Aku Tahu Aku Kembali

1846 Kata
Air di bawah kakiku diam. Tidak beriak, tidak berbau. Hanya bening,terlalu bening, hingga setiap langkahku seperti berjalan di atas langit yang terbalik. Aku menatap ke bawah. Cahaya lembut menembus air dangkal itu, memantulkan biru muda langit yang sama persis di atas kepalaku. Aku berada di tempat yang… tak memiliki batas. Langit dan air menyatu, seperti cermin yang memantulkan diriku dari segala arah. Tidak ada hutan. Tidak ada darah. Tidak ada Isna. Aku berdiri di sana, sendirian, dengan tubuh yang ringan, tapi dadaku masih terasa nyeri, nyeri yang tak berasal dari luka fisik. Nyeri karena aku sadar satu hal sederhana. Aku sudah mati. Untuk sesaat, pikiran itu memberiku kelegaan. Akhirnya selesai. Tidak ada lagi rasa takut, tidak ada lagi kengerian, tidak ada lagi pengulangan yang menghancurkan. Aku menutup mata. Merasakan angin lembut yang tidak berasal dari arah manapun. Hangat. Menentramkan. Lalu, tiba-tiba, aku menangis. Tanpa sebab. Tanpa rencana. Tangis yang pecah seperti bendungan yang terlalu lama ditahan. Aku menangis bukan karena mati. Aku menangis karena gagal. Karena semua yang kucoba selamatkan justru hancur di hadapanku. “Aku cuma… mau nyelamatin kalian…” Suaraku pecah, tak ada gema, hanya diserap oleh langit luas dan air yang diam. “Kenapa… kenapa semuanya berakhir seperti ini?” *** Lalu di antara kesunyian itu, terdengar suara langkah kaki. Lembut Berirama. Suara itu tidak menimbulkan riak di air, seolah penapaknya tidak benar-benar menyentuh permukaan. Aku menoleh. Di kejauhan, seseorang berjalan mendekat. Rambutnya panjang dan putih, tergerai lembut mengikuti angin yang tak ada. Janggutnya pun panjang, namun terawat, dan wajahnya… tenang, memancarkan cahaya yang tidak menyilaukan. Pakaiannya serba putih, gamis tipis dengan jubah panjang yang melambai lembut setiap langkahnya. Aku mengenalnya. Bahkan sebelum ia bicara. “Ki Darta…” Suaraku gemetar. Pria tua itu tersenyum, matanya teduh. “Iya, Widar.” Aku menatapnya lekat. Ini… benar-benar dia. Tapi juga bukan dia yang kukenal. Tidak ada tongkat kayu di tangannya, tidak ada bungkusan kain lusuh di punggungnya. Gerakannya ringan dan berwibawa, bukan seperti pengemis yang dulu kutemui di jalan pasar. “Ki Darta…” ulang ku lagi, kali ini dengan suara yang lebih pelan. “Apa ini… akhirat?” Ia tertawa kecil, lembut, tanpa mengejek. Tawa yang membuat udara di sekitarku ikut bergetar pelan. “Tidak, Widar,” katanya. “Ini bukan akhirat.” “Lalu… apa aku sudah mati?” Ki Darta menggeleng. Senyumnya tidak berubah, hanya matanya yang sedikit menyipit, seolah menimbang jawabannya. “Belum.” “Lalu… ini di mana?” Ia mendekat beberapa langkah, lalu berhenti di hadapanku. Air di bawah kakinya tidak berubah sama sekali. “Ini… dunia di antara. Tempat di mana hidup dan mati tidak bersentuhan, tapi bisa saling melihat.” Aku terdiam, mencoba memahami. “Dunia… di antara?” Ki Darta menatap langit biru yang tidak bergerak, lalu berkata pelan, “Di sini waktu berhenti, Nak. Tidak ada masa lalu, tidak ada masa depan. Yang ada hanya yang kau bawa dari hatimu sendiri.” Aku menunduk. Hatiku. Yang kubawa hanya penyesalan. “Ki…” kataku pelan, “apa semua ini nyata? Apa yang aku alami… semua pembunuhan itu, darah itu… mimpi? Atau… halusinasi?” Ki Darta menatapku. Lama sekali. Sampai-sampai aku merasa pandangannya menembus dadaku. Lalu ia berkata, “Widar, apakah kau tahu perbedaan antara mimpi dan kenyataan?” Aku menggeleng. Ia tersenyum, lalu menunjuk ke air di bawah kami. “Coba lihat bayanganmu.” Aku menatap ke bawah. Air itu memantulkan wajahku, tapi bukan wajahku yang sekarang. Itu aku yang lain. Lebih muda. Lebih tenang. Di baliknya, samar-samar, kulihat siluet Isna kecil berlari di sawah, tertawa di bawah cahaya matahari sore. Aku menarik nafas tajam. “Itu… masa lalu.” Ki Darta mengangguk pelan. “Waktu tidak lenyap, Widar. Ia hanya berputar. Dan setiap kali kau menolak takdirmu, waktu mencari jalan untuk mengulanginya.” Aku menatapnya tak mengerti. “Jadi semua ini… pengulangan?” Ia tersenyum samar. “Bisa jadi. Tapi bisa juga bukan. Mungkin ini bukan dunia yang berulang, melainkan dirimu yang belum selesai.” Aku tak menjawab. Hanya menatap bayangan yang mulai kabur di air. Hening kembali mengisi udara. “Aku… cuma mau menolong mereka, Ki.” “Aki tahu.” “Tapi aku malah membunuh mereka. Dua kali. bukan tiga kali.” “Itu bukan kau, Widar.” Ucap Ki Darta sambil menepuk pundakku. “Kalau bukan aku, siapa? Aku yang membawa mereka ke Hulu Wulung. Aku yang diam waktu semuanya mulai aneh. Aku yang… menutup mata waktu Isna dipasung.” Ki Darta menunduk. Ada kelembutan di matanya yang membuat dadaku semakin sesak. “Kadang, Widar… kebaikan yang kau maksud tidak sama dengan kebaikan yang dikehendaki dunia.” Aku mengerutkan alis. “Aku nggak paham.” “Isna tidak dikurung karena dia jahat. Tapi karena ada sesuatu di dalam dirinya yang tidak boleh terlepas. Dan kau… menjadi penghubung antara dua sisi yang seharusnya tidak pernah bertemu.” Aku diam. Air di bawahku bergetar perlahan, menimbulkan riak kecil yang meluas ke segala arah. “Ki…” suaraku parau, “…kalau begitu, apa semua ini takdir?” Ia menggeleng pelan. “Takdir itu seperti jalan panjang, Widar. Kau boleh berjalan di tengah, atau keluar dari garisnya. Tapi setiap langkah tetap meninggalkan bekas. Dunia mengingat. Alam mengingat. Bahkan waktu pun mengingat.” Aku menatapnya. “Lalu aku harus bagaimana?” Ki Darta mengangkat tangannya, menunjuk ke arah langit. Dari awan yang tadi tenang, turun seberkas cahaya tipis, hangat, lembut, dan perlahan menyentuh dadaku. Cahaya itu terasa familiar. Cahaya dari buku yang Kang Bagja berikan. “Yang kau bawa dari dunia, Widar, adalah pengetahuan. Tapi yang kau tinggalkan… adalah luka.” “Dan luka, bila tidak disembuhkan, akan terus membuka pintu yang sama.” Aku merasakan sesuatu di dalam dadaku bergetar. Seperti nafas yang lahir kembali “Jadi… aku masih bisa memperbaiki semua ini?” Ki Darta menatapku dengan tatapan yang dalam, lalu mengangguk sekali. “Iya, itulah kenapa Aki menemui kamu! Jangan biarkan iblis itu bersenang-senang dengan mengulang waktu terus menerus.” Cahaya di sekeliling kami mulai memudar. Langit perlahan berubah warna, dari biru muda menjadi oranye keemasan. Siluet awan bergerak lambat, seperti melukis langit dengan tangan raksasa. Aku merasa hangat untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Air di bawahku kini tenang, tidak lagi memantulkan wajahku, tapi langit sore yang damai. “Widar,” katanya pelan, “aku tahu rasanya. Kau bukan satu-satunya yang kehilangan sesuatu di dunia ini. Tapi sekarang… ini kesempatanmu.” Aku menatapnya ragu. “Kesempatan?” “Iya,” ujarnya dengan tenang. “Kesempatan untuk melawannya. Untuk memutus lingkaran itu.” Mataku terbelalak. “Melawannya? Gimana caranya, Ki? Aku aja ga bisa ngelawan rasa takutku sendiri.” Ki Darta tidak langsung menjawab. Ia menatap jauh, seakan matanya menembus batas air yang tak berujung itu. “Caranya tidak mudah, Widar. Tapi pertama-tama, kau harus tahu, iblis itu bukan hanya bersemayam di tubuh adikmu. Ia menanamkan dirinya ke dalam waktu. Itu sebabnya… ia bisa mengulang sesukanya.” Aku menelan ludah. “Lalu siapa dia sebenarnya? Apa namanya?” Ki Darta memejamkan mata sesaat, lalu menatapku serius. “Pertanyaan itu… jangan kau lontarkan di sini.” “Kenapa?” “Karena jika kau menyebut namanya, ia akan tahu. Ia akan mendengar, meskipun di tempat ini. Dan kalau itu terjadi…” Ki Darta menatap ke langit yang mulai gelap perlahan, “…kita tidak akan pernah bisa bertemu di sini lagi.” Aku terdiam. Untuk pertama kalinya, aku merasa takut bukan karena bayangan Isna atau darah, tapi karena kesunyian yang terlalu hidup. Ki Darta mengangkat tangannya, dan sesuatu mulai muncul