Rakha's PoV
Sudah dua hari ini aku sibuk. Sejak dari rumah hingga pemakaman Ella, dilanjut dengan mendo’a di panti yang ditanggung olehku. Belum cinta, bukan berarti aku tak merasa kehilangan. Aku sedih, marah rasanya—tak percaya semua terjadi begitu cepat. Tak ada lagi sosok lembut berpenampilan sederhana yang akhir-akhir ini sering berada di sekitarku, meski tak diajak bicara pun.
Pagi ini, aku baru bergabung lagi dengan orang tuaku di meja makan. Setelah kemarin absen karena lelah, dini hari baru kembali dari panti. Aku pun tak masuk kantor karena ke makam lagi, lalu ke panti. Orang tuaku juga baru kemarin pagi sempat ke makam, malamnya mereka baru pulang dari luar kota saat Ella dimakamkan. Mereka tak menyangka jika calon menantu mereka pergi secepat itu, sama denganku. Meski status sosialnya Ella berbeda dengan kami, tapi mama menyambut hangat ketika aku mengenalkan Ella sebagai pasanganku—seseorang yang ingin aku seriusi. Harus aku akui jika Ella itu merupakan sosok perempuan idaman. Aku sedang belajar untuk mencintainya, tapi belum juga aku rasakan hingga dia menghembuskan napas terakhirnya.
"Rakha, Mama pengen ngomong hal penting sama kamu. Mama tahu, kamu masih berduka, tapi ini mau nggak mau harus dibahas."
Aku mengangguk setelah meneguk segelas air putih. "Ngomong aja. Aku enggak apa-apa."
Hidup terus berjalan. Apa yang telah hilang, tak akan kembali lagi. Aku menerima dengan lapang d**a, namun tidak dengan memaafkan orang yang yang telah membuat calon istriku meninggal dunia. Entah bagaimana dia mengendarai mobil saat itu, aku tak akan bisa terima. Aku sungguh membenci perempuan itu. Ingat pada masa lalu, kata-katanya yang menghina. Ditambah dengan masa sekarang, dia telah menyebabkan nyawa calon istriku melayang.
Perihal perempuan itu, aku belum menemui atau menghubunginya karena kesibukanku. Tapi, hari ini aku agak longgar dan akan ke kantor siang nanti. Setelahnya, aku berpikir untuk menemui. Ingat akan perempuan itu begitu di makam, tanganku terkepal erat dengan rahang mengeras. Aku akan memberikan pelajaran kepadanya yang sombong itu.
“Mengenai pernikahan kamu yang seharusnya kurang dari sebulan lagi. Vendor dan lainnya, Mama belum bicarain lagi sama Inka.” Inka adalah sepupuku yang membantu koordinasi dengan WO terkait rencana pernikahanku. “Dia telepon Mama barusan, tanya gimana proses pembatalan semuanya. Kamu kalau ada waktu, bisa ketemu sama WO-nya bareng Inka. Jangan mepet banget, kecuali kamu mau mengikhlaskan 100% tanpa pengembalian dana. Soalnya kan WO itu kerja sama dengan berbagai pihak.”
Aku mengangguk paham.
“Mama nggak bermaksud mendesak kamu, cuma mastiin aja mau diikhlasin atau discuss pengembalian dana yang udah masuk. Ballroom hotel dan lain-lain, kan pasti udah di-booking juga.”
“Enggak akan ada pengembalian dana,” ujarku sambil mengunyah roti bakar.
“Maksud kamu? Mau diikhlasin aja? Mama sih, terserah kamu aja.”
“Aku harus segera menikah dan punya anak, ‘kan?” Syarat dari kakek itu harus segera menikah, dan aku menyanggupi itu. Tak ingin perusahaan itu jatuh ke tangan sepupuku. Aku ambisius untuk meraih sesuatu, tak mau kalah meski dengan sepupu sendiri. Selain karena mama yang juga ingin aku menjadi pemimpin perusahaan itu.
“Iya, tapi kan nanti harus nyari lagi. Sementar— “
“Semuanya nggak usah dibatalin. Aku akan tetap menikah pada tanggal itu. Oke, kurang dari sebulan lagi.”
Mama tampak mengernyit bingung. “Kha, Ella tuh udah enggak ada. Kamu harus sadar, Ella udah tenang di sana.”
Aku terkekeh pelan. “Sadar, kok. Cuma, aku akan tetap menikah… sama penggantinya Ella.”
Melirik sekilas, matanya Mama tampak membola. Begitu juga dengan papa yang belum mengeluarkan suara.
“Kamu mau cari di mana penggantinya Ella dalam waktu sesingkat itu?” Papa angkat bicara. “Jangan asal, Rakha! Sedikit menunda juga nggak apa-apa. Kami paham, kamu masih dalam keadaan berduka dan kakekmu juga pasti akan mengerti.”
“Akunya yang nggak mau menunda, Pa. Udah di-booking semua, ya udah lanjut aja sama orang baru. Bukan berarti aku melupakan Ella begitu aja, tapi hidupku harus tetap berjalan. Aku udah punya seseorang yang mau aku jadikan istri.”
“Siapa perempuan itu, Rakha?” tanya mama. “Mama mau kenal dulu sama dia, jangan kamu asal mau jadikan istri aja.”
“Ayu namanya. Perempuan yang udah nabrak Ella sampai meninggal,” ucapku dengan menahan emosi. Menyebut namanya saja, aku sungguh benci. “Dia harus bertanggung jawab karena membuatku kehilangan calon istriku. Mama dan papa setuju atau enggak, aku akan tetap menikahi dia pada tanggal itu. Undangan akan jadi seminggu lagi, nanti aku bilang Inka buat ganti namanya.” Di sela duka kemarin, telah terbesit di benakku rencana untuk menghancurkan perempuan itu. Tak akan aku biarkan hidupnya tenang setelah dulu menghinaku dan membuat Ella meregangkan nyawa.
“Rakha… “ Mama menggelengkan kepalanya.
“Tolong bilang sama Inka, tetap jalankan semuanya sesuai rencana awal dengan nama pengantin perempuan yang berbeda.” Aku bangkit berdiri. “Aku selesai duluan, mau koordinasi kerjaan.”
***
Rahangku mengeras, emosi sekali rasanya begitu mengetahui Ayu telah beraktivitas normal—kembali bekerja. Sementara, perempuan yang akan aku nikahi telah terkubur di dalam tanah sana. Ada rasa tak terima, Ayu yang telah melanjutkan hidupnya dengan normal. Dia hanya luka ringan, tidak perlu dirawat berhari-hari di rumah sakit.
Aku mengajaknya bertemu sore ini di sebuah resto. Aku tiba lebih dulu di tempat yang aku tentukan dan dia datang 15 menit kemudian. Ada rasa marah melihatnya yang hanya diperban kecil bagian kepala, tak ada luka yang serius.
“Maaf, saya telat. Barusan agak macet.”
Aku berdehem. Mataku mengarah pada kursi di depanku, memintanya untuk duduk secara tak langsung.
“Enak ya, habis kecelakaan langsung bisa beraktivitas normal. Padahal, habis menghilangkan nyawa orang.”
“Kamu maunya saya gimana, Mas? Mau gantiin posisi saya dengan dia di dalam kubur sana? Saya ikhlas andaikan bisa bertukar posisi dengannya.” Suara Ayu terdengar lirih.
Aku mendengkus. Mau memasang wajah memelas agar dikasihani? Tak akan!!! Perempuan sombong ini, sangat tak pantas untuk dikasihani.
“Enggak usah pasang muka sok sedih begitu! Dipikir saya akan luluh, hm? Nggak bakalan!! Saya udah bilang, nggak akan memaafkan seorang pembunuh.”
Ayu tak menyahut lagi.
“Kamu harus terima konsekuensi atas perbuatanmu.”
“Iya.”
Aku tersenyum sinis. Aku sama sekali tak menawarkan pesanan makan atau minum padanya. Aku dia ke sini hanya untuk berbicara denganku, tidak untuk diberikan makan atau minum.
“Kamu telah membuat saya kehilangan calon istri saya, yang seharusnya kurang dari sebulan lagi, kami akan menikah. Jadi… “ Aku menarik napas sejenak, memperhatikan ekspresi wajahnya yang tampak sekali pura-pura sedih. Aku tak akan tertipu oleh ekspresi wajah begitu. “Kamu harus menggantikan posisinya.”
“M-maksudnya?”
“Kamu harus menikah dengan saya, menggantikan posisi dia. Kamu harus bertanggung jawab atas kematiannya.”
“T-tapi… “
“Nggak ada tapi-tapi. Kamu harus mau. Syukur-syukur saya nggak memperkarakan ini dan kamu bisa masuk penjara karena telah menghilangkan nyawa seseorang.”
“Saya enggak apa-apa jika memang harus dipenjara. Saya memang salah.”
“Dan mau nyogok biar bisa segera bebas?” tanyaku terkekeh sinis. “Kamu nggak akan bisa melakukannya, karena berhadapan dengan saya. Pikirkan gimana keluargamu. Kamu nggak punya pilihan apa pun sebenarnya, selain harus menikah dengan saya. Kamu udah membunuh calon istri saya, sudah seharusnya kamu bertanggung jawab menggantikan posisinya.”
“Beri saya waktu untuk berpikir.”
“Nggak ada waktu untuk berpikir. Saya udah bilang, kamu nggak punya pilihan! Harus menjadi istrinya saya. Atau, saya nggak hanya membuatmu mendekam di penjara, tapi juga akan menghancurkan keluargamu sekalian? Menarik, bukan? Tapi ini nggak ada apa-apanya dengan nyawa orang yang udah kamu lenyapkan. Dia pasti kesakitan sekali waktu itu.” Aku menatap tajam perempuan itu. “Saya nggak akan melepaskan kamu begitu aja, Pembunuh!!”
***