26. Sedalam Duka *********************************** Ammar menarik napas lalu melepasnya perlahan. Nyeri itu merasuk sampai ke ulu hati. Dia yang terkasih. Yang tersayangi. Yang dicintai sudah lolos Ilahi. Raganya tak bisa lagi disentuh, tubuh itu sudah tenang dipeluk bumi. Senyumnya tertinggal sebagai kenangan. Ingin sekali dikeluarkan dari yang diminta dalam kerongkongan, tapi sekuat tenaga dia tahan. Rungunya masih mencetak lekat pengajaran yang selama ini dienyam. "Agama kita meminta untuk menunggu dan ikhlas. Semua yang hidup pasti bermuara pada kematian. Jangan tangisi orang yang telah meninggal, sebab itu akan menjadi beban berat, langkahnya akan tertahan oleh airmata yang dituntut." Nasihat Abi Ghaly mengitari benak Ammar lagi. Ikhlas memang harus. Tapi untuk tidak sedih, sang

