"Maafkan saya. Tolong maafkan saya." Perawat itu menghiba. Arkan masih enggan untuk menjawab. Hatinya terlalu sakit. Jemarinya menggenggam tangan Najma dengan erat seakan Najma lah yang dia harapkan bisa mengurai sakit itu. Perempuan itu menangis tergugu dan kemudian berkata lagi, "saya menunggu anda sembilan tahun, Pak. Saya setiap hari ke sini untuk meminta maaf pada anak anda. Mengurus makam anak anda untuk menunggu kedatangan anda. Tolong maafkan saya. Gusti Allah sudah membalas saya kontan, Pak. Tolong maafkan saya." perempuan itu melangkah mendekati Arkan yang tadi memundurkan langkahnya, dengan terseok-seok dan seperti menahan sakit. Arkan memanglah sangat membenci sosok itu, tapi dia tetaplah manusia yang memiliki hati. Melihat bagaimana wanita itu kesulitan bergerak membuatnya

