Malam Merah di Hutan Larang.

1802 Kata
Aku terbangun dengan kepala berdenyut. Dingin batu menembus kulit punggungku, lembab, dan amis seperti disiram darah yang belum kering. Cahaya rembulan menetes dari celah pepohonan, membentuk bayangan yang menari di wajahku. Aku masih di tempat yang sama, di antara batu-batu besar itu. Prasasti Hulu Wulung, tempat aku kehilangan kesadaranku. Tapi sekarang malam sudah turun. Kabut tipis melayang seperti nafas hutan yang hidup. Tanganku tak bisa digerakkan. Aku baru sadar, pergelanganku diikat dengan tali kasar dari anyaman ijuk, keras dan menyesak. Kakiku juga. Aku mencoba meronta, tapi hanya meninggalkan perih di kulit. “Lo udah sadar?” Suara itu datang dari balik cahaya obor. Samar, tapi aku mengenalnya. Davin. Cahaya obor di tangannya bergoyang lembut, menerangi sebagian wajahnya. Wajah yang dulu kukenal penuh percaya diri, sekarang tampak keras dan dingin. Ada guratan kekecewaan di sana. “Di mana Isna?” tanyaku cepat, mengabaikan pertanyaannya. Nafasku belum stabil, dadaku serasa ditimpa batu. “Dia udah dibawa Ki Wira,” jawab Davin datar. “Kita akan perlakukan adik lo kayaknya manusia.” Aku menggigit bibir, darahku mendidih. “Lo nggak tahu apa yang Isna akan lakukan! Isna itu—” “Cukup!” Davin menghentakku dengan suara keras. Api di obor bergoyang liar seolah terkejut. “Lo pikir gua nggak tahu, Wid? Lo pikir gua nggak ngerti lo sembunyiin cewek itu di bawah rumah lo selama ini?” Aku menatapnya tak percaya. “Lo nggak ngerti apa-apa!” Pukulan mendarat di pipiku. Keras. Meninggalkan panas dan nyeri yang memantul ke seluruh kepala. Tapi sakit itu kalah jauh dibanding rasa hancur di dadaku. Davin menatapku, nafasnya berat, penuh amarah yang dia tahan. “Gua nggak ngerti apa-apa? Lo yang ga manusiawi Wid!” Suara itu pecah di antara pohon-pohon besar. Aku bisa mendengar sesuatu bergeser di semak, entah ranting jatuh atau hanya hutan yang ikut mendengarkan. Aku menunduk menyadari kesalahanku dan keluargaku yang memasung Isna. Davin tidak salah, meski ada alasan, tapi aku tahu bukan ini caranya. Nafasku keluar seperti asap dingin. “Vin... orang tuaku, gimana mereka?” Davin terdiam. Api di obor bergetar halus, seolah ikut ragu untuk bersuara. Akhirnya ia menghela napas panjang. “Maaf... gua nggak bisa nahan amarah warga.” Dunia seketika bergetar di sekitarku. Aku tidak menangis, air mataku seperti enggan keluar. Hanya jantungku yang terasa hampa, seperti berlubang. Tapi satu hal yang aku sadari, Davin... Dia mungkin menjagaku, dia yang menyelamatkanku dari amukan warga. Aku menatapnya lemah. “Vin, dari mana lo tahu tentang Isna?” Davin menatapku balik, keningnya berkerut. “Kenapa lo nanya gitu?” “Karena siapapun yang cerita... bukan seperti yang lo pikir.” Suaraku gemetar. “Gua tahu gua salah, tapi gua punya alasan, dan sekarang cepat bebasin gua sebelum hal buruk terjadi.” Davin diam. Tatapannya goyah. Aku bisa melihat pikirannya berputar cepat, berperang dengan apa yang dia yakini. Aku tahu, dibalik logika kotanya, masih ada bagian dari Davin yang percaya padaku. “Aku dikasih tahu sama—” Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, jeritan panjang menembus hutan. Tajam. Serak. Bukan teriakan hewan. Bukan pula suara manusia biasa. Aku menegang, darahku membeku. Davin langsung menoleh ke arah suara itu. “Suara... siapa itu?” tanyanya dengan nafas memburu. “Vin, dimana teman-teman kita?” tanya ku cemas. “Mereka bersama isna” Jawab Davin. mataku melotot, menyadari apa yang akan terjadi. Tapi belum sempat aku bereaksi, Davin sudah berlari, meninggalkan obornya yang jatuh ke tanah. Api kecil itu menjilat ilalang kering, menebar aroma gosong yang pahit. “Davin! VIN!!!” aku berteriak. Tapi dia sudah menghilang di balik gelap. Aku berusaha melepaskan diri, tapi tali ini terlalu kuat. Ijuknya kasar, menyayat kulit setiap kali aku mencoba merentangkan tangan. Jeritan itu terdengar lagi , kali ini lebih dekat. Dan di antara gema itu, aku bisa mendengar sesuatu seperti tawa, serak dan jauh, tapi jelas. Isna. Dadaku bergetar hebat. Aku menggigit tali, menariknya dengan semua tenaga yang kupunya. Serat-seratnya menusuk bibirku, tapi aku tak peduli. “Isna…” suaraku nyaris tak keluar. “Teman-teman, jangan sampai malam itu terjadi lagi!.” Tali itu masih belum lepas. Tapi aku terus memaksa, tubuhku gemetar, tangan berdarah. Jeritan berubah jadi tangisan, lalu hening. Kabut mulai turun, perlahan menelan tanah dan kaki-kaki pohon. Di sela-selanya aku melihat cahaya-cahaya kecil bergerak seperti kunang-kunang, tapi terlalu besar untuk itu. Aku berhenti sejenak, mendengar. Ada langkah-langkah berat di sekitarku, seperti sesuatu sedang berjalan pelan, memutariku. “Davin?” tanyaku, mencoba meyakinkan diri. Tak ada jawaban. Langkah itu berhenti tepat di belakangku. Aku bisa mendengar napasnya. Panjang. Dalam. Aku tak berani menoleh. Dan dari balik bahuku, aku mendengar suara lirih… sangat lirih… seperti suara perempuan yang pernah kukenal. “A... Widar...” Aku menelan ludah, mataku memejam, antara ingin percaya dan ingin lari. Tali di tanganku bergetar, bukan karena aku, tapi karena sesuatu menyentuhnya dari belakang. Sesuatu yang dingin. Licin. Lalu ada yang berbisik di telingaku, begitu dekat hingga nafasnya mengembun di kulitku. “Ayo kita main A.. hihi?” Baru kali ini aku mendengar tawa se seram ini. Aku berteriak sekeras-kerasnya. Tapi suaraku ditelan hutan, Aku berlari bukan karena ketakutan. Tapi mencemaskan teman-temanku. Aku tidak tahu bagaimana akhirnya aku bisa berdiri. Aku hanya ingat tali itu robek sebagian dan aku berlari secepat yang bisa kulakukan, dengan kaki masih separuh terikat. Aku berlari menembus semak, tersandung akar, menubruk batang pohon. Tubuhku penuh luka, tapi aku terus memaksa. Langkahku berat, tapi suara jeritan itu lebih berat lagi menekan dadaku. Setiap aku melangkah, ranting pecah di bawah kaki, dan di antara derak itu, tali yang masih menjerat pergelangan tanganku robek sedikit demi sedikit. Aku berlari seperti orang gila, menembus kabut tebal yang menelan dunia. Jeritan itu semakin dekat. Tapi aku tak tahu… siapa yang memanggil siapa. Lalu aku melihatnya. Dessy. Tubuhnya terbaring di tanah yang penuh dedaunan jatuh namun basah, matanya menatap kosong ke langit, seolah masih melihat sesuatu yang tak bisa kulihat. Ekspresi ketakutan itu masih menempel di wajahnya yang membeku, kaku, seperti patung yang pernah hidup. “Dessy…” Aku berlutut di sampingnya, mencoba menyentuh bahunya. Tapi tubuh itu terlalu dingin. Terlalu hening. Aku memanggilnya lagi, lirih, berharap ada keajaiban kecil. Namun aku melihat sesuatu yang membuat seolah darahku berhenti mengalir. Kepalanya. Tidak lurus. Tidak sejajar dengan tubuh. Putarannya salah, ia berbalik melebihi arah pandang manusia seharusnya. Lehernya retak seperti kayu tua yang dipelintir. Aku menutup mulut dan matanya dengan tangan gemetar. Udara dingin menusuk paru-paruku, tapi tak lebih dingin dari kenyataan yang menatap balik. “Maaf,” bisikku, suaraku nyaris tidak terdengar. “Aku terlambat lagi.” Aku memaksa berdiri, menelan rasa perih yang naik dari tenggorokan. Masih ada yang lain. Masih ada harapan. Aku harus cepat. Aku berlari lagi, menembus kabut yang semakin tebal. Dunia di sekitarku seperti berubah bentuk, setiap langkah terasa seperti berputar di tempat yang sama. Tapi suara tangisan, samar dan patah-patah, menarikku ke arah yang lebih gelap. Aku menapaki tanah yang terasa basah. Licin. Langkahku terhenti. Cahaya bulan menetes lewat sela daun, dan di bawah sinar itu, aku melihat mereka. Resti dan Davin. Mereka berpelukan. Tubuh mereka saling bersandar, berlutut, di bawah cahaya rembulan yang harusnya menjadi momen indah dan damai… Hingga aku menyadari sesuatu yang aneh dari keheningan itu. “Vin…” panggilku. Tidak ada jawaban. Aku mendekat. Menepuk bahu mereka pelan. Tubuh mereka goyah, lalu tumbang bersamaan. Cahaya bulan mengenai mereka, memperlihatkan sesuatu yang lebih buruk dari mimpi manapun. Kakiku terpijak sesuatu yang hangat. Aku menunduk… Darah. Menggenang, mengalir pelan ke akar-akar, menembus tanah. Bau besi dan amis memenuhi udara. Dan di tempat perut Resti dan Davin seharusnya tertutup, sekarang hanya ada lubang besar yang kosong, seperti tanah yang baru digali. Aku terdiam. Tubuhku gemetar. Tapi tidak ada air mata. Sepertinya aku sudah terbiasa melihat temanku terbunuh oleh iblis itu. Namun Rasa sakitnya masih sama, bahkan sekarang bercampur dengan penyesalan. “Apa yang harus aku lakukan, Vin…?” Aku jatuh berlutut, tanganku gemetar menahan tubuh yang hampir roboh. Namun sebelum pikiranku sempat memudar, suara lain terdengar, teriakan, kali ini jelas, tinggi, dan penuh rasa takut yang aku kenal. Laila. Aku bangkit, meski kakiku goyah. Tidak ada waktu berpikir. Tidak ada waktu untuk takut. Aku hanya tahu satu hal, aku tak boleh terlambat lagi. Aku berlari tanpa arah, menembus semak dan akar, mencakar udara yang semakin dingin. Cahaya bulan di atas seperti mengikuti langkahku, tapi cahaya itu berubah warna lebih merah, lebih ganjil. Sampai akhirnya aku melihatnya. Di tengah tanah lapang yang dipenuhi kabut, berdiri dua sosok. Isna… dan Laila. Laila berlutut, wajahnya penuh air mata, bibirnya bergetar tanpa suara. Sementara Isna menatapnya seperti boneka rusak, tanpa emosi, tanpa ampun. Matanya gelap, benar-benar gelap. Aku mencoba berteriak, tapi tenggorokanku kering. Suara yang keluar hanya desah, seperti hembusan angin. “Isna… hentikan…” Laila menoleh. Matanya menemukan aku di balik kabut, seolah ingin meminta tolong. Namun sebelum langkahku maju, kepala Laila tiba-tiba jatuh dari tubuhnya. Menggelinding pelan di tanah berlumur darah. Dan berhenti tepat di depan kakiku. Mata itu… masih memandangku. Aku tak bisa bergerak. Dunia berhenti. Hanya ada suara nafas yang memburu dan tawa kecil melengking nan menyeramkan seolah menertawakanku. Tawa itu milik Isna. Bukan! Tapi iblis yang menumpang dalam tubuhnya. Aku berlutut, tubuhku menggigil. Segalanya hancur. Teman-temanku. Orang tuaku. Semuanya mati, dan aku gagal menyelamatkan siapa pun. Isna berjalan perlahan mendekat. Langkahnya menyeret tanah, menimbulkan suara yang tak wajar, seperti tulang diseret di batu. Dia berjongkok di depanku, menatapku dengan wajah yang bukan miliknya. Tangan kecil itu mengangkat daguku, memaksaku menatap matanya. Hitam. Dalam. Tak berujung. “Sia rek ngalawan aing.”(Kamu mau melawan aku? dengan bahasa sunda kasar). Ucap mahluk itu yang membuat bulu kudukku merinding. Senyum itu melengkung pelan, lalu berubah menjadi tawa serak yang memecah malam. Aku terdiam. Dunia berputar di sekelilingku. Aku ingin mati saja. Semua ini akan lebih mudah jika aku mati saja. Tapi... aku teringat sesuatu. Janji itu. Janji kecil di bawah rumah. "Aku bakal nyelamatin semuanya." Aku mengangkat kepala, menatap Isna atau apapun yang ada di tubuhnya dengan mata yang penuh tekad. Wajah Isna berubah. Tatapan matanya tajam seperti pisau. Tubuhnya bergetar kecil seolah tak suka dengan keberanianku, lalu dia meludah tepat di wajahku. Tangannya bergerak cepat. Sakitnya datang sebelum aku sempat sadar. Sesuatu menusuk perutku hangat, dalam, basah. Lagi aku merasakan kematian lagi, meski aku sudah mengalaminya beberapa kali tapi rasa sakit yang tak bisa dibayangkan itu tetaplah sama. Dunia menjadi kabur. Aku jatuh, darahku mengalir, mengisi tanah hutan yang sudah merah sejak awal. Aku menatap langit, bulan di atas tampak pucat dan pecah-pecah. Sementara di antara remang, sesuatu di dadaku bersinar. Buku itu. Buku pemberian Kang Bagja. Halamannya membuka sendiri, diterpa angin yang tak ada sumbernya. Cahaya samar keluar dari dalamnya, seperti nafas yang hidup. Aku mencoba menggapainya. Tapi jariku kaku. Dunia mulai lenyap satu per satu, suara, warna, rasa. semua mulai meninggalkanku dengan rasa sakit ini. Hanya ada satu hal yang tersisa di kepalaku: “Aku akan kembali menyelamatkan semua orang”. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN