Ayu's PoV
Pembunuh!
Pembunuh!
Pembunuh!
Kata itu terus terngiang di benakku sejak hari itu, hingga mendengarnya kembali hari ini. Aku akui jika aku salah karena lalai yang menyebabkan seseorang meninggal dunia. Akan tetapi, aku benar-benar tak ada niat ingin menghilangkan nyawa orang. Apa kah pantas disebut sebagai pembunuh? Sepertinya, untuk kedepannya aku akan selalu mendengar kata itu dari mulut lelaki yang terlihat sekali begitu membenciku. Tatapan matanya menyiratkan amarah, selain kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Aku tak menyangka jika calon suami orang yang aku tabrak itu memintaku menikah dengannya, untuk menggantikan calon istrinya yang telah tiada. Aku sadar, aku harus mempertanggung jawabkan apa yang telah terjadi. Telah terbayang semisal harus mendekam di jeruji pun, sepasrah itu. Dan aku tak punya jalan keluar. Posisiku benar-benar salah, tak bisa membantah. Tak ingin juga ke mana-mana jika dia membawa-bawa keluargaku. Tak apa semisal aku saja yang dipenjara, tapi aku tak ingin keluargaku dihancurkan. Bagaimana pun aku diperlakukan di rumah itu, orang tua angkatku itu sudah banyak berjasa dalam hidupku. Setidaknya, aku juga pernah mendapatkan kebahagiaan pada masa kecilku, sebelum mereka perlahan mulai berubah. Puluhan tahun membesarkanku, sudah seharusnya aku membalas budi.
"Kenapa? Nggak terima? Memang kamu itu pembunuh, 'kan? Kamu telah membuat saya kehilangan orang yang berharga dalam hidup saya. Yang seharusnya dia akan mendampingi hidup saya."
Aku menggeleng, tak mampu menjawab apa pun.
"Naik apa kamu ke sini barusan? Jangan bilang, udah mengendarai mobil lagi?"
"Saya naik kendaraan online."
"Bagus. Biar nggak ada korban baru lagi setelah itu."
Aku tak menyahut. Membiarkan lelaki itu berkata apa pun sesuka hatinya. Wajar sebenarnya dia sangat marah, tak mudah merelakan orang yang dicintai pergi untuk selama-lamanya. Sama persis sepertiku waktu itu, yang mana dia juga seharusnya menikah dalam waktu dekat.
"Saya enggak akan berbicara panjang lebar. Hanya ingin menyampaikan hal tadi. Kamu harus bertanggung jawab dan saya nggak terima bantahan apa pun."
"Apa saya enggak punya pilihan lain?" tanyaku memastikan lagi.
"Nggak dengar apa yang udah saya sampaikan, huh? Sudah menghilangkan nyawa orang, masih mau bernegosiasi? Sayangnya, nggak ada negosiasi sama sekali untuk seorang pembunuh."
Aku hanya bisa diam ketika kata 'pembunuh' kembali terucap dari mulut lelaki itu.
"Saya akan antar kamu pulang, sekalian bicara sama orang tua kamu."
Aku mengangkat kepalaku.
"Kenapa melihat saya begitu?"
Aku menggeleng lemah. "Tolong jangan cari masalah sama keluarga saya. Mereka nggak salah apa-apa. Saya mohon... "
"Saya enggak peduli gimana pun keluarga kamu. Saya akan tetap antar kamu pulang, dan nggak ada penolakan untuk itu." Lelaki itu menatapku tajam dengan sirat akan kemarahan, sejak hari itu pun begitu. "Nggak ada banyak waktu, karena saya akan bawa kamu menemui orang tua saya juga. Saya nggak akan membatalkan segala persiapan pernikahan saya, hanya mengganti namanya dengan kamu."
"Nggak perlu ketemu keluarga saya. Biar saya sendiri yang berbicara dengan keluarga saya."
Terdengar kekehan sinis lelaki itu setelahnya. "Saya enggak bisa percaya sama kamu. Jadi, saya akan menyampaikan sendiri kepada orang tua kamu."
Aku mendesah lelah. Sepertinya apa pun yang keluar dari mulutku, tak bisa diterima olehnya.
Pada akhirnya, aku pun terpaksa ikut mobilnya ke rumah. Pasrah, apa pun yang dia akan sampaikan kepada orang tua angkatku itu. Paling, dia hanya bisa berbicara dengan mama saja. Karena papa terbaring lemah di kamar. Sepanjang perjalanan ke rumah, dia tak bicara apa pun dan aku juga diam saja setelah menyebutkan arah jalan ke rumah orang tuaku. Aku duduk di belakang, disuruh olehnya. Aku sangat paham, tak akan dia membiarkanku duduk di sebelahnya yang pastinya biasa diduduki oleh orang spesial baginya.
"Pertigaan di depan, masuk ke dalam di sana," ujarku ketika sudah akan sampai sebentar lagi.
"Rumah kamu pindah?"
Aku mengernyit. "Kok kamu tahu kalau saya pindah rumah?"
"Saya harus tahu apa pun tentang orang yang telah mencelakakan calon istri saya, apa lagi saya akan menikahi orang itu juga."
Aku tak bertanya lagi, memandang ke arah samping. Hingga mobilnya lelaki itu memasuki gerbang komplek. Aku mengarahkan jalanan ke rumah, dan akhirnya tiba di depan rumah. Rumah biasa yang jauh dari kata mewah, jauh berbeda dari dulu. Rumah yang terdiri dari tiga kamar dan tidak tingkat. Aku tinggal di kamar kecil, yang sebelumnya dijadikan gudang oleh pemilik rumah sebelum kami tinggal. Kamar aslinya di rumah ini sebenarnya hanya ada dua saja. Kamar untuk orang tuaku dan juga adikku. Meski berjenis kelamin yang sama, adikku itu tak mau berbagi kamar denganku.
"Kamu tinggal di sini?" tanya lelaki itu saat aku akan membuka pintu mobil.
"Ya. Kenapa? Kamu tidak jadi mau masuk dan berbicara karena nggak nyaman dengan rumah ini?"
Lelaki itu terkekeh singkat. "Kata siapa? Kamu berharap saya akan lepasin kamu begitu saja setelah melihat rumahmu? Apa hubungannya? Jangan mimpi!!"
***
"Tunggu di sini sebentar," ujarku pada lelaki itu sebelum membuka pintu rumah. Seperti biasa, tak akan ada yang membukakan pintu untukku. Jika pun ada, pasti aku akan mendapati raut wajah cemberut dari mama atau pun adikku. "Emm... dengan Mas siapa namanya? Saya belum tahu nama kamu."
Sudah dua kali bertemu, tapi dia tak memperkenalkan dirinya dan aku pun tak bertanya sebelumnya. Namun, mengingat ke depannya akan sering bertemu dengannya atau bahkan menikah, aneh rasanya jika aku tak tahu namanya.
"Rakha."
Aku mengangguk. "Baik, Mas Rakha. Saya akan berbicara sebentar sama mama saya, nggak akan lama. Silahkan duduk dulu." Aku menunjuk sepasang kursi kayu yang dipisahkan oleh meja kecil di antaranya.
"Hmmm."
Aku pun meraih gagang pintu. Pintu terbuka dan aku masuk, lalu menutup pintunya kembali. Aku hendak meletakkan tas di kamar terlebih dahulu, tapi tak jadi saat melihat mama melangkah dari arah dapur.
"Ma, aku mau ngomong sesuatu sama Mama."
"Apa?"
Aku menarik napas sejenak. "Ada tamu di depan, calon suami dari orang yang aku tabrak itu. Dia— "
"Ngapain dia ke sini? Mama enggak mau ikut-ikutan masalah kamu ya, Yu! Jangan bawa-bawa Mama dalam urusan kamu itu!"
"Enggak, kok. Aku tahu diri untuk nggak melibatkan siapa pun atas kesalahanku. " Aku mendesah, sangat menguras energi ketika berhadapan dengan mama. "Dia mau ngomong aja sama Mama."
"Mau ngomong apaan? Mama enggak mau kalau sampai dibawa-bawa dalam urusan kamu sama dia."
"Dia mau menikahi aku katanya," ujarku cepat.
"Apa?",
Aku menghembuskan napas berat. "Calon istrinya meninggal, dan dia ingin aku menggantikan posisinya calon istrinya itu, menikah sama dia dalam kurun waktu kurang dari sebulan ini."
"Dah, menikah aja kamu sana! Kalau orangnya kaya, kan bagus. Kita diuntungkan jadinya, hidup kita bisa lebih sejahtera."
Aku geleng-geleng kepala mendengar jawaban mama. Ini kurang lebih sama seperti aku memberitahu akan menikah dengan Kak Elang waktu itu. Yang mama pikirkan tak jauh dari uang, tanpa mempedulikan bagaimana perasaanku.
"Benar dia cuma mau ngomong itu aja? Nggak akan bawa kasusnya ke mana-mana? Nggak menyeret nama kami, 'kan?"
Aku mengangguk, meski tak yakin.
"Orangnya di luar nunggu. Aku minta masuk sekarang?"
"Ya udah."
Aku meletakkan tas terlebih dahulu, setelahnya memanggil lelaki bernama Rakha itu. Dia pun masuk dan tampak mengedarkan pandangan ke sekitar, seperti tengah menilai rumah ini. Lalu, mama menyambut kedatangan lelaki itu dengan tersenyum, menyalami lelaki itu.
"Mau minum apa—emm... siapa namanya?"
"Rakha."
"Mau minum apa, Rakha?"
"Enggak usah repot-repot," ujar lelaki bernama Rakha itu dengan nada dingin. "Saya nggak lama, cuma ingin berbicara yang penting aja."
"Ah, iya. Silahkan, Rakha. Mau membicarakan hal penting apa?"
"Saya akan menikahi puteri anda," ucap lelaki itu tanpa berbasa-basi, langsung to the point pada intinya. "Saya akan menikah dalam waktu dekat, tapi tiba-tiba kehilangan calon istri saya. Jadi, saya meminta anak anda untuk menggantikan posisi itu."
Mama terdiam, melirikku sejenak sebelum kembali lagi menatap lelaki itu. Kemudian, beliau tersenyum.
"Kami meminta maaf atas apa yang menimpa calon istri kamu. Ayu bersalah dan... " Mama kembali melirikku sekilas sebelum melanjutkan kalimatnya. "Dia memang harus bertanggung jawab atas kesalahannya. Ya... silahkan jika kamu ingin menikahinya sebagai pengganti."
"Memang harus!" tukas lelaki itu cepat. "Saya ke sini bukan untuk meminta izin, tapi hanya menyampaikan keinginan saya yang nggak bisa dia atau anda bantah. Tolong kerja samanya, jangan sampai dia kabur. Karena saya nggak akan diam saja jika dia berani melarikan diri."
"Tenang saja, Rakha. Saya akan pastikan Ayu menikah dengan kamu."
"Oke. Selanjutnya persiapan pernikahan, silahkan tanya puteri anda. Orang saya aan mengabari dia nanti." Rakha langsung berdiri dan aku diminta mama melalui gerakan mata untuk mengantarkan lelaki itu ke depan.
Lelaki itu menghentikan langkahnya sebelum tiba di pagar rumah. Dia berbalik badan menghadap padaku. "Kamu nanti akan dihubungi oleh sepupu saya, yang akan mengurus segalanya untuk persiapan pernikahan."
"Iya."
"Masih aja."
Aku mengernyit tak paham.
"Enggak usah terus-terusan memasang muka sok sedih begitu. Saya nggak akan merubah keputusan saya, mau gimana pun kamu."
Sok-sok'an sedih katanya? Dia tak tahu jika aku memang masih sedih hingga saat ini setelah kepergian Kak Elang, juga karena masalah hidupku yang datang bertubi. Aku diam saja, tak merespon celutukan lelaki itu.
"Hari Sabtu, akan bertemu dengan orang tua saya. Persiapkan diri kamu dengan baik."
Aku mengangguk. Aku langsung berbalik badan memasuki rumah setelah lelaki bernama Rakha selesai berbicara dan kemudian memasuki mobilnya.
"Laki-laki itu orang kaya." Suara mama menyambutku saat aku baru saja memasuki rumah. "Mobilnya mahal, pasti bukan sembarangan orang. Bagus lah, bisa menjamin masa depan kamu dan keluarga kita. Kamu bisa lebih banyak membantu nanti, untuk pengobatan papamu juga."
"Ma... "
"Bersikap baik sama dia meski dia menikahimu sebagai pengganti, dan kamu masih mencintai calon suaminya yang sudah meninggal itu. Belajar ambil hatinya, biar amarahnya sama kamu berubah menjadi cinta. Dengan itu, kamu bisa meminta apa pun yang dibutuhkan."
***