“Kenapa dia bisa tahu?” Ini batin Talita yang bicara. “Aku benar ‘kan?” Aska berhasil meraih tangan Talita. Talita tersentak dari lamunanya saat mendengar suara Aska. “Nggak usah ngaco!” Gadis itu langsung mengibaskan tangan Aska yang menggenggamnya. “Aku bisa tau apa yang kamu pikirkan.” Aska terlihat sangat serius. Talita tersenyum ketir. “Hem!” Gadis itu kini terbahak. “Ha-ha-ha ....!” Tawa itu adalah tawa yang penuh luka, Aska hanya diam terpatung, demi apapun hatinya terasa nyeri saat mendengar tawa dari Talita. “Wah! Hebat sekali! Lo sampai bisa baca pikiran gue.” Talita maju, mendorong keras d**a bidang Aska, sedangkan pria itu hanya terdiam meskipun tubuhnya sedikit bergetar. “Lo pikir gue bakal percaya dengan seorang pembunuh kayak lo? Sampai-sampai darah daging sendiri, lo

