Delapan

507 Kata
Pagi-pagi sekali sari sangat kekusahan membangun kan Ema, padahal nona nya itu ada iklan pagi ini. Karena tidak ada cara lain lagi sari menyiram ema dengan air dingin. “BANJIR. TOLONG!” teriak nya langsung bangun dari tidur nya membuat Sari dan Lala terkikik. “kau! Bisa tidak membangunkan aku dengan baik-baik” “bukan nya tidak bisa, hanya saja kau tidur seperti orang mati” “aku seperti ini karna kelelahan” alibi Ema lalu masuk kedalam kamar mandi. Ema telah selesai berdandan lalu berjalan ala-ala model terkenal menuju meja makan, yang membuat nya mendapat sorakan dari Lala. “terima kasih, terima kasih” Setelah sarapan Sari mengantar Lala kesekolah nya lalu mengatar Ema ketempat syuting. Tepat ketika Ema dan Sari sampai dilokasi syuting Dimas juga sampai memberikan Dodo pada Ema. “jaga baik-baik” pesan Dimas “tentu saja, terima kasih pengangguran karna telah repot-repot mengantar Dodo kemari” “aku bukan pengangguran hanya tidak bekerja untuk sementara” jawab Dimas tidak terima “sama saja i***t. Dasar pengangguran kelas kakap” Dimas ingin membalas Ema namun Ema lebih dulu berbicara. “sudah ya, aku sibuk” ujar nya masuk kelokasi syuting “wanita itu benar-benar.” Kata Dimas kesal “aku juga permisi” pamit Sari membuat Dimas mengangguk terpaksa. Ema menyerahkan Dodo pada Sari, “tolong jagakan sebentar” “baik” Ema duduk disofa bermerek karena ia sedang mengiklan kan sofa itu. “sofa yang sangat nyaman, membuat siapa saja yang menduduki sofa ini tidak akan beranjak dari sini. Seperti aku, aku harap semua orang menggunkan sofa yang nyaman ini” ujar Ema genit sambil mengedipkan sebelah mata nya. “cut” “kerja bagus” Ema segera keruang ganti, baju yang ia pakai sama sekali tidak nyaman. Ema tidak perlu repot-repot melihat ulang hasil foto dan vidio karena ia yakin diri nya tidak pernah mengecewakan. “Sar, aku tunggu dimobil” Sari mengangguk dan mengangkat jempol nya. Ema membawa Dodo bersama nya. “ah, ayah mu benar-benar tipe orang yang bertanggung jawab” ujar Ema pada Dodo. “bagaimana jika telpon saja” Ema mengambil ponsel nya lalu mulai melakukan v-call dengan Nial. Wajah Nial tampak lelah bahkan Ema dapat melihat ada lingkaran hitam disekitar mata nial. “kau melakukan yang terbaik, kau sudah bekerja keras” ujar Ema membuat Nial tersenyum disebrang sana. Tidak dapat Nial pungkiri kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Ema sedikit membuat rasa lelah nya hilang. “tebak aku sedang bersama siapa?” “siapa?” “bersama Dodo, Dodo rindu pada ayah nya. Ayah fighting” Nial lagi-lagi tersenyum. “bagaimana kabar mu?” “aku baik, seperti yang kau lihat.” “bagus lah” “pak, sudah waktu nya melihat gudang” Ema dapat mendengar salah satu karyawan nial. “kau kerja lah, akan ku tutup” “cepat pulang” Tut. Nial memeriksa gudang yang kebarakan yang disebabkan oleh hambatan listrik setelah itu Nial mengunjungi karyawan nya yang mengalami luka bakar dirumah sakit. -_ Ema mengelus sayang bulu Dodo. “tampak nya ayah mu sedang kelelahan” ujar Ema pelan. “sudah selesai? ” tanya Ema pada Sari ketika Sari masuk kedalam mobil. “sudah” “kita ke pet’s shop dulu membeli makanan Dodo” “oke” Setelah membeli keperluan Dodo, Sari mengantar Ema kekediaman nya. “terima kasih, Sar” “sama-sama” Ema masuk kedalam rumah nya setelah mobil Sari sudah tidak terlihat lagi. Sebelum Ema membersihkan diri nya, Ema memberikan Dodo makan terlebih dahulu. Kurang lebih dua puluh menit Ema keluar dari membersihkan diri, segar rasa nya karena keringat yang sangat lengket setelah syuting. Ema membaringkan diri kekasur tanpa melepaskan handuk dikepalanya, Ema sangat mengantuk. Tidak perlu waktu banyak beberapa detik saja mata Ema sudah tertutup dan berkelana kealam mimpi. Tbc..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN