Pagi sekali, aku berkunjung ke makam. Hari ini adalah hari lahirnya Kak Elang, dan aku telah membeli bunga dan kue semalam. Jadwalku hari ini ke rumah orang tuanya Rakha yang belum diberitahu jam berapanya, Rakha belum memberitahu. Jadi, pagi sekali aku harus sempatkan datang mengunjungi Kak Elang. Meski raganya tak lagi berada di sisiku, tetap aku membawa kue.
Jam 6, aku sudah berada depan makamnya. Penjaga makam di sini sepertinya sudah sangat mengenaliku sangking seringnya berkunjung ke sini.
"Aku wakilin tiup lilinnya ya, Kak?" Aku tersenyum, lalu menyalakan korek di tanganku. "Aku selalu berdo'a agar kamu tenang di dalam sana. Tapi, aku juga mau minta maaf. Maafin aku yang belum sepenuhnya bisa merelakan kepergian kamu."
Aku meniup lilin pada kue tersebut, lalu meletakkan kue tersebut di atas nisan. "Kak, mau cerita. A-aku.. aku minta maaf karena kemarin ini bikin bagian depan mobil kamu jadi rusak. Cuma sekarang udah diperbaiki, tapi aku belum berani buat pakai lagi. A-aku... habis nabrak orang sampe meninggal. Aku nggak sengaja udah melenyapkan nyawa orang karena enggak hati-hati. Tapi, sumpah, aku sama sekali nggak ada niat celakai dia. Aku cuma sekilas nggak fokus ke depan, tiba-tiba motornya nyelip begitu aja dan berada di depan mobilku. Itu beneran terjadi begitu aja, tanpa bisa aku mengelak. Aku pingsan setelah itu, syok banget."
Aku menipiskan bibirku. "Dan sekarang semuanya jadi rumit. Aku merasa berdosa sekali telah membuat seorang anak yatim piatu meninggal dunia, padahal dia seharusnya akan menikah dalam waktu dekat ini sama kekasihnya. Ceritanya hampir sama kayak kita, Kak. Bedanya, aku si anak yatim piatu yang tetap hidup dan kamu sang kekasih baik yang pergi duluan dari dunia ini."
"Waktu kecelakaan itu, kenapa kamu nggak bawa aku pergi sekalian ikut kamu ke alam sana? Kenapa dia yang meninggal? Bukannya aku aja?"
Tak akan ada jawaban yang akan aku dengar darinya. Namun, seperti biasa, aku tetap setia bercerita apa pun. Keseharian—segala gundah yang aku rasakan, selalu aku ceritakan padanya yang sudah berada di alam yang berbeda.
"Kamu harusnya bawa aku, Kak." Tangisku pecah seketika. "Karena aku tetap hidup, aku jadi terpaksa harus khianatin kamu. Aku harus menikah dengan orang lain. Calon suami orang yang aku tabrak itu, memaksa aku harus menikah dengannya dan aku enggak punya pilihan lain. Maafin aku, Kak. Maaf... "
Menikah dengan orang yang tak aku cintai, sama sekali tak ada dalam bayanganku selama ini. Namun, aku sama sekali tak ada pilihan. Entah akan bagaimana ke depannya, aku tak terbayang apa pun. Setiap hari akan hidup bersama seseorang yang tak aku cinta dan sebaliknya juga. Belum lagi rasa benci yang terlihat sekali dari sorot mata lekaki itu.
"Aku terpaksa melakukan ini, enggak mau melebar ke mana-mana masalahnya. Takut keluargaku di bawa-bawa, sedangkan kamu tahu gimana sikap keluargaku ke aku selama ini. Dimaklumi ya, Kak, relain aku menghabiskan sisa hidupku bersama laki-laki lain. Meski kami akan menikah tanpa cinta, tapi tetap nantinya aku harus berbakti sebagai istri. Nggak apa-apa, 'kan? Tenang aja, aku akan pastikan selalu ada nama kamu dihatiku. Ada tempat spesial untuk kamu di dalam sini." Aku menekan-nekan dadaku, sakit rasanya. Belum pulih dari rasa kehilangan sejak beberapa bulan lalu, ditambah lagi dengan rasa sakit lainnya. Yang aku tak pernah terpikir sebelumnya akan menikah setelah kehilangan Kak Elang.
Aku menarik napas, ada rasa lelah menghadapi dunia yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Kali ini, aku enggak bisa lama ya, Kak? Aku hari ini ada agenda ke rumah orang tuanya laki-laki itu. Do'ain dari sana ya, semoga orang tuanya nerima aku dengan baik."
