Bab 6 — Ayu yang Berbeda

1539 Kata
Aku mengernyit ketika Ayu memintaku berhenti di depan sebuah rumah sederhana, perumahan biasa. Saat Ayu berkata pindah rumah, aku pikir perempuan itu pindah ke rumah yang lebih besar. Aku tahu di mana rumahnya dulu, Ayu tinggal di sebuah rumah yang cukup besar. Ayu bahkan ke sekolahnya di antar jemput oleh seorang sopir. Sebagai seseorang yang menyukainya dulu, aku memperhatikan perempuan itu setiap harinya. Termasuk mencari tahu di mana dirinya tinggal. Apa keluarganya Ayu jatuh miskin? Aku menggeleng. Kenapa juga memikirkan status sosial perempuan itu? Mau gimana pun kehidupan keluarganya Ayu saat ini, aku tak peduli. Urusanku dengannya hanya lah ingin dia bertanggung jawab atas kehilanganku, menjadi pengantin pengganti. Memasuki pagar rumah sederhana beberapa saat kemudian, aku memperhatikan sekitar. Benar-benar terlihat sederhana segalanya. Ada garasi untuk satu mobil, namun tak terdapat mobil di sana. Mungkin masih di bengkel? Mobil yang Ayu pakai waktu menabrak Ella? Aku mengedikkan bahu. Tujuanku ke sini hanya untuk berbicara dengan orang tuanya Ayu, kenapa jadi menilai rumahnya? Begitu bertemu dengan mamanya Ayu, aku langsung menyampaikan maksudku. Tidak untuk meminta izin, hanya ingin memberitahu karena aku tak terima penolakan apa pun. Harus harus menanggung konsekuensi dari apa yang telah terjadi, yang membuatku kehilangan calon istriku untuk selamanya. Beberapa kali aku melirik Ayu, tampak perempuan itu lebih banyak menunduk. Tak mengeluarkan suara sama sekali. Tak lama berbicara dengan mamanya, aku pun segera bangkit hendak pulang. Ayu mengantarkanku ke depan. Saat aku berbalik badan, aku berdecih melihat perempuan itu memasang raut wajah sedih. Minta dikasahani memasang raut wajah begitu? Dia pikir, aku bakalan tersentuh? Sorry, aku tak akan merubah keputusanku. Dia harus tetap menjadi mempelai pengganti—menggantikan posisi Ella. Entah, pikiran impulsif untuk menjadikannya pengantin pengganti itu muncul begitu saja. Dari pada aku pusing mencari orang baru nanti? Jangan salah kira jika aku masih menyukainya. Tak ada sama sekali rasa yang aku miliki dulu untuknya. Penolakan kasar yang berupa hinaan itu, membuatku sakit hati. Aku hanya mengungkapkan apa yang aku rasa agar legah—hanya ingin dia tahu, kenapa segitunya mengeluarkan kata-kata menghina? Tak masalah jika tak suka, tapi apa harus menolak dengan cara begitu? Sok kecantikan sekali. Tapi, waktu itu aku tak mendengarnya pacaran dengan lelaki mana pun. "Bertemu dengan orang tua kamu di mana, Mas? Di rumah atau janji temu di luar?" "Di rumah." "Baik." "Koordinasi sama sepupu saya nanti, kamu nggak boleh membantah apa pun. Kamu hanya mengikuti apa yang diberitahu dan nggak punya hak untuk memberikan saran apa pun. Ini seharusnya menjadi pernikahan impian saya dengan Ella, kalau kamu tidak menabraknya. Jadi, jangan coba-coba untuk ubah konsepnya atau apa pun itu." "Saya mengerti." Aku mendengkus di dalam hati. Suaranya yang lemah pelan begini, kontra sekali dengan dulu. Apa karena sekarang dia sadar berada di posisi yang salah? Coba saja dia tak salah, dia pasti akan berbicara dengan tinggi, arrogant-nya akan kelihatan. "Nanti Sabtu, kamu langsung datang ke rumah orang tua saya tanpa harus dijemput. Saya akan kirim alamatnya." "Untuk selanjutnya, kita akan bahas lagi nanti." "Iya." Aku langsung berbalik badan setelahnya menuju mobilku. Di jalan, aku mendapatkan telepon dari Inka. Sepupuku itu berkata jika dia sedang berada di rumah orang tuaku. Memiliki usaha yang bisa dikontrol dari rumah saja, Inka memiliki banyak waktu luang. Makanya, waktu itu aku meminta tolong padanya untuk membantu persiapan pernikahanku. Kebetulan, Inka juga ada kenalannya yang memiliki WO cukup bagus katanya. Aku mempercayakan semua kepada Inka, setelah sebelumnya sepupu kami yang lain juga dibantu olehnya. Inka adalah tipe perempuan yang suka berinteraksi dengan banyak orang, termasuk untuk meng-handle sebuah acara. "Nggak lama lagi nyampe." "Ooh... oke. Gue tunggu, mau ngobrol soalnya." Inka usianya 3 tahun di bawahku. Usiaku 29 tahun saat ini, yang memang usia ideal untuk menikah sebelum menginjak kepala tiga. Sebenarnya aku tak pernah punya target sebelumnya akan menikah di usia berapa, akan tetapi aku harus menikah demi mengamankanku sebagai CEO di perusahaan keluarga. Tak tertarik seperti papa. Papa merupakan dosen sekaligus memiliki jabatan cukup penting di perusahaan tambang milik salah satu pejabat. "Ya." Tak lama kemudian, aku pun tiba di rumah. Memasuki rumah, aku menuju ke arah meja makan yang mana kedua orang tuaku berada di sana. Terlihat dari arah ruang tengah yang saat hendak naik tangga ke lantai dua. "Lo masih lama nggak? Gue mandi dulu bentar." Inka mengangkat kedua jempolnya. "Santai. Gue juga baru mulai makan." Lima belas menit kemudian, aku turun dan ikut bergabung di meja makan. Mama menyodorkan piring, lalu aku mengambil nasi serta lauk. "Lembur hari ini, Kha?" tanya mama saat aku baru saja mulai makan. Papa sudah selesai, sementara mama dan Inka tinggal sedikit lagi. "Atau dari panti?" Aku mengungah sambil menggeleng. "Aku habis ketemu calon penggantinya Ella,” jawabku santai. Seketika suasana di meja makan sunyi. Aku mengangkat wajah, memperhatikan ekspresi mama dan papa serta Inka. "Secepat itu, Kha?" tanya mama pelan. "Padahal nggak masalah semisal diundur. Ya kan, Inka? Nanti bisa dinegosiasikan." "Aku malas cari-cari lagi, yang ada aja. Lagi, dia harus bertanggung jawab karena menghilangkan nyawa calon istriku." "Rakha, itu sudah takdirnya Ella." "Kalau itu orang nggak ceroboh, Ella pasti akan baik-baik aja." Mama tak menyahut lagi. Begitu pun dengan papa yang hanya diam saja. Tapi, semisal mereka melarang pun, aku akan tetap melanjutkan keinginku. Membalas apa yang telah Ayu lakukan, dan juga raaa sakit hati atas perkataannya dulu masih terngiang walau sudah lama berlalu. "Kamu kan nggak kenal betul siapa orang itu, Kha. Bagaimana kalau dia mengecewakan kamu nanti? "Aku nggak peduli." Terdengar helaan napasnya mama. "Terserah kamu lah, Kha. Kamu yang akan menjalani ke depannya dan jangan pernah menyesal dengan pilihan kamu." "Enggak akan." Aku terkekeh di dalam hati. Tak akan menyesal, karena sepanjang jalan tadi aku telah memikirkan akan membuat perempuan itu menderita. Ella pasti kesakitan sekali kala itu. Maka, aku akan membalaskan kesakitan itu. Tidak akan KDRT tentunya. Mari lihat saja bagaimana nanti. Mama dan papa beranjak duluan dari meja makan, meninggalkanku dengan Inka. Aku hampir menghabiskan makanku. "Kak, elo yakin akan tetap lanjut dengan orang berbeda? Yang bahkan baru lo kenal?" Aku melepaskan sendok di atas piring, selesai makan. "Kata siapa gue baru kenal?" Inka tampak mengernyit. "Gue enggak ngerti." "Gue tahu dia, tapi dia kayaknya lupa sama gue. Wajar ya, dulu gue segitu jeleknya." Aku terkekeh sini. Tanganku mengepal, ingat kata-kata perempuan itu dulu. “Nggak usah harus mengerti, lo bantu gue aja urus persiapannya. Nggak pakai ditunda, ya!" "Hmmm. Jadi, lo nikahin dia karena tahu dia? Bukannya baru kenal aja?" "Nggak juga. Gue cuma malas aja cari-cari lagi, dan gue nggak akan ngelepasin orang yang udah bikin Ella meninggal." "Benar-benar lo ya, Kak! Apa yang ada kepala lo saat ini, sih?" Inka tampak geleng-geleng kepala. "Eh, dia mau emangnya lo nikahin?" "Dia itu nggak boleh menolak setelah apa yang telah terjadi. Harus mau!" "Lo ancam dia, ya?" "Dah lah, enggak usah banyak tanya. Lo cuma perlu bantu gue untuk tetap melanjutkan persiapan segalanya. Oh ya, nanti gue kasih nomor HP dia. Lo koordinasi aja perihal apa pun, tapi jangan lo ubah sedikit pun konsep gue dan Ella." "Hmmm. Lo yakin nggak ada alasan lain jadiin dia penggantinya Ella selain kayaknya marah banget pengen balas apa yang udah menimpa Ella?" "Nggak ada." "Dia cantik?" Cantik? Ya, harus aku akuin jika Ayu sangat lah cantik dengan muka agak kecil, berkulit putih dan tinggi untuk ukuran perempuan. Tapi, aku sama sekali tak tertarik dengan parasnya perempuan itu, benci malah. Cukup dulu saja sekali pernah menyukainya dan aku sangat menyesal untuk itu. "Biasa aja." "Lo kelihatan banget benci sama dia dari omongan-omongan lo. Tiati kata gue mah, nanti kecintaan. Karena cinta bisa tumbuh karena terbiasa, begitu kata nyokap gue. Apa lagi lo nanti kan pengen punya anak pastinya, ya kali langsung jadi tanpa berhubungan suami istri. Dan tadi Tante Wulan cerit— " "Nggak akan gue jatuh cinta sama seorang pembunuh." "Takdir, Kak." "Iya, emang takdirnya Ella di situ. Tapi, coba kalau dia lebih hati-hati bawa mobilnya waktu itu?" "Duhh... " "Intinya itu orang salah." "Iya deh, iya. Eh, tapi dia itu lo minta untuk menikah sama lo, apa dia sedang punya pacar atau nggak?" "Dunno. Gue nggak peduli dia punya pacar atau belum, yang penting dia harus jadi pengantin pengganti. Oh ya, lo jangan cerita kalau sebenarnya gue tahu dia sejak dulu." *** Inka Photo Cantik banget ternyata Walau jidatnya ada perban kecil pun, tetap cantik pollll! Ga make up'an juga, udah cantik begitu Mana ngomong lembut banget Gue dukung klo yg kyak bgini, ga neko2 kayaknya Aku merotasi mataku begitu membuka pesan dari Inka, ada foto Ayu dia kirimkan. Hari ini Inka mengajak perempuan itu bertemu. Aku segera keluar roomchat dan meletakkan ponselku di atas meja kerjaku. Tak berniat membalas pesannya. Nggak neko-neko katanya Inka? Songong, iya. Ngomong lembut? Aku mendengkus. Dibuat-buat kali!! Aku kembali menatap layar di depanku, lanjut bekerja. Usai maghrib sepertinya baru pulang nanti, ada kerjaan yang membuatku tertahan masih di sini. Saat sedang menggerakkan tanganku di atas keyboard, tak sengaja mataku menangkap layar ponselku yang menyala dan menampilkan notifikasi pesan. Jemarin tanganku pun menyentuh layar tersebut. Si Pembunuh Mas, maaf ganggu waktunya Jadi kah hari Sabtu? Kalau jadi, jam berapa? Soalnya saya ada perlu juga, biar saya atur waktunya. Aku tersenyum sinis. Kemudian mengetikkan balasan pesan perempuan itu. Rakha Belum tahu jam berapa Batalin apa pun untuk hari itu Nggak tahu nanti di sini berapa lama
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN