Arkan mengamati wajah desa yang sekian tahun dia tinggalkan. Rumah-rumah penduduk yang dulu berjarak dengan pemisah kebun atau pekarangan, kini sudah dipadati rumah-rumah baru. Jalanan yang dulu licin dan berbatu kini sudah rata meskipun hanya dilapisi pasir dan kerikil. Lumayan meski sangat jauh dari kata layak. Beberapa bangunan milik desa kini sudah mulai direnovasi menjadi bangunan permanen. Rumah yang dindingnya terbuat dari bata juga mulai ada. Tidak lagi mengandalkan papan kayu. Mungkin karena keterbatasan ketersediaan kayu untuk membangun rumah. "Wonone sing caket mpun telas, pak. Jatine sakniki teseh alit-alit. Nek onten kajeng nggih teng alas gede mpriko." (Hutannya yang dekat sudah habis, pak. Pohon jatinya masih kecil-kecil. Kalaupun ada kayu ya di hutan besar [hutan yang di