di sekeliling kami. Suara denting halus seperti logam beradu terdengar dari segala arah. Satu per satu cermin-cermin berwarna emas bermunculan dari bawah air, mengelilingi kami dalam formasi seperti gugunungan wayang golek. Permukaannya berkilau lembut, memantulkan cahaya oranye dari langit yang tidak pernah punya matahari. Aku menatapnya, terpesona. “Apa ini, Ki?” “Retakan Waktu, celah akibat “DIA” menggunakan kekuatan semaunya.,” jawabnya lirih. “Di dalamnya, ada semua titik di mana hidupmu pernah dimulai… dan berakhir.” Aku melangkah pelan ke arah salah satu cermin. Di sana, kulihat diriku tertidur di kursi depan mobil Kang Bagja, adegan yang sangat kukenal. Cermin lain menampilkan aku di kamar kos, terbangun dengan wajah pucat dan mata merah. Cermin berikutnya menampilkan rumah di desa Hulu Wulung, penuh cahaya sore. Setiap permukaannya bergetar halus, seolah menunggu sentuhan kecil untuk memecahkan batasnya. “Jadi…” suaraku gemetar, “aku bisa memilih… di mana aku akan bangun?” Ki Darta mengangguk. “Kau sudah cukup kuat untuk melakukannya sendiri.” “Kalau gitu aku ingin bangun di kamar kos ku, aku akan mencegah semua ini terjadi dari awal.” Ucapku dengan tatapan mata serius. “Sayangnya, dia tak akan membiarkan itu WIdar” Dia menepuk kembali bahuku, meyakinkanku akan dia. Aku berpaling menatap cermin-cermin itu lagi. Semuanya mengundang, tapi sekaligus menakutkan. Lalu mataku berhenti pada satu cermin yang berbeda, sedikit lebih redup dari yang lain, dan aku sama sekali tak mengenali tempat di dalamnya. Hanya dinding bambu yang sangat aku kenal tapi bukan rumahku, tapi dibalik itu, aku merasa… hangat. Aku menunjuk cermin itu. “Yang ini…” Ki Darta tersenyum samar. “Itu pilihan yang bagus.” Tiba-tiba air beriak di kakiku, mataku tertarik pada sesuatu yang muncul perlahan dari air, Sebuah buku. Buku yang kukenal. Buku yang dulu Kang Bagja berikan padaku. Buku yang muncul juga saat aku hampir mati di hutan. Kulihat kulitnya lembab, tapi tidak rusak, dan cahaya samar keluar dari celah halamannya. Aku menunduk, mengangkatnya dengan hati-hati. Buku itu hangat di tanganku. “Ki… buku ini… kenapa selalu muncul?” “Itu penanda, Widar,” katanya. “Pengetahuan yang kau simpan di dalam hatimu. Selama kau mengingatnya, kau tidak akan pernah benar-benar hilang.” “Kalau begitu, aku berangkat Ki” Ki Darta tersenyum samar. “Benar. Tapi kali ini, jangan ulangi kesalahanmu. Jangan biarkan hatimu dipenuhi rasa bersalah. Rasa itu yang membuat iblis kuat.” Aku menggenggam buku itu erat. Di sekelilingku, cermin-cermin mulai bergetar, seolah tidak sabar menungguku memilih. Aku melihat semuanya sekali lagi, lalu menatap Ki Darta dengan pandangan mantap. “Dan Ki…” “Ya?” “Sebenarnya, siapa kau?” Pertanyaan itu membuatnya terdiam sesaat. Angin yang tadi lembut kini berhenti. Rambut putihnya tak lagi bergerak. Hanya mata tuanya yang menatapku dengan kedalaman yang sulit diukur. “Waktu untuk itu belum datang,” katanya akhirnya. “Kau akan menemukanku lagi di desa itu. Tapi bukan seperti ini.” Sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, Ki Darta mengulurkan tangan dan menyentuh punggungku. Sentuhannya hangat, tapi ada dorongan lembut di baliknya. “Sekarang waktunya, Widar. Pergilah.” “Ki, tunggu—” Cermin yang kupilih bersinar terang. Cahayanya terlalu kuat, menusuk mataku, membuatku tak bisa melihat apa pun selain putih. Tubuhku seolah ditarik, disedot ke dalamnya. “Ki Darta!” aku berteriak, tapi suara ku tenggelam dalam cahaya itu. Sebelum semuanya lenyap, aku masih sempat mendengar suaranya bergema jauh di kejauhan — “Waktu bukan musuhmu, Widar. Tapi jangan pernah menentangnya.” Cahaya menelan segalanya. Air, langit, dan aku semuanya larut jadi satu warna. Lalu hanya gelap. Sunyi. Tapi entah kenapa, kali ini aku tahu… Aku tidak mati. Aku akan kembali. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN