Rakha' PoV
Aku tak mengerti, kenapa mama dan papa terlihat langsung suka—akrab dengan seseorang yang menyebabkan Ella meninggal? Apa karena perempuan itu menunjukkan kesedihannya? Yang secara langsung, minta dikasihani?
Mama terus mengajak perempuan itu mengobrol. Aku hanya sesekali saja menyahut malas. Masih tak habis pikir, kenapa seseorang yang telah menyebabkan calon istriku meninggal, malah disambut hangat? Mama bahkan terang-terangan memuji perempuan itu cantik. Aku akui, dia memang sangat cantik dari dulu. Tapi, mama tak tahu saja bagaimana aslinya dia. Mulut perempuan itu jahat, pernah mengeluarkan kata-kata yang sangat buruk. Yang masih membekas dalam ingatanku hingga saat ini.
Bisa jadi, perempuan itu bermuka dua? Berpura-pura sedih, berbicara lembut untuk menarik simpati? Atau, dia mungkin berubah sejak keadaan keluarganya tak lagi kaya seperti dulu? Bisa saja seperti itu. Namun, aku sama sekali tak peduli dengan kehidupannya yang sekarang mau gimana pun. Dia tetap perempuan yang buruk bagiku, dan juga bersalah atas apa yang menimpa Ella.
"Ayu masih nanti kan pulangnya?" tanya mama saat kami baru saja selesai makan.
"Iya, Ma." Aku yang menyahut. "Aku juga masih ada yang mau diobrolin sama dia."
"Ooh ya udah."
Aku mengajak Ayu ke teras halaman belakang. Kesal dari tadi melihat perempuan itu. Pertama, dia memasang raut wajah sedih saat awal-awal berbicara dengan mama. Dan setelahnya, dia tampak akrab sekali berbicara dengan mama seolah tak pernah berbuat kesalahan saja.
Aku memperhatikannya yang menunduk saat kami sudah berada di teras belakang. Aku mencecarnya. Dia bertanya akan pulang jam berapa, namun aku menahannya. Masih banyak yang harus aku bicarakan dan juga aku akan membawanya ke rumah yang akan kami tempati setelah menikah nanti. Rumah yang telah aku beli sejak sebelum memutuskan untuk menikah. Rumah yang telah selesai direnovasi, yang seharusnya aku tinggali bersama Ella. Belum mencintai Ella, aku yakin bersamanya.
Akan menikah dengan Ayu sebagai pengantin pengganti, dia yang akan menjadi penghuni rumah itu. Setidaknya untuk jangka waktu tertentu. Aku sedang berpikir untuk menyusun rencana.
"Iya, Mas. Akan saya bersihkan nanti."
"Hmmm. Soal persiapan pernikahan, jangan lupa terus koordinasi dengan Inka."
"Iya. Oh ya, Inka kemarin nanya soal foto preweding, apa udah bilang sama kamu juga?"
"Enggak usah pakai gitu-gituan, nggak penting. Menikah dengan kamu yang sekedar pengantin pengganti, nggak perlu ada foto-foto begitu."
"Oke."
"Nggak perlu ada acara lamaran ke rumah kamu pun, langsung menikah aja." Buat apa? Dia tak se-spesial itu, hanya pengganti yang tak perlu harus melakukan serangkaian proses menuju pernikahan.
"Iya."
"Oh ya, untuk kebaya dan gaun pengantin, saya dan dia udah fitting sebelumnya. Kamu tetap pakai apa yang telah dia pilih sebelumnya."
"Iya, Mas."
"Apa lagi yang mau kamu tanyakan? Oh ya, tolong jaga baik-baik nama saya. Semisal kamu punya pacar, segera putuskan karena saya nggak mau nanti rekan kerja atau orang yang saya kenal ngeliat kamu sama laki-laki lain ketika sudah menjadi istri saya."
"Saya nggak punya pacar."
Cantik begitu, tak memiliki kekasih? Kebanyakan pilih ini pastinya. Bisa jadi masih sama seperti dulu, menolak orang dengan cara yang tak baik—melontarkan kata-kata yang menyakitkan. Ayu ini adek kelas 2 tahun di bawahku, tetapi usianya 3 tahun lebih muda dariku. Pada usia 26 tahun saat ini, dia masih kebanyakan pilih seperti dulu? Sok kecantikan sekali. Memang cantik sih, tapi kan zaman sekarang banyak perempuan cantik bertebaran. Terlalu pemilih, yang ada laki-laki malas mendekati.
"Bagus kalau begitu. Emm... apa lagi yang mau kamu tanyakan?"
"Apa setelah menikah, saya masih boleh tetap bekerja?"
"Nggak. Cukup di rumah saja, urus rumah. Nggak akan ada asisten rumah tangga, jadi kamu harus bertanggung jawab sepenuhnya untuk urusan rumah. Saya juga lebih suka masakan rumah, jadi kamu harus memasak untuk saya."
"Saya bisa lakukan itu semua sambil tetap bekerja. Saya bisa mengatur waktunya. Selama ini, saya tetap bisa melakukan tugas rumah dengan tetap bekerja."
“Terserah kamu lah! Yang penting, tugas rumah nggak keteteran. Saya nggak mau dengar keluhan apa pun nantinya.”
“Iya.”
***
Pukul 3 sore, kami pun pamit kepada orang tuaku menuju rumahku.
“Duduk di depan!” ujarku di dekat telinganya sebelum memasuki mobil, saat dia hendak membuka pintu mobil di belakang. Tak mau mendengar ceramah panjang lebar dari mama jika perempuan itu duduk dibelakang.
“Saya di belakang aja, Mas. Enggak apa-apa.” Dia menjawab dengan cicitan pelan.
“Nurut sama saya. Masih ada orang tua saya di sini, saya nggak mau mama sampai komentar panjang lebar.”
Perempuan itu membuka pintu di depan. Aku pun memutari mobil yang sebelumnya sudah aku buka kuncinya. Sepanjang perjalanan, kami hanya diam. Tak ada yang ingin aku bicarakan. Kesunyian menemani kami, hingga setengah jam kemudian tiba juga di rumahku.
“Alat buat bersih-bersihnya ada kan, Mas?” tanya Ayu saat aku sedang membuka sabuk pengaman.
“Ada lah! Kan tadi saya bilang, sebelumnya ada Mbak yang bersih-bersih. Emangnya pakai apa? Ngelap debu pakai baju sendiri?”
“Saya cuma mastiin aja.”
“Hmmm.”
Memasuki rumah, aku memberitahunya di mana letak alat kebersihan. Ada sapu, alat pel, komoceng dan vacuum cleaner
“Ada dua kamar di bawah dan dua di bawah. Satu ruangan kecil lagi di atas, itu bakalan jadi gudang nantinya. Kamu bersihin semua, termasuk kamar mandinya juga. Ada dua di bawah, di dalam kamar utama dan dekat dapur. Dua lagi di atas di dalam dua-duanya. Sampe malam juga nggak apa-apa. Katamu udah biasa ngerjain tugas rumah, ‘kan?”
“Iya.”
Alisku terangkat naik, tak ada protes darinya. Bagus lah, itu konsekuensinya yang telah berbuat kesalahan dan pembalasan atas rasa sakit hatiku dulu. Ini belum seberapa, lihat saja nanti. Perempuan itu pantas mendapatkannya.
“Bersihkan kamar utama dulu, karena saya akan rebahan di sana.” Rumah ini telah di isi perabotan. Masing-masing kamar telah ada kasur dan lemari. Dan kamar utama yang ada TV dan sofabed, lebih luas dan lengkap isinya dibanding kamar lainnya.
“Baik.” Dia terlihat membuka cardigannya dan meletakkan di atas kursi meja makan.
Aku duduk di sofa ruang tengah menunggu perempuan itu yang telah memasuki kamar utama, setelah aku membuka kuncinya. Aku memejamkan mata dengan duduk bersandar.
Ketiduran, aku terbangun ketika merasakan tepukan pelan pada bahuku.
“Pindah istirahat di kamar, Mas. Sudah saya bersihkan kamarnya, dan barusan udah nyalain AC juga supaya adem kamu istirahatnya.”
Aku mendengkus di dalam hati. Sok peduli sekali. Mencari perhatian?
Tak merespon ucapannya, aku langsung bangkit berdiri menuju kamar. Tak lanjut tidur, aku menyalakan TV. Sialnya, kenapa aku tak fokus pada tayangan di layar TV sana? Aku malah kepikiran perempuam itu. Apa dia lelah nanti?
Aku menggeleng cepat. Tidak boleh kasihan. Tidak boleh lemah terhadapnya yang dulu menghinaku dan telah membuat Ella meninggal dunia. Biarkan saja semisal dia lelah pun, resiko yang harus dia tanggung. Lagi juga tak ada apa-apanya dengan apa yang Ella rasakan. Pasti Ella waktu itu kesakitan sekali sebelum menghembuskan napas terakhirnya.
Terdengar bunyi ketuka pintu beberapa saat kemudian. Aku melangkah ke arah pintu tersebut, membukanya.
“Ada apa?”
“Saya haus, Mas. Saya lihat kulkas kosong dan air di dispenser pun juga. Saya— “
“Beli.” Aku mengambil dompet dari saku celanaku, lalu menyodorkan selembar uang seratus ribuan padanya. “Ada minimarket di dekat sini. Jalan lurus ke arah kanan dan belok kiri setelahnya.”
“Baik.”
“Sekalian belikan minuman untuk saya juga, air mineral.”
Perempuan itu mengangguk. “Ada lagi, Mas?”
“Nggak. Itu aja. Pakai sendal jepit di depan kalau mau ke sana.” Aku melihatnya pakai heels tadi, masa jalan kaki ke minimarket doang pakai heels?
“Iya, oke.”
Dia ini manut-manut saja, apa di dalam hatinya sedang melawan atau merencanakan sesuatu? Tak akan aku biarkan si sombong berbuat sesuatu yang tak aku sukai.