sentuhannya dingin, tapi berat, seperti batu yang menempel di d**a.
“Maaf, kali ini kamu harus menderita lagi.”
Kata-kata itu seperti cambuk di udara, menghantam jantungku langsung. Sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, kabut di sekitar mulai bergerak, berputar, menelan warna dunia. Batu-batu menhir di belakang mereka menyala samar, cahaya biru kehijauan memancar dari celah-celahnya, seolah ada sesuatu yang bangkit dari dalam tanah.
Suara-suara aneh mulai terdengar, seperti napas ribuan orang yang berbicara bersamaan dalam bahasa yang tak kukenal. Tulisan di prasasti batu berpendar, lalu satu per satu memudar seolah terbakar dari dalam.
Aku ingin berlari, tapi tubuhku menolak.
Mataku tiba-tiba berat. Pandanganku berputar.
Kang Bagja masih di sana, menatapku dengan senyum sedih.
Ki Darta masih berdiri dengan tongkatnya, wajahnya kini tampak jauh lebih tua, bahkan seperti mulai menghilang.
Dunia tiba-tiba berubah buram.
Suaraku hilang. Nafasku tertahan di d**a.
Lalu semuanya padam.
Hitam.
Sunyi.
***