Satu setengah jam di sana, tak bisa lebih lama lagi karena masih tak jelas jam berapanya lelaki bernama Rakha itu memintaku ke rumah orang tuanya. Aku harus segera bersiap kapan pun, walau pagi ini juga. Makanya, aku tak bisa lama di makam.
Aku pun pulang naik ojek online. Tiba di rumah setengah jam kemudian, aku membuka tas dan melihat ponselku, ternyata ada pesan dan panggilan masuk dari Rakha. Aku pun mengetikkan balasan pesan untuk lelaki itu, yang langsung layar ponselku menampilkan tanda panggilan di saat aku hendak beranjak menuju kamar mandi.
"Hallo?"
"Kamu sengaja lama baru respon? Pengen menghindar?"
"Enggak ada begitu, Mas. Saya baru dari luar barusan, naik gojek dan nggak tahu ada telepon atau chat. HP di dalam tas saya."
"Jam 10 harus udah ada di sini."
"Iya, oke. Saya mau rapih-rapih dulu."
"Saya nggak bisa jemput. Arahin aja maps ke alamat yang barusan saya kirimkan."
"Iya."
"Satu lagi, saya ingatkan untuk nggak masang muka sedih di hadapan orang tua saya."
"Baik."
Aku pun keluar kamar, menuju kamar mandi yang letaknya di dekat dapur. Satu lagi kamar mandi, ada di dalam kamarnya adikku. Begitu akan masuk kamar mandi, terdengar suara mama.
"Kamu belum bikin sarapan jam segini, Yu?"
Biasanya, aku yang selalu membuat sarapan, kecuali sedang sakit kemarin ini.
"Belum, Ma." Aku niatnya mau beli saja keluar sejenak pakai motor adikku, mencari makanan di sekitar komplek. Tapi, aku buru-buru, tak sempat rasanya sekedar membeli sarapan. "Aku nggak sempat, barusan ke makam, terus— "
"Udah di alam lain, masih aja kecintaan sama dia? Ingat, Yu, kamu akan menikah dan harus fokus sama calon suami kamu."
"Iya, Ma."
"Ya udah, gih sana bikin sarapannnya!"
"Maaf, Ma, aku enggak bisa. Aku harus segera ke rumahnya laki-laki itu, yang mengajakku menikah."
"Ke rumahnya dia?" beo mama.
Aku mengangguk. "Rumah orang tuanya lebih tepatnya."
"Pasti rumahnya besar, kayak rumah kita dulu. Hmmm... nggak apa-apa, mama aja yang siapin sarapan pagi ini. Kamu siap-siap aja, dandan yang cantik. Kamu harus bisa bikin dia jatuh cinta, dan naklukkin orang tuanya juga. Jangan aneh-aneh, demi kebaikan dan kesejahteraan kamu juga ke depannya. Menikah dengan orang kaya, itu sangat baik untuk kamu dan keluarga kita."
Aku menghela napas. Paham sekali kesejahteraan yang mama maksud, yang tak jauh dari materi.
***
Jam 10 kurang, aku tiba di depan sebuah pagar rumah yang tinggi. Tampak rumah di dalamnya begitu besar. Aku menghela napas berkali-kali, hingga seorang satpam membuka pagar dan menanyaiku.
"Temannya Mas Rakha? Dengan Mbak siapa namanya? Biar saya sampaikan dulu."
"Dengan Ayu."
Aku berkirim pesan pun pada lelaki bernama Rakha tersebut, belum di balas.
Satpam tersebut berlalu, dan aku masih menunggu di balik pagar. Sesaat kemudian, baru dia kembali lagi dan menyuruhku masuk. Mengantarkanku sampai di depan pintu rumah, yang mana pintu rumah tersebut terbuka.
"Silahkan langsung masuk aja, Mbak."
Aku mengangguk. "Terima kasih."
Sungguh aku bingung sebenarnya. Langsung masuk, Rakhanya di mana? Ragu, aku melangkah perlahan dan seketika langkah kakiku terhenti mendapati Rakha berdiri di dekat pintu dengan celana selutut dan polo shirt hitam.
"Buruan! Orang tua saya sudah menunggu," ucapnya dingin.
Aku mengangguk. Mulai melanjutkan lagi langkah kakinya, walau di dalam sana jantungku berdegup dengan cepat. Aku berdo'a terus-terusan di dalam hati, semoga orang tuanya Rakha itu tidak sepedas Rakha mulutnya.
Hingga aku berhenti ketika Rakha juga menghentikan langkah di ruang tengah, yang mana terlihat seorang perempuan duduk di sofa sana. Posisiku masih di belakang sofa persis.
"Ma, ini udah datang orangnya."
Oh... mamanya ternyata. Ragu-ragu, aku mendekat dan langsung menyalami perempuan yang sedang duduk tersebut.
"Cantik sekali kamu ini," ujarnya setelah aku menyalami.
Perempuan yang merupakan mamanya Rakha itu tersenyum padaku. "Sama kayak namanya, Ayu."
Aku membalas senyuman perempuan itu. Agak legah, karena bukan tatapan sinis yang aku terima. Tapi tak tahu juga bagaimana setelah ini. Belum bisa membayangkan.
"Ayo, duduk dulu, Ayu."
"Terima kasih, Tante."
"Papamu panggil, Rakha."
Aku semakin deg-degan saja. Bagaimana reaksi papanya lelaki itu? Pasti Rakha ini sudah cerita jika aku adalah orang yang menyebabkan calon istrinya meninggal.
Perempuan paruh baya itu kembali menoleh padaku, setelah meminta asisten rumah tangga menyediakan minum.
"Tinggal di mana, Ayu?"
"Di Jagakarsa, Tante."
"Ooh. Ke sini naik apa barusan?"
"Saya naik taksi."
"Enggak usah tegang begitu, saya enggak makan orang, kok," ujarnya diikuti senyuman setelahnya. "Nanti pulang di antar sama Rakha aja."
Aku tersenyum canggung. Di antar Rakha? Mana mungkin lelaki itu mau.
"Tante, saya minta maaf atas apa yang telah terjadi, yang menimpa calon menantunya Tante." Meski tak sengaja, aku tetap harus meminta maaf. "Saya enggak sengaja." Aku menundukkan kepala.
"Sudah takdirnya seperti itu, Ayu. Kamu enggak perlu meminta maaf."
Aku mendongak, tak menyangka akan jawabannya perempuan paruh baya itu yang jauh berbeda dari Rakha. Anak dari perempuan itu terus-terusan cap aku sebagai pembunuh dari calon istrinya.
"Semua terjadi begitu aja, dan saya nggak bisa menghindar. Saya kaget."
"Saya paham, kok. Kondisi jalanan enggak bisa ditebak. Kadang kita udah mengendarai dengan benar, tapi ada orang yang tiba-tiba menyenggol kita."
"T-tante enggak marah sama saya? Saya udah bikin Rakha kehilangan calon istrinya."
"Kenapa harus marah?" Lagi, perempuan itu tersenyum, terlihat tulus. Bukan senyum yang dibuat-buat. "Kalau marah, berarti saya menyalahkan takdir Tuhan dong!"
Tapi anaknya Tante menyalahkan saya...
Kalimat yang hanya mampu aku gumamkan di dalam hati saja. Jika aku ungkapkan, Rakha pasti akan semakin marah padaku.
Tangannya Tante Maharani, mama dari lelaki yabg bermulut pedas itu meraih menyentuh tanganku. "Jangan merasa bersalah begitu. Apa yang udah terjadi, itu merupakan kehendak dariNya. Sudah suratan takdir."
Air mataku menetes begitu saja. Sungguh, tak ada niat menjual kesedihan. Hanya terharu mendengar kalimat bijak dari perempuan itu. Aku segera menyeka air mataku.
"Hei, kok kamu malah nangis?"
"Saya benar-benar merasa sangat bersalah, Tante. Harusnya Mas Rakha bisa menikah dengan kekasihnya sebentar lagi. T-tapi... dia harus kehilangan orang yang dicintainya karena kelalaian saya. Secara nggak langsung, saya lah perantara yang menyebabkan calonnya itu meninggal dunia."
"No no no, jangan bilang seperti itu." Tante Maharani menggeleng. "Takdirnya yang seperti itu, kamu jangan nyalahin diri kamu lagi."
Obrolan kami terhenti ketika seorang lelaki paruh baya yang terlihat masih gagah, mendekat ke arah kami. Papanya Rakha. Aku segera berdiri dan menyalami beliau.
"Saya Ayu, Om."
Sama seperti Tante Maharani, tak aku temukan ekspresi sinis atau marah pada lelaki paruh baya itu. Aku sangat-sangat bersyukur.
"Udah dari tadi?"
Aku menggeleng. "Baru datang, Om."
Semuanya duduk di ruang tengah saat ini, termasuk Rakha juga. Aku makin gugup saja, walau sambutan hangat aku dapatkan dari Tante Maharani.
"Tinggal di mana, Ayu?"
"Di Jagakarsa, Om."
"Masih tinggal sama orang tua?"
"Iya, masih sama orang tua dan adik saya satu."
"Ooh. Kerja?"
"Iya. Saya kerja di daerah Kuningan, Om."
Tak terasa, obrolan kami cukup lama hingga jam makan siang tiba. Dari tadi, Rakha tak banyak bersuara. Hanya orang tuanya saja yang dominan. Tapi, aku sempat beberapa kali melirik ke arahnya, dia tampak melayangkan tatapan tajam padaku. Entah apa yang dia katakan nanti setelah aku pulang dari sini.
Aku ikut Tante Maharani ke dapur menyiapkan makanan yang telah dimasak oleh asisten rumah tangga mereka, walau barusan dibilang tunggu di meja makan saja.
"Kenapa kamu mau diminta Rakha menikah dengannya, Ayu?" tanya Tante Maharani, yang mana kami berdua saja saat ini di meja makan. "Anaknya Tante itu maksa kamu, ya?"
Aku tersenyum tipis. "Saya hanya ingin bertanggung jawab atas rasa kehilangannya Mas Rakha, Tan." Aku sedang berusaha untuk ikhlas menerima takdirku. Aku harus berdamai dengan apa yang telah ditakdirkan untukku.
Terdengar helaan napasnya Tante Maharani. "Maafin, Tante. Nggak bisa berbuat apa-apa. Rakha itu orangnya keras sekali. Jika dia menginginkan atau memutuskan sesuatu hal, dia akan wujudkan gimana pun caranya. Nggak peduli pendapat orang di sekitarnya yang nggak setuju dengannya."
Ooh. Ternyata Rakha ini memang tipe orang yang tak ingin kehendaknya dibantah. Tak peduli jika orang tuanya sekali pun.
"Enggak apa-apa, Tante. Saya terima ini semua, mungkin sudah takdir saya seperti ini."
Kami menghentikan pembicaraan kami karena Rakha dan papanya melangkah ke arah meja makan. Aku baru ikut duduk di salah satu kursi setelah semua duduk lebih dulu.
Di meja makan pun, Rakha lebih banyak diam. Apa dia tengah menahan amarah kepadaku dari tadi?
Selesai makan dan beristirahat di ruang tengah sejenak, Rakha mengajakku berbicara di halaman belakang rumahnya yang luas. Aku sudah mempersiapkan diri, akan menerima apa pun kalimat yang akan dilontarkan lelaki itu.
"Kamu menarik simpati orang tua saya dengan masih memasang tampang sedih? Enggak mau disalahkan?"
Tuh kan, benar dugaanku. Aku tadi sudah berusaha untuk tak menunjukkan kesedihanku, meski hari ini aku merasa sedih sekali tak bisa lama-lama tadi di makamnya Kak Elang. Tapi, tumpah haru juga saat mendengar kata-kata bijak dari Tante Maharani.
"Nggak gitu, Mas. Saya hanya merasa wajib untuk minta maaf aja sama mama kamu. Saya salah, udah membuat mama kamu kehilangan calon menantu seharusnya."
"Banyak alasan kamu."
Aku geleng-geleng kepala. "Terserah kamu mau percaya atau enggak. Saya sama sekali nggak ada niat mencari simpati karena sadar memang bersalah. Tap— "
"Nggak usah ngeles! Muak banget saya ngeliat tampang sedih kamu begitu. Apa kamu pikir orang tua saya akan bisa merubah keputusan saya dengan kamu pasang wajah memelas begitu, huh? Meminta pertolongan? Nggak bakalan mempan!!"
"Enggak, kok. Enggak ada saya kepikiran begitu. Saya terima akan menikah dengan kamu. Gimana pun ke depannya, saya akan terima."
Lelaki itu terkekeh sinis.
"Mas, ini saya kira-kira pulang jam berapa, ya?" tanyaku mengalihkan. Sudah pukul 2 siang saat ini.
"Kenapa emangnya?"
Aku menggeleng. "Cuma nanya aja." Jika pulang sore, aku akan ke makam lagi niatnya.
"Saya udah bilang, batalkan agenda apa pun hari ini. Ada banyak yang ingin saya bicarakan, jadi tunda saja apa pun agendamu itu."
"Iya."
"Nanti sorean ikut saya ke rumah yang seharusnya saya tempati saya calon istri saya sesungguhnya."
"Baik."
"Saya udah nggak pakai jasa Mbak lagi buat bersih-bersih di sana, jadi kamu yang harus bersihin rumah itu. Mulai dari sekarang, sampai seterusnya nanti ketika kita udah menikah